Adelia menatap Arvan, dadanya naik-turun cepat, adrenalin masih mengalir deras dari amarah dan frustasi. Ia merasa terpojok, tapi tidak mau menunjukkan takut. "Lo gila!" serunya, suaranya nyaris pecah. "Gue nggak mau hidup di bawah pengawasan lo terus, ngerti nggak? Gue punya hidup sendiri!" Arvan hanya menatapnya, tenang tapi tajam. Tidak ada nada marah, tapi setiap kata yang keluar seakan menancap di dadanya. "Kamu memang punya hidup, Adel. Tapi hidup itu nggak berarti bebas dari konsekuensi. Saya di sini bukan untuk menghentikanmu, tapi untuk memastikan kamu nggak melukai diri sendiri. Sekali lagi, satu langkah salah, dan saya tidak akan diam." Adelia menggigit bibir bawahnya, menahan amarah dan kegelisahan. Ia ingin berteriak, lari, atau bahkan menangis, tapi sesuatu di dalam diriny

