** “Mau minum?” tawar Biantara sigap, saat Viona bergerak sedikit saja. “Enggak, Mas. Aku cuma ganti posisi aja. Aku pegel.” Viona tersenyum lembut. “Tapi kamu belum boleh bergerak, sayang. Nanti itu kamu robek lagi.” Viona menghela napas berat karena kekonyolan suaminya yang belum bisa bersikap biasa saja itu. Percayalah, sejak tadi Viona melahirkan sampai sekarang mereka sudah ada di rumah perawatan, lelaki itu masih sering panik menghadapi situasi yang jarang terjadi itu. “Nggak mungkin, Mas. Lagian, ini juga hati-hati kok.” Viona sedikit sewot. “Tapi kamu suka asal kalau gerak, sayang. Aku kan jadi khawatir. Katamu, dijahit itunya itu sakit sekali.” Viona berdecak karena pembahasan yang Biantara angkat. “Aku masih paham harus gimana. Kamu pikir, aku nggak bisa ngerasain sakit

