Dunia terasa berbeda setelah kebenaran itu terungkap.
Bukan karena dunia berubah.
Tetapi karena cara Karan melihatnya… yang berubah.
Setiap cahaya di Kota Aether kini terasa mencurigakan.
Setiap sistem.
Setiap interaksi.
Semua terlihat seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu yang selama ini tersembunyi.
Dan sekarang, dia tahu.
Semua ini… bukan sekadar dunia.
Ini adalah industri.
Karan berjalan bolak-balik di dalam ruang penjaranya.
Pikirannya tidak berhenti.
Jika apa yang dikatakan Cole benar, maka CorpTech bukan satu-satunya pemain.
Tidak mungkin.
Skala ini terlalu besar.
“Kalau ini bisnis…” gumamnya, “berarti ada pembeli.”
Dan kalau ada pembeli…
Berarti ada jaringan.
Saat itulah sesuatu berkedip di sudut interface-nya.
Sangat kecil.
Hampir tak terlihat.
Sebuah celah.
Karan mendekat.
Itu bukan sistem resmi.
Bukan jalur komunikasi biasa.
Ini… backdoor.
Seseorang dari luar mencoba masuk.
Karan ragu sejenak.
Ini bisa jebakan.
Bisa juga satu-satunya kesempatan.
Dia menyentuhnya.
Dunia di sekitarnya berkedip.
Cahaya meredup.
Sistem seolah-olah berhenti bernapas.
Dan kemudian—
Sebuah suara muncul.
“Kamu masih hidup.”
Karan membeku.
Dia mengenal suara itu.
“Raven?”
“Syukurlah,” jawab suara itu pelan. “Aku kira kamu sudah dihapus.”
Karan menarik napas panjang.
“Aku dikurung.”
“Aku tahu.”
“Tahu dari mana?”
“Karena aku juga hampir ditangkap.”
Seketika suasana berubah tegang.
“Apa yang terjadi?” tanya Karan.
Raven tidak langsung menjawab.
Seolah memilih kata dengan hati-hati.
“Ini lebih besar dari yang kita kira.”
Karan mengepalkan tangan.
“Seberapa besar?”
Beberapa detik hening.
“Global.”
Karan terdiam.
“CorpTech bukan satu-satunya,” lanjut Raven.
“Ada konsorsium.
Perusahaan-perusahaan besar dari dunia fisik.”
Nama-nama mulai muncul di layar.
Perusahaan energi.
Teknologi.
Militer.
Bahkan organisasi kesehatan.
“Mereka semua terlibat,” kata Raven.
“Dalam apa?” tanya Karan.
“Perdagangan kesadaran.”
Karan menutup mata sejenak.
Dia sudah menduga.
Tetapi mendengar itu tetap terasa seperti
pukulan.
“Mereka membeli tenaga kerja digital,” lanjut Raven.
“Tanpa gaji. Tanpa hak. Tanpa batas waktu.”
“b***k,” gumam Karan.
“Iya,” jawab Raven pelan. “Versi
modernnya.”
Data terus mengalir.
Grafik.
Transaksi.
Kontrak rahasia.
“Ini bukan eksperimen,” kata Karan.
“Ini sistem.”
“Dan sistem itu sudah berjalan selama bertahun-tahun.”
Karan menatap data itu.
Jumlahnya…
Tidak masuk akal.
“Berapa banyak?” tanyanya.
Raven diam sejenak.
“Lebih dari yang bisa kita selamatkan.”
Keheningan.
Berat.
Menusuk.
“Kenapa tidak ada yang tahu?” tanya Karan.
“Karena semua orang yang hampir tahu…”
Raven berhenti sejenak.
“…dihilangkan.”
Karan merasakan dingin menjalar.
“Seperti dua orang sebelum aku?”
“Ya.”
Karan mengingat kata-kata Raven sebelumnya.
Dia adalah yang ketiga.
“Kenapa aku belum dihapus?”
Raven menjawab tanpa ragu.
“Karena kamu terlalu berharga.”
Karan menghela napas berat.
“Jadi aku aset?”
“Lebih dari itu,” kata Raven.
“Kamu kunci.”
Sistem tiba-tiba bergetar.
“Cepat,” kata Raven. “Waktuku tidak banyak.”
“Apa rencana kita?” tanya Karan.
Raven terdiam sejenak.
“Kita hancurkan mereka.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Terlalu langsung.
“Bagaimana?” tanya Karan.
“Kita bongkar semuanya.”
“Tidak semudah itu.”
“Memang tidak,” jawab Raven.
“Tapi kita punya sesuatu yang mereka tidak punya.”
“Apa?”
“Kebenaran.”
Karan tertawa kecil.
Pahit.
“Kebenaran tidak cukup.”
“Cukup kalau semua orang tahu.”
Karan berpikir.
Kalau informasi ini tersebar…
Seluruh Dunia Digital akan gempar.
Dunia fisik juga.
“Tapi mereka bisa menutup sistem,” kata Karan.
“Makanya kita butuh sesuatu yang tidak bisa dihapus.”
Karan menatapnya.
“Lapisan Keempat,” katanya pelan.
Raven tidak menjawab.
Tetapi itu sudah cukup.
“Itu pusatnya,” lanjut Karan.
“Semua data inti ada di sana.”
“Termasuk bukti,” tambah Raven.
Karan mengangguk.
“Tapi ada Sentinel.”
Hening.
Raven menarik napas.
“Aku tahu.”
“Dan kamu tahu apa yang terjadi pada
orang yang mencoba masuk ke sana?”
“Ya.”
“Lalu?”
Raven terdiam.
Kemudian berkata:
“Itu kenapa harus kamu.”
Karan menatapnya tajam.
“Karena aku pendiri?”
“Karena kamu satu-satunya yang mungkin dikenali sistem.”
Karan mengepalkan tangan.
“Dan kalau tidak?”
Raven tidak langsung menjawab.
“…maka kita kehilangan kamu.”
Keheningan jatuh.
Risiko itu nyata.
Tidak ada jaminan.
Tidak ada jalan kembali.
Tetapi pilihan lain?
Tidak ada.
“Kapan?” tanya Karan akhirnya.
“Secepat mungkin.”
Sistem mulai berkedip.
Koneksi melemah.
“Aku akan siapkan jalannya,” kata Raven cepat.
“Kamu siapkan dirimu.”
“Kita akan bertemu lagi?”
Raven terdiam.
“Kita akan mencoba.”
Dan kemudian—
Koneksi terputus.
Ruangan kembali sunyi.
Karan berdiri diam.
Sekarang semuanya jelas.
Ini bukan lagi tentang dirinya.
Bukan tentang masa lalu.
Ini tentang masa depan.
Tentang jutaan kesadaran.
Tentang dunia yang dibangun di atas kebohongan.
Dan untuk menghentikannya…
Dia harus masuk ke tempat paling berbahaya di seluruh sistem.