Zahiyyah sedang duduk di depan mejanya, menulis laporan pemeriksaan pasien. Ruangan kerjanya tenang, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak lambat. Namun, ketenangan itu buyar ketika pintu terbuka tiba-tiba tanpa ketukan. Zahiyyah menoleh cepat, alisnya berkerut tajam. Aziz berdiri di ambang pintu, masih mengenakan pakaian operasi dengan penutup kepala yang belum dilepas sepenuhnya. Napasnya sedikit berat, menunjukkan ia baru saja keluar dari ruang bedah. Dengan dingin, Zahiyyah berkata, “Kamu nggak tahu cara mengetuk pintu dulu sebelum masuk?” Aziz menatapnya lama, sorot matanya penuh amarah yang ditahan. “Kenapa aku harus mengetuk pintu untuk istriku sendiri?” ucapnya sinis menusuk. Zahiyyah menghela napas, tidak ingin memperpanjang, tetapi Aziz melangkah lebih dekat sambil

