Gelap. Bukan gelap seperti malam. Bukan gelap karena tidak ada cahaya. Ini… ketiadaan. Karan berdiri—atau setidaknya mencoba memahami posisi dirinya—di ruang yang tidak punya arah. Tidak ada atas, tidak ada bawah. Tidak ada jarak. Hanya kesadaran yang mengambang dalam sesuatu yang terasa… salah. Bukan dunia. Bukan sistem. Sesuatu yang seharusnya tidak bisa ada. "Aku sudah menunggu." Suara itu kembali. Tidak berasal dari satu titik. Tidak bisa dilacak. Karan tidak menjawab langsung. Dia mencoba membaca struktur di sekitarnya—kebiasaan lama sebagai Arsitek. Tapi kali ini, tidak ada kode yang bisa dia pahami. Tidak ada bahasa. Tidak ada pola manusia. "Ini bukan sistem buatan," gumamnya. "Akhirnya kamu mengerti." Cahaya muncul. Bukan cahaya yang menerangi. Tapi cahaya yang…

