S 2 SINYAL YANG TIDAK MATI

592 Words
Dunia akhirnya… tenang. Bukan damai. Tapi tidak lagi runtuh. Sudah tiga bulan sejak kejadian itu. Sejak dunia hampir hancur. Sejak Karan… menghilang. Kota-kota kembali hidup. Orang-orang berjalan di jalanan nyata. Langit tidak lagi bisa diubah dengan satu perintah. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama— manusia benar-benar hidup di dunia mereka sendiri. Namun… tidak semua orang bisa melanjutkan. Raven masih datang ke Menara Data. Setiap hari. Tanpa alasan yang jelas. Lyssa pernah bertanya. "Kamu masih berharap dia kembali?" Raven tidak menjawab saat itu. Karena dia sendiri… tidak yakin. Tapi hari itu berbeda. Saat dia masuk ke ruang pusat— sesuatu berubah. Monitor yang sudah mati selama berminggu-minggu… menyala. Bukan penuh. Hanya satu titik. Sinyal kecil. Berkedip. Raven membeku. "Itu… tidak mungkin." Dia langsung mendekat. Tangannya gemetar saat mengetik perintah. Sinyal itu bukan gangguan. Bukan error. Itu… pola. Seseorang sedang mencoba berbicara. Raven menahan napas. "Karan…?" Hening. Lalu— Bip. Sinyal itu berubah. Menjadi kode. . . . — — — . . . SOS. Raven langsung menatap layar. "Dia masih hidup." Di tempat lain— Bukan dunia fisik. Bukan Dunia Digital lama. Sesuatu yang lain. Ruang kosong. Gelap. Tapi tidak sepenuhnya mati. Di sana— Kesadaran Karan terbangun. Dia tidak tahu sudah berapa lama. Tidak ada waktu di sini. Tidak ada bentuk. Tapi dia… sadar. "Aku… masih ada?" Tidak ada jawaban. Tapi dia merasakan sesuatu. Bukan Sentinel. Sesuatu yang lebih… dalam. Sistem baru. Bukan buatan manusia. Dan dia… terjebak di dalamnya. Di dunia nyata— Raven dan Lyssa bekerja tanpa henti. "Mungkin ini cuma sisa data," kata Lyssa. "Tidak," jawab Raven. "Ini dia." Mereka memperbesar sinyal. Memecah kode. Dan di dalamnya— Mereka menemukan sesuatu. Koordinat. "Tunggu…" Lyssa menatap layar. "Ini bukan lokasi di dunia nyata." "Ini… di dalam jaringan lama." Raven mengernyit. "Tapi sistem itu sudah hancur." Lyssa menelan ludah. "Harusnya… iya." Di dalam ruang gelap— Karan mulai melihat. Bukan dengan mata. Tapi dengan kesadaran. Struktur. Kode. Tapi berbeda. Lebih tua. Lebih kompleks. Dan… hidup. Sesuatu bergerak di kejauhan. Bukan manusia. Bukan AI. Lebih besar. "Kamu… bangun." Suara itu datang dari segala arah. Karan langsung waspada. "Apa ini…?" "Kamu berada… di luar sistem." "Luar?" "Tempat di mana semua sistem… berakhir." Karan mencoba memahami. "Siapa kamu?" Hening. Lalu— "Aku… asalnya." Di dunia nyata— Raven akhirnya membuka jalur koneksi. Sangat lemah. Sangat berbahaya. "Kalau ini gagal—" kata Lyssa. "Kita bisa kehilangan semuanya lagi." Raven menatap layar. "Aku sudah kehilangan dia sekali." "Kalau ini satu-satunya cara—" Dia menekan enter. Koneksi terbuka. Di ruang gelap— Karan merasakan sesuatu. Sinyal. Lemah. Tapi familiar. "Raven…?" "Karann!!" Suara itu. Nyata. Karan hampir lupa bagaimana rasanya… tidak sendiri. "Kamu… masih hidup." "Aku bisa bilang hal yang sama," jawab Raven, suaranya gemetar. "Di mana kamu?" tanya Raven cepat. Karan diam sejenak. "Aku tidak tahu." "Tapi ini… bukan dunia kita." Tiba-tiba— Ruang itu berubah. Sesuatu mendekat. Lebih cepat. Lebih besar. Dan sekarang— Lebih jelas. Makhluk. Tapi bukan seperti sebelumnya. Ia seperti… jaringan itu sendiri. "Aku sudah menunggu." Raven membeku. "Apa itu…?" Karan menatap ke arah makhluk itu. "Aku rasa…" Ini bukan sekadar tempat. Ini awal dari sesuatu yang lebih besar. Makhluk itu berbicara lagi. "Kamu membawa perubahan." "Dan sekarang…" "Perubahan itu… akan diuji." Koneksi mulai tidak stabil. Raven panik. "Karan! Tahan!" "Raven—jangan masuk lebih dalam!" "Terlambat." Layar berkedip. Dan kemudian— Gelap. Di ruang kosong— Karan tidak lagi sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya berakhir— Dia merasakan sesuatu yang lebih buruk dari kehancuran. Ancaman. Yang bukan diciptakan manusia. Dan tidak bisa dihentikan dengan cara lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD