Pov Autor
Pak makmur pun kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa, walau di dalam hatinya ada ganjalan yang begitu berat namun dia berusaha menyembunyikannya. “Buk aku nanti mau kerumah yu marni ya?” Kata pak makmur kepada bu makmur di sela- sela mereka mengemas gula. “ mau ngapain pak, kadingaren mau kesana apa ada acara” tanya bu makmur “engak ada apa-apa cuma lagi kangen masakane yu mar aja” dusta pak makmur. Pak makmur beeusaha menutupi masalah anaknya dari bu makmur agar dia tidak murka. Setiap ada masalah tempat pertama yang di tuju pak makmur adalah bu marni dia kakak perempuan pak makmur yang sekaligus menjadi pengganti orang tuanya. Setelah menyusun dagangan di rak pak makmur pun pergi kerumah kakaknya, sesampai di rumah bu marni pak makmur langsung menuju dapur. “Mbak yu hari ini masak apa? Aku kangen masakane sampean” ucap pak makmur sembari duduk di depan tungku perapian. “Aku tadi masak sayur lompong sama bothene” jawab bu marni sambil melihat gelagat pak makmur yang menurutnya tidak biasa “kamu mau makan tak ambilne yo” tanya bu marni lagi. Pak makmur mengangguk tanpa menjawab tatapannya tetap tertuju pada api yang membakar kayu di perapian.
Suami bu marni yaitu pak maryo keluar dari kamar mandi “ lo kamu mur, wes sui??” Tanya pak maryo “belum kang baru saja” jawab pak makmur sambil memaksa senyumnya. “ ya wes tak tinggal sek ya tak ganti baju dulu” “ huuh” jawab pak makmur. Saat akan masuk kekamar pak maryo berpapasan dengan istrinya “ bune kenapa si makmur kayaknya ada masalah” tanya pak maryo pada istrinya “iyo kayake gitu, nanti tak tanyak e biar makan dulu sapa tau setelah makan dia mau cerita kan” jawab bu marni “ yo wes sana ladeni dulu adikmu kasian dia” kata suami bu marni.
“ mur ini lo nasike wes tak ambilne cukup gak ini” tanya bu marni seraya menyerahkan piring berisi nasi “ iku sayure di atas tungku lagi di angetin kamu ambil sendiri aja” tambah bu marni. “Huuh yu” jawab pak makmur sambil mengambil sayur lompong di atas perapian, pak makmur pun makan tetap di depan perapian sambil menata hati .” Iki teh e tak taruh meja yo mur” kata bu marni. Pak maryo pun sudah bergabung dengan bu marni dan pak makmur di dapur “iki kopi ne sampean pak” kata bu marni kepada suaminya sembari meletakkan kopi di meja. Selesai makan pak makmur mencuci tangannya, dia ingin kembali duduk di depan perapian namun pak maryo menyuruhnya duduk di sebelahnya. “ sini mur duduk di sini teh kamu lo di sini” kata pak maryo. Pak makmur beranjak mendekat lalu duduk di kursi panjang sebelah meja. Setelah menyesap teh pak makmur masih diam “ ada apa mur, kamu ada masalah , aku perhatikan dari tadi kamu kayak menyimpan beban, sudah critakan aku sama mbakmu akan mendengar critamu jangan kamu pendam sendiri mur” ucap pak maryo. Pak makmur tidak bergeming sama sekali , satu menit dua menit entah berapa menit berlalu akhrnya pecah tangis pak makmur, bu marni yang sedari tadi memperhatikan pak makmur pun bingung dengan adiknya kenapa dia tiba-tiba menangis. Bu marni menepuk - nepuk punggung pak makmur setelah menumpahkan tangisnya pak makmur pun terdiam, bu marni memberi kan minum pada pak makmur agar dia agak tenang, setelah tenang bu marni pun bertanya “ ada apa?? Wawan buat masalah lagi?” Tanya bu marni “ bukan yu,, bukan wawan tapi deni yu deni” jawab pak makmur tangisnya pun kembali pecah. “ Kenapa dengan deni?” Tanya pak maryo “ deni menghamili anak orang kang” tangis pak makmur. “ Astafirullah” kaget bu marni “ kamu yakin mur, deni anak yang pendiam lo” ucap bu marni. “Aku gak tau yu, tadi ada gadis datang mencariku, dia mengatakan kalau dia lagi hamil anak deni yu” gugu pak makmur. “Sampean sendiri kan tau yu ibuke anak-anak gimana, dia menggantungkan banyak harapan dan mimpi pada deni yu, aku gak sanggup membayangkan betapa kecewa dan marahnya Asih nanti yu” . “ seng sabar mur pelan pelan nanti asih juga bisa terima” bu marni memberi dukungan pada adiknya “harimau saja tidak akan pernah menyakiti anaknya apalagi asih mur” kata bu marni sambil mengelus ngelus punggung pak makmur. “Mungkin asih akan marah tapi tidak akan lama mur, sudah kamu jangan berpikir yang berlebihan” bujuk bu marni. “Mur wes kamu pastikan sama deni belum?” Tanya pak maryo. “Belum kang”jawab pak makmur “aku langsung kesini saat pikiranku wes buntu kang aku gak tau harus berbuat apa? Dalam pikiranku cuma gimana reaksi asih nanti, terus bagaimana deni mau menghidupi anak istrinya kalau mereka menikah?”
“Gini ae mur coba besuk kamu tanyakan sama deni, benar tidak dia yang menghamili gadis itu?” Kata pak maryo “kalau memang iya, ya kamu mau engak mau harus menikahkan mereka sebagai bentuk pertanggung jawaban, kalau soal asih nanti aku sama mbak yu mu bakal bicara sama dia”
“Mur kamu yang sabar, engak semua yang kita rencanakan itu bakal terwujud sesuai keinginan kita, kita bisa merencanakan tapi allah yang menentukan” nasehat bu marni. “Kamu banyak-banyak beristifar dan mendekatkan diri pada yang memberi kehidupan, agar hati dan pikiranmu tenang mur, yakinlah kalau kamu bisa menjalani ujian ini” tambah bu marni.
Setelah beberapa jam hati pak makmur pun telah sedikit tenang dia pun berpamitan kepada bu marni dan pak maryo. “Kang, yu wes malem aku tak pamit pulang dulu ya” pamit pak makmur kepada keduanya “ iyo mur ati ati di jalan, gak usah ngebut dan gak usah mikir macem-macem wes apapun yang terjadi nanti aku sama mbakmu bakal ada buat kamu, kalau kamu butuh bantuan kamu langsung kesini saja aku siap membantumu kapan saja” ucap pak maryo. “ iyo kang maksih” jawab pak makmur sambil menghidupkan motornya.
Sesampai di rumah bu makmur pun bertanya pada pak makmur “di kasih apa pak sama mbak yu mu?” “Opo to bu cuma makan sama sayur lompong” jawab pak makmur,” sampean kan kalau tak suruh masak lompong pasti engak mau padahal aku lahi kangen janganan tempo dulu” kata pak makmur lagi. “La loh iyo to pak lompong itu lo buat pakan bebek la sampean la kok suka” kata bu makmur “ enak bu empuk gak susah-susah ngunyah langsung telen aja hehehehe” canda pak makmur. “Healah dasar gragas” cibir bu makmur. “Bune deni gak tidur di rumah to?” Tanya pak mammur “ora dia milih tidur di tokone wawan, tadi sore dia minta matras buat tidur di sana” jawab bu makmur “oalah” sambil manggut-manggut pak makmur merebahkan diri. Dalam hati ada keinginan bercerita masalah yang sedang dia pikirkan seperti pasangan pada umumnya yang akan beetukar pikiran ketika malam datang, namun pak makmur kali ini tidak ada kebernian. Pak makmur pun terlelap entah apa yang akan terjadi besok ya sudahlah semoga semua cepat berlalu.