Vay memiliki kesan terlalu kuat sebagai perempuan. Rey kualahan bergaul dengannya. Kesulitan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan Vay bahkan ketika Rey diam pun Vay tetap memaksanya untuk bicara. Kini Vay mengerti jika Rey seorang pemalu, pendiam, tidak pandai bergaul dan terlalu murah hati. Saat suara Vay sedikit serak lantaran terlalu banyak bicara, Rey langsung mengkhawatirkannya. Itu membuat Vay tertawa dan mengejek Rey. Dalam hati Rey sangat kesal, tetapi kekesalannya tidak terbanding dengan apa yang dilakukan gadis itu. Vay orang yang baik. Dia mengerti setiap penjelasan Rey yang sangat merasa kesusahan dan meminta pertolongan. Tersesat bukanlah hal yang menyenangkan bagi orang seperti Rey. Saat ini mereka telah jauh dari para perahu nelayan. Mereka berada di titik pertengahan laut untuk menuju pulau seberang.
"Jadi kau memang bukan dari sini, ya?" lanjut Vay sembari mendayung pelan. Sangat baik tidak melawan arus. Senyumnya terus tersungging memperlihatkan jika dirinya seorang perempuan meskipun berlawanan dengan sikapnya.
"Iya, terima kasih telah menolongku." Rey menunduk untuk kesekian kalinya. Dia telah menjelaskan kedatangan dan asalnya berada.
"Haha, kau itu lucu, Rey. Sebenarnya bukan hal aneh mengapa ada orang yang jatuh dari langit atau datang secara tiba-tiba di negeri ini. Kau tau mengapa?" kaki Vay berpindah posisi menjadi sedikit terbuka.
Rey menggeleng bingung.
"Karena ini adalah negeri sihir di mana terciptanya pulau-pulau kecil yang membentuk sebuah kerajaan hebat bernama Leazova! Ini adalah keajaiban!" seru Vay seraya merentangkan tangan menantang langit. Sontak dayungnya jatuh.
Deg!!!
Bola mata Rey melebar sempurna. Kerajaan, sihir, Leazova, dan setiap kata yang Vay ucapkan mampu menahan napas Rey sejenak.
"Kalau kau bilang bukan dari negeri ini dan berasal dari kota Vier, aku agak ragu. Memangnya kota Vier itu apa? Di mana?" Vay mengetuk dagunya heran. Dahinya pun berkerut meskipun masih memandang langit.
Rey menepuk dahinya setelah beberapa detik seakan frustasi, "Apa yang kau katakan? Kerajaan?"
Sulit untuk mengerti setiap ucapan Vay. Meskipun itu mustahil, tetapi ada benarnya juga. Rey tidak bisa menyangkal jika sihir telah terjadi. Nyatanya dia terhisap ke dalam buku. Namun, kebenaran ini terlalu nyata dan tiba-tiba. Raut wajah Rey yang sangat gelisah dan bingung terpancar jelas sampai Vay meneleng heran.
"Suaramu yang pelan membuatku pusing. Sepertinya kau memiliki masalah besar. Mungkin aku bisa membantumu. Jangan cemas, aku hafal setiap pulau di kerajaan ini, meskipun tidak dari segala sudut. Hahaha, lelucon ikan, hahaha!" Vay yang mulanya bicara sedikit serius kembali tertawa sambil memukul pahanya berkali-kali. Rey semakin mendesah pusing. Menurutnya semua ini tidak logis.
'Kenapa dia tertawa? Apa hubungannya dengan ikan?' sedih Rey dalam hati.
Rey terkesiap ketika Vay tiba-tiba berhenti tertawa dan langsung membentaknya.
"Dengar, Rey Sann! Kita akan pergi ke pulau di mana akan ada banyak orang pintar. Mereka semua terpelajar karena perpustakaan terbesar di negeri ini ada di sana. Kau bisa mencari tahu semua jawaban dari pertanyaanmu pada orang-orang jenius itu. Aku tidak pandai dalam berpikir. Aku hanya penjual ikan yang bahkan untuk makan saja masih sering berhutang, tapi aku jago berkelahi. Kau lihat? Aku menyelamatkanmu dari orang-orang besar nan payah itu, hahaha! Hei, terkadang jadi kuat itu lebih baik daripada lemah gemulai. Aku benci perempuan yang lemah gemulai." Vay bicara sangat santai sampai-sampai menepuk lengan Rey beberapa kali membuat Rey sedikit beringsut mundur.
Rey menatap Vay ragu dari atas sampai bawah, "Kau ... memang hebat. Aku tidak bisa berkelahi atau bicara manis sepertimu, tapi bisakah kau membantuku sampai aku memahami semua ini? Aku juga harus kembali."
"Ah, tenang saja, Kawan! Hanya saja sangat disayangkan jika kau tidak pandai membela diri." Vay mengibaskan tangannya senang setelah itu mengerucutkan bibirnya.
"Ke-kenapa?" Rey tidak mengerti. Dia sampai meneleng dan memasang wajah sayu.
"Karena setiap orang di sini berdarah dingin," mendadak nada bicara Vay sangat dingin. Rey terpaku tak bisa berkata-kata. Wajah kaku Vay hanya berlaku beberapa detik, setelah itu dia kembali tertawa membuat Rey heran serasa dipermainkan. "Itu benar, tapi tidak semua. Mereka maish punya akal sehat. Bisa dikatakan semua pandai menggunakan senjata. Semua bisa saja terjadi di negeri sihir ini," sambung Vay.
"Begitu, ya?" Rey menunduk murung lagi. Dia mengingat buku itu. Dia pegang dengan kedua tangan. Matanya lurus tertuju pada satu kata yaitu judul. Tidak ada keterangan penulis atau penerbit. Hanya ada satu kata tersebut.
"Apa sihir itu nyata?" gumam Rey.
"Tentu saja! Buktinya semua ini!" Vay menjawab sambil menunjuk sekeliling. Rey mengerjap terkejut lagi. Dia mengedarkan pandangannya mengikuti arah telunjuk Vay.
'Benar, gadis cerewet itu benar. Mungkin memang benar jika ini adalah negeri sihir bersistem kerajaan. Namanya sama dengan buku ini. Kerajaan Leazova, di mana penuh sihir dan aku tidak melihat adanya sihir sama sekali di sini. Kecuali ... aku yang menyeberangi lautan dengan perahu yang itu tidak mungkin terjadi di kota Vier,' pikir Rey baik-baik.
Rey sudah mengerti. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Senyumnya mulai terangkat. Dia memandang pulau di mana dia datang. Mencerna setiap peristiwa singkat dari beberapa waktu yang lalu dan menggabungkannya dengan pola pikir yang dipaksa untuk menerima kenyataan. Rey menemukan kuncinya. Jika dia ingin pulang maka harus mengetahui sejuk beluk kerajaan sihir ini dan hubungannya dengan buku Leazova.
Telunjuknya terangkat menunjuk pulau itu selagi Vay kembali mendayung perahu sedikit demi sedikit.
"Vay Ijri, pulau apa itu?" tanya Rey sudah melegakan hatinya untuk semua yang terjadi.
"Hmm?" Vay menaikkan sebelah alisnya lalu menoleh ke belakang di mana tempat tinggalnya berada. Dia pun tersenyum berpikir Rey mulai berteman dengannya. "Itu adalah pulau ikan. Ada ikan langka yang kami punya di mana pulau lain tidak memilikinya. Namanya ikan runcing. Itulah mengapa dermaga itu dinamakan dengan dermaga ikan runcing," jelasnya.
"Benarkah? Ikan itu sangat langka?" Rey meneleng lagi.
"Kau tidak percaya? Terserah saja, yang jelas itu kenyataannya." Vay mengendikkan bahu kembali mendayung.
"Lalu, kau menjual ikan itu?" Rey masih tak memalingkan pandangannya dari pulau sebelumnya.
"Hahh, untuk bergabung menjaga ikan runcing saja sangat susah. Aku hanya penjual ikan kecil saja," Vay justru mengeluh.
"Wah, kau hebat!" tiba-tiba Rey melebarkan matanya. Vay mengernyit karena Rey memujinya. "Apa? Kau gila, ya? Apanya yang hebat dari penjual ikan sepertiku? Ada-ada saja," balas Vay.
"Kau pekerja keras. Sangat hebat!" barulah Rey menoleh dan melempar senyum tipis pada Vay. Sontak Vay kagum dan bertepuk tangan. "Wah, wah, wah, apa yang kulihat?! Kau tersenyum lagi padaku! Ini kemajuan!"
"Jangan meledekku," Rey tetap tersenyum.
"Hahaha, biar kutebak. Apa kau sering diganggu gadis-gadis? Jika aku waras aku sudah pasti tergila-gila padaku sejak tadi." dengan santainya kembali mendayung.
'Ternyata dia sadar kalau tidak waras,' batin Rey.
"Selalu, setiap hari dan setiap saat. Mereka menggangguku." jawab Rey sembari mengalihkan perhatian ke air laut.
"Ceritakan padaku kehidupanmu di kota Vier. Aku ingin tau," kata Vay tanpa basa-basi.
Rey sedikit berpikir akan menceritakannya dari bagian mana. "Kota itu sangat tua, tetapi modern dan ramai. Suasananya jauh berbeda dari ini. Aku bekerja di toko buku dan tinggal di sana bersama tuan Kezo. Dia pemilik toko itu. Semua orang bilang aku terlalu tampan, sayangnya kepribadianku buruk, tidak seperti pria lainnya. Lalu, di bagian itu lah aku menjadi sangat digemari perempuan. Setiap hari berkutat dengan buku dan melayani perempuan aneh yang menggangguku. Itu bukan kisah yang baik, bukan?"
"Hahaha, kau aneh!" Vay tertawa terbahak-bahak.
Seketika Rey melunturkan senyumnya, "Bukankah kau yang aneh?"
Vay masih tidak bisa berhenti tertawa. Dia membayangkan bagaimana Rey yang tidak tahan diganggu banyak gadis setiap hari, "Kau ... kau terlalu tampan, haha. Apa kau punya teman laki-laki? Belajarlah menjadi jantan darinya. Dasar bodoh!" mengatakannya pun sambil tertawa.
Rey berdecak, "Kau sudah cukup seperti laki-laki bagiku."
"Ternyata kau pecundang sejati, Rey," Vay masih belum bisa menghentikan tawanya.
"Aku sudah terbiasa dengan ejekan itu," jawab Rey datar.
Vay berdeham dan meredakan tawanya sekuat tenaga, "Baiklah, Tuan pemalu. Kalau kau sebegitu bodohnya, kenapa mau berteman dan membuka dirimu padaku? Kuhitung sudah banyak kata yang kau lontarkan padaku."
Napas Rey tercekat, "Benar juga. Aku terlalu banyak bicara."
Dia baru menyadarinya dan itu menjadikan Vay geli hati kembali. Rey hanya bisa berdecak dan mendesah malas. Laut tenang dengan sedikit gelombang. Membiarkan Vay mengejeknya dengan segala pemikiran yang ada. Hingga tidak sadar mereka sudah hampir dekat dengan pulau seberang.
~~~
Sejak pembicaraan mereka dihentikan, laju perahu menjadi lebih cepat karena Rey ikut mendayungnya. Sungguh pulau yang sangat berdekatan. Bisa juga dikatakan cukup jauh karena memakan waktu seharian. Hari sudah senja. Tidak mengelak keindahan surya yang terbenam di arah barat, seolah-olah laut menelannya. Rey tak bisa menahan diri untuk tersenyum. Separuh wajahnya yang tertutup rambut kini mulai terlihat karena semilir angin menerbangkan rambutnya. Rey susah payah mencoba menutupi wajahnya selagi Vay mencoba menepikan perahu di pelabuhan di mana ada banyak kapal besar dan sedikit perahu nelayan berlabuh di sana, sangat berbeda dari dermaga ikan runcing.
Perahu telah berhasil diikat ke salah satu kayu yang sangat kuat sehingga tidak akan lari tertiup angin. Vay menaikkan celananya yang sedikit longgar tanpa malu sedangkan Rey sibuk menutupi wajahnya.
"Hahhh, akhirnya kita sampai juga. Tidak kusangka angin akan bertiup lebih kencang malam ini. Sepertinya akan sangat dingin." Vay menatap jauh ke jalanan yang menunjukkan arah menuju pusat pulau. Orang-orang di sekitarnya sudah mulai berkemas pulang dan menata tempatnya. Suasana yang tidak ada bedanya.
"Hey, Rey! Kenapa sibuk dengan rambut? Biarkan saja, jangan malu begitu. Ayo, pergi ke tengah-tengah pulau ini. Perpustakaannya ada di sana. Mau jalan kaki atau naik gerobak kuda? Kalau jalan kaki pasti besok baru sampai. Aku tidak punya uang untuk membayar kendaraan yang lebih cepat. Pilih mana?" Vay menoleh pada Rey heran. Rambutnya sendiri dibiarkan diterbangkan angin tanpa arah. Dia suka udara dingin, sudah terbiasa dan tidak terganggu sama sekali.
Rey pun memegangi dahinya agar wajahnya tidak terlihat sepenuhnya oleh Vay. Hal itu membuat Vay berdecak ingin menjambak rambut Rey.
"Oh, iya, apa kau tidak keberatan sama sekali? Kau meninggalkan pekerjaan dan rumahmu," Rey baru ingat setelah mereka cukup jauh. Terlebih lagi desiran darahnya terdengar jelas karena cuaca malam ini. Rey memandang sekeliling. Bahkan jingga sudah tidak terlihat dan berganti malam yang redup. Langit yang baik, banyak bintang menyinari.
'Terlalu dingin. Aku tidak bisa bertahan seperti ini dengan jalan kaki, tapi aku juga tidak bisa membiarkan Vay menghabiskan uangnya untukku. Astaga, dingin sekali!' keluh Rey dalam hati.
"Tidak masalah, aku sering bepergian. Aku sudah memutuskan untuk membantumu, jadi aku akan mengikutimu." Vay mengendikkan bahu. Memandang Rey lekat, sadar kondisi ini begitu menyiksa orang asing seperti Rey. "Ck, ayo cari pakaian dulu. Lagi pula kau tidak bisa berkeliaran dengan pakaian aneh seperti itu," sambungnya.
"Apa? Tidak perlu. Ayo pergi ke perpustakaan saja, lebih cepat lebih baik." Rey melangkah terlebih dahulu. Namun, Vay menarik tangan Rey membuat Rey kembali mundur. "Bisa tidak kau dengarkan aku? Ini demi kebaikanmu! Aku tidak ingin kau mati kedinginan di pulau ini.
"Mati? Aku bisa mati?" Rey sedikit takut.
"Ini pulau, tidak ada yang tau apa yang bisa terjadi. Jika suhunya berubah lebih rendah maka kau bisa dipastikan membeku. Pakaianmu terlalu tipis, jelek sekali!" Vay menarik Rey paksa sehingga Rey mengikutinya dengan langkah tidak stabil. Dia hampir jatuh, segera menyesuaikan kakinya.
Ketika akan membantah, pandangannya mengedar ke segala arah. Itu pun menimbulkan kerutan di dahinya.
'Pulau ini ... rindang. Terlalu rindang,' pikir Rey.
Tak sadar kakinya melangkah mengikuti arahan Vay. Tiba-tiba mereka berhenti di sebuah rumah besar yang terdapat satu orang tua yang sedang berkemas di sana. Rey pun mengerjap dan menoleh. Dahinya berkerut lagi.
"Kenapa kau bingung? Aku akan membelikanmu pakaian hangat." Vay melepaskan genggamannya pada Rey. "Paman, apa toko ini masih buka? Berikan pakaian tebal untuknya. Dia kasihan. Jangan mahal-mahal, ya," sambung Vay.
"Apa? Itu tidak perlu." Rey menggeleng sambil menyilangkan tangan.
"Kami sudah tutup." pak tua itu melanjutkan aktivitasnya. Semua pakaian yang terlipat rapi telah dimasukkan dalam keranjang kayu yang besar. Vay buru-buru mencegahnya, "Eh-eh, tunggu dulu, Tuan! Hanya satu setel baju saja. Kau tidak kasihan padanya? Asal kau tau saja, dia gelandangan." berbisik di akhir ucapannya.
Rey melotot lagi dan pak tua itu memperhatikan dirinya lekat. Sayangnya saat Rey hendak membela diri, Vay kembali bicara terlebih dahulu.
"Ayolah, sebelum bulan muncul!" paksa Vay.
"Anak muda, sepertinya kau bukan dari sini. Siapa kau?" pak tua itu sangat terheran-heran.
Rey tersenyum, tetapi Vay yang terkejut. Dia berpikir yang bukan-bukan jika pak tua itu akan menghakimi Rey sesuka hatinya.
"Ah, iya. Maaf mengganggu, tapi bolehkah kau meminjamkan kami kendaraan untuk ke tengah-tengah pulau? Besok aku janji akan mengembalikannya," pinta Rey sopan.
"Ha? Kau sopan sekali." Vay menaikkan sebelah alisnya dan melipat tangan di d**a.
Namun, pak tua itu masih kebingungan. Kemudian pandangannya terarah pada buku di tangan Rey. Dia mengerutkan dahi lebih dalam. Sontak Rey menyembunyikan buku itu di punggungnya sembari memasang senyum ramah. Pak tua itu kembali menatapnya.
"Kau memang bukan dari sini. Pulau mana yang kau tinggali?" tanya pak tua lagi.
"Sudahlah, kau punya pakaian, tidak?" sahut Vay.
"Aku punya beberapa untukmu, tapi tidak punya kendaraan. Cari kendaraan yang lain. Ini, pilih saja. Jangan tawar harga, itu sudah harga pasar." pak tua itu membuka kembali bungkusan pakaian laki-laki yang telah dia kemas. Seketika Vay memilih dengan senang.
Rey cemberut karena pak tua itu tidak memiliki kendaraan. Sungguh melelahkan jika semalaman berjalan. Namun, satu hal yang telah dia mengerti jika pulau ini adalah pulau rindang yang dingin dengan penuh pengetahuan dan kecil. Mungkin sebesar kota. Tidak mungkin tengah-tengah pulau bisa dicapai dalam semalam, pikir Rey. Meskipun demikian ada hal lain yang dia pikirkan sampai tangannya sedikit mencengkeram buku yang dia sembunyikan. Tidak lama kemudian Vay melempar pakaian tebal pada Rey membuat Rey kaget.
"Pakai itu!" kata Vay tegas. Rey mendesah sabar. "Aduh, uangku jadi sedikit, 'kan? Kalau begini harus dapat uang di perjalanan." kesah Vay sembari memeriksa kantung uang setelah membayar pakaian Rey.
"Maaf, aku merepotkanmu. Akan kuganti lain kali," Rey tidak enak hati.
Setelah selesai berurusan dengan pak tua, Vay tersenyum dan memukul pundak Rey, "Haha, kau ini seperti anak kecil! Karena aku tidak punya uang banyak, kita jalan kaki saja. Hitung-hitung sekalian kau melihat-lihat pulau ini."
Rey pun tersenyum kemudian mengangguk. Tidak menunggu waktu lama malam benar-benar tiba. Bulan masih separuh dari sempurna. Tiap jalan terpasang lentera sebagai penerang jalan, berpadu dengan cahaya langit malam yang cerah. Rey tak bisa melepas senyumnya memandang sekitar. Dia merasa sedikit hangat setelah memakai pakaian tebal tanpa melepas pakaiannya. Meskipun begitu angin masih meniup rambutnya. Tak sadar Rey membiarkannya begitu saja. Kesempatan bagi Vay untuk memperhatikan wajah Rey dengan senyuman. Dalam hati gadis itu terkikik. Jika saja ada alat perekam dia ingin merekam wajah Rey detik ini. Berpikir seperti itu membuatnya mendapat pertanyaan.
"Rey?" panggil Vay seiring mereka berjalan. Sangat jarang orang yang keluar. Mungkin beberapa menit lagi menuju tengah malam akan mulai ramai.
"Hmm?" Rey menoleh tanpa menghilangkan senyumnya.
"Di tempatmu sangat berbeda, bukan? Apa ada alat yang bisa menyimpan waktu?" tanya Vay penuh berpikir.
Sontak Rey mengerjap, "Apa? Tidak ada alat semacam itu."
"Begitu, ya? Aku pikir kalau ada alat yang bisa merekam waktu, aku bisa melihat kembali waktu-waktu yang kulalui. Seperti saat ini misalnya. Mungkin setiap langkahku bisa direkam, haha. Mungkin juga saat aku menjual ikan bisa direkam, hahaha. Itu pasti menyenangkan!" seru Vay tanpa sadar.
Rey mengerti setelah beberapa detik, "Ah, maksudmu alat perekam? Iya, itu ada. Itu bukan untuk merekam waktu, tetapi mereka apa saja yang ada di sekitar kita. Apa yang kau lakukan juga bisa direkam. Aku punya, tapi tidak kubawa. Hanya buku ini yang menempel padaku."
"Benarkah?! Ada alat semacam itu?! Tunjukkan padaku, aku mau!!!" Vay berbinar antusias.
"Eee, sudah kubilang aku tidak membawanya," Rey merasa bersalah.
"Apa? Yahh, sayang sekali!" Vay menjadi murung.
Rey meringis, "Mungkin akan ada nanti seiring jalannya waktu. Emm, apa kita sudah dekat dengan tengah pulau?"
Vay mengerjap sadar kembali pada perjalanannya. Dia melihat sekeliling yang sepertinya telah jauh dari pelabuhan. Lebih tepatnya mereka berada di antara pemukiman yang rindang.