TIDAK LAGI RAHASIA

1131 Words
Pertanyaan Ibu Ajeng membuatnya meledak. Jelita kembali menangis tanpa bisa menahannya lagi. "Ke.. Kenapa?" Ajeng menutup pintu kamar lalu menarik tangan Jelita agar duduk di sisi tempat tidur. "Apa yang salah? Apa yang terjadi?" Tangannya membelai punggung anak kosnya itu naik turun untuk menenangkannya. Setelah beberapa saat, Jelita pun terdiam. "Ibu maafkan saya tiba tiba menangis. Tapi..." ia meremas rok nya dengan gugup. "Ceritakan saja, ibu akan mencoba jadi pendengar yang baik," Ajeng bicara perlahan. Jelita menoleh ke arahnya, "Tapi... Kalau ibu tahu cerita saya, tolong, jangan usir saya dari sini..." Ia terisak membayangkan kalau sampai tidak lagi memiliki tempat tinggal. Bagaimana kalau Ibu Ajeng menyuruhku keluar? Aku harus kemana? Anakku bagaimana? "Ibu bisa menilai kalau kamu perempuan baik," Ajeng bicara. "Jadi rasanya tidak mungkin ibu akan mengusirmu begitu saja." "Baiklah," Jelita meremas jari jemarinya dengan erat. Ia mulai bercerita. "Ibu, saya sedang hamil." Ajeng terdiam. "Dan... Anak dalam kandungan saya hadir dalam sebuah pernikahan. Saya menikah beberapa bulan lalu, tapi di hari saya datang ke kos an ini, menjadi hari kelam. Mendadak, hari itu, saya menerima akta cerai. "Saya tidak tahu alasannya. Pengacara suami tiba tiba menyerahkan dokumen yang menjadi bukti perpisahan begitu saja dan meminta saya pergi dari rumah." Jelita lalu berdiri. Ia membuka lemari dan memperlihatkan akta cerai ke tangan Ajeng, "Ini buktinya bu." Ajeng mengelus punggung Jelita berulang kali. Ia bersimpati dengan nasib perempuan di sampingnya itu. "Saya pergi tanpa sempat menceritakan pada suami mengenai kehamilan ini. Ketika saya mengetahui kehadiran buah hati kami, suami sedang berada di luar kota. Hari itu saya menantinya kembali untuk menceritakan kabar bahagia ini.. Tapi ternyata..." Jelita kembali terisak. "Sabar nak, sabar..." Ajeng tiba tiba saja merasa sedih dan prihatin. "Saya... Bersabar. Saya menerima segalanya. Tapi hari ini.. Satu bulan setelah hari kelam itu, Saya melihatnya," Jelita menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya. "Tadi saya ke rumah sakit untuk kontrol kehamilan. Dan di lobi, tak sengaja, saya melihat mantan suami bersama perempuan lain yang perutnya... "Dia ada di hadapan saya bersama seorang perempuan di sisinya, yang sedang hamil..." "Ibu... Saya bingung. Jujur, saya tidak mengerti. Apa yang terjadi?" Jelita terisak. Ajeng membiarkan Jelita terus menangis untuk meluapkan perasaannya. Sebagai sesama perempuan, ia mengerti perasaannya. Tidak ada kata kata yang keluar dari mulutnya, hingga akhirnya Jelita bangkit berdiri. "Saya mau mencuci muka dulu," Jelita menghilang ke kamar mandi. Ajeng menghela nafas panjang. Matanya menatap pintu lemari yang terbuka. Hatinya langsung tersentuh melihat isi lemari yang tidak banyak. Dari tiga tingkat lemari baju, hanya satu rak saja yang terisi pakaian. Nak, kamu pergi dari rumah tanpa membawa apapun? Jahat sekali mantan suamimu itu. Ajeng teringat ketika Jelita membayar kos secara tunai dari sebuah amplop putih. Apa hanya isi amplop itu yang kamu terima dari mantan suamimu? Ajeng menarik nafas panjang. Tak lama, Jelita keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Ia kembali duduk di samping Ajeng. "Apa... Apa ibu akan mengusir saya?" gumamnya. "Tidak," Ajeng tersenyum sambil menggenggam tangannya. "Kamu bisa tinggal di sini sampai kapanpun kamu mau. "Mengenai kehamilanmu, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin ada orang yang akan membicarakannya, tapi abaikan saja. Ibu akan menjelaskan pada mereka yang bertanya," ucap Ajeng. Jelita tersenyum, "Terima kasih bu. Saya tidak tahu harus tinggal dimana. "Sebelum menikah, dulu juga saya tinggal di tempat kos. Jadi tidak ada rumah tinggal permanen yang saya miliki." "Iya, tidak apa apa," Ajeng memahami situasi Jelita. "Kalau nanti saya melahirkan, apa boleh tetap tinggal di sini bersama anak saya?" Jelita dengan ragu bertanya. Ajeng tersenyum, "Mungkin tidak di kamar ini. Kalau kamu mau, bisa sewa lantai dua rumah saya." "Oh..." Jelita tersenyum lebar. "Kamar kos ini terlalu kecil untuk ditempati berdua," jelas Ajeng. "Lantai dua rumah saya itu kosong, tidak ditempati. Ada satu kamar mandi, dua kamar tidur, dan ada ruangan tengah. Kalau kamu mau, nanti akan saya meminta ada yang membersihkannya." "Ma... Mau..." Jelita kembali tersenyum. "Kamu belum melihat kondisinya," Ajeng menyentuh tangan Jelita. "Saya suka lingkungan di sini..." jawabnya. "Baiklah. Sampai melahirkan, mungkin kamu tetap tinggal di kamar kos ini. Karena akan repot naik turun tangga saat hamil tua," ucap Ajeng lagi. "Tapi, saat anakmu lahir, setidaknya lantai dua sudah siap ditempati. Kamu bisa mulai menatanya." "Ibu, terima kasih," Jelita memeluk Ajeng dengan erat. "Sama sama," Ajeng menepuk nepuk punggung Jelita. Ia merasa tersentuh dengan ketabahan perempuan di sampingnya ini. "Oh ya, bagaimana dengan sewa lantai dua nanti?" tanya Jelita. Ajeng terdiam. Ia tidak ingin mengenakan biaya kos, tapi juga tidak ingin Jelita akhirnya memilih pergi karena tidak enak mendapatkan fasilitas gratis. Ajeng sedikit khawatir kalau ada yang akan berbuat jahat pada anak kosnya ini kalau tidak lagi tinggal di Rumah Asri. Akhirnya ia bicara, "Sewanya dua juta per bulan karena itu dua kamar." Jelita tersenyum lebar. Oh.. Biayanya masih masuk akal. Anakku dan aku setidaknya mendapatkan tempat tinggal yang nyaman. Ia pun mengangguk angguk, "Saya mau buk..." "Iya, nanti ibu akan mulai meminta ada yang merapikannya. Perabot rumah tangga juga sudah ada, jadi kamu tidak perlu membeli apapun kecuali mungkin keperluan anakmu nanti," ucap Ajeng. "Oh ya, berapa usia kandunganmu? Kapan prediksi lahir?" "Sekarang sudah masuk bulan keempat buk," jawab Jelita. "Ok, kita kejar tiga bulan sudah beres. Ibu akan mengecat ulang dan memperbaiki perabot yang rusak. Jadi saat usia kandunganmu tujuh bulan, kamu sudah bisa mempersiapkan kebutuhan anakmu di lantai dua," terang Ajeng. "Iya," sesaat Jelita melupakan segala kesedihannya dan tergantikan dengan kebahagiaan karena mendapatkan kepastian tempat tinggal yang nyaman. "Ibu, sungguh saya sangat berterima kasih atas pengertiannya." "Sama sama," Ajeng menepuk nepuk bahunya. "Jangan terlalu memikirkan lelaki yang telah menjahatimu. Apalagi kamu melihatanya bersama perempuan lain. "Itu kenyataan pahit, tapi harus kamu hadapi." Jelita terdiam. Ibu Ajeng benar. Itu kenyataan. Sangat nyata ketika melihat Banyu bersama perempuan lain yang jelas jelas hamil. Tafsir apa lagi selain mereka adalah pasangan suami istri? Pahit, tapi bagaimana lagi? "Kalau kamu butuh teman bicara, ibu ada di dekatmu, tinggal ketuk pintu rumah," ucapnya menenangkan. Jelita mengangguk angguk, "Iya buk." "Makan dulu pisang gorengnya sebelum dingin. Ibu ke rumah dulu," ucapnya. "Iya," Jelita tersenyum lebar. Saat Ajeng pergi dan pintu pun tertutup, Jelita duduk di atas ranjang sambil merenungkan segalanya. Aku harus melupakan Banyu. Ia membuka galeri foto di ponselnya. Ada beberapa foto suaminya di dalam galeri tersebut. Ada keinginan untuk menghapusnya, tapi.... Jelita ragu. Bagaimanapun anakku harus tahu siapa ayahnya. Tanpa foto, akan sulit bagiku memberitahunya mengenai sosok Banyu. Jelita memperhatikan ada satu foto Banyu yang sedang tersenyum. Lengkungan di mulutnya itu sangatlah langka. Secara reflek, ia pun ikut tersenyum. Aku pikir, kamu lelaki baik. Aku salah.... Jelita menggeser geser galeri tersebut hingga tiba di foto yang memperlihatkan dirinya dan Banyu berdampingan kala menikah. Mendadak, dadanya terasa sesak. Foto ini jadi bukti kalau kita pernah menikah. Kamu tidak akan bisa menyangkalnya kalau anak kita mempertanyakannya. Saat ini, kamu mungkin menjadi rahasia, tapi tidak suatu hari nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD