Mami Lestari mengajak Luna olahraga kecil ditaman kompleks, mereka jalan santai sembari berbincang. Lelah berjalan selama beberapa menit. Mami mengajak calon menantunya itu duduk di kursi taman lalu memanggil tukang batagor yang bisa berjualan di taman ini.
Mami memesan 2 porsi batagaor untuk menemani perbincangan merekaka. Mami kembali bertanya apa ada yang di inginkan untuk acara pernikan yang tidak akan lama lagi.
Setiap wanita pasti memiliki pernikahan impianya. Tetapi Luna masih sama dengan jawaban kemarin hanya mengikuti keinginan sang calon mertua dan suaminya.
tidak terasa batagor mereka sudah habis Mami lestari pun mengajak Luna pulang.
Agam baru selesai meeting tengah membereskan berkas-berkasnya poselnya bergetar mendapat notif chat, dia menghentikan aktifitasnya berali keponselnya.
Dengan malas dia membalas pesan sang mami yang memintanya untuk mengajak Luna jalan malam hari nanti agar lebih saling mengenal, setelah mengiyakan perinta maminya. Agam kembali membereskan berkas dan laptopnya lalu keluar berjalan menuju ruangan-nya.
Sampai di ruangan. Agam mengirim chat kepada istirinya, meminta sang istri untuk bersiap.
"bersiaplah untuk malam ini, aku mau mengajakmu jalan setelah aku pulang dari kantor." Begitu isi pesanya.
Erik masuk ke ruangan Agam untuk menyampaikan kalo satu jam lagi Tuanya itu akan ada privet meeting dengan salah satu klienya yang tidak bisa menunda meeting sampai esok hari karena ada urusan yang mendesak.
Agam pun menyetujuinya dan meminta asistenya untuk menyaipkan file yang di butuhkan, setelah Erik keluar. Pria dingin itu mengirim pesan kepada wanita yang telah mengubah dunianya, karena pergumulan satu malam mereka.
"Aku ada meeting penting, aku akan sedikit terlambat, kau pergilah ke Cafe **** dengan diantar supir Mami, tunggu aku disana."
"Iya baiklah," jawab Luna singkat.
Luna pun bersiap setelah memasak makan malam untuk calon mertua dan adik iparnya.
Ibu hamil yang perutnya masih rata itu, terlihat anggun dengan mengenakan mini drees berbahan organza, berwarana putih tulang, mekup yang simpel. Tidak mengurangi kecantikanya.
Setelah berpamitan kepada calon mertuanya, dengan senyum indah dia masuk ke mobil yang terparkir di depan rumah.
_______________¥_______________
Satu jam berlalu dari agenda tadi, akhirnya meeting pun selesai. Agam membereskan barang-barangnya bergegas pulang.
Baru saja Agam ingin melajukan mobilnya keluar basement, namun terhenti karena dihadang oleh mobil sang sahabat Aldo. Patner setanya dalam bersenang-senang.
"Ada apa lo dateng ke kantor gue?"
"Gue mau ngajak lo, ke party si Joe. Dia invite Dua Dj terbaik di sini dan lo harus hadir." Tukas Aldo terdengar memaksa.
"Gue enggak bisa, lagi ada janji sama seseoran, next time gue ikutan kalian." Tolak Agam mulai menghidupkan mesin mobilnya kembali.
"Alah! Paling janji buat sexs sama salah salah satu mainan lo kan!"
"Joe udah siapin yang bening-bening buat kita," imbuhnya lagi.
"Enggak bisa, dia udah nunggu gue," jawab Agam tetap menolak.
"Nggak asik, bilang aja! Lo takutkan digerebek nyokap lo lagi!" sinis Aldo mencoba mempropokasi.
Agam pun tersulut merasa direndahkan akhirnya dia menerima ajakan itu, karena tidak mau para patner setanya memandang rendah dirinya.
"Ok gue ikut." Agam mengambil ponselnya berniat mengabari Luna, Namun pokusnya teralihkan klakson mobil sang sahabat yang meminta untuk segera bergegas, pesan itu pun tidak sempat terkirim.
•
•
•
Sudah satu jam Luna menunggu di cafe reservasi Agam, namun belum ada kabar dan tanda-tanda akan kehadiran calon suaminya itu. Dia ingin menghubungi Agam namun di urungkan karena takut mengganggu pekerjaan pria itu.
Dia pun mencoba bersabar menunggu, minuman yang dia pesan bahkan sudah habis. Merasa tidak enak dengan witers yang mengahampirinya. Luna kembali memesan segelas minuman lagi kali ini bersama seporsi camilan nuget.
Agam sudah sampai di club itu, dia ingin mengirim chat ke calon istrinya. Namun lagi-lagi fokusnya teralihkan oleh beberapa temannya yang memberi minuman lalu menariknya ikut berlantai.
Sudah satu jam Agam dan lainya berlantai, mereka pun beristirahat sejenak ke table yang tersedia untuk mereka.
"Emang Lo, tadi ada janji dengan siapa? Sampai nolak diajak gabung di party ini." Joe bertanya setelah meneguk minumanya.
Agam pun teringat janjinya dengan Luna di liriknya airlojinya, waktu sudah menunjujan pukul 22:10.
"Gyus sory, gue harus cabut sekarang," pamitnya kepada semua temanya.
"Emang janji sama siapa sih lo? Paling juga oranya udah bobok cantik di rumahnya," sinis Aldo menimpali.
"Banyak tanya lo, berisik," ucap Agam lalu segera bergegas.
"Dia masih di cafe itu nggak ya? Tapi nggak mungkin juga dia mau nunggu selama dua setengah jam, tapi kan dia penurut, lugu. Ada kemungkinan masih di cafe itu." Agam jadi larut oleh pemikiran yang sudah entah kemana-mana.
Agam terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dalam waktu 30 menit dia sudah sampai di cafe yang terlihat sudah sepi sekali hanya terlihat 2 orang yang sedang memebersihkan cafe.
Pandangan Agam mengedar ke beberapa sisih cafe sampai, pandangnya tertuju di sebuah gazebo. Seorang wanita sedang menenggelamkan wajahnya di meja.
Agam pun menghampiri wanita itu" Bodoh. Kenapa masih menggu sampai cafe tutup seperti ini." Luna mengangkat kepalanya, lalu mengerjab saat mendengar suara pria yang sudah hampir 3 jam dia tunggu kedatanganya.
"Kenapa enggak pulang aja? Kau mau buat aku merasa bersala ya!" Bukan meminta maaf Agam malah berucap sinis.
"Aku ... hanya tidak mau kamu kecewa jika saat kamu datang ke cafe ini kamu malah tidak menemukanku."
"Aku yakin kamu akan datang, sebab itu. masih menunggu disini," imbuhnya lagi.
"Lain kali, enggak usah menungguku. Jika lebih dari satu jam aku masih belum datang."
"Ya sudah yuk pulang!"
Tidak ada yang mencoba untuk berbicara selama di mobil, pasangan ini larut dalam pikiranya masing-masing.
Luna yang ingin bertanya kenapa pria yang sebentar lagi menjadi suami semtaranya ini, sampai terlambat begitu lamanya, namun wanita lugu ini tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun saat pandangan matanya bertemu dengan tatap dingin Agam.
Sementara Agam heran melihat makhluk yang berada disampinya ini, kenapa dia tidak marah setelah menunggu begitu lamanya. Dia berpikir kalau ini hanya kedok belaka, agar rencana Luna untuk menikah denganya berjalan mulus.
Tetapi hatinya seperti tergelitik. Saat melihat wajah polos dan lugu, yang sedang terlelap seperti bayi.
Mobil pun sudah sampai di pelataran rumah, dia menggendong Luna masuk. Agam berhenti saat melihat mami yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Kok malam banget baru pulang Gam?"
"Em ... tadi ada meeting penting Mi, jadi Agam sedikit telat," jawab Agam terlihat kikuk.
"Oh ya sudah istirahatlah. Kalian pasti lelah, Mami juga mau tidur lagi."
"Iya Mi, Agam naik ke kamar dulu.