Demi Kebaikan Kamu!

1500 Words

Adelia menatap bergantian, dari Arvan ke Kenzie, lalu kembali lagi. Rasanya seperti terjebak di tengah dua kutub magnet yang saling tarik-menarik. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya meski udara pagi tidak panas. Kenzie masih memasang senyum santainya, tapi jemarinya yang menggenggam tali tas Adelia terlihat menegang. Sedangkan Arvan, meski wajahnya tampak tenang, urat di lehernya mulai menonjol, pertanda bahwa kesabarannya berada di ambang batas. "Udah ah!" Adelia berusaha memecah ketegangan dengan tawa yang dipaksakan. "Kalian ribut-ribut gini di depan sekolah kayak bocah rebutan mainan." Kenzie terkekeh, menoleh ke Adelia dengan pandangan penuh arti. "Mainan sih enggak, tapi lo kan beneran mine, Del." Adelia tersedak udara. "Sssst! Jangan sembarangan ngomong!" desisnya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD