Chapter 1 Gerimis itu Kembali
“Kakek bilang kalau Roma tetap tidak bisa melupakannya, maka Roma bisa mengakhiri pernikahan ini. Roma sudah berusaha selama setahun ini, tapi Kakek bisa lihat sendiri apa yang terjadi.”
Pria tua yang tengah berdiri membelakanginya hanya bisa membuang napas. Ditatapnya gerimis dari balik kaca jendela. Angin dingin menelusup masuk melalui jendela yang sedikit terbuka.
“Kakek sudah tahu bagaimana hatiku, tapi tetap memaksaku. Karena aku sudah memenuhi keinginan Kakek, sekarang waktunya Kakek yang mengabulkan keinginan Roma.”
Pria tua itu berbalik. Dilihatnya cucu laki-laki satu-satunya di keluarga Dormajaya menatapnya dengan tajam. Bukan menantang tapi meminta pengakuan.
“Roma apa yang kau rasakan itu bukan cinta tapi obsesi.”
“Cinta atau obsesi semua itu tidak ada bedanya. Dia sudah ditakdirkan menjadi milikku. Itu kenyataannya. Kakek atau semua orang bisa mengganggapku gila, tapi aku sangat yakin. Aku bisa merasakannya.”
“Roma ...”
Pria muda itu nampak tidak senang. Dia bangkit dari kursinya, menghela napas lalu membalikkan badan. Tubuhnya yang gagah dan tinggi yang pas itu dibawanya melangkah ke pintu. Begitu tangannya menggapai knop pintu, dia berhenti sejenak.
“Kakek apapun yang terjadi dia akan jadi milikku. Kakek atau siapapun tidak bisa menghentikanku.”
Roma memutar knop pintu dan melangkah keluar ruang kerja kakeknya. Sang kakek, Karna Danu Dormajaya, berdiri terpaku di tempatnya.
***
Sudah hampir setengah jam gerimis menghiasi malam. Tapi semua itu tidak menyurutkan keramaian di ruang makan Keluarga Dormajaya. Mereka keluarga besar yang berkumpul menjadi satu, dari kakek sampai cucu-cucunya. Ruang makanpun dimodel seperti restauran di mana banyak meja dan juga dapur menjadi satu lengkap dengan koki yang berbeda-beda sesuai dengan jam makan.
Keluarga Dormajaya bisa disebut konglomerat, milyader juga bisa. Yang pasti hartanya tidak akan ada habisnya sampai sepuluh turunan. Sekarang sih masih sampai turunan keempat.
Pesugihan? Banyak yang mengira demikian, padahal bisnisnya memang ada banyak yang tersebar di seluruh Indonesia. Semua dirintis oleh Baron Turun Dormajaya yang juga merupakan ayah dari Karna Danu Dormajaya. Sekarang Karna lah yang memimpin semua bisnis alias bos besarnya walaupun beliau ini anak terakhir. Namun karena hanya beliau anak laki-laki maka beliaulah yang dipilih. Dan hingga kini hanya tinggal beliaulah yg masih hidup dari 3 bersaudara.
Beliau sendiri tidak memiliki anak laki-laki, semua perempuan yang berjumlah tiga orang. Bahkan cucu-cucu beliau juga perempuan. Beruntung, putri bungsunya yang kebetulan menikah dengan pria biasa memiliki seorang putra.
Sebagai satu-satunya cucu laki-laki, sedari kecil menjadi kesayangan semua orang terutama kakeknya. Dia dimanja dan diperlakukan bak pangeran. Dia diberi nama Roma Ardifa Dormajaya. Dulu dia dijuluki sebagai pangeran Dormajaya, kini dia disebut pandu, pangeran duda.
“Hahahahaha. Yes aku menang taruhan. Semuanya jangan lupa transfer ke rekeningku, Lulan Dwi Dormajaya,” ujar Lulan yang tak lain tak bukan merupakan adik Roma.
“Ludes uang jajanku,” gerutu seorang gadis yang duduk di sebelah Lulan. Wajahnya oriental karena ibunya menikah dengan orang tionghua. Dia Meilan Arti Dormajaya, sepupu Lulan, anak dari kakak ibunya yang nomor dua. Mereka seumuran dan juga bersekolah di tempat yang sama.
“Taruhan ya taruhan. Aku kaya! Aku kaya!” Lulan memperlihatkan saldo rekeningnya dihadapan ketiga sepupunya bergelirian.
Mereka mungkin cucu konglomerat, tapi bagi mereka yang masih dibawah umur, uang jajan masih dibatasi.
“Kamu emangnya nggak takut kalau abangmu tahu? Bisa-bisanya pernikahan abang sendiri buat taruhan,” ujar Dona Dwitjana Dormajaya, anak dari saudara ibunya yang pertama. Sekarang dia tengah kuliah semester pertama. Tiga bersaudara, di mana dia anak nomor dua. Kakaknya sudah bekerja dan berada di luar negeri sementara adiknya masih duduk dibangku kelas 5 SD.
“Kamu pasti curang! Ya kan Lul!” ujar Fina Tritjana Dormajaya, adik Dona.
“Enak aja curang. Duh kalau kalah ya kalah aja Mbak Fin. Buruan kirim ke rekening Lulan. Tak sabar mau beli figure iron man.” Lulan cengengesan.
“Paling kamu udah kongkalikong sama Roma!” Fina masih tidak terima. Walau dia masih bocah kelas lima SD, tapi pola pikirnya di atas rata-rata.
“Dih bocil satu ini.” Lulan berdecak sembari memandang remeh kakak sepupunya itu. “Bilang aja nggak punya uang! Utang dulu gimana? Tapi bunganya seratus persen.”
“Siapa yang bocil? Dan duitku lebih banyak darimu maniak figure!”
“Maniak figure katamu!” tukas Lulan dengan suara agak keras. Menyadari volume suaranya, dia langsung menoleh ke arah meja para orang tua dan sang kakek yang letaknya agak berjauhan.
Rupanya mereka sudah memberikan pandangan tajam pada Lulan, terutama sang ibu yang sudah komat-kamit memperingati sikap gadis itu. Lulan langsung tersenyum manis dan mengatupkan dua tangan di depan d**a meminta maaf atas kegaduhan yang dibuatnya. Begitu para orang tua sudah menarik pandangan, Lulan langsung membalikkan badan dan menatap Fina dengan kesal. Bocah itu menjulurkan lidah menggoda Lulan yang walau sudah SMA tapi sikapnya malah seperti anak SD.
“Awas ya!” ujar Lulan lirih
“Nggak takut!”
Seorang wanita dewasa berwajah oriental memasuki ruang makan dengan mengenakan setelan jas celana. Wanita itu melambai ke meja Lulan dan sepupunya. Langkahnya lurus ke meja para tetua. Nampak menyapa sang kakek dengan mencium tangan beliau terlebih dahulu lalu kepada ayah ibunya.
Setelah nampak bercakap-cakap, dia berbalik dan menuju meja para cucu.
“Hei anak-anak apa kabar?” sapa Risa Arti Dormajaya alias kakak Meilan seumuran dengan Roma karena lahirnya juga hanya beda beberapa hari saja. Seorang profesor di salah satu universitas terkemuka yang letaknya berada di luar kota. Sudah menikah, namun belum memiliki keturunan.
“Baik.”
“Buruk.”
Lulan dan Fina menjawab bersamaan. Mereka saling pandang seperti anjing dan kucing. Semua orang di rumah Dormajaya tahu itu.
“Hahaha kalian ini masih sama saja. By the way aku sudah transfer ya Lul,” ujar Risa.
“Oke! Kamu yang terbaik. Muach!” sahut Lulan.
“Huek! Penjilat!” timpal Fina.
“Jangan mulai ya! Kubalik nih meja!” balas Lulan.
“Den ayu.”
Chef Janu muncul dengan senyuman ramahnya dan menyodorkan tablet berisi menu makan malam. Ini dia koki khusus untuk makan malam. Masih muda tapi sudah beranak istri.
“Oh, aku nggak makan. Tadi sebelum ke sini sudah. Oh, lupa. Tadi Roma pesen mau sop buntutnya. ” ujar Risa.
“Baik, den ayu. Kalau begitu saya permisi.” Chef Janu undur diri kembali ke bar dapur.
“Si Pandu kemari?” tanya Lulan nampak tidak percaya.
“Hahaha kalau Roma denger bisa dikempes tuh pipimu,” ujar Risa.
“Ngapain sih pake balik-balik kemari? Padahal hidupku damai setahun ini. Dasar pandu payah! Aw!” pekik Lulan merasakan pipinya dicubit.
“Dasar adik laknat! Siapa yang pandu payah?!”
Lulan mendongak masih dengan pipinya yang teraniaya. Dia bisa melihat dengan jelas wajah kakak tampannya. Datang lewat mana tahu-tahu sudah ada di belakangnya.
“Sakit, Bang,” rengek Lulan.
Roma melepas pipi Lulan. Dia mendengus lalu menarik kursi di sebelah Lulan yang memang kosong.
“Gara-gara kamu cerai, Lulan rekeningnya tebel tahu,” celetuk Fina.
Lulan langsung melotot matanya pad Fina. Bisa-bisanya dia membocorkan rahasia mereka.
“Oh, artinya adikku sedang kaya raya sekarang ya?” Roma melirik Lulan yang hanya bisa memamerkan giginya, nyengir kuda.
Fina sudah berharap melihat Roma menjitak kepala Lulan, tapi sepupunya itu malah mengelus-elus kepala adiknya itu. Bukan hanya Fina yang terkejut, tapi sepupu-sepupu mereka juga tidak menduga. Lulan yang adiknya sendiri juga tidak kalah terkejut. Akhirnya mereka semua hanya bisa terheran-heran.
“Bang, sehat?” tanya Lulan.
“Sangat sehat malah,” jawab Roma santai.
“Mungkinkah dia depresi dari percerainnya?” bisik Meilan pada kakaknya, Risa.
“Ah, bisa jadi,” balas Risa ragu.
“Ah, ngomong-ngomong kalian sudah tahu gosip terhangat di paviliun belum?” celetuk Meilan.
“Apa? Ada apa dengan paviliun ART? Aku sudah lama tidak mampir ke sini, apa ada karyawan baru yang ganteng?” tanya Risa semangat, tapi suaranya dikecilkan.
“Ingat suami di Amrik,” ledek Meilan.
“Kan pemandangan bagus tidak boleh ditolak. Nyegerin mata aja sayang.” Risa menoel pipi adiknya itu.
Lulan yang teringat gosip itu langsung memberi isyarat pada Meilan untuk diam, tapi gadis bermata sipit itu tidak paham akan kode Lulan yang memincingkan mata ke arah pria satu-satunya di meja mereka.
“Hana sekarang pacaran sama Bagus. Ya ampun mereka lucu banget,” kelakar Meilan yang membuat Roma melototkan matanya.
Lulan dan Risa langsung menepuk jidat mereka. Meilan masih tidak tahu apa yang sudah diperbuatnya. Dia baru saja menyiram minyak di atas lava gunung yang tengah tidur.
Disisi lain asisten koki baru saja meletakkan sop buntut di depan Roma. Pria itu tidak mengucap apapun dan langsung berdiri. Tanpa basa-basi dia meninggalkan ruang makan. Tidak peduli deheman paman bibinya yang menegur ketidaksopanan Roma.
Roma langsung berjalan cepat keluar dari kediaman utama menuju paviliun. Di mana tempat bernaung para ART keluarga Dormajaya. Sudah seperti perumahan kecil, karena banyak ART yang sudah berkeluarga dan diberikan rumah masing-masing.
Langkah pria itu terhenti tepat sebelum memasuki gerbang paviliun. Sebuah motor berhenti di depan gerbang paviliun. Matanya memandang tajam pada pengendara motor itu yang nampak mengenalinya.
“Den Roma,” ucap pria itu sembari membuka helmnya.
“Siapa, Mas Bagus?” Gadis yang diboncengnya itu turun dari motor sembari melihat siapa orang yang disapa Bagus. “Ah?!” Gadis berseragam SMA itu tidak percaya siapa yang dilihatnya. Sudah setahun ini dia tidak melihat majikannya itu.
“Dari mana kalian baru pulang jam 7 malam gerimis begini?”
***