Belajar menjadi istri yang baik

1084 Words
Malam pun tiba semua sudah berada di meja makan, terkecuali Luna yang belum turun dari kamar untuk makan. "Kei! Panggil kak Luna di kamar ajak turun agar kita makan bersa," pinta Lestari sembari menata makanan di meja. "Baik Mi." Keisya mengaguk memberi senyum tipis. Keisya beranjak dari meja makan menuju kamar Luna. Setelah sampai di depan pintu, gadis imut itu mengetuk pintu, menunggu pintu terbuka. "Hai kak aku keisya, adik kak Agam." Sapa Keisya memberikan senyum manis kepa calon kakak iparnya. "Kak Luna calon istiri kak Agam kan." Imbuhnya melangkah ke ranjang. "Keisya seneng deh akhirnya kak Agam punya pendamping, apa lagi cantik seperti kakak," ujar Kei sambil memeluk Luna. "Iya aku Luna, terimakasih sudah mau menerimaku di sini." "Santai saja Kak, kami pasti sangat menerima kehadiran kakak di keluarga ini." "Yuk turun Kak, udah di tunggu Mami di meja makan." Ajak Kei sembari menarik tangan Luna. "Iya Kei." Luna pun mengikuti Keisya yang lebih dulu keluar. Mereka sampai di meja makan bertepatan dengan Agam yang baru pulang dari kantor. pandangan Luna dan Agam saling bertemu cukup lama, sampai akhiranya deheman Keisya meyadarkan mereka berdua. "Ekhem cie yang tatap-tatapan." Mereka berdua menjadi salah tingkah karena ledekan Keisya. "Sudah Kei jangan diledekin lagi, kasian tu kak Luna," ucap sang mami yang memperingati Kei, agar tidak meledek kakak dan kakak iparnya Lagi. "Hehe iya Mi maaf." "Mi, ada apa Mami tadi telphone, meminta Agam untuk cepat pulang dan langsung ke rumah Mami?" tanyanya, ikut duduk di meja makan. "Malam ini kita akan membicarakan tentang pernikahan kamu dengan Luna, kita makan dulu selesai makan baru kita bicarakan lagi." Mereka makan dengan keheningan, hanya dentingan sendok yang terdengar menemani makan mereka, setelah selesai makan mereka semua beranjak dari meja, menuju ruang keluarga untuk membicarakan pernikahan Agam dan Luna. "Mami mau pernikahan ini diadakan di Bali, agar para tamu bisa hadir dan tidak terkendala hanya karena lokasi acaranya, apa kalian setuju?" tanya Lestari melirik pasangan yang berada di hadapanya ini. "Terserah Mami sajah, aku ikuti apa yang Mami inginkan. Agam cuman mau melakukan apa yang memang penting dan wajib Agam sendiri yang melakukannya." "Kalau kamu Lun bagaimana, apa ada pendapat Lain?" tanya mami yang kini memandang ke arah Luna. "Tidak Mi. Aku ikut seperti yang di bilang oleh Agam tadi," jawaba Luna hanya mengikuti kemauan Mami. "Baiklah Mami yang akan mengurus semuanya, kalian hanya perlu melakukan fitting baju dan memilih cincin saja," "Mi, apa masih ada lagi yang ingin Mami bicarakan, kalau tidak ada Agam mau pulang ke apartemen, Agam capek ingin istirahat." "Menginaplah malam ini kamu juga sudah lama tidak menginaplah di sini, lagian kita suda lama tidak berkumpul seperti sekarang ini," pintanya. "Baiklah Mi." "Agam pamit ke kamar, mau membersihkan diri dulu lalu istirahat." Agam pun berlalu ke kamarnya. "Lun! Pergilah susul Agam siapkan pakaiannya, sebentar lagi kan kamu menjadi istrinya. Kamu bisa mulai belajar dari sekarang untuk mengurus semua keperluan Agam." "Ba ... baik Mi Luna permisi ke atas dulu." Sesampainya di kamar Luna tampak berpikir pakian mana yang mau dia siapkan buat Agam, dia pun membuka lemari dan melihat-lihat isi lemari itu. Dia memilih kaos putih berlengan pendek dan celana yang berukuran sebatas dengkul, diletakannya di tepi ranjang, tidak lama Agam keluar dari kamar mandi. Luna terhanyut oleh pemandangan indah yang ada di depannya ini, air yang masih sedikit menetes di wajah Agam dan tubuh Agam yang hanya di balut handuk setengah badan memperlihatkan perut sispacknya, membuat Luna terus memandangin Agam tanpa berkedip, samapai deheman Agam menyadarkannya Lagi. "I ... ini pakaian kamu sudah aku siap kan," ucapnya, menyodorkan pakaian kepada Agam. Agam pun menerimanya, saat agam hendak membuka handuk untuk memakai pakaiannya Luna pun sedikit histeris. "Eh! Ke ... kenapa kamu membuka handuk disini, bergantilah di kamar mandi," pintanya memohon. "Kenapa emangnya! Tidak lama lagi kan aku menjadi suamimu, tidak masalahkan aku berganti di sini lagian kamu juga sudah pernah melihat ku tanpa busana." "Ja ... jangan disini, aku malu tolong bergatilah di kamar mandi." "Ya baiklah aku tidak jadi berganti di sini." Wanita ini kalu lagi dalam keadan malu-malu seperti ini lumayan menggemaskan juga haha. Setelah selesai mandi Agam beranjak ketempat tidur. Luna pun memberanikan diri untuk bertanya apakah mereka akan tidur di satu ranjang yang sama. "Em ... apakah kita harus tidur bersama?" "Terserah kamu mau memilih tidur bersama ku atau tidur di sofa itu," "Em ... aku tidur di sofa saja." Luna pun mengambil bantal dan selimut membawanya ke sofa, dia pun berbaring. Luna melirik sebentar ke sisi Agam lalu berbalik menatap kosong ke arah langit-langit entah apa yang ada dalam pikiran, tidak lama pun matanya mulai berat. Dia tertidur setelah sudah tidak dapat menahan rasa kantuknya. Ternyata Agam belum tertidur dia duduk kembali dan melihat Luna yang tidur meringkuk di sofa, dia merasa kasihan melihat itu. Agam pun beranjak dari ranjangnya mendatangi wanita yang sedang terlelap, lalu mengangkat tubuhnya dengan hati-hati agar wanita itu tidak terbangun, dia meletak Luna perlahan di ranjang dan membatasi dengan guling agar dia tidak khilaf lagi, tidak lama Agam ikut terlelap di alam mimpi bersama dengan Luna. ______________¥______________ Paginya Luna terkejut mengapa bisa ia tidur di ranjang sepengetahuan Luna kemarin malam dia tidur di sofa. Luna ingin bertanya namun dia tidak berani membangunkan Agam, dia memilih membersihkan diri dan turun kebawah untuk menyiapkan sarapa, ternyata Mami Lestari sudah terlebih dahulu berada di dapur. "Pagi Mi. Maaf Luna terlambat bangun," "Tidak masalah, Mami juga baru bangun kok ini baru menyiapkan bahan untuk membuat nasi goreng buat sarapan kita. " "Aku bantu ya Mi." Luna mengambil pisau yang berada di hadapannya. "Iya Lun." Merekapun menyiapkan sarapan bersama, setelah beberapa waktu berkutat di dapur makanan pun selesai. "Luna permisi bangunkan Agam dulu Mi." "Iya Mami juga mau bangunkan Keisyha." Luna, berjalan ke kamarnya lalu membagun kan Agam. "Em ... Agam bangun sudah pagi ini kamu kan harus kerja," ujarnya dengan sedikit mengguncang tubuh Agam. "Ehmm 5 menit lagi " Agam menjawab Luna denga mata yang masih tertutup dan suara khas orang yang baru bangun tidur. "Agam! Mami dan Keisya juga sudah menggu di bawa buat sarapan bersama. Agam, bangun lah," sentak Luna sedikit kesal. "Hem iya aku bangun." Agam memggeliat kan tubuhnya, mengumpulkan sisa nyawanya, lalu pergi membersihkan diri. Setelah itu mereka turun bersama kebawa. "Pagi Mi, Kei," sapa Agam. "Pagi," sapa balik mereka berdua. Mereka pun serapan dalam keheningan setelah itu, Agam dan Keisya pamit untuk berangakat ke kantor dan sekolah, Luna ikut beranjak mengantarkan Agam dan Keisya sampai ke depan rumah. Menunggu mereka masuk ke dalam mobil, sampai mobil itu berlalu jauh dari pandangan. Luna pun kembali masuk kedalam rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD