Aaron tampak sama terkejutnya, meskipun dia berhasil menjaga ekspresi wajahnya lebih tenang. “Mom, bukankah itu terlalu cepat?”
“Cepat?” Sophia menatap mereka dengan alis terangkat. “Kalian sudah saling mengenal selama enam bulan, bukan? Dan Aileen terlihat begitu cocok denganmu. Aku tidak melihat alasan untuk menunda kebahagiaan ini.”
Aileen menatap Aaron, berharap pria itu akan membantah lebih keras. Namun, Aaron hanya menatap Sophia dengan ekspresi sulit dibaca.
“Mom,” ucap Aaron akhirnya, suaranya rendah. “Aku rasa kita perlu waktu untuk … mempersiapkan semuanya.”
“Tentu saja,” ujar Sophia sambil mengangguk. “Aku sudah memesan wedding planner terbaik. Mereka akan mengurus segalanya. Kalian hanya perlu hadir dan menikah.”
Aileen hampir kehilangan kontrol atas senyumnya, tapi dia berhasil memaksakan tawa kecil. “Itu … sangat mendadak, Nyonya. Aku ... aku belum siap untuk menikah.”
Sophia menatapnya dengan senyum penuh kemenangan. “Kadang keputusan terbaik adalah yang diambil dengan cepat, Aileen. Jangan khawatir, semuanya akan sempurna. Aku akan mengaturnya.”
Aaron menatap Aileen sekilas, lalu kembali menatap ibunya. “Baiklah, Mom. Kalau itu yang kau inginkan.”
Aileen memandang Aaron dengan mulut setengah terbuka, hampir tidak percaya dia menyerah begitu saja. Dalam hati, dia sudah menyusun ribuan sumpah serapah untuk Liam yang telah menyeretnya ke dalam kekacauan ini.
Aileen berpura-pura menatap jam di pergelangan tangannya, menyadari bahwa malam sudah semakin larut. Dengan suara pelan namun tegas, dia berkata, “Nyonya Sophia, sepertinya sudah sangat malam. Aku rasa aku harus pulang sekarang.”
Akan tetapi, sebelum Aileen sempat berdiri, Sophia melambaikan tangannya, seolah menolak ide tersebut mentah-mentah. “Pulang? Tentu tidak. Kalian harus menginap di sini malam ini.”
Aileen menatap Sophia dengan mulut sedikit terbuka. “Me-menginap? Tapi—”
“Tidak ada tapi-tapi, Aileen,” potong Sophia, nada suaranya penuh otoritas. “Rumah ini cukup besar untuk menampung kalian. Aku tidak akan membiarkan kau pulang malam-malam seperti ini. Lagipula, bukankah lebih romantis jika calon pengantin tinggal bersama di rumah keluarga?”
Aileen tersedak oleh komentar itu, berusaha memprotes. “Tapi, Nyonya, kami benar-benar tidak—”
Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, Aaron, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, akhirnya berbicara. “Baik, Mom. Kami akan menginap di sini.”
Kata-kata Aaron membuat Aileen menoleh dengan ekspresi terkejut dan penuh amarah. "s**t! Apa maksudnya ini?!" pikirnya dalam hati. Namun, dia menahan diri untuk tidak berteriak di depan Sophia.
Sophia tersenyum puas, lalu menambahkan, “Aaron, tunjukkan kamar tamu ... atau tidak, lebih baik bawa Aileen ke kamarmu. Dia calon istrimu, jadi itu wajar.”
Mata Aileen semakin membesar. Dia nyaris kehilangan kata-kata, tetapi akhirnya berkata dengan nada tegang, “Nyonya, aku rasa itu tidak pantas. Kami—”
“Tidak apa-apa,” potong Sophia dengan santai. “Kau pasti akan lebih nyaman jika tidur bersama. Aaron, pastikan dia nyaman berada di kamarmu.”
Aaron mengangguk tanpa ekspresi, lalu berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Aileen. “Ayo, Baby.”
Aileen, yang hampir kehabisan akal, hanya bisa mengikuti sandiwara itu dengan menggerutu dalam hatinya. "Sekarang aku tahu dari mana manusia robot ini mendapatkan kebiasaannya memerintah seenaknya. Rupanya darah memang lebih kental daripada air."
Aaron memimpin jalan menaiki tangga, sementara Aileen mengikutinya dengan langkah berat. Begitu mereka sampai di depan pintu kamar, Aaron membukanya dan membiarkan Aileen masuk terlebih dahulu.
Begitu pintu tertutup, emosi Aileen langsung meletup-letup. “Apa-apaan tadi itu, Tuan? Kau bahkan tidak membelaku sedikit pun! Dan kenapa kita harus menginap di sini?! Ini tidak ada dalam rencana kita!”
Aaron melepas jasnya dengan tenang, meletakkannya di gantungan, lalu menatap Aileen. “Mommy-ku tidak suka ditentang. Kau tidak akan menang melawan argumennya.”
“Tapi kau bisa mencoba! Kau bahkan tidak berusaha sedikit pun!” Aileen memelototinya. “Dan sekarang aku harus berbagi kamar denganmu? Kau tahu ini sangat tidak masuk akal, 'kan?”
Aaron mendekat, menatap Aileen dengan dingin. “Percayalah, aku juga tidak ingin ini terjadi. Tapi kalau kau terus membuat keributan, itu hanya akan memperburuk keadaan. Jadi, tolong, bersikaplah profesional.”
Aileen mencibir. “Profesional? Ini bukan urusan pekerjaan lagi, Tuan Aaron Smith. Ini sudah menyangkut kehidupan pribadiku! Kau tahu, aku tidak pernah setuju dengan semua ini, dan sekarang kau membiarkan ibumu menyeretku lebih jauh dalam kekacauan ini!”
Aaron menghela napas panjang, lalu berjalan menuju sofa di sudut kamar. Dia duduk di sana dan menatap Aileen dengan ekspresi lelah. “Aku tahu ini sulit untukmu, tapi ini juga sulit untukku. Jadi bisakah kita melewati malam ini tanpa drama tambahan?”
Aileen terdiam sejenak, mencoba menenangkan dirinya. Akhirnya dia menghela napas dengan berat, lalu duduk di ujung tempat tidur. “Baiklah. Tapi jangan harap aku akan tinggal diam kalau ibumu mencoba hal aneh lagi. Pokoknya, besok pagi aku harus pulang!”
Aaron mengangguk, lalu memejamkan matanya sejenak. Dalam hati, dia berharap malam itu cepat berlalu. Namun, ada sesuatu dalam hatinya yang mulai terusik melihat keberanian Aileen menghadapi situasi ini, meskipun dia tahu wanita itu pasti sangat frustrasi sekarang.
Aileen duduk di tepi tempat tidur, membiarkan pikirannya kembali pada pembicaraan makan malam tadi. Wajahnya mengeras saat teringat tentang pernikahan yang direncanakan Sophia tanpa persetujuan mereka. Dengan langkah cepat, dia berdiri dan berjalan mendekati Aaron yang tengah memejamkan mata di sofa.
“Kenapa kau tidak menentang rencana pernikahan itu?” tanya Aileen langsung, tanpa basa-basi. “Aku tidak mungkin menikah dengan manusia robot sepertimu.”
Aaron membuka matanya perlahan, lalu mendengus kesal. Dia bangkit duduk, menatap Aileen dengan tatapan tajam. “Manusia robot? Kenapa kau selalu menjuluki aku seperti itu?”
“Lalu apa? Kau memang sangat cocok dengan julukan itu!" Aileen menghela napas kasar dan melanjutkan, "tidak perlu mengalihkan topik, jawab pertanyaanku, kenapa kau setuju saja dengan rencana pernikahan itu? Kau tahu ini tidak masuk akal, Aaron Smith!” Aileen melipat tangannya, nadanya semakin meninggi.
Akan tetapi, sebelum Aaron sempat membalas, suara ketukan pintu terdengar. Mereka berdua langsung menoleh. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan Sophia bersama seorang kepala pelayan yang membawa nampan dengan dua gelas s**u.
“Aaron, Aileen, aku membawakan s**u untuk kalian. Minumlah agar tidur kalian lebih nyenyak,” ujar Sophia dengan senyum tipis.
Aileen menatap gelas-gelas itu dengan ragu. “Oh, terima kasih, Nyonya, tapi aku tidak terlalu suka minum s**u malam-malam. Aku sedang diet.”
Sophia mengangkat alisnya, tetap dengan senyum penuh otoritas. “Tenang saja, ini s**u rendah lemak, Aileen. Ini untuk kebaikanmu. Minumlah sekarang.”
Aaron, yang tahu sifat keras kepala ibunya, mengambil gelas pertama tanpa berkata apa-apa dan menyerahkannya pada Aileen. “Minumlah,” katanya datar.
Aileen, yang sudah hampir meledak dengan emosi, akhirnya mengambil gelas itu dengan gerakan kasar. “Baiklah, kalau ini bisa membuatmu puas,” gerutunya dalam batin. Dia menenggak s**u itu sekaligus hingga tandas. Aaron mengikuti langkahnya, meminum s**u di gelasnya sampai habis.
Sophia tersenyum puas. “Bagus sekali. Tidurlah dengan nyenyak, kalian berdua. Selamat malam.” Dia lalu keluar dari kamar bersama kepala pelayan, meninggalkan Aaron dan Aileen dalam keheningan.
Beberapa menit kemudian, Aileen merasa sesuatu yang aneh. Tubuhnya mulai terasa panas, meskipun pendingin ruangan di kamar itu masih menyala. Dia menoleh ke arah Aaron yang terlihat mulai mengusap lehernya, wajahnya juga tampak memerah.
“Ini … ada yang salah dengan s**u tadi,” gumam Aaron pelan.
Mata Aileen membesar. “Apa maksudmu?”
Aaron menatapnya dengan ekspresi serius. “Mommy-ku pasti menaruh sesuatu di dalam s**u itu.”
Aileen langsung membelalak, mengingat sesuatu. “Tidak … ini sama seperti yang aku rasakan saat Alan Walters ….” Dia terdiam, wajahnya berubah panik. “Tidak! Aku tidak akan melakukannya lagi denganmu! Aku harus pulang sekarang juga!”
Dia segera menyambar tas tangannya dan berjalan cepat menuju pintu. Namun, Aaron dengan sigap mencengkeram pergelangan tangannya, menghentikannya. “Kau tidak boleh pergi. Kalau kau keluar sekarang, Mommy pasti akan curiga pada kita.”
Aileen mencoba melepaskan diri, tetapi cengkeraman Aaron terlalu kuat. “Lepaskan aku, Aaron! Aku tidak mau melakukan hal itu lagi denganmu!”
Aaron menghela napas panjang, lalu menangkup wajah Aileen dengan kedua tangannya. Kali ini tatapannya tidak lagi dingin, melainkan lembut dan penuh hasrat. “Dengar, kita tidak harus melakukan itu. Ada cara lain untuk meredakannya.”
Aileen menatapnya dengan bingung. “Cara lain? Apa maksudmu?”
Aaron tidak menjawab. Dia hanya menarik tangan Aileen dengan lembut, membawanya ke kamar mandi. Begitu mereka masuk, dia menyalakan shower, membiarkan air mengalir deras, membasahi mereka berdua.
Aileen berdiri di bawah guyuran air, bingung sekaligus gugup. “Aaron, ini—”
“Ssh.” Aaron meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Aileen, menghentikan protesnya. "Air ini akan meredakan rasa panas dalam tubuh kita."
Mereka berdiri saling berhadapan di bawah air yang mengalir, tubuh mereka semakin basah. Namun, bukannya mereda, detak jantung mereka justru semakin cepat. Tanpa sadar, jarak di antara mereka semakin mengecil. Hidung mereka bersentuhan, dan mata mereka saling terkunci dalam tatapan penuh ketegangan.
“Aaron …,” bisik Aileen dengan suara bergetar, tidak yakin apa yang terjadi, tapi tidak bisa mengalihkan diri dari tatapannya.
Dan, sebelum kata-kata lain terucap, Aaron mendekatkan wajahnya lebih lagi, membuat jarak di antara mereka benar-benar menghilang, bahkan bibir mereka sudah mulai saling bertaut.