bc

Apa Itu Cinta?

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
drama
city
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Di balik hiruk-pikuk kedai kopi di jalanan kuno Hanoi dan kabut dingin kota Da Lat, Minh mengarungi hidupnya dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab: Apa itu cinta?​Bagi Minh, cinta bukan cerita manis di novel, melainkan serangkaian penolakan. Ia pernah menaruh hati pada perempuan, lalu ditolak. Ia mencoba membuka hati untuk laki-laki, namun kembali dihempaskan oleh penolakan yang sama. Dianggap aneh oleh lingkungan karena gagal menemukan penabuh hatinya di gender apa pun, Minh memutuskan berhenti mengejar balasan kasih, dan memilih memulai perjalanan eksplorasi untuk memahami arti eksistensi rasa itu sendiri.

chap-preview
Free preview
Di Antara Aroma Kopi dan Gerimis Hanoi
Gerimis tipis yang mengguyur kawasan Old Quarter Hanoi sore itu menyisakan aroma tanah basah yang beradu dengan wangi biji kopi yang disangrai. Di sudut jalan kecil yang dipenuhi bangunan berarsitektur kolonial Prancis bercat kuning kusam, Minh duduk sendirian di atas kursi plastik kecil berwarna biru. Tangannya yang dingin melingkari cangkir Cà phê trứng—kopi telur hangat yang busanya mulai mendingin. ​Di hadapannya, lalu lintas Hanoi bergerak bagai arus sungai yang tak pernah tidur. Ratusan sepeda motor melintas dengan klakson yang saling bersahut-sahutan, membawa jas hujan plastik berwarna-warni yang memantulkan kilatan lampu jalanan. Namun, bagi Minh, seluruh kebisingan kota itu terasa seolah diabaikan oleh dunia lain. Ada ruang hampa yang teramat luas di dalam dadanya—ruang yang baru saja dihantam oleh kenyataan pahit beberapa jam yang lalu. ​Layar ponselnya yang retak di bagian sudut masih menampilkan pesan terakhir dari Huy: ​"Minh, maafkan aku. Aku menghargai semua perhatian dan perasaanmu. Tapi aku tidak bisa... Aku tidak memiliki perasaan yang sama. Tolong jangan cari aku lagi." ​Minh memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang hingga uap dingin menghembus dari bibirnya. Kata-kata itu terasa familiar. Sangat familiar. Rasa perihnya sama persis seperti saat ia ditolak oleh Linh dua tahun lalu—seorang gadis yang pernah menjadi pusat dunianya saat masih berada di bangku kuliah. ​Kala itu, Minh berpikir bahwa penolakan Linh terjadi karena dirinya salah memahami jati dirinya sendiri. Ia mengira kegagalan hubungannya dengan perempuan adalah tanda bahwa hatinya tidak ditakdirkan untuk mereka. Namun hari ini, setelah memberanikan diri membuka hati kepada seorang pria—setelah mempertaruhkan segalanya di tengah norma masyarakat yang kaku—ia mendapati jawaban yang sama persis: penolakan. ​"Ditolak oleh perempuan... lalu ditolak oleh laki-laki," bisik Minh pada dirinya sendiri, diiringi senyum getir yang terukir tipis di sudut bibirnya. "Apakah hati ini memang tidak dirancang untuk diterima oleh siapa pun?" ​Sebuah tepukan hangat di bahunya mengejutkan Minh dari lamunan mendalamnya. ​"Sudah kubilang, kalau kopi telurmu dibiarkan dingin, rasanya akan seperti meminum kekecewaan," suara bernada santai namun hangat itu milik An. ​An, sahabat kecilnya yang tumbuh bersama di lorong-lorong sempit Hanoi, melangkah mendekat sambil membawa cangkir kopinya sendiri. Dengan gerakan santai, An menarik kursi plastik lain dan duduk tepat di samping Minh. Pandangannya yang tajam langsung menangkap layar ponsel Minh yang masih menyala. ​An tidak langsung bertanya. Ia tahu betul tabiat sahabatnya itu. Sebagai orang yang menyaksikan perjalanan hidup Minh dari masa sekolah—dari era kekecewaan Minh saat bersama Linh hingga keberaniannya mendekati Huy—An tahu persis berapa banyak luka yang tersembunyi di balik wajah tenang Minh. ​An menyeruput kopinya perlahan sebelum akhirnya bersuara, "Huy lagi?" ​Minh hanya mengangguk pelan, jemarinya mengusap embun basah di dinding cangkirnya. "Dia menyuruhku untuk tidak mencarinya lagi, An." ​An menghela napas panjang, menatap lurus ke arah lalu lintas jalanan yang mulai digelapan malam. Lampu-lampu lentera merah di sepanjang toko suvenir mulai dinyalakan, memancarkan cahaya temaram yang hangat di atas trotoar yang basah. ​"Minh," ujar An lembut, menghilangkan nada candanya yang biasa. "Kamu sudah mencoba segalanya. Kamu pernah mencoba mencintai perempuan, dan kamu patah hati. Kamu mencoba mencintai laki-laki, dan kamu kembali patah hati. Tidakkah kamu berpikir bahwa masalahnya bukan pada siapa yang kamu cintai?" ​Minh menoleh, menatap An dengan tatapan bingung dan lelah. "Lalu pada apa, An? Pada diriku sendiri? Apakah aku yang begitu cacat hingga tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa mencintaiku?" ​"Bukan begitu," potong An tegas. "Masalahnya adalah kamu terus-menerus mencari jawaban dari orang lain. Kamu mengejar definisi 'cinta' dari persepsi orang-orang yang bahkan belum tentu paham apa itu cinta. Kamu terus berlari mengejar bayangan balasan, sampai kamu lupa bertanya pada dirimu sendiri... sebenarnya, apa itu cinta yang sedang kamu cari?" ​Pertanyaan An menggantung di udara malam Hanoi yang kian dingin, menusuk masuk ke dalam benak Minh yang paling dalam. Pertanyaan An seolah menahan laju napas Minh. Gerimis yang tadinya hanya rintik halus kini berubah menjadi hujan deras yang menghantam atap seng kedai kopi di belakang mereka. Suara gemercik air yang jatuh di trotoar menjadi latar belakang yang makin mempertegas keheningan di antara kedua sahabat itu. ​Minh menunduk, menatap pantulan dirinya di permukaan air kopi telur yang sudah sepenuhnya dingin. Bayangan wajahnya samar-samar bergoyang tertimpa tetesan air dari tepian atap. ​"Aku hanya ingin merasa diterima, An," bisik Minh, suaranya hampir tenggelam oleh deru hujan. "Saat bersama Linh, aku berpikir bahwa memiliki pasangan adalah cara agar aku diakui oleh dunia. Saat itu gagal, aku mengira hatiku memang tertuju pada laki-laki. Lalu aku bertemu Huy... dan ternyata hasilnya sama saja. Kalau tidak ada satu pun gender yang bisa menguraikan rasa ini, lalu di mana aku harus berdiri?" ​An menggeser duduknya sedikit lebih dekat, melipat kedua tangannya di atas meja kayu yang lapuk. "Kamu tidak harus berdiri di tempat orang lain meletakkan pijakanmu, Minh. Kamu selalu mengukur nilai dirimu dari keputusan orang untuk menerima atau menolakmu. Linh punya alasannya sendiri, Huy punya ketakutannya sendiri. Tapi kenapa kamu jadikan penolakan mereka sebagai penentu siapa dirimu?" ​Minh mengusap wajahnya yang terasa basah oleh uap dingin hujan. Penolakan dari Huy memang menjadi pukulan paling telak. Bukan sekadar karena rasa suka yang tak terbalas, melainkan karena harapan besar yang runtuh seketika. Selama ini, Minh berpikir penolakan dari Linh adalah jalan berliku menuju penemuan jati dirinya sebagai seorang pria yang menyukai pria. Namun ketika jalan itu pun membentur dinding tebal, ia merasa benar-benar tersesat di tengah persimpangan. ​"Ibu sudah mulai bertanya lagi minggu lalu," ujar Minh pelan, mengalihkan pandangannya ke arah deretan toko kerajinan kayu di seberang jalan yang mulai menutup pintunya. "Tentang kapan aku akan membawa seseorang ke rumah. Tentang penerus keluarga. Setiap kali aku pulang ke rumah di kawasan Hoan Kiem, tatapan matanya selalu penuh harapan yang membuat dadaku sesak." ​"Ibumu mencintaimu dengan cara yang ia tahu, Minh," sahut An lembut. "Tapi ekspektasinya adalah milik ibumu, bukan beban yang harus menghancurkan hidupmu. Kamu tidak bisa terus berpura-pura demi menyenangkan orang lain, tapi kamu juga tidak bisa terus melukai dirimu sendiri hanya karena belum menemukan seseorang yang membalas perasaanmu." ​Lampu-lampu jalanan Hanoi kini tampak seperti berkilau di balik tirai hujan deras. Jalanan yang tadinya bising perlahan melengang. Beberapa penjual jajanan kaki lima sibuk merapikan dagangan mereka di bawah perlindungan terpal biru. ​An berdiri, menepuk bahu Minh sekali lagi dengan keteguhan seorang sahabat yang tak pernah bergeser dari sisinya. "Malam ini, pulanglah. Hapus pesan Huy. Jangan cari balasan cinta dari siapa pun dulu untuk sementara waktu. Kalau jalanan Hanoi ini terasa terlalu sesak dan penuh kenangan pahit, mungkin sudah waktunya kamu melangkah ke luar." ​Minh mendongak, menatap mata An. "Ke luar? Ke mana?" ​"Ke mana saja," jawab An seraya mengulas senyum tipis. "Pergi ke tempat di mana tak ada seorang pun mengenal masa lalumu. Tempat di mana kamu tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun. Cari tahu apa arti cinta itu untuk dirimu sendiri, bukan untuk orang lain." ​Perkataan An malam itu menjadi benih pertama yang tertanam di kepala Minh. Saat ia akhirnya berdiri dari kursi plastiknya dan melangkah menembus hujan Hanoi yang dingin, Minh menyadari satu hal: perjalanannya bukan lagi tentang mengejar hati seseorang, melainkan menelusuri kebenaran di balik rasa yang selama ini menyiksanya. Langkah kaki Minh terasa berat menyusuri trotoar licin di sepanjang kawasan Hoan Kiem. Hujan yang mulai mereda meninggalkan genangan air di jalanan batu kuno, memantulkan pijar lampu lentera merah dan kuning yang berpendar dari deretan kedai. Udara malam Hanoi merengkuh tubuhnya dengan rasa dingin yang menghujam hingga ke tulang, namun tak sebanding dengan kekosongan yang menjalar di dalam dadanya. ​Rumah keluarga Minh berdiri di sebuah lorong sempit (ngõ) yang tersembunyi di balik riuk rendah perkotaan. Bangunan berlantai dua dengan cat yang mulai mengelupas itu selalu beraroma kayu tua dan asap dupa yang tak pernah benar-benar hilang. ​Saat Minh mendorong pintu kayu depan yang berdecit pelan, suara TV tua dari ruang tengah langsung menyambutnya. Di atas kursi kayu jati berukir, ibunya—Bao—sedang duduk merajut seraya menonton tayangan berita malam. ​"Kamu pulang terlambat lagi, Minh," ujar Ibunya tanpa mengalihkan pandangan dari rajutannya. Suaranya tenang, namun membawa ketegasan khas seorang ibu tunggal yang membesarkan anaknya sendirian di bawah bayang-bayang ekspektasi tradisi. ​"Tadi hujan deras di luar, Bu. Aku berteduh sebentar dengan An," jawab Minh pelan. Ia melepaskan jaketnya yang lembap lalu menggantungnya di dekat pintu. ​Ibunya meletakkan jarum rajut, lalu menatap Minh dengan pandangan menyelidik. Mata wanita itu menatap matanya yang sembap—sisa-sisa tangis penolakan yang mati-matian Minh sembunyikan sepanjang jalan pulang. ​"Kamu kelihatan lelah sekali," sahut Ibunya lembut, namun detik berikutnya nadanya berubah melunak dengan jeda yang amat dipahami Minh. "Bibi Huong tadi siang datang berkunjung. Dia bercerita tentang putri temannya yang baru lulus dari Universitas Hanoi. Anaknya sopan, manis, dan dari keluarga baik-baik. Ibu berjanji akan mengatur pertemuan untukmu akhir pekan ini." ​Minh membeku di tempatnya berdiri. Tenggorokannya mendadak terasa kering, seolah seluruh kata-kata yang ingin ia ucapkan tersumbat di pangkal lidah. ​Ibu tidak tahu. Ibu tidak pernah tahu bahwa beberapa jam lalu anak laki-lakinya baru saja hancur karena seorang pria bernama Huy, dan jauh sebelum itu, ia pernah remuk oleh seorang wanita bernama Linh. Bagi ibunya, dunia Minh sangat sederhana: tumbuh besar, bekerja, menikah dengan perempuan pilihan, dan melanjutkan garis keturunan keluarga. ​"Bu... aku belum ingin memikirkan hal itu," bisik Minh pelan, mengumpulkan sisa keberaniannya. "Aku sedang sangat lelah." ​Ibunya menghela napas panjang, sebuah helaan napas berat yang sarat akan kekecewaan terpendam. "Sampai kapan, Minh? Umurmu terus berjalan. Ibu hanya ingin melihatmu memiliki pasangan yang bisa merawatmu, seseorang yang bisa membuat hidupmu utuh. Apakah meminta melihat anak sendiri bahagia itu terlalu banyak?" ​Membuat hidup utuh. Kata-kata itu berputar-putar di kepala Minh bagai gema yang menyiksa. Semua orang—mulai dari ibunya, Linh, hingga Huy—selalu mendefinisikan "keutuhan" dan "kebahagiaan" melalui keberadaan orang lain di sisi mereka. ​Minh tidak menjawab. Ia hanya menunduk dalam-dalam, memberikan hormat singkat, lalu melangkah cepat menaiki tangga kayu menuju kamarnya di lantai dua. ​Kamar kecil itu terasa begitu sunyi. Minh melempar tubuhnya ke atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang temaram. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya yang dingin, lalu membuka riwayat pesan dengan Huy. Tangannya gemetar saat ibu jarinya tertahan di atas tombol Hapus Obrolan. ​Satu demi satu kenangan berputar di kepalanya: tawa Linh saat menolaknya di bawah pohon bunga kamboja, wajah dingin Huy saat melangkah pergi dari kedai kopi sore tadi, dan tatapan penuh harapan dari ibunya di lantai bawah. ​Semua penolakan itu, baik dari perempuan maupun laki-laki, tidak lagi meninggalkannya dalam kemarahan. Yang tersisa hanyalah sebuah tanda tanya besar yang merayap perlahan mengisi seluruh kesadarannya. ​Minh menekannya. Pesan dari Huy terhapus selamanya. ​Ia memiringkan tubuhnya, menatap ke luar jendela kamar yang mengarah ke atap-atap rumah tua Hanoi yang diselimuti kabut tipis. Kata-kata An di kedai kopi tadi kembali terngiang dengan begitu jelas: Sebenarnya, apa itu cinta yang sedang kamu cari? ​Malam itu, di tengah keheningan kota Hanoi yang dingin, Minh mengambil satu keputusan besar. Ia tidak akan lagi berlari mengejar bayangan asmara. Esok hari, ia akan mengemas tasnya dan melangkah keluar dari kota ini—bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk memulai perjalanannya sendiri mencari arti dari sebuah rasa.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
16.8K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
4.1K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.5K
bc

Orang Ketiga

read
36.8K
bc

NIKAH??? BOHONGAN???!!!

read
3.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.3K
bc

Babysitter Canduku

read
20.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook