Ch 2 Majikan Yang Merepotkan

1326 Words
“Apa aku mengatakan hal yang salah?” tanya Meilan setelah Roma meninggalkan ruang makan. “Sudah jangan dipikirkan. Dia juga pasti akan tahu pada akhirnya,” ujar Risa. “Kasihan sekali abangku,” timpal Lulan. “Ya ampun bucin banget,” sahut Dona. “Aku merasa iba padanya. Adikku yang malang,” ujar Fina yang membuat semua menoleh padanya. “Kenapa? Roma memang adik sepupuku, kan? Biar aku jauh lebih muda, tapi aku akan cucu anak pertama!” Semua menahan tawa, tak berani tertawa terbahak karena para orang tua tengah makan malam. *** “Oh, ini Den Roma, tadi saya kebetulan ketemu Hana jalan kaki di perempatan depan. Jadi saya barengin sekalian.” Bagus menjelaskan detail karena merasa seperti sedang diinterogasi majikannya. Roma memberikan pandangan tidak puas pada jawaban Bagus. Sudah menjadi rahasia umum kalau Roma ini satu-satunya majikan yang sulit ditangani, dengan kata lain majikan yang merepotkan. Sadar Bagus sedang kesulitan, Hana segera memecah suasana suram diantara mereka. Kebetulan gerimisnya semakin besar. “Den Roma, kami permisi dulu. Sepertinya mau hujan deras ini,” sela Hana sembari menyenggol Bagus untuk segera kembali naik motor. “Mari, Den,” ujar Bagus merasa terselamatkan atau malah sebaliknya. Dia bisa merasakan pandangan menusuk ke kepalanya. “Hana kalau aku dipecat gimana ini?” gumam Bagus. “Memang kita salah apa? Kan sudah diluar jam kerja juga. Udah buruan, aku laper banget ini,” balas Hana. Walau begitu, Hana sempat melihat Roma yang masih berdiri di tempatnya memandang ke arahnya juga. Dia langsung menarik pandangannya. “Kenapa juga dia kembali?” batin Hana merasa kesal karena teringat akan kejadian satu tahun lalu. Hana mencoba untuk tak mau ambil pusing lagi. Dia buru-buru pulang setelah meyakinkan Bagus kalau pekerjaannya akan baik-baik saja. Begitu dia pulang ke paviliunnya, orang tua dan adik laki-lakinya menyambut dengan senyuman seperti biasanya. “Ibu tidak bisakah kita pindah rumah dari sini?” celetuk Hana yang membuat seisi rumah terkejut. Sang ayah sampai tersedak kopinya. “Kenapa lagi anak ini? Pulang-pulang bikin geger saja?” Layum, si ibu langsung menjewer telinga Hana. “Aduh-aduh sakit, Bu!” pekik Hana berusaha melepaskan diri tapi kalah kuat dengan jemari si ibu. “Pasti karena si bos balik,” ujar Ayin, adik Hana. Layum langsung melepaskan telinga anaknya. Dia melihat Hana yang tengah meringis kesakitan. “Kamu ini harus berapa kali ibu beritahu, Den Roma itu penyelamat kita, terutama kamu Hana,”ujar Layum dengan wajah sendu. Hana sudah hafal bagaimana kelanjutannya. Sang Ibu akan berdongeng bagaimana dia bisa lahir ke dunia ini dan bagaimana mereka sampai bisa masuk ke keluarga Dormajaya. Tak mau mendengar cerita yang sama untuk kesekian puluh kalinya, Hana memilih kabur ke kamarnya. Rasa lapar itu menghilang begitu saja. Hari damai satu tahunnya baru saja digantikan dengan malapetaka yang entah apakah akan berakhir. Ingatan masa-masa kelamnya ketika berhadapan dengan Roma kembali satu-persatu. Dan kejadian satu tahun lalu itu yang paling tidak bisa dilupakannya. *** “Kenapa harus Hana?” protes gadis itu keesokan paginya. Rencana hari Minggunya untuk seharian rebahan sambil nonton film harus buyar karena tugas barunya. Tugas baru lebih tepatnya. “Permintaan langsung dari sana,” terang Handika, pengurus ART yang tugasnya mengatur pekerjaan semua ART. “Tapi, Pak Han, Hari Minggu kan hari libur.” Hana masih bersikukuh. “Tenang, tentu saja Hana dapat bonus.” Hana tak berkutik. Apalagi sang Ibu sudah mewanti-wantinya untuk tidak membuat masalah. Kalau sudah menyangkut Roma, Layum selalu mengutamakannya. Dan itu salah satu alasan Hana menjadi kesal pada majikannya satu itu. Akhirnya dengan berat hati Hana menerima tugasnya untuk merawat Roma. Pria itu tengah demam karena gerimis semalam. Siapa yang hujan-hujan, siapa pula yang dibuat repot. Belum ada dua puluh empat jam pria itu kembali ke rumah dan Hana sudah mendapat masalah. “Tuhan lindungi aku,” gumak Hana sebelum mengetuk pintu kamar yang sudah setahun ini tak dilihatnya. Pintu kayu jati itu masih sama dengan saat itu. Menjulang kokoh nampak congak persis seperti penghuninya. “Tok.Tok.Tok.” Hana tertegun karena tidak ada jawaban. Tangannya mulai pegal karena membawa nampan dan satunya mengetuk pintu berkali-kali. “Bener di sini tidak sih nih orang,” gerutu Hana. “Bener kok.” “Astaga!” Hana berjingkat kaget mendapati suara seorang gadis yang tak lain adalah Lulan. “Non Lulan bikin kaget saja.” “Maaf-maaf.” Lulan malah cengengesan. “Kayaknya abang lagi tidur, masuk saja. Dia pasti berharap dibangunin sama kamu,” goda Lulan. “Non Lulan bisa saja. Saya Cuma nganterin jamu buat Den Roma,” elak Hana berusaha menahan gondok. Kalau Roma majikan merepotkan, Lulan ini majikan yang perlu diwaspadai. Karena kadang ikut jahil seperti Roma. “Udah ayo masuk. Aku temenin deh.” Lulan yang masih memakai piyama itu membukan pintu kamar Roma. Sebenarnya Hana malah lega karena Lulan menemaninya. Tapi ternyata dia salah besar. Begitu masuk betapa terkejutnya Hana mendapati Roma baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk setengah badan. Secepat kilat Hana langsung balik badan sementara Lulan menahan tawa. “Lulan! Anak ini!” teriak Roma. “Astaga, mataku ternodai. Ah, tidak mataku. Aku keluar dulu ya!” “Eh, tunggu Non!” Hana hendak menyusul Lulan keluar, tapi pintunya langsung ditutup gadis itu. Ini adalah bencana. “Jangan salah paham Hana. Tunggu sebentar aku pakai baju dulu,” ujar Roma. Pria itu terdengar panik, sampai terdengar suara ribut membuka lemari. Lima menit kemudian tidak terdengar lagi suara gaduh dari lemari yang dibuka tutup. Hana hanya bisa merapalkan doa agar dirinya bisa selamat. Entah selamat dari apa. Tapi tunggu. Hana merasa tersadarkan. Ngapain juga orang lagi demam malah mandi. Dan kalau dia lihat sekilas tadi, majikannya itu nampak sehat bugar sejahtera. Rasanya kini dia ingin meledak karena marah. Merasa sudah dikerjai oleh Roma, si malapetaknya. “Taruh sini saja jamunya.” Terdengar suara Roma membuyarkan angan-angan murka Hana. Gadis itu menghela napas lalu balik badan. Roma nampak sudah berpakain santai dengan kaos oblong putih dan celana jogernya. Buru-buru Hana meletakkan segelas besar jamu itu di nakas sebelah ranjang. “Aku sudah bilang tidak mau minum jamu. Aku sudah minum obat juga,” ujar Roma. “Oh, masih sama ternyata, tidak suka minum jamu pahit,” batin Hana menyeringai. Hana merasa memiliki kesempatan untuk membalas Roma yang sudah merusak hari Minggunya. “Hanaroma, kamu dengar tidak?” Hana tersentak mendengar nama panjangnya disebut. Dia selalu kesal bercampur geli kalau dipanggil Hanaroma. Bagaimana tidak? Seperti nama pasangan saja, dan kebetulan yang sangat memalukan karena majikannya memiliki namanya. “Hana dengar, Den,” sahut Hana ketus. “Baguslah, aku mau sarapan di kamar saja. Kamu suruh bagian dapur bawa ke sini saja,” perintah Roma. “Den Roma kelihatannya sudah sehat, bukankah lebih enak makan bersama-sama di bawah?” ujar Hana berani. “Habis mandi, rasanya kepalaku sedikit pusing. Besok ada pekerjaan penting. Jadi aku mau istirahat di kamar saja. Jadi sarapan di kamar saja, sekalian kamu sarapan di sini saja. Minta saja sesukamu di dapur.” “Saya sudah sarap-.” Kruyyuukk. Belum selesai Hana bicara perutnya malah berbunyi nyaring. Ingin rasanya Hana menghilang saat itu juga. “Ternyata perutmu lebih jujur ya, Hanaroma,” ledek Roma. “Tolong panggil saya Hana saja. Dengan segala hormat saya mohon, Den,” minta Hana dengan muka juteknya. “Kalau aku tidak mau, kau mau apa?” balas Roma yang sudah kebal dengan sikap Hana yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada dirinya. Hana tidak membalas ucapan Roma. Dia langsung balik badan dan keluar dari kamar pria itu. Dengan kesal dia menutup pintu sedikit keras. Tapi lagi-lagi dia harus berhadapan dengan Lulan yang ternyata menguping di depan pintu. “Sabar ya, Hana.” Lulan menepuk-nepuk bahunya lalu ngeloyor pergi kembali ke kamarnya yang ada diujung lantai dua. Tepatnya disebelah ruangan kosong samping kamar Roma. Hana hanya bisa berjalan lunglai menuju dapur di lantai satu. Padahal dia bisa saja langsung menelpon bagian dapur, tapi dia tidak ingin cepat kembali ke kamar Roma. Baru beberapa menit bicara dengan majikannya itu, dia sudah merasa separuh energinya tersedot keluar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD