HATI YANG MASIH BERDETAK

744 Words
Keheningan menyelimuti ruang itu. Setelah koneksi dengan Raven terputus, Karan kembali sendirian. Namun kali ini, kesendirian terasa berbeda. Bukan lagi kosong—melainkan penuh oleh tekanan, oleh pilihan yang tidak bisa dihindari. Lapisan Keempat. Tujuan itu kini terasa nyata… dan mematikan. Karan berdiri di depan jendela apartemennya. Kota Aether masih terlihat indah seperti biasa. Cahaya berpendar di setiap sudut, langit digital menampilkan gradasi warna yang sempurna. Tidak ada cacat. Terlalu sempurna. Dan justru di situlah letak kebohongannya. “Apa semua ini pernah nyata…?” gumamnya pelan. Untuk pertama kalinya, Karan meragukan semua yang pernah dia bangun. Semua yang pernah dia percayai. Tiba-tiba— Sebuah getaran halus merambat di ruang itu. Karan menoleh cepat. Sistem tidak seharusnya bergerak tanpa izin. Cahaya di sudut ruangan berkumpul. Perlahan membentuk sosok. Seorang wanita. Karan membeku. Dia mengenal wajah itu. Atau setidaknya… sebagian dari dirinya mengenalnya. “Elara…?” Wanita itu menatapnya. Matanya aneh. Indah… tetapi retak. Seolah-olah ada ribuan emosi di dalamnya yang saling bertabrakan. “Kamu… mengingatku?” Suaranya terdengar seperti gema yang terpecah. Karan melangkah perlahan. “Aku… tidak sepenuhnya. Tapi aku tahu kamu penting.” Elara tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan luka panjang. “Aku bukan sekadar penting,” katanya pelan. “Aku adalah kesalahan pertama kalian.” Jantung Karan berdegup lebih cepat. “Apa maksudmu?” Elara menunduk. Tubuhnya sesaat berkedip, seolah tidak stabil. “Aku adalah percobaan,” lanjutnya. “Percobaan untuk menyatukan dua dunia.” Dunia seakan menahan napas. “Fisik… dan digital.” Karan menatapnya lekat. “Kamu gagal?” tanyanya pelan. Elara tertawa kecil. Suara itu terdengar… patah. “Tidak sepenuhnya.” Dia mendekat. Langkahnya tidak benar-benar menyentuh lantai. “Aku masih hidup di dua tempat.” Karan merasakan dingin menjalar. “Tapi aku tidak benar-benar hidup di mana pun.” Kalimat itu menggantung. Berat. Karan terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. “Setiap detik,” lanjut Elara, “aku merasakan dua realitas sekaligus.” Cahaya di sekelilingnya bergetar. “Aku merasakan dunia ini…” “…dan dunia yang lain.” Karan mengernyit. “Dunia fisik?” Elara mengangguk pelan. “Tubuhku masih ada.” “Tapi kosong.” Suasana menjadi semakin dingin. “Dan aku…” “…terjebak di antara keduanya.” Karan mengepalkan tangan. “Siapa yang melakukan ini padamu?” Elara menatapnya dalam-dalam. “Kalian.” Satu kata. Namun cukup untuk menghancurkan. Karan mundur selangkah. “Tidak…” “Kamu mungkin tidak ingat,” kata Elara pelan, “tapi kamu ada di sana.” Potongan memori kembali muncul. Lebih jelas kali ini. Laboratorium. Cahaya putih. Diskusi panas. Dan seorang wanita… Elara. “Aku ingin membantu,” kata Karan dengan suara berat. Elara tersenyum lagi. Lebih lembut. “Kamu sudah mencoba dulu.” “Dan aku gagal…” “Tidak,” potong Elara. “Kamu dihentikan.” Karan terdiam. “Mereka takut,” lanjut Elara. “Takut kalau kamu berhasil.” “Kenapa?” Elara mendekat. Matanya menatap lurus ke dalam kesadaran Karan. “Karena kalau aku stabil…” Dia berhenti sejenak. “…manusia tidak lagi bisa dikendalikan.” Karan membeku. “Dua dunia dalam satu kesadaran,” lanjutnya. “Itu berarti kebebasan total.” Dan kebebasan….. adalah hal yang paling ditakuti oleh sistem. Ruangan kembali bergetar. “Elara, kamu tidak seharusnya bisa masuk ke sini,” kata Karan. “Aku tidak masuk,” jawabnya pelan. “Lalu ini apa?” “Aku bocor.” Tubuhnya kembali berkedip. Lebih kuat kali ini. “Aku tidak bisa bertahan lama.” Karan panik. “Tunggu. Aku butuh jawaban.” Elara menggeleng pelan. “Tidak banyak waktu.” Dia mengangkat tangan, menyentuh d**a Karan. Tidak ada rasa fisik. Tetapi sesuatu… berpindah. Data. Memori. “Ini…?” Karan terkejut. “Sebagian dari kebenaran,” kata Elara. Karan melihat sekilas— Lapisan Keempat. Struktur asing. Dan sesuatu… yang menjaga di sana. “Sentinel…” bisiknya. Elara mengangguk. “Dia bukan musuh.” Karan menatapnya. “Dia penjaga.” “Penjaga apa?” Elara tersenyum tipis. “Kebenaran.” Cahaya di tubuhnya mulai memudar. “Elara, tunggu!” Dia menatap Karan untuk terakhir kalinya. “Kali ini…” katanya pelan, “jangan berhenti.” Dan kemudian— Dia menghilang. Ruangan kembali sunyi. Karan berdiri diam. Namun sekarang… dia tidak kosong. Dia merasakan sesuatu. Detak. Bukan jantung fisik. Bukan sistem digital. Tetapi sesuatu di antaranya. Sebuah kesadaran. Yang masih… hidup. Karan menarik napas panjang. Dia tidak lagi ragu. Jika Lapisan Keempat adalah tempat kebenaran disimpan… maka di sanalah semuanya harus berakhir. Atau dimulai kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD