Biantara langsung pias mendengar ucapan perawat itu. Saat itu juga, Viona langsung mendapatkan serangan nyeri di perutnya secara mendadak. “Akh!” rintih wanita itu refleks memegangi perutnya. Rasanya, hampir seperti tadi saat di toko, tapi kali ini lebih parah. Dan, ya. Viona tahu rasa itu. Dia ingat betul saat dia harus berjuang melahirkan Dhio lima tahun yang lalu. “Mari, Bu. Saya bantu.” Biantara baru benar-benar sadar saat perawat itu mendekat. Dia panik, tapi bingung harus melakukan apa. Dia ingin membantu istrinya, tapi ada Dhio yang ketakutan melihat Mamanya kesakitan. “Em, suster. Apa anak saya boleh masuk? Dia nggak ada menemani.” Suara Biantara membuat perawat perempuan itu mengurungkan gerakannya membantu Viona. “Maaf, Pak. Lebih baik, Bapak hubungi keluarga yang lain dulu

