“Maafkan aku, Amber. Aku hanya tidak ingin kau terbebani oleh masalah baru,” desah Adam sambil meraih pundak di hadapannya. “Tapi kenyataannya, kau malah membuat masalah yang lebih besar!” pekik Amber seraya menepis tangan sang pria. Air mata kini mengalir deras di wajahnya. Pemandangan itu sukses memperluas luka di hati Adam. Sambil tertunduk, laki-laki itu menggenggam penyesalan. “Aku tahu. Ini salahku.” “Sekarang apa lagi yang akan kau lakukan? Pergi menemui orang tuaku? Berlutut di hadapan mereka dan membiarkan orang-orang itu menghajarmu lagi? Atau berlutut di depan gedung badan administrasi?” sindir Amber dengan suara tersedak. Tak sanggup memikul rasa bersalah, Adam terpejam dan mendesah pasrah. “Aku tidak tahu ....” “Lakukan saja! Bukankah kau selalu gegabah? Kau selalu ber

