TEGAR

1005 Words
Setelah beberapa saat menangis, Jelita masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Ia duduk di meja belajar 'barunya' sambil menatap sepiring singkong pemberian Ibu Ajeng. "Misal Banyu mempermainkanmu, dia hanya satu orang jahat. Toh masih ada orang baik lainnya yang memperhatikanmu. Jangan bersedih Jel...." Jelita mengambil sepotong singkong dengan rasa haru. "Seseorang yang tidak aku kenal dekat, seseorang yang bahkan tidak aku ketahui sebelumnya, tapi ternyata bisa bersikap baik kepadaku. "Ibu Ajeng salah satunya. Dan juga Bik Retna." Jelita menarik nafas panjang. "Pasti banyak orang di luar sana yang setidaknya baik padaku dan anakku. Jangan terus bersedih," gumamnya. Sepotong singkong lainnya menjadi sasaran mulutnya. Ia mengunyahnya dengan senyum. Rasa enak singkong bercampur dengan rasa lega setelah menangis cukup lama. Singkong yang hangat, pulen dan gurih membuat lidahnya dimanjakan setelah sekian lama tidak menikmati kudapan sejenis. Menangis terus menerus membuatku lapar. Jelita kembali memutar tubuhnya agar menghadap laptop, Setelahnya jari jemarinya mulai beraksi meluapkan segala perasaannya melalui tulisan. >>> SATU BULAN KEMUDIAN Jelita menatap layar layar laptopnya dengan bahagia. Ada nilai tertera di aplikasi penulisnya yang merupakan nominal penghasilannya bulan itu. Tujuh digit angka yang setidaknya cukup untuk hidupnya. Suasana hatinya langsung membaik. Baru satu bulan bekerja, ternyata aku sudah bisa mendapatkan penghasilan. Ini membahagiakan. Aku bisa tetap berada di rumah tanpa bersusah payah mencari cari pekerjaan tapi ada uang bulanan yang aku terima. Angka di layar tersebut memang tidak luar biasa. Tapi setidaknya bisa untuk membayar satu bulan sewa kos dan mungkin tambahan uang makan. Jelita mulai memproses untuk mentransfer uang tersebut ke rekeningnya. Sekitar dua minggu lalu, ia sudah ke bank untuk membuat tabungan. "Anakku, ibu berhasil mendapatkan uang untuk kehidupan kita ke depan. Berkurang sudah satu kecemasan ibumu," Jelita bicara sambil mengelus elus perutnya. "Hari ini kita ke dokter untuk kontrol. Sudah satu bulan ibu tidak mengecek kondisimu, semoga kamu baik baik saja." Jelita bersiap siap mengenakan pakaian perginya. Ia mengulaskan make up ala kadarnya lalu berangkat ke rumah sakit yang lokasinya agak jauh dari tempat kosnya. Jelita rela menempuh agak jauh karena dokter yang memeriksa kandungannya pertama kali tidak praktek di dekat Rumah Asri. Meski biaya taksi online sedikit agak tinggi, tapi Jelita percaya diri untuk mengeluarkan uang karena sudah mendapatkan penghasilan. Toh, ini hanya satu bulan sekali. Dan demi anakku. Setibanya di rumah sakit besar tersebut, Jelita mengenakan maskernya. Saking banyaknya orang di rumah sakit tersebut, entah kenapa muncul perasaan tidak ingin ada orang yang mengenalinya. Meski aslinya mungkin saja tidak ada yang tahu dirinya dan itu hanya perasaannya saja. Ia mulai registrasi dan mengantri giliran dokter kandungannya dengan tegang. Jantungnya berdebar tak menentu. Antara ingin tahu kabar anaknya, tapi Jelita juga memikirkan biaya dokter. Biaya dokter di rumah sakit sini memang mahal, tapi dokter Pratama yang menanganiku dari awal. Setidaknya kontrol yang sekarang di sini dulu, berikutnya mungkin bisa ganti dokter. Jelita meremas jari jemarinya dengan gugup. Ia mengelus perutnya berulang kali. Kamu terlalu berharga, anakku. Ibu akan melakukan apapun untukmu. Sayang kamu... Matanya mulai berkaca kaca, tapi Jelita menahan diri sekuat tenaga. Aku tidak mungkin menangis di sini. Tiba tiba, namanya dipanggil suster, "Jelita Maharani." Ia pun langsung masuk ke dalam ruang dr. Pratama Wisesa, Sp.OG. "Dok," Jelita tersenyum. Ia menatap dokter muda yang wajahnya bersih dan tampan. Usia dokter Pratama mungkin di atas tiga puluh lima tahun. Ekspresinya ramah dan murah senyum. "Silahkan," dokter membalas senyumannya dan meminta Jelita naik ke bed untuk pemeriksaan USG. Sekilas Jelita melihat kalau dokter Pratama memiliki tubuh tinggi yang sama seperti mantan suaminya. "A... Apa kandungan saya baik baik saja?" Jelita bertanya dengan gugup. "Baik bu," jawabnya. "Lihat ini... Janin ibu sudah membesar, sesuai usia kandungan," dokter menunjuk pada hasil USG yang terlihat di layar. Jelita tersenyum senang, wajahnya berseri seri, "Syukurlah." Dokter kembali tersenyum memperhatikan binar binar bahagia di wajah pasiennya. "Sudah bu, saya resepkan vitamin saja. Nanti resume pemeriksaan akan dibuat suster," jelas dokter Pratama sambil menuliskan sesuatu di meja kerjanya. Jelita merapikan pakaiannya lalu duduk di hadapan dokternya, "Dok maaf, kalau nantinya saya kontrol ke dokter lain apa tidak masalah?" Dengan polosnya ia bertanya. Dokter lagi lagi tersenyum, "Itu hak pasien. Silahkan bu. "Tapi kalau boleh tahu, apa ibu ada kendala selama ini?" Jelita menggeleng, "Saya... Mmm... Pindah rumah. Lokasi rumah sakit ini agak jauh dari kediaman baru saya." "Oh," Dokter mengangguk angguk. "Silahkan bu.." "Terima kasih banyak dok," Jelita mengangguk angguk. Ia keluar dari ruang praktek lalu menyerahkan resep pada suster. Diam diam, dokter Prtama memperhatikan langkahnya hingga pintu ruangan kembali tertutup. Hati kecilnya bertanya tanya. Kenapa calon ibu muda ini datang sendirian? Kemana suaminya? Tapi Pratama mencoba mengabaikan pemikiran tersebut dan kembali fokus memeriksa pasien berikutnya. Di luar ruang praktek dokter, Jelita menanti suster dengan perasaan tak menentu karena penasaran dengan biaya yang harus dikeluarkannya. Semoga saja tabunganku cukup untuk membayarnya. Suster menyerahkan administrasi untuk dibawa ke bagian pembayaran, termasuk satu map khusus yang berisi data kandungannya. Jelita pun bergegas pergi. Ia menyerahkan semua berkas administrasinya dan menanti dengan gundah. "Ibu Jelita Maharani." Jelita menghampirinya. "Ini totalnya bu. Satu juta seratus ribu rupiah," ucap staf rumah sakit. Jelita membaca lembar tagihan tersebut secara seksama. Ah, tabunganku cukup dan setidaknya sudah termasuk vitamin. Ia tersenyum lalu menyerahkan kartu debitnya. Tabungan untuk sewa kos terpakai. Tapi setidaknya masih dua bulan lagi untuk membayarnya. Semua ini demi kamu anakku sayang. Jelita kembali mengelus perutnya dengan penuh perasaan. Janinnya sudah masuk bulan keempat dan perutnya sudah mulai membuncit. Sepertinya, aku harus mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan segalanya pada Ibu Ajeng, sebelum kandunganku semakin besar lagi. Di lobi besar rumah sakit, Jelita mengeluarkan ponselnya untuk memesan taksi online. Namun, aktivitasnya terhenti. Jantungnya mendadak seperti berhenti berdetak. Dadanya terasa sesak. Perutnya berdesir tidak menentu. Ia bersembunyi di balik pilar. Ada sesosok lelaki memasuki lobi rumah sakit. Lelaki yang membuatnya merindu selama satu bulan ini. Banyu Adhiarja melangkah di hadapannya. Air mata tak tertahankan menetes di pipi Jelita. Bukan semata mata karena melihat mantan suaminya, tapi... Ada seorang perempuan berjalan di sampingnya. Dan perutnya membulat seperti layaknya ibu hamil. Jelita menahan gejolak perasaan yang menderanya. Oh... Apa yang terjadi? Jelita merasakan tubuhnya gemetar hebat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD