ZM 1. Tragedi Malam Itu
“Aziz!” sentak Zahiyyah saat melihat sang suami berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri. Matanya memerah, bibirnya bergetar menahan marah sekaligus luka yang menusuk di dadanya.
“Bagaimana bisa kamu lakukan ini padaku? Setelah semua yang kulakukan untuk rumah tangga ini!”
Aziz Wirayudha terlonjak menyambar pakaiannya sendiri. Sementara Sintia, selingkuhannya hanya melilit tubuhnya dengan selimut kamar hotel.
Aziz melangkah mendekat hendak menyentuh Zahiyyah. Namun, pemilik nama Annisa Zahiyyah Yudistia itu menepis tangan Aziz.
“Jangan sentuh aku!” teriak Zahiyyah, dadanya naik turun, air matanya mulai menetes.
“Zahiyyah, dengarkan aku. Aku ... tahu aku salah, tapi please jangan kasih tau orang tua kita,” ucap Aziz yang lebih takut pada orang tuanya dan orang tua Zahiyyah daripada istrinya sendiri.
Zahiyyah menatap dengan bibir yang bergetar. “Aku istrimu, Aziz! Tapi kamu lebih takut pada orang tua kita? Kamu ... nggak merasa bersalah denganku?” tanya Zahiyyah dengan hati yang remuk.
Akan tetapi, bukan wajah penyesalan yang Aziz tunjukkan. Namun, wajah dingin tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Untuk apa aku merasa bersalah padamu, toh, kita nggak pernah saling mencintai selama ini. Jadi, jangan berpura-pura sakit hati. Kamu nggak berhak marah padaku,” jawab Aziz dingin dan melemparkan gaun Sintia yang ada di lantai pada Sintia.
Sintia segera mengambil gaun itu dan memakainya dengan cepat.
“Kamu ... bilang apa?” tanya Zahiyyah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Aku sudah mendampingimu selama tiga tahun ini, meski pernikahan kita nggak diawali cinta. Tapi, Aku mencoba mencintaimu, mencoba percaya padamu … lalu kamu balas dengan mengkhianatiku di tempat hina seperti ini? Dengan perawat yang bekerja di rumah sakit kita?”
Aziz merapikan jasnya dengan tatapan dingin pada Zahiyyah. “Dengar Zahiyyah, aku nggak pernah meminta kamu untuk mencintaiku. Jadi, itu adalah salahmu sendiri.”
Zahiyyah merasakan dadanya terasa sesak, ia sudah mencoba untuk menerima pernikahan ini. Mendambakan kebahagian dengan kehadiran seorang anak. Segala upaya ia lakukan, tapi Aziz hanya menganggapnya sebagai tanda bakti pada kedua orang tua mereka.
Aziz memilih menarik tangan Sintia yang sudah memakai pakaian lengkap ke sisinya, ia menatap Zahiyyah tanpa perasaan sama sekali. “Jangan anggap ini sebagai perselingkuhan, karena kita ... nggak pernah benar-benar saling mencintai,” ucapnya datar lalu pergi dari sana.
Meninggalkan Zahiyyah yang terduduk, syok mendengar semua itu. Ia tidak bisa menerima perselingkuhan ini. Namun, Aziz sama sekali tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun.
Tiga tahun yang lalu ….
Di sebuah restoran mewah, Zahiyyah duduk dengan penampilan hijab yang cantik dan elegan. Di hadapannya Aziz pun tampil tampan dengan balutan jas hitamnya.
Di samping keduanya hadir kedua orang tua masing-masing. Mereka tampak antusias dengan pertemuan hari ini.
“Perjodohan ini bukan tanpa alasan,” ujar ayah Zahiyyah, Farhan Yudistia, pemilik yayasan rumah sakit ternama.
“Kalian berdua sama-sama dokter spesialis. Aziz, kamu memiliki reputasi yang baik. Dan kamu Zahiyyah adalah kebanggaan keluarga ini. Bersama, kalian bisa menjadi pasangan sempurna, menguatkan nama baik rumah sakit dan yayasan kita.”
Aziz hanya menunduk. Dia tahu ini bukan tentang cinta. Begitu pula Zahiyyah. Ia bahkan sempat melirik sekilas ke arah pria di hadapannya yang tak dikenalnya.
“Apakah kalian keberatan?” tanya ayah Aziz, Kepala dokter rumah sakit, Akhsan Wirayudha.
Zahiyyah menarik napas panjang. “Jika ini keputusan keluarga, Saya … nggak keberatan,” jawabnya tanpa beban.
Aziz menoleh sekilas pada Zahiyyah. Gadis itu tampak berusaha tegar. Ia sendiri tidak begitu peduli dengan pernikahan ini, tapi otoriter sang ayah membuat Aziz hanya mampu mengangguk.
“Baik,” katanya pelan.
Tiga bulan kemudian, mereka pun melangsungkan pernikahan.
“Saya nikahkan dan kawinkan anak saya Annisa Zahiyyah Yudistia binti Farhan Yudistia dengan mas kawin seperangkat alat solat dan emas 24 gram dibayar tunai!” ucap Farhan memegang erat tangan Aziz yang tampak tenang.
“Saya terima nikah dan kawinnya Annisa Zahiyyah Yudistia binti Farhan Yudistia dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” balas Aziz tanpa ragu tanpa cela.
“SAH!” seru para saksi dan semua mengangkat tangan berdoa untuk kedua pasangan suami istri yang duduk berdampingan itu.
Namun, tak ada senyum sedikit pun yang terukir di bibir keduanya. Sejak saat itu, perjalanan mereka sebagai suami istri dimulai. Tidak ada cinta pada awalnya, hanya tanggung jawab. Namun, Zahiyyah perlahan berusaha, ia belajar menyukai hal-hal kecil tentang Aziz.
Sedikit demi sedikit, Zahiyyah membuka hatinya. Ia memasak untuk Aziz meski jarang disentuh. Ia menyiapkan jas putihnya tiap pagi. Ia menyambutnya sepulang kerja dengan senyum meski hanya dibalas dengan anggukan dingin.
Ia tahu suaminya tidak pernah benar-benar jatuh cinta padanya, tapi ia tetap mencoba. Karena Zahiyyah percaya, cinta bisa tumbuh seiring waktu. Hingga malam penuh hasrat pun dilakukan dengan sepenuh hati. Zahiyyah percaya bahwa pernikahan yang sakinah adalah adanya rida istri yang menjalani semuanya karena Allah SWT. Zahiyyah tidak ingin menjadikan pernikahan ini menjadi tidak berkah. Hingga Allah murka. Ia mencoba memasrahkan segalanya pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Setiap malam, Zahiyyah berdoa di antara dua sujud. Mengharapkan suatu hari nanti, berkah itu datang. Mukjizat itu akan tiba dan membawakan keberkahan dan kebahagiaan hingga ajal menjemput.
Namun, malam ini semua hancur begitu saja. Kepercayaan yang Zahiyyah pertaruhkan, hidupnya yang ia gantungkan, kebahagiaan yang ia korbankan. Dibalas dengan pengkhianatan yang menghancurkan hidupnya.
Langkah Zahiyyah terasa berat, matanya nanar, seakan dunia sudah berhenti berputar. Hatinya hancur, kepercayaan yang ia rawat selama tiga tahun dengan penuh doa dan kesabaran kini runtuh tanpa sisa. Pandangannya kosong ketika ia keluar dari hotel itu.
Ia berjalan menyusuri trotoar dengan langkah gontai. Setiap tarikan napasnya terasa menyesakkan.
Air matanya mengalir tanpa henti. Zahiyyah merasa seluruh semangat hidupnya lenyap. Harapan yang ia simpan, doa yang ia panjatkan, semuanya seperti sia-sia. Ia hanya ingin terus berjalan, menjauh dari kenyataan pahit yang menusuk dadanya.
Tanpa menyadari arah, Zahiyyah menyeberang jalan. Lampu-lampu kendaraan menyilaukan, suara mesin beradu dengan derap langkahnya. Ia tidak lagi peduli. Ia hanya ingin menghilang.
Tiba-tiba, suara klakson nyaring membuyarkan lamunannya. Zahiyyah menoleh cepat. Matanya terbelalak melihat sebuah truk besar melaju kencang ke arahnya, lampu sorotnya menyilaukan mata.
Jantungnya serasa berhenti. Tubuhnya kaku, kaki tidak mampu bergerak. Waktu seperti melambat, dan Zahiyyah hanya bisa terdiam, pasrah menunggu hentakan maut.
Namun, dalam sekejap, terdengar suara benturan keras. Tubuh seseorang menghantam aspal beberapa meter dari tempatnya berdiri. Zahiyyah terlonjak, matanya terfokus pada seorang pria bersetelan jas hitam yang kini terbaring lemah di tengah jalan. Darah mengalir deras dari kepalanya, mengotori aspal yang dingin.
Kerumunan orang mulai berteriak. “Ambulans! Cepat panggil ambulans!” Suara panik itu bercampur dengan klakson mobil yang terhenti mendadak.
Zahiyyah berdiri terpaku, tubuhnya gemetar hebat. Namun, naluri seorang dokter yang selama ini ia tekuni menggerakkan jiwanya. Ia berlari menghampiri pria itu, lututnya langsung berlutut di samping tubuhnya yang bersimbah darah. Tangannya gemetar, tetapi terlatih. Dengan cepat ia melakukan pertolongan pertama.
“Pak! Tolong sadar!” teriak Zahiyyah profesional. Mulai melakukan CPR berharap detak jantungnya kembali.
Hingga akhirnya pria itu kembali bernapas dan membuat Zahiyyah menghela napas lega. Kerudungnya yang berkibar terkena darah pria yang kini menatap Zahiyyah dengan samar.