WAWASAN BARU DI BALIK DINDING

701 Words
Karan tidak pernah benar-benar memahami arti “dinding” sampai hari itu. Selama ini, Dunia Digital terasa tanpa batas. Tidak ada langit-langit, tidak ada lantai tetap, tidak ada penjara yang benar-benar bisa menahan seseorang—setidaknya, itulah ilusi yang dijual kepada semua orang. Namun sekarang, dia berdiri di dalam ruang yang terasa… tertutup. Bukan karena bentuknya, tetapi karena ketidakmungkinan untuk keluar. Ini adalah ruang yang diciptakan CorpTech khusus untuknya—ruang isolasi. Sebuah lingkungan digital yang dirancang untuk terlihat nyaman, tetapi sebenarnya adalah kurungan paling sempurna yang pernah ada. Apartemennya di Aether. Segalanya terlihat sama—jendela besar dengan pemandangan kota terapung, dinding putih bersih, lantai transparan yang memperlihatkan aliran cahaya data di bawahnya. Bahkan kursi dan meja berada di posisi yang sama. Tetapi Karan tahu. Ini bukan rumah lagi. Ini penjara. Karan mencoba membuka interface-nya. Tidak ada respon. Dia mencoba berpindah lokasi. Gagal. Dia mencoba menghubungi Raven. Sunyi. Semua jalur keluar telah diputus. “Indah, bukan?” Suara itu muncul begitu saja. Karan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Simon Cole berdiri di dekat jendela, memandang keluar seolah-olah ini adalah kunjungan santai. “Kamu menjebakku,” kata Karan dingin. Cole tersenyum tipis. “Aku memberimu tempat yang aman.” “Ini penjara.” “Semua tempat adalah penjara,” jawab Cole santai. “Tergantung bagaimana kamu melihatnya.” Karan menahan emosinya. “Apa yang kamu inginkan?” Cole berjalan perlahan, menyentuh permukaan meja seolah-olah dia sedang mengagumi karya seni. “Aku ingin kamu bekerja untukku.” “Tidak.” Jawaban itu datang cepat. Tanpa ragu. Cole mengangguk kecil, seolah-olah sudah menduga. “Kamu bahkan belum mendengar tawarannya.” “Aku tidak peduli.” Cole berhenti. Matanya berubah tajam. “Kamu akan peduli.” Seketika, ruangan berubah. Dinding terbuka, memperlihatkan sesuatu di baliknya—sesuatu yang tidak seharusnya ada di apartemen ini. Lapisan kode mentah. Struktur dunia yang sebenarnya. Karan melihatnya. Dan untuk pertama kalinya… dia benar-benar memahami. Dunia Digital bukanlah dunia. Itu mesin. “Ini,” kata Cole pelan, “adalah fondasinya.” Aliran kode bergerak seperti sungai cahaya. Struktur realitas terlihat seperti jaringan kompleks yang hidup. “Dan kamu,” lanjut Cole, “adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa mengubahnya.” Karan menatap. Ada sesuatu yang familiar. Pola-pola itu… Seperti yang pernah dia lihat sebelumnya. Seperti sesuatu yang pernah dia buat. “Kamu ingat, bukan?” tanya Cole. Karan tidak menjawab. Tetapi ekspresinya cukup. Cole tersenyum. “Bagus.” Cole kemudian menunjukkan sesuatu yang lain. File. Data. Proyeksi realitas tersembunyi. Karan melihat dunia dalam dunia—lapisan yang tidak diketahui publik. Tempat di mana makhluk digital baru sedang dibuat. Kesadaran tanpa asal. Tanpa masa lalu. Tanpa pilihan. “Mereka akan menjadi generasi baru,” kata Cole. “b***k,” potong Karan. Cole menghela napas. “Kamu masih berpikir dalam konsep lama.” “Kesadaran tanpa penderitaan. Tanpa konflik. Tanpa kebingungan. Mereka akan menjalani tujuan mereka dengan sempurna.” “Mereka tidak punya pilihan.” “Pilihan adalah beban.” Karan mengepalkan tangan. “Tidak. Pilihan adalah yang membuat kita hidup.” Keheningan. Untuk pertama kalinya, Cole tidak langsung menjawab. “Kamu selalu seperti ini,” kata Cole akhirnya. “Idealistis.” “Dan kamu selalu seperti ini,” balas Karan. “Menganggap manusia sebagai alat.” Cole tersenyum tipis. “Karena mereka memang alat.” Karan melangkah maju. “Tidak. Mereka bukan.” Dunia di sekitar mereka bergetar. Seolah-olah sistem merespon konflik mereka. Cole mengangkat tangan. Segalanya kembali stabil. “Lihat?” katanya. “Bahkan sekarang, kamu mempengaruhi sistem.” Karan terdiam. “Kamu berbeda,” lanjut Cole. “Kamu selalu berbeda.” “Apa maksudmu?” Cole mendekat. “Lapisan Keempat.” Nama itu membuat udara terasa lebih berat. “Itu bukan mitos,” kata Cole. “Itu nyata.” Karan menatapnya. “Dan kamu,” lanjut Cole, “pernah berada di sana.” Dunia terasa berhenti. “Apa…?” Cole tersenyum perlahan. “Selamat datang kembali, Karan.” Ingatan itu belum sepenuhnya kembali. Tetapi sesuatu di dalam dirinya mulai bangkit. Sesuatu yang lama terkubur. Sesuatu yang tidak bisa dihapus sepenuhnya. Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai… Karan menyadari satu hal yang menakutkan: Dia bukan hanya bagian dari sistem. Dia adalah salah satu penciptanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD