32

951 Words

Shasa, dan Pian hanya diam membisu melihat pemandangan yang menyayat hati di depannya. yang tengah duduk di atas kursi rodanya, terlihat tengah mengelus selembut bulu pada telapak tangan dingin, dan pucat anaknya yang terlelap dengan damai di atas ranjang pesakitannya. Sesekali, laki-laki parubaya itu menyeka lemas buliran demi buliran air mata yang selalu mengalir apabila mata tuanya itu menatap dalam pada tubuh lemah, dan tak sadar anaknya. Shasa, dan Pian yang berada di belakang Saka, membuang pandangan kearah lain, mengucek dengan cepat kedua matanya agar air matanya tidak ikut tumpah, melihat betapa cinta, dan sayangnya Saka terhadap puteri semata wayangnya. "Selamat sore Om."Sapa Pian dengan suara tersendatnya, lima menit berlalu, akhirnya Pian menyapa Saka yang tidak tau men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD