Takdir Pernikahan 18 Fani baru saja keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah dapur. Matanya terbuka lebar saat menatap meja makan sudah terisi aneka makanan yang tampaknya sangat sedap. Mulai dari pudding buah mangga, capcai seafood, ikan bakar lengkap dengan lalap dan sambal kecapnya. Wadah buah besar miliknya juga terisi penuh. Fani mengernyitkan keningnya. Kapan si Mbok memasak? Dia tak mendengar ibu mertuanya sibuk di dapur. Suara sutil dan wajan yang beradu pun sepi. Lalu darimana semua makanan ini? Fani berjalan belakang rumah. Di sana tempat jemuran dan juga ruang setrika yang belum lama dibuatkan oleh almarhum Septiyan untuknya. Matanya mencari keberadaan wanita paruh baya itu di seluruh rumah, tetapi tidak ia temukan. Aroma sedap dari ikan bakar sudah terlanjur melenakan indera

