TANDA TANYA

1040 Words
Jelita sedikit gugup. Apa dia mengenal Banyu? Jelita lalu menepuk kepalanya. Ah, ya pasti dia tahu Banyu kalau memang bekerja di PT Adhiarja Tambang. Pemikiranku bodoh. Tapi aku tidak perlu khawatir dia mengenaliku. Aku dan anak Ibu Ajeng belum pernah ketemu. Bahkan aku belum pernah bertatap muka dengan para karyawan Banyu di kantornya, kecuali Ranu, karena tidak pernah mengunjungi tempat kerjanya. Jelita menarik nafas panjang. Tetiba, ia mengingat mantan suaminya itu. Matanya mulai berkaca kaca dan air mata lagi lagi mengalir di pipinya. Kangen... Aku kangen... Jelita terisak. Ia mengelus perutnya berulang kali. Air mata semakin deras membasahi wajahnya. Isakannya ia tahan sekuat tenaga agar tidak ada yang mendengarnya. Semua kesedihannya tidak bisa diluapkan dengan bebas. Tapi setidaknya tangis bisa membuatnya sedikit lega. "Banyu, apa kamu kangen aku? Apa kamu memikirkanku? Apa kamu masih mengingatku? "Sudah satu minggu aku dan kamu bercerai." Jelita menatap keluar jendela kamarnya sambil menghapus air matanya. Di luar sana tidak ada siapapun. Jam segini, para penghuni kos sudah berangkat kerja atau sekolah. Dari cerita Ibu Ajeng, Jelita tahu kalau orang orang yang ada di Rumah Asri adalah karyawati atau mahasiswi. Pikirannya melayang mengingat masa lalunya. Aku yang seorang karyawati biasa bisa membuat seorang Banyu menikahiku. Sampai sekarang, kadang aku tidak percaya. Kenapa bisa? Saat aku bertanya, Banyu tidak pernah mau menjawabnya. Tidak hanya soal perasaannya saja yang membuatku penasaran, tapi juga banyak hal. Bahkan, pernikahanku dan Banyu dilakukan diam diam, tanpa tamu undangan, kecuali Ranu dan sahabatku, Ganika. Kenapa? Aku mengabaikan tanda tanya itu dengan harapan kalau suatu hari nanti Banyu akan memberikan jawabannya. Di saat seperti ini, aku butuh teman bicara. Andai Ganika ada di sini. Jelita tiba tiba saja merindukan sahabatnya yang sejak tiga bulan lalu meninggalkan tanah air karena pindah tugas ke negeri matahari terbit. Aku belum menceritakan soal perceraianku. Ia menarik nafas panjang. Jelita belum menceritakan segalanya pada Ganika karena tidak mau membuat sahabatnya khawatir. Apalagi mereka terpisahkan jarak. Semua pikiran yang tiba tiba muncul mengganggu mood, sehingga membuatnya tak lagi ingin menulis. Jelita pun menutup laptopnya. Ia lalu naik ke tempat tidur dan berbaring dengan tatapan kosong. Matanya dengan nanar menatap langit langit kamar yang sedikit lapuk dengan warna cat nya sedikit kusam. Banyu, apa perasaanmu kalau tahu aku hamil? Di perutku, ada anakmu... Matanya terpejam mengingat malam pertama mereka. Jantungnya mendadak berdebar kencang. Rasa cintanya kembali menggelora. Jelita memeluk gulingnya dengan erat. Ada satu perasaan yang tidak tergambarkan. Aku rindu... Bayangan tubuh polos Banyu yang tinggi besar dengan kulitnya yang cenderung gelap, membuatnya begitu maskulin. Namun, meski terlihat jantan, mantan suaminya itu memperlakukannya dengan lembut. Banyu tahu kalau momen itu pertama kali bagiku. Dan dia tidak bersikap kasar. Jelita mengenang lebih jauh akan hari itu, malam itu. Banyu membelai tangannya dengan lembut dan mengungkapkan keinginannya untuk melakukan malam pertama mereka saat itu juga. Ia tidak memaksa, bahkan dengan hati hati mempertanyakan kesiapannya. Akhirnya, Jelita mengiyakan. Jantungnya berdebar ketika satu kecupan membasahi bibirnya. Cara Banyu menciumnya sungguh membuatnya terbang. Tak hanya itu, pagutan di bibir terjadi berulang kali tanpa bisa ia tahan. Jelita tak ingin melepaskan peraduannya. Hingga akhirnya, jari jemari suaminya mulai bergerak melepaskan pakaian tidur yang dikenakannya. Pertama kali, ada seorang lelaki yang melihat tubuhnya. Tidak hanya itu, jari jemarinya yang kokoh dan besar juga mulai menyentuhnya. Kedua bukit kembarnya mulai tersingkap. Ada rasa malu yang menyeruak, tapi juga anehnya, ada perasaan yang membuat Jelita ingin Banyu menyentuhnya. Ketika suaminya mengusap lembut setiap bagian tubuhnya, ia menyambutnya. Secara reflek, Jelita bahkan menyodorkan buahdadanya dan bagian tubuh lainnya agar Banyu membelainya. Suaminya itu juga melepaskan setiap helai pakaian di tubuhnya sehingga Jelita telanjangbulat. Aneh tapi nyata, tidak ada lagi rasa malu. Ia hanya membiarkan Banyu melakukan apapun di badannya. Tidak pernah seumur hidupnya, Jelita merasa begitu bergairahh sehingga seperti tidak sadarkan diri. Ia tidak peduli erangannya terdengar, dan ia juga tidak peduli kalau tubuhnya menjadi objek pelampiasan 'nafsu' suaminya. Jelita menikmati semua itu. Bahkan, ketika tubuh mereka menyatu dan rasa sakit muncul, Jelita tidak memikirkan apapun kecuali keinginan untuk membahagiakan suaminya. Dan ia bisa merasakan kalau Banyu juga ingin membahagiakannya. Berulang kali, suaminya itu mempertanyakan kondisinya. Apa sakit atau tidak? Banyu sangat memperdulikan perasaannya. Itu sebabnya Jelita percaya kesungguhan hati dari suaminya. Bahkan, esok paginya, ketika Banyu menginginkannya lagi, Jelita lagi lagi mengiyakan. Meski tubuhnya seperti belum siap untuk kembali menyatu, tapi ada dorongan rasa cinta yang begitu besar di dirinya. Kelembutan suaminya membuatnya percaya untuk menyerahkan jiwa raganya. Aku jatuh hati. Lebih dan lebih lagi. Sikap dan perbuatanmu membuatku bergetar. Sejak malam pertama itu, hampir setiap hari mereka melakukannya. Momen ketika Banyu harus melakukan perjalanan dinas saja yang membuat keduanya melewatkannya. Jelita teringat ketika memasuki bulan kedua pernikahan mereka, Banyu harus pergi selama tujuh hari ke Kalimantan. Selama itu, ia sangat merindukannya. Sayangnya, Banyu jarang menghubunginya saat bepergian, sehingga kadang Jelita berpikir kalau suaminya itu tidak pernah merasakan kangen kepadanya. Tapi saat Banyu pulang, semua pemikiran itu terbantahkan. Suaminya itu langsung mencarinya dan memintanya untuk melakukan hubungan intim. Sangat jarang ada ungkapan 'kangen' atau 'rindu' keluar dari mulutnya, tapi dari sikapnya... Jelita bisa merasakan. Itu sebabnya Jelita tidak pernah mengeluhkan meski Banyu jarang mengungkapkan isi hati lewat kata kata. Sentuhannya, pelukannya dan ciumannya sudah cukup membuatnya yakin akan perasaan suaminya kepadanya. Saking seringnya kita melakukan hubungan badan, akhirnya ada janin yang tumbuh di perutku. Jelita kembali mengenang pertemuan terakhirnya sebelum perceraiaan. Hari ketika Banyu berpamitan untuk pergi dinas selama dua minggu ke Kalimantan. Saat itu, Banyu mengecup lembut keningnya di teras rumah. Hal yang tidak pernah dilakukannya saat berada di tempat terbuka, meski itu di kediaman mereka. Tidak ada kata kata apapun. Tapi kecupan singkat itu cukup membuatnya bahagia. Sangat bahagia. Jelita tahu kalau Banyu menyayanginya. Perasaanku tidak salah, kamu mencintaiku bukan? Keesokan harinya, tubuhnya terasa tidak enak. Ia pun pergi ke dokter umum yang menyarankannya agar pergi ke dokter kandungan. Dan, hari itu, Jelita menerima kabar bahagia kalau ia positif hamil. Anak ini tidak berdosa Banyu, dia tumbuh dari cinta kita. Jelita semakin erat memeluk gulingnya. Tapi perceraian terjadi. Kecupan di kening sebelum kamu pergi, apa itu tanda tanda perpisahan? Apakah kamu mempermainkanku selama berbulan bulan ini? Apa malam pertama itu hanya caramu memperdayaku? Jelita menenggelamkan dirinya ke dalam bantal dan guling. Ia lalu menangis tersedu sedu karena menyadari kemungkinan kalau bisa saja Banyu mempermainkan perasaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD