9. Menuntaskan Hasrat

1430 Words
Aaron menangkup wajah Aileen dengan kedua tangannya, tatapannya begitu dalam hingga membuat Aileen kehilangan kekuatannya untuk melawan. Dia mendekatkan wajahnya, hingga jarak di antara mereka benar-benar lenyap. Bibir mereka akhirnya bertemu, lembut pada awalnya, dan perlahan berubah menjadi penuh hasrat. Aileen sempat menegakkan kedua tangannya di d**a Aaron, mencoba mendorongnya menjauh. “Aaron … kita tidak seharusnya ...,” ucapnya dengan suara terputus di sela napasnya yang memburu. “Kita tidak punya pilihan, Aileen … kau tenang saja, aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan kemarin malam dan malam ini,” bisiknya, suaranya serak dan dalam. Lantas, Aaron kembali menyambar bibir manis Aileen. Dia memperdalam tautan bibir mereka, menyapu bibir Aileen dengan sentuhan yang memabukkan. Aileen menggigil mendengar nada suaranya yang menenangkan sekaligus menggetarkan. Perlahan, pertahanannya runtuh. Tangannya yang semula mendorong, kini mulai menarik kemeja Aaron, mencengkeramnya erat. Dia akhirnya menyerah pada emosi yang menggelegak di dalam dirinya dan mulai membalas ciuman Aaron dengan g4irah yang sama. Aaron menarik tubuh Aileen lebih dekat, memeluknya erat di bawah guyuran air. Tangan satunya merangkul pinggang Aileen, sementara tangan lainnya menyelip di belakang lehernya, menahan kepala wanita itu agar tidak bisa berpaling. Ciumannya semakin intens, dan napas mereka bercampur menjadi satu di tengah udara lembap kamar mandi. “Aileen …,” gumam Aaron di sela ciuman mereka. “Kau membuatku gila.” Aileen mengangkat wajahnya, menatap Aaron dengan tatapan campuran antara bingung, marah, dan menyerah. “Mommy-mu yang membuatku seperti ini, Aaron. Tapi ... ini salah …,” desahnya, meskipun tangannya tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melepaskannya. Aaron mengusap rambut basah Aileen dengan lembut, membuat wanita itu semakin terhanyut. “Mungkin ini salah. Tapi apa yang kita rasakan sekarang … tidak bisa dipalsukan. Aku yakin, kau merasakan sama seperti yang aku rasakan.” Aileen terdiam sejenak, membiarkan kata-kata Aaron meresap. Dia tahu dia harus pergi, harus menjauh dari pria ini sebelum semuanya semakin rumit. Tapi tubuhnya menolak untuk mendengar logika. Detik berikutnya, Aileen melingkarkan tangannya di leher Aaron, membalas ciuman pria itu dengan penuh kerinduan yang bahkan tak pernah dia sadari sebelumnya. Aaron tersenyum di tengah-tengah ciuman penuh hasrat itu. Dia mulai melepaskan bibirnya yang saling bertaut dan mengangkat tubuh Aileen, membawanya ke dalam bathtub. Aaron dengan hati-hati menurunkan tubuh Aileen ke dalam bathtub. Dia menyalakan air, dan air hangat pun mengalir memenuhi bathtub. Uap lembut membelai kulit mereka, menciptakan suasana yang intim dan penuh ketegangan. Aaron ikut masuk ke dalam bathtub dan menarik tubuh Aileen, mendudukkan gadis itu di pangkuannya. Dia tidak pernah melepaskan kontak mata dengan Aileen, seolah-olah mencoba membaca setiap emosi yang berkecamuk di dalam dirinya. Aileen membuang pandangannya, mencoba menghindari intensitas tatapan Aaron, tetapi jari-jarinya yang gemetar dengan sendirinya menyentuh bahu pria itu, seolah mencari pegangan. Aaron merespons dengan lembut, menyelipkan tangannya di bawah dagu Aileen, mengangkat wajahnya hingga mata mereka kembali bertemu. "Kau tidak perlu takut, seperti yang aku katakan tadi, aku akan bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan sekarang, hum?" Aileen ingin melontarkan kata-kata makian seperti sebelumnya, tapi lidahnya terasa kelu saat tatapan fokus pada bibir Aaron. Ciuman manis sebelumnya membuat hasratnya bergejolak. Dia ingin ciuman itu lagi. Aaron terdiam, memberi waktu bagi Aileen untuk menarik diri, tetapi tidak ada penolakan. Embusan napas mereka saling menyentuh wajah mereka, membuat Aaron yakin jika Aileen menginginkan hal yang sama, dan kehangatan air memperdalam sensasi yang mereka rasakan. Aaron menyapu rambut basah Aileen ke belakang, membiarkan jemarinya menelusuri garis wajahnya, mengingat setiap detail. Aileen yang sudah tidak tahan lagi menahan hasratnya yang semakin bergejolak, langsung menyambar bibir Aaron dengan penuh g4irah, membuat Aaron terbelalak, tapi detik kemudian dia mengikuti ritmenya. Jemari Aileen mulai menuntut Aaron untuk membuka kancing kemejanya. Aaron pun segera melepaskan kemejanya itu dan melemparnya asal tanpa melepaskan bibirnya yang saling bertaut. Juga melepaskan ikat pinggangnya dan menurunkan celananya, hingga sesuatu yang menegang di bawah sana mulai menyentuh area segitiga bermuda milik Aileen. "Eunght ...." Aileen melenguh tanpa sadar saat merasakan daerah sensitifnya tersentuh oleh pusaka milik Aaron. Aaron melepaskan ciumannya sejenak dan mengangkat turtleneck yang dikenakan Aileen ke atas hingga hanya terpampang penutup dua buah kehidupan milik Aileen. Dia membawa Aileen untuk berdiri. Sementara dirinya berlutut di hadapan Aileen dan melepaskan rok juga kain segitiga penutup segitiga bermuda Aileen dengan gerakan sensual. Setelah tubuh Aileen hampir polos, Aaron mengecup setiap inchi kulit paha Aileen, membuat Aileen mendesah dan melenguh sambil meremas rambut Aaron, dan meminta lebih. Gadis itu membawa kepala Aaron agar menenggelamkan wajahnya di area segitiga bermudanya. "Ouch ... aaaght ...." Dia kembali melenguh dan mendesah saat lidah Aaron sudah bermain di bawah sana. Tangannya terus meremas rambut Aaron kuat-kuat sambil menekan kepala Aaron seolah meminta sesuatu yang lebih. Puas bermain di sana, Aaron mendudukkan Aileen kembali di atas pangkuannya, dan tanpa aba-aba, pria itu langsung memasukkan benda pusakanya ke dalam lubang segitiga bermuda milik Aileen. "Aaaght!" pekik Aileen sambil mencengkeram kuat bahu Aaron hingga meninggalkan luka cakar di bahu pria arogan itu. Di dalam bathtub itu, setiap sentuhan terasa lebih bermakna. Tidak ada kata-kata, hanya ada hasrat yang tak tertahankan. Aaron memeluk Aileen erat, mencoba memberikan rasa nyaman di tengah badai hasrat yang melanda mereka. Aileen membalas pelukan itu, membiarkan tubuhnya rileks dalam dekapan Aaron, seolah-olah menemukan tempat perlindungan, sambil terus meliuk-liukkan tubuhnya di atas pangkuan Aaron hingga membuat Aaron melenguh dan meracau. "Ouch! Kau benar-benar membuatku menggila, Aileen Moretz!" racaunya, dan bangkit berdiri sambil menggendong tubuh Aileen dengan kaki yang melingkari pinggulnya, membawanya menuju wastafel yang ada di dalam kamar mandi itu. Dia mendudukkan Aileen di atas meja wastafel itu dan kembali memasukkan pusakanya itu ke dalam milik Aileen dan terus memompanya hingga membuat Aileen menjerit penuh kenikmatan. Perlahan, gerakan Aaron melambat setelah menuntaskan hasratnya, hanya tersisa keheningan yang diiringi oleh suara air dalam shower yang bergolak lembut. Aileen menutup matanya dengan napas yang masih memburu, mencoba memahami kekacauan yang sedang terjadi di dalam dirinya, sementara Aaron memejamkan matanya, memohon waktu untuk berhenti sejenak. Malam itu, di antara mereka, tidak ada yang berubah secara logis, tetapi saat ini, dunia luar terasa sangat jauh, dan yang tersisa hanyalah dua hati yang terperangkap dalam dilema tak terucapkan. *** Pagi hari, sinar matahari menembus celah gorden, menerangi kamar dengan lembut. Aaron membuka matanya perlahan, merasakan kehangatan di sisi tubuhnya. Di sebelahnya, Aileen terlelap dalam posisi yang begitu damai. Wajahnya yang polos saat tidur membuat Aaron terpaku. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya tanpa disadarinya. "Cantik," gumam Aaron dalam hati, memperhatikan setiap detail wajah Aileen. "Andai saja kau tidak keras kepala dan terus menentangku. Mungkin aku akan jatuh cinta padamu," pikirnya, sambil menyapu helai rambut yang menutupi wajah wanita itu. Aileen bergerak sedikit, membuat Aaron menahan napas. Dia tidak ingin membangunkan wanita itu terlalu cepat. Namun, suara desah napasnya yang lembut membuat suasana di antara mereka terasa begitu tenang, seolah dunia luar tidak lagi ada. Aaron berusaha bangkit perlahan agar tidak mengganggu tidur Aileen, tetapi ketika dia mulai bergerak, tangan Aileen yang melingkar di pinggangnya tiba-tiba mencengkeram erat, membuatnya berhenti. Aaron membeku sejenak, lalu tersenyum. "Aku tidak akan ke mana-mana," jawabnya, suaranya rendah dan menenangkan. Sikap yang tidak pernah Aileen dengar dari sosok bosnya yang galak itu. "Tidur saja lagi, kau pasti masih lelah." Aileen menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke sisi lain, mencoba mengingat apa yang telah terjadi semalam. Ketika kesadaran mulai kembali, wajahnya memerah. Dia menutup wajahnya dengan tangan, menghindari tatapan Aaron. "A-apa yang kita lakukan …." Suaranya pelan, hampir seperti bisikan. "Ini seharusnya tidak terjadi." Aaron menyentuh tangannya dengan lembut, menariknya agar menatapnya. "Tidak ada yang perlu kita sesali, Aileen," ucapnya tegas. "Aku sudah bilang, aku akan bertanggung jawab atas semuanya." Aileen mendengus kecil, menatapnya dengan campuran emosi. "Kau tidak mengerti. Ini bukan hanya tentang tanggung jawab. Ini … ini terlalu rumit." Aaron menarik napas panjang, menatap Aileen dengan serius. "Kalau begitu, sederhanakanlah. Jangan berpikir terlalu jauh, dan jangan mencari alasan untuk menjauh dariku." Dia mencondongkan tubuhnya, menatap mata Aileen dalam-dalam. "Kau tahu, aku tidak akan melepaskanmu." Aileen terdiam, terjebak dalam keteguhan Aaron yang membuat hatinya bergetar. Dia ingin membantah, tetapi kata-kata itu tidak pernah keluar dari bibirnya. Di balik semua keraguannya, ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak bisa menyangkal kebenaran dari kata-kata Aaron. Pria arogan itu pasti tidak akan melepaskannya begitu saja setelah apa yang terjadi pada mereka untuk kedua kalinya. Mereka terdiam cukup lama, hanya membiarkan keheningan berbicara. Hingga akhirnya, Aaron mengecup lembut dahi Aileen, membuat wanita itu tertegun. "Pikirkan baik-baik, Aileen," bisik Aaron sebelum kembali merebahkan diri di sampingnya. "Aku akan menikahimu seperti permintaan Mommy-ku tadi malam." Aileen memalingkan wajahnya, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang penuh pertentangan. Dalam keheningan itu, hanya satu hal yang pasti—hubungan mereka telah berubah, dan tidak ada jalan untuk kembali seperti sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD