Adelia menghilang ke dalam kamarnya dengan langkah cepat, meninggalkan aroma sup yang perlahan menguap dari meja makan. Arvan duduk sendirian, jemarinya mengetuk-ngetuk sendok di tepi mangkuk yang sudah hampir kosong. Awalnya ia pikir ucapan soal "Kenzie" tadi hanyalah cara untuk menegaskan batas. Tapi entah kenapa, bayangan pria itu masih terus mengendap di pikirannya, postur tinggi, tatapan percaya diri, dan cara Adelia menatapnya di arena balapan sore tadi. Arvan menyandarkan tubuh, menatap kosong ke arah jendela yang tertutup tirai. "Konyol," gumamnya pelan, seolah menertawakan diri sendiri. "Kenapa juga aku peduli?" Akan tetapi, otaknya justru memutar kemungkinan-kemungkinan yang membuat rahangnya mengeras. Bagaimana kalau Kenzie menghubungi Adelia malam ini? Bagaimana kalau besok,

