"Mbak Sita abis nangis ya?" suara Ailsa yang sedang menginterogasi Sita tertangkap telingaku. "Nggak kok." kalau yang ini aku yakin suara Sita. Meskipun lirih, aku sangat mengenal warna suaranya. "Eeh.. tapi itu bengkak banget loh matanya." sahut Rania, gadis nomor empatnya pakde. "Iya tuh mbak." timpal Ailsa lagi. "Eeh.. mana mana, coba lihat?" hadeeeh... kalau ini sudah bisa dipastikan suara si ibu hamil Nana alias rambut gulali. "Abis diapain sama Ical mbak?" Kan? Nana mulai mendramatisir lagi. "Nggak diapa-apain kok, beneran." bela Sita mengelak kalimat Nana. Aaah ... Sita ku yang malang. Semua yang ia ceritakan semalam masih aku ingat dengan jelas hingga kini. Tatapan sendunya, isak lirihnya. Semuanya ku rekam dengan jelas. Bahkan kalimat penutup dari juga Sita masih terngiang

