“Udah muntahnya?” tanya Jonathan sambil mengelus punggung Intan. Intan mengangguk ngos-ngosan, sambil meluruhkan tubuhnya terduduk di pembatas pot tanaman. “Minum dulu, Tan.” tawar Viona, menyodorkan segelas air pemberian seorang pelayan disana. Intan menurut, menerima dan langsung meminumnya. Tapi, hanya setengah gelas saja, dia sudah tidak mau. “Kamu nggak apa-apa, Tan? Kamu masuk angin?” Viona yang aktif bertanya. Sedangkan, Jonathan sibuk memperhatikan istrinya yang tampak kewalahan. “Kayaknya enggak, Mbak. Tadi baik-baik aja. Masih kuat juga main dua ronde.” Situasi langsung berubah cepat. Tapi seketika kembali lagi karena mereka memaklumi saat ingat bagaimana Intan. Jonathan hanya bisa memejam pasrah karena sikap istrinya yang terlalu absurd dan polos itu. “Ya sudah, jadi in

