"Mami! Kenapa bisa ada di sini?"
flasback
Disela tangisan Luna. Ada wanita paru baya datang menghampiri Luna.
"Maaf Tante siapa?" tanya Luna sambil menghapus air matanya.
"Saya calon Oma dari anak kamu," sahut Lestari mendudukan diri di kursi.
"Ma ... maksut Tante?" tanya Luna yang tidak paham akan maksut perkataan wanita ini.
"Kamu pernah tidur dengan seorang pria kan? Lalu kamu kabur, dia anak saya. CEO Lippo grup tempat kamu magang saat ini," imbuhnya lagi.
Alangkah terkejutnya Luna mendengar penuturan yang Mami Lestari berikan.
Jadi selama ini aku bekerja di perusahaan milik pria yang telah tidur denganku! Ya tuhan takdir macam apa yang kau berikan kepada-ku.
______________¥_______________
Mami Lestari memutar bolah matanya jengah, melihat reaksi Agam yang berlebihan ketika melihatnya.
"Apa yang tidak akan Mami ketahui Agam!Semua kelakuan, masalah kamu pasti akan Mami ketahui dengan cepat atau lambat," sungut Lestari yang mulai jengah dengan tingkahlaku anaknya yang satu ini.
"Mi! Agam bisa jelasin semua Mi."
"Jelasin apa? Semua sudah jelas Agam!Kamu tidak bisa mengelak lagi."
"Bisa saja kan Mi, anak yang di kandung wanita ini bukan anak Agam!" sarkasnya yang sudah mulai frustrasi.
"Agam cuma sekali melakukan dengannya Mi!" Plak, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Agam, membuat pria itu merigis kesakitan sambil memegang pipinya.
"Kamu Tidak tau! Jika wanita bisa hamil, walau hanya sekali melakukannya jika dia lagi dalam masa suburnya!" berang Lestari yang sudah tidak dapat menahan emosinya.
Agam meremas rambutnya kasar, dia tidak tau harus melakun apa kalu di suruh bertanggung jawab, tentu jawaban dia belum siap dia masih ingin bebas.
Tidak ingin terikat dengan sebuah hubungan yang nantinya menimbul kan keribetan, untuk melakukan segala hal kesenangan maupun aktivitasnya.
Sementara Luna hanya menangis di pelukan Mami Lestari, sudut hatinya terasa nyeri karena Agam teganya berkata seperti itu tentang dirinya.
Disini Luna yang sebagai korban, namun seolah-olah dia lah yang menjebak Agam, hati wanita mana yang tidak sakit mendapat tuduhan seperti itu.
"Luna! Sudah jangan menangis lagi, setelah sembuh dan di perbolehkan pulang. Kamu akan tinggal bersama Mami, kamu akan menjadi bagian keluarga Suchad."
"Pernikahan kalian akan dilaksanan minggu depan," tutur Lestari.
"Mami yang akan mempersiapkan segala yang di butuhkan," timpalnya lagi.
"Apa!" serempak Luna dan Agam menunjukan keterkejutan atas perkataan mami Lestari.
"Ada apa dengan kalian? Sudah seperti itu kan seharusnya yang kalian lakukan!
Apa kalian mau bayi ini kelak mempunyai nasip yang tidak jelas?" kesal Lestari melihat pasangan yang berada di hadapanya ini.
"Tapi kan kita belum tau Mi, itu bener anak Agam atau tidak!" sarkasnya yang sudah mulai frustrasi.
Mami percaya sama Luna, dia bisa mabuk di club itu karena di paksa temannya benar kan Luna?"
"I ... iya Tante Luna di paksa minum buat menghargai teman Luna," jawab Luna dengan wajah tertunduk.
"Andai saja Luna tidak mau di paksa tidak akan seperti ini kejadinya hiks," tandasnya tidak berani menatap.
Aku tidak akan membiarkan wanita yang tidak baik mendampingi putra ku! Aku mencari tau tentang dirimu terlebih dahulu, itu sebabnya aku ingin menjadikanmu sebagai menantu.
"Ya sudah. Mami pulang dulu, kalian bicarakan masalah kalian."
Setelah kepergiana Mami Lestari, Agam dan Luna sama terdiam dalam lamunannya, sampai bunyi deringan ponsel menyadarkan mereka. Agam melihat ponselnya yang berdering namun dia enggan mengangkat telphone itu, malah mematikan ponselnya.
Agam mendekat ke ranjang Luna, namun Luna malah meringkuk ke sudut ranjang.
"Gini! Aku mau buat kesepakatan kita terima pernikahan yang diinginkan Mami, tapi setelah kamu lahiran kita pisah," ujarnya memberi saran.
"Aku belum siap untuk menjalin komitment dalam sebuah hubunggan."
"Aku masih ingin menikmati hidup dan tidak mau masuk dalam kerumitan berumah tangga," imbunya lagi.
"Gimana kamu setuju tidak dengan saran yang ku berikan?" tanya Agam sembari memainkan ponsel di gengamanya.
Luna hanya terisak sambil menunduk tidak menjawab pertanyaan Agam.
"Aku anggap diam kamu ini, sebagai tanda kalau kamu setuju dengan syaratku."
Agam pun berlalu meninggalkan ruang rawat Luna.
Ya tuhan kenapa kau buat hambamu ini mengalami nasib seperti ini, yang harus terpaksa menikah karena sebuah masalah, bukan karena saling mencintai seperti kebanyakan pada pasangan umum lainnya, mampukah aku menjalaninya.
Luna mengasi memikirkan nasibnya setelah ini, sampai dia tertidur karena
kelelahan menangis.
Malam harinya Agam datang kembali ke rumah sakit, dia membawa makanan.
"Ini ada makanan dari Mami dia meminta ku mengantarkan makanan ini untukmu." Agam menyodorkan tempat makan yang dia bawa.
"Makanlah! Bisa makan sendiri kan?" Bertanya sekilas menatap lalu kembali fokus ke ponselnya.
Luna pun memakan makanan itu sesekali melirik ke Agam yang masih fokus dengan ponselnya.
"Sudah selesai?" tanya Agam sembari kembali menyimpan ponsel di sakunya.
"Sudah," jawab Luna dengan tertunduk.
"Ya sudah kalau gitu aku pulang dulu," ucapnya lalu berlalu dari ruangan Luna.
Luna memanggil suster meminta untuk membawanya keluar ruangan, dia ingin melepaskan rasa sesaknya di bawa sinar bulan malam ini yang terlihat gelap, sesusai dengan suasana hatinya.
"Sanggupkah aku menghadapi apa yang akan terjadi nantinya, Tuhan beri aku kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi semua ini," lirih Luna meratapi apa yang akan dia jalani nantinya.
Hawa di luar semakin dingin, dia memilih untuk balik keruanganya.
Sudah satu jam berlalu dia mencoba untuk tertidur tetapi matanya tetap tidak mau terpejam. Luna mengambil ponselnya mencari kontak sahabatnya, dia inging menghubungi sahabatnya itu namu dia urungkan karena takut mengganggu malam hari sahabatnya itu. Luna memilih untuk mencoba tidur kembali.
Pagi harinya saat keluar dari kamar mandi Luna di kejutkan dengan Agam yang sudah duduk di tepi ranjangnya.
"Itu aku bawakan sarapan dari Mami, makanlah selagi hangat," ucap Agam menujuk makanan yang dia letak di meja.
"Oh ya kata Mami jangan lupa bersiap nanti siang kamu sudah boleh pulang, Mami akan menjemputmu," ucap Agam tanpa melihat Luna, masih fokus ke ponselnya.
"Aku pergi dulu harus segera sampai kantor ada meeting penting pagi ini." Luna hanya mengangguk mengiyakan perkataan Agam.
Luna menatap kepergian Agam sampai hilang di balik pintu setelah itu dia melanjutkan makanya kembali.
Dokter kembali memeriksa Luna untuk memastikan apakah sudah benar pulih untuk diizinkan pulang.
Dokter menyarankan kehamilan yang masih muda seperti ini tidak boleh terlalu banyak pikiran, agar proses kehamilan tetap berjalan baik tanpa terjadi hal yang tidak di inginkan.