Di tengah hiruk-pikuk keramaian para penyandang gangguan mental, terdengar bunyi langkah sepatu karet yang berderit halus di lantai lorong itu. Tak jarang, perawat cantik itu mendapatkan sentuhan atau rengekan manja dari para pasiennya. Namun, dia hanya tersenyum, membantu sebentar kemudian melanjutkan perjalanan lagi menuju lorong yang lebih dalam. Bau aroma antiseptik mulai menusuk samar di udara, bercampur dengan dinginnya ruangan yang terasa steril. Dia membuka pintu perlahan. Masuk ke sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Disana, Angel duduk di sudut ranjang, punggungnya bersandar pada dinding dengan lutut yang ditarik ke d**a. Kedua tangannya melingkar lemah di sekeliling kaki, untuk menahan agar penopang tubuhnya itu tidak terlalu lemas. Ya, karena Angel tidak menunjukkan ta

