Pagi ini Luna akan pulang dari rumah sakit, suster sedang membereskan barang milik Luna.
Tidak lama, ada seseorang yang membuka pintu ruangannya, Luna menoleh kearah pintu untuk melihat siapa yang datang.
Ternyata Mami Lestari yang datang untuk menjemput Luna.
"Tante!" panggilnya.
"Panggil aku Mami Lun!" pinta Lestari setelah duduk di kursi.
"Luna. Tidak lama lagi kamu akan menjadi menantuku, untuk itu biasakan mulai dari sekarang panggil aku Mami!" pintanya lagi.
"Ba ... baik Tante eh Mami."
"Kamu suda selesai belum Lun? Kita akan pulang kerumah Mami."
"Sudah Mi, em ... tapi bagaimana dengan barang-barang Luna yang masih ada di kosan," ucapnya dengan sedikit takut.
"Nanti kamu ambil bersama Supir, sekarang kita pulang kerumah mami dulu."
"Mami urus adminitrasi kamu dulu ya, berisaplah jangan ada yang tertinggal barang kamu."
"Iya Mi," jawab Luna memberi senyum tipis lalu melanjutkan kemasnya.
Sekarang aku akan tinggal di rumah mami, lalu bagaimana dengan kuliah ku! Aku masih ingin kuliah dan aku masih ingin menggapai keinginanku, dan menikmati masa mudaku apakah masi bisa kuliah setelah aku menikah nanti.
Luna tersadar dari lamunannya, setelah Mami Lestari masuk kembali kedalam ruangan.
"Lun! Sudah semua barang kamu bereskan? Jangan ada yang tertinggal," ujarnya mengingatkan.
"Sudah semua Mi."
"Ya sudah yuk pulang." Luna dan Mami Lestari beranjak setelah suster melepas infuz di tangan Luna.
Di mobil Luna hanya memandang ke samping pintu mobil, Mami Lestari pun memperhatikan raut wajah Luna yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Lun! Apa ada yang ingin kamu katakan kepada Mami? Sepertinya kamu ingin menyampaikan sesuatau, katakan saja jangan sungkan kepada Mami."
"Mi, bagaimana dengan kuliah Luna, setelah nanti Luna menikah?"
"Masalah kuliah kamu bisa lanjut Lun, sampai usia kehamilan kamu memasuki trimester ke tiga baru kamu ambil cuti, dan masalah magang kamu tidak lagi magang."
"Mami tidak izinkan kamu magang lagi. Tidak mau kamu kelelahan seperti kemarin, masalah nilai itu bisa diatur dengan pihak kantor," imbuhnya lagi.
"Baik Mi terimakasih, masih memberi izin Luna untuk meneruskan kuliah, Luna seneng banget Mi," ucapnya, memeluk sang mami.
"Iya Mami tau pasti kamu ingin menjadi sarjana, agar dapat membanggakan almarhum kedua orang tau kamu, itu sebabnya kamu masih Mami izinkan tetap Kuliah."
Luna tampak terkejut dengan perkataan Mami Lestari, bagaimana dia bisa tahu ke dua orang tuanya sudah tiada.
Mengernyit heran. Luna bertanya bagaimana Lestari bisa tau masa lalunya.
"Ma ... Mami bagaimana bisa tau kedua orangtua Luna sudah tiada?"
"Hem ... Mami sudah mencari tau semua tentang kamu Lun, sebab itu Mami percaya kamulah pasangan yang tepat buat Agam, dan Mami yakin kamu bisa merubah siapat jelek yang dimiliki Agam," ujar Lestari dengan mengelus pucu kepala Luna.
Luna mengerjap, berusaha mencerna perkataan Mami Lestari.
Apa benar aku adalah pasangan yang tepat buat Agam? Apa aku mampu merubah sipat jelek Agam bagaimana mungkin, saat ini saja dia sudah menolak-ku.
sudah mengatakan dia tidak ingin menjalani rumitnya pernikan ini! Aku berharap apa yang mami harapkan dari ku bisa aku wujudkan.
Tanpa Luna sadari mobil sudah masuk ke dalam pelataran rumah yang cukup megah dan indah milik keluarga Suchad.
"Lun!" Luna tersadar dari lamunanya setelah sang mami menepuk bahunya.
"Eh iya Mi."
"Sudah sampai yuk turun." Ajak mami yang sudah melepaskan seatbelt-nya.
"Iya Mi," jawabnya lalu ikut melepaskan seatbelt.
mereka turun dari mobil dan Luna pun di buat takjub akan kemewahan rumah yang mulai nanti akan menjadi tempat barunya
Rumah dengan pilar-pilar yang kokoh, guci besar nan indah yang terletak di kedua sisih pintu, mempunyai taman yang indah tampak sangat terawat, membuat Luna semakin terkesan dengan rumah calon mertuanya ini.
Luna beserta mami berjalan masuk kedalan rumah, mereka sudah di sambut dengan salah satu art yang bekerja di rumah ini.
"Nyonya! Sudah pulang," sambut salah satu asisten ruamah tangga.
"Iya Bik! Tolong siapin minuman buat calon mantu saya," pintanya lalu mendudukan diri di sofa.
"Apa! Calon mantu Nyonya," ulangnya sedikit terkejut.
"Iya bik minggu depan Agam akan menikah dengan Luna, layani dia dengan baik seperti kamu melayani kami," ujarnya memerintah.
"Baik nyonya, selamat datang di rumah ini Nona muda Luna. Saya bik Na salah satu art di rumah ini," tutur mbok Na mengenalkan diri.
"Iya bik salam kenal."
"Bibik permisi dulu mau membuat minuman."
"Bik nanti kamu atar Luna ke kamarnya Agam ya, agar Luna dapat beristirahat."
"Baik Nyonya."
"Dikeluarga ini kami tinggal bertiga dan beberapa art, Agam mempunyai adik perempuan bernama keisya dia lagi sekolah sekarang sudah kelas tiga SMA," papar Lestari menjelaskan tentang keluarga ini.
"Saya dan suami saya sudah lama berpisa, pernikahan kami terlaksana karena perjanjian 2 perusan bukan karena didasari saling cinta, oleh sebab itu sangat sulit bagi kami untuk majalani pernikahan ini," imbuhnya lagi.
flasback
Pernikahan Roy Suchad bersama Kanya Lestari terjadi karena untuk menyatukan kedua prusahan, agar membuat kedua peruhan tersebut semangkin kuat dan berkembang.
Namun pernikahan itu tidak harmonis, di karenakan tidak ada rasa saling cinta dan ego yang cukup besar dari kedua belah pihak, untuk mencoba saling menerima hubungan pernikahan ini.
Membuat dari awal pernikan sampai sudah memiliki anak selalu saja ada pertengkaran, mulai hanya dikarenakan hal sepel mau pun hal besar.
Agam dan Keisya sudah muak mendengar pertengkaran kedua orang tuanya yang selalu bertengkar, bahkan kedua orang tuanya tidak segan bertengkar di hadapan mereka. Agam pun jadi berpikir begini yang akan terjadi pada semua pernikahan, tidak ada kenyaman dan keharmonisan selalu ada saja keributan yang terjadi.
Sejak saat itu Agam berjanji tidak mau hidup dalam kerumitan dan kepelikian sebuah ikatan pernikahan.
______________¥_____________
"Melihat pernikan Mami yang gagal Agam selalu acuh kalau membahas pernikan dengannya, dia mengagap kalau dia menikah pasti akan terjadi keplikan yang sama seperti pernikahan Mami dan dia tidak mau hidup seperit itu."
"Tapi Mami yakin kamulah yang dapat merubah pandangannya bahwa pernikahan tidak semuanya sama," ucap Lestari yang penuh harap.
"Pernikahan tidak semuanya buruk, tapi banyak pernikahan yang bahagian dan membentuk keluarga harmonis." imbuhnya lagi.
Tidak lama mbok Na datang membawakan minuman dan camilan dari dapur. " Silahkan Nonya, Non Luna,"
"Ya sudah Lun, Mami ke kamar dulu istirahatlah setelah ini, nanti kita makan malam bersama."
Lestari pamit setelah meminum sedikit minumannya.
"Iya Mi selamat istirahat."
Luna pun beranjak masuk ke kamar yang di tunjukak mbok Na.
Luna menelisik setiap sudut ruangan yang cukup besar bernuansa abu-abu itu.
Kamar ini terlihat rapi sekali, wangi masculin yang khas seperti Luna pertama kali bertubrukan dengan Agam.
Luna merapikan beberapa barangnya lalu, merebahkan diri di kasur menatap langit-langit. Entah apa yang ada dipikiranya saat ini.