7. Menikah?

2276 Words
Aaron menatap pintu yang baru saja ditutup Aileen, pikirannya kalut. Belum selesai dia memikirkan cara memperbaiki situasi, ponselnya bergetar di atas meja. Melihat nama 'Mommy' terpampang di layar, Aaron memijat pelipisnya, tahu bahwa ini hanya akan memperumit keadaan. Dengan enggan, dia menjawab panggilan itu. “Halo, Mom?” “Son, kau masih di kantor?” Suara ceria ibunya, Shopia, terdengar. Tapi Aaron tahu, di balik nada itu, pasti ada tuntutan. “Ya, Mom. Ada yang bisa kubantu?” Aaron mencoba terdengar santai, meskipun dia tahu ini bukan panggilan santai. “Ya, tentu saja ada. Aku ingin kau dan Aileen datang ke mansion nanti malam. Aku sudah meminta chef kita menyiapkan makanan untuk kita makan malam bersama,” ujar Shopia tanpa basa-basi. Aaron mendesah pelan. “Mommy, kami tidak bisa malam ini. Aileen sedang mempersiapkan presentasi penting untuk klien besok pagi. Pekerjaannya sangat banyak, dan—” Shopia langsung memotong. “Aaron, kau tahu aku tidak suka alasan. Kalau dia benar-benar kekasihmu, dia pasti bisa mengatur waktunya. Aku tidak peduli seberapa sibuk dia. Aku ingin bertemu dengannya malam ini juga.” Aaron menahan diri agar tidak menggeram. “Mom, ini pekerjaan. Aku tidak bisa meminta Aileen mengabaikan pekerjaannya hanya untuk makan malam.” Akan tetapi, Shopia tidak goyah. Nada suaranya berubah tegas. “Aaron, jika kau tidak membawanya malam ini, aku akan menganggap dia bukan kekasihmu. Dan kalau itu benar, besok aku akan mengatur pertemuan dengan putri temanku yang terakhir kali kau tolak. Kau masih ingat dia, 'kan?” Aaron terdiam, memikirkan wanita yang dimaksud Mommy-nya itu—pembicaraannya yang tidak bermutu, hanya tentang skincare, liburan, dan belanja barang-barang branded. Membayangkan harus duduk bersamanya lagi saja membuat Aaron bergidik ngeri. Dia tahu ibunya serius. Shopia tidak akan ragu untuk mengirim wanita itu ke kantornya besok pagi. “Mom, kau tidak bisa terus memaksaku seperti ini,” ujar Aaron akhirnya, berusaha mengendalikan nada suaranya. “Tentu saja aku bisa, Son,” jawab Shopia santai, tapi penuh ancaman terselubung. “Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Jadi, kau bawa Aileen malam ini, atau ....” Aaron mengepalkan tangan, tahu dia tidak punya pilihan. “Baiklah,” katanya akhirnya. “Kami akan datang malam ini.” “Bagus. Aku tahu kau akan mendengarkanku. Sampai nanti, Darling,” jawab Shopia sebelum menutup telepon. Aaron melempar ponselnya ke sofa, memijat tengkuknya dengan frustrasi. Dia menghela napas panjang, lalu mengambil langkah besar menuju pintu. Dia tahu, membawa Aileen ke mansion malam ini akan menjadi pertempuran lain. Dan dengan mood Aileen yang saat ini sedang buruk, dia harus berpikir keras untuk membujuk wanita itu. Aaron berdiri di depan jendela kaca besar di kantornya, menatap langit sore yang mulai memerah. Dengan satu tangan menggenggam ponsel, ia memanggil Liam, sahabat sekaligus asistennya itu. "Liam, aku butuh bantuanmu sekarang. Datang ke ruanganku!" Tak sampai lima menit, pintu ruangannya terbuka, dan Liam masuk dengan senyum lebar seperti biasa. "Ada apa, Bos? Kau terdengar seperti baru saja dilempari batu." Aaron kembali menghela napas panjang sebelum berbalik menghadap Liam, wajahnya penuh dengan rasa frustasi. "Mommy meminta aku membawa Aileen ke mansion untuk makan malam. Kau tahu sifatnya, Liam. Aileen baru saja memakiku habis-habisan karena kebohongan yang aku buat spontan. Apa kau punya ide bagaimana membujuknya?" Liam terkekeh, membuat Aaron langsung melotot tajam ke arahnya. "Kalau hanya ingin tertawa, lebih baik kau keluar sekarang." "Okay, okay, maaf. Tapi ini lucu, Aaron. Kau yang biasanya begitu dingin dan tanpa cela, sekarang terlihat seperti anak kecil yang takut dimarahi ibunya." Aaron menghela napas berat, duduk di kursinya sambil memijat pelipis. "Liam, aku serius. Kau tahu sifat Aileen yang keras kepala itu jika aku memaksanya, dia pasti akan membuat kekacauan. Mommy pasti tahu aku berbohong, dan itu akan jadi bencana besar." Liam berhenti tertawa dan mendekat, bersandar di meja Aaron. "Bagaimana kalau aku ikut dengan kalian saja? Aku bisa mengajak Aileen ke mansion dengan alasan bahwa kita perlu membicarakan proyek di London dan meminta persetujuan Mommy-mu di sana." "Dan bagaimana kalau Aileen tiba-tiba mengatakan pada Mommy bahwa dia bukan kekasihku?" Liam terkekeh kecil melihat raut wajah Aaron yang penuh kecemasan. Namun, saat Aaron menatapnya tajam, dia langsung berhenti tertawa. "Itu gampang. Kita bisa alihkan topiknya sebelum dia sempat bicara. Kau hanya perlu mengandalkanku untuk ini." Aaron menatap Liam dengan ragu, tapi akhirnya mengangguk setelah menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi kalau ini gagal, aku akan memastikan kau menyesal seumur hidup." "Santai saja, Bos. Percayalah pada ahli seperti aku." "Ahli berbohong lebih tepatnya," balas Aaron yang membuat Liam lagi-lagi terkekeh. *** Liam mendekati meja kerja Aileen dengan senyum ramah. "Hei, Aileen. Ada waktu sebentar? Kita perlu bicara soal proyek di London." Aileen mengangkat alis, jelas terkejut. "Proyek London? Apa sekarang mendadak penting?" "Ya, kita butuh persetujuan dari Nyonya Sophia Smith. Aaron dan aku akan ke mansion nanti, dan kupikir kau juga harus ikut. Ini cukup mendesak." Aileen mendesah, tapi akhirnya mengangguk setelah beberapa detik berpikir. "Baiklah. Tapi jangan harap aku akan bersikap manis pada si manusia robot itu." Liam hanya tersenyum tipis, menahan tawa. *** Liam mengemudikan mobil Aaron dengan Aileen duduk di kursi depan di sebelahnya, sementara Aaron duduk di kursi belakang dengan ekspresi datar. Aileen menolak duduk di sebelah Aaron meski Liam sudah memintanya duduk di belakang. "Liam, fokuslah pada jalan, jangan berbicara terus. Kau ingat saat kita ke London terakhir kali? Kau hampir tersesat karena terlalu percaya pada GPS." "Hei, itu bukan salahku. GPS-nya yang bermasalah." Aileen tertawa mendengar jawaban Liam yang berani menentang perkataan Aaron. Kemudian dia pun bercanda gurau dengan Liam, karena Liam terus berbicara hal yang konyol dan berhasil membuatnya tertawa. Aaron yang memutar bola matanya, memasang earphone, dan menyalakan musik di tabletnya, karena keberisikan mendengar percakapan, dan suara tawa mereka berdua. Tapi saat melihat Aileen menyentuh bahu Liam sambil terkekeh, perasaan aneh mulai menguasainya. Ia menurunkan volume musik dan mengernyit. Tak tahan melihat tangan Aileen yang masih terus bertengger di bahu Liam, Aaron tiba-tiba menendang belakang kursi Liam. "Hei! Apa-apaan ini?!" Liam langsung menepikan mobil, menoleh ke belakang dengan alis terangkat. "Kalian terlalu berisik!" jawab Aaron tanpa menatap mereka yang tengah menatapnya tajam. Jawaban dingin itu membuat Aileen mendengus kesal. "Dasar manusia robot! Kalau kau tidak suka, kenapa tidak naik taksi saja?" Aaron tak menjawab, hanya kembali menatap tabletnya dengan ekspresi datar. Liam, yang berusaha menahan tawa, kembali menjalankan mobil, sambil sesekali melirik Aaron dari kaca spion dengan senyum penuh arti. Dia tahu, sahabatnya itu sedang cemburu kepadanya. "Kau salah, Aileen ... seharusnya kita lah yang naik taksi. Ini kan mobil miliknya," kata Liam yang membuat Aileen langsung berbalik ke depan. Tidak menjawab apa pun karena malu pada Aaron. Liam hanya mengulum bibirnya, mencoba menahan tawanya melihat raut wajah Aileen yang mendadak memerah dan mulutnya yang membisu. Setelah mobil berhenti di depan mansion megah keluarga Smith, Aileen turun dari mobil dengan langkah ragu. Matanya membelalak melihat bangunan yang berdiri seperti istana dengan pilar-pilar tinggi dan kolam air mancur yang dikelilingi taman yang dipenuhi bunga eksotis. “Ya ampun,” gumam Aileen tanpa sadar. “Ini rumah atau museum?” Liam, yang sudah berdiri di sampingnya, menahan tawa. “Mansion, Aileen. Ini hanya rumah kecil untuk keluarga kecil mereka.” Aileen mendelik ke arah Liam. “Kecil katamu? Ini sudah lebih besar dari hotel bintang lima yang pernah kudatangi!” "Wanita yang menikah dengan Bos kita akan sangat beruntung karena akan merasakan kemewahan seumur hidupnya. Apa kau tidak tertarik menjadi istrinya, Aileen?" goda Liam yang langsung membuat Aileen menatapnya tajam. "Apa? Aku menikah dengan manusia robot itu?" pekiknya. "Itu tidak mungkin. Hidupku akan seperti di neraka jika menikah dengan manusia robot yang sombong dan keras kepala sepertinya!" "Dia tidak sepenuhnya seperti yang kau pikirkan, Aileen." Liam mencoba membela sahabatnya itu. Aaron keluar dari mobil, tampak tidak peduli dengan ocehan Aileen tentang dirinya. Karena dia sudah bosan dengan penilaian orang lain tentang dirinya yang sama persis seperti yang dikatakan Aileen barusan. Dia menutup pintu mobil dengan tenang, lalu berjalan mendekati mereka. Sebelum Aileen sempat melontarkan komentar sinis lagi tentang Aaron, Liam menahan bahunya, memandangnya dengan serius. “Dengar, Aileen,” Liam memulai, suaranya sedikit menurun. “Aku tahu ini bukan posisi yang nyaman untukmu. Tapi aku butuh kau untuk berpura-pura menjadi kekasih Aaron malam ini.” Mata Aileen melebar. “Apa? Tidak mungkin! Aku tidak akan—” Liam segera memotongnya. “Aileen, dengar aku dulu. Ini penting. Jika Nyonya Sophia tahu bahwa Aaron berbohong tentang kau menjadi kekasihnya, dia akan membatalkan proyek resort itu. Resort itu milik keluarga saingannya di dunia sosialita, dan kalau sampai batal, kita semua akan kena imbasnya.” Aileen mengalihkan pandangan ke Aaron, yang masih berdiri dengan tangan di saku celananya, memasang ekspresi tak peduli. Tatapan dinginnya membuat darah Aileen mendidih. “Kenapa aku harus peduli? Ini masalah dia, bukan masalahku,” ujar Aileen tajam. Liam menghela napas panjang, mencoba meyakinkannya lagi. “Karena ini juga tentang karier kita. Kalau proyek ini gagal, banyak orang yang akan dirugikan. Lagipula,” dia tersenyum penuh tipu muslihat, “Aaron pasti akan memberikan bonus sepuluh kali lipat bulan ini jika kita berhasil meyakinkan Nyonya Sophia, iya 'kan, Bos?” Aaron mendengus pelan, jelas tidak senang terjebak dalam permainan Liam. Sahabatnya itu memang pandai sekali memanfaatkan situasi. Tapi dia akhirnya mengangguk dengan berat. “Ya,” jawabnya singkat. Aileen melipat tangan di d**a, tatapannya sinis. “Oh, jadi cara manusia robot ini berterima kasih dan meminta maaf hanya dengan uang?” Aaron tidak merespons, hanya menatapnya datar. Liam tertawa gugup, mencoba mencairkan suasana. “Jadi bagaimana, Aileen? Kau akan melakukannya, 'kan?” Aileen mendesah panjang, memutar bola matanya. “Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi jangan harap aku akan bersikap manis.” Liam tersenyum lebar. “Itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih, Aileen.” Setelah mereka bersiap masuk, Liam dengan santai menggeser posisi Aileen agar berdiri lebih dekat ke Aaron. Sebelum Aileen sempat protes, Liam menautkan tangan mereka, membuat Aileen dan Aaron saling menggenggam. “Serius, Liam?” desis Aileen, mencoba menarik tangannya, tapi Aaron menggenggamnya erat. "Kenapa aku harus ...." “Tentu saja,” jawab Liam sambil tersenyum jahil. “Kalau kalian masuk tanpa bergandengan tangan, Nyonya Sophia pasti akan curiga.” Aaron menatap Liam dengan penuh rasa syukur, tapi tidak mengatakan apa-apa. Aileen, di sisi lain, mendesah frustasi. “Baiklah, tapi jangan berharap aku akan menikmatinya.” Liam menepuk bahu Aaron dengan senyum penuh kemenangan. “Kau tahu, Bos, aku rasa Aileen lebih cocok jadi pasanganmu daripada wanita mana pun yang pernah dijodohkan denganmu.” Aaron tidak menggubrisnya, hanya menarik Aileen dengan lembut ke arah pintu mansion. Aileen mendapati dirinya terseret mengikuti langkah Aaron, mencoba mengabaikan perasaan aneh yang muncul saat tangannya berada dalam genggaman hangat pria itu. Mereka akhirnya memasuki mansion, di mana chandelier kristal besar menggantung di tengah aula yang luas. Aileen menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Di depan mereka, Nyonya Sophia sudah berdiri dengan senyum manis tapi penuh perhitungan. “Aaron ... Aileen ...,” sambut Nyonya Sophia dengan nada ramah yang langsung memeluk Aaron dan Aileen bergantian. Aaron tersenyum kecil, melirik Aileen sekilas. “Ya, Mom. Aku membawa kekasihku seperti permintaanmu.” Aileen memaksakan senyum, meskipun dalam hati dia bergumam, "Aku pasti gila melakukan ini hanya demi bonus sepuluh kali lipat." Malam itu, makan malam berlangsung di ruang makan megah dengan meja panjang berlapis kain sutra dan lilin mewah yang menyala redup. Hanya ada tiga orang yang duduk di sana—Aaron, Aileen, dan Nyonya Sophia. Liam, yang tadinya mendampingi mereka, berpamitan dengan alasan mendadak bahwa ada dokumen penting yang tertinggal di kantor. Aileen menatap Aaron dengan tatapan mematikan. “Dia benar-benar meninggalkan kita begitu saja,” gumamnya pelan. “Cobalah ini,” ujar Aaron dengan nada tenang, meskipun ada sedikit nada terpaksa. “Mommy selalu menyukai daging panggang ini.” Aileen hampir terbatuk karena kaget, tapi dia berhasil menahan diri dan menatap Aaron dengan bingung. “Oh, terima kasih … Honey.” Kata terakhir itu diucapkannya dengan nada sinis, namun senyum palsunya tetap terpampang sempurna. Nyonya Sophia mengamati mereka dengan penuh perhatian, senyum puas tersungging di wajahnya. “Ah, akhirnya aku bisa melihat Aaron menunjukkan sisi romantisnya lagi setelah bertahun-tahun dia tidak pernah melakukannya pada wanita mana pun. Kau benar-benar membawa perubahan yang baik padanya, Aileen.” Aileen tertawa kecil, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya. “Oh, tentu saja, Nyonya. Aaron sangat perhatian … di saat-saat tertentu.” Aaron menyikut Aileen di bawah meja, membuat wanita itu hampir memekik. Dia hanya meliriknya tajam sambil tersenyum palsu pada Sophia. Selama makan malam, Aaron terus melanjutkan sandiwaranya. Dia menaruh potongan kecil steak di piring Aileen, menuangkan anggur untuknya, bahkan sesekali bertanya apakah dia membutuhkan sesuatu. Aileen terpaksa membalas dengan anggukan dan senyum manis yang semakin membuatnya merasa ingin muntah. “Aaron benar-benar berubah sejak bertemu denganmu, Aileen,” ujar Nyonya Sophia sambil menyeka sudut bibirnya dengan serbet. “Aku bisa melihat kebahagiaan di matanya.” Aileen nyaris tersedak. "Kebahagiaan? Di matanya? Dia bahkan hampir tidak punya emosi di wajahnya!" pikirnya dalam batin. Namun, dia tetap tersenyum sambil menggenggam tangan Aaron di atas meja untuk memperkuat sandiwara mereka. “Oh, dia pria yang hebat, Nyonya,” katanya dengan nada semanis madu. “Kadang sangat keras kepala, tapi … aku belajar menerima itu.” Aaron menahan napas, mencoba mengendalikan keinginannya untuk melontarkan komentar tajam. Dia hanya meremas lembut tangan Aileen, membuat wanita itu menegang. Nyonya Sophia tersenyum puas. Dia meletakkan garpunya dengan lembut dan menatap mereka berdua dengan tatapan penuh arti. “Kalau begitu, aku rasa tidak ada alasan untuk menunda lagi.” Aaron dan Aileen saling melirik, bingung dengan arah pembicaraan Sophia. “Apa maksudmu, Mom?” tanya Aaron hati-hati. Sophia menyeka mulutnya dengan serbet, lalu menatap mereka dengan senyum lebar. “Aku sudah memutuskan. Minggu depan, kalian akan menikah.” Aileen menjatuhkan garpu yang dipegangnya, matanya membelalak. “M-Maaf? Menikah? Minggu depan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD