Bab 13

1932 Words
Sudah ketiga kalinya Derris bertanya pada Hana. Memastikan Hana agar tidak lupa bahwa akhir pekan nanti mereka akan pergi ke taman hiburan. Rencananya Derris hanya ingin berkencan berdua saja dengan Hana, namun dengan tiket yang di berikan oleh pamannya berjumlah enam orang. Terpaksa Derris membagikannya pada Rian dan juga Romi. Sera yang mengetahui Derris memiliki tiket gratis pun akhirnya memaksa meminta juga untuk dirinya dan Arin. Akhirnya dari pada hanya pergi berdua saja Hana memutuskan untuk pergi bersama-sama agar lebih ramai. "Kamu mau mengingatkan aku berapa kali sih? Sudah aku mau tidur." jawab Hana kesal di seberang sana. "Sun.." Tuut..tuutt..tuut Hana langsung mematikan sambungannya, Derris hanya tersenyum kecil. Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, namun Derris belum mendapati dirinya mengantuk. Ia berjalan ke lemari kecil berwarna coklat yang berisi buku-buku sekolahnya. Kemudian Derris mengambil satu buku berwarna biru tua polos dan membuka bagian tengah buku tersebut. Derris melingkari satu tulisan 'Berkencan ke taman hiburan'. Lalu ia menulis kembali di bawah tulisan yang baru saja di lingkarinya. Yaitu 'Memasak bersama', 'Piknik di taman yang romantis'. 'Memakai baju tidur couple' dan ada beberapa lagi yang Derris tulis. Di tengah buku itu terdapat tulisan tangan Derris tentang kegiatan apa saja yang akan Derris lakukan bersama Hana. Memang terdengar konyol dan kekanak-kanakan, karena pada umumnya kegiatan seperti itu hanya di tulis oleh seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Namun Derris tidak ambil pusing, karena selama kegiatan itu di lakukan bersama Hana, memakai baju berwarna merah muda pun ia akan sanggup melakukannya. Derris tersenyum bangga melihat kini kegiatan yang akan di lakukannya bersama Hana sudah beberapa yang di lingkarinya. Akhirnya ia menutup buku tersebut lalu menyimpannya kembali di tempat semula. Derris pun berjalan ke tempat tidurnya untuk segera beristirahat. Keesokan paginya Derris merasa kepalanya sangat berat, tenggorokannya sakit hingga suara yang di keluarkan hanya berupa erangan. Ia mencari ponselnya yang di simpan di pinggir bantal lalu mengetik pesan singkat dan mengirimnya. Derris pun menutup matanya karena rasa pusing seperti palu yang sedang memukul-mukul kepalanya kembali menderanya. *** Hana berjalan cepat sambil memakan roti isinya menuju halte bis. Hari ini ia telat bangun karena lupa memasang alarm. Ibunya yang biasa menjadi pengganti alarm sedang sakit flu sudah dua hari ini, akhirnya ia harus sarapan sambil berjalan ke arah halte bis. Sebenarnya itu adalah hal yang tidak baik, ibunya selalu memarahinya dan Sena apabila melakukan kebiasaan ini. Namun karena keadaan yang memaksanya apa boleh buat, toh Hana tidak melakukannya setiap hari. Sesampainya di halte bis Hana tidak melihat Derris, namun kali ini hanya melihat Rian sendirian dengan memakai tas gendongnya yang berwarna hitam seperti biasa. Rian memang kadang-kadang selalu berangkat ke sekolah bersama dengan Hana dan Derris namun tidak jarang ia juga selalu di antar ayahnya yang tempat kerjanya satu arah dengan sekolahnya. Rian lalu menyapa Hana kemudian mereka masuk ke dalam bis, yang kebetulan bis mereka sudah tiba. "Mana Derris?" tanya Hana bingung ketika mereka sudah berada di tengah badan bis. "Hari ini dia sakit, jadi dia tidak masuk." jawab Rian sambil mengeluarkan ponselnya yang berada di saku celananya. "dia tidak memberi kabar padamu?" tanya Rian tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. Hana menggeleng. "Tidak." Rian menggangguk, "Sepetinya dia butuh di jenguk." goda Rian sambil tersenyum usil. Hana hanya mendengus kasar mendengar perkataan Rian. Sesampainya Hana di kelas, ia terus memandangi ponselnya yang sama sekali tidak bergetar. "Seadainya matamu bisa mengeluarkan laser pasti ponsel itu sudah hancur lebur." goda Sera yang gemas melihat Hana yang gengsi untuk menghubungi Derris terlebih dulu. "sudahlah Hana cepat hubungi dia sekarang kalo kamu khawatir." saran Sera. "Huh!! Siapa yang khawatir?" tanya Hana lalu menyimpan ponselnya ke dalam tas. Sera memutar bola matanya dengan kesal. "Baiklah-baiklah kamu tidak khawatir, tapi kamu rindu kan?" Sera tertawa melihat muka Hana kini berubah menjadi merah. "Sialan." umpat Hana sambil memukul tangan Sera. Semenjak kejadian Hana menceritakan tentang Ricky, hubungan Hana dan Derris jadi membaik bahkan kini sifat Hana mulai melunak kepada Derris meskipun terkadang masih ada perdebatan kecil antara mereka. Selama pelajaran berlangsung Hana sangat gelisah, sesekali ia memperhatikan guru yang sedang menjelaskan di depan namun beberapa detik kemudian ia melihat ponselnya kembali yang berada di dalam tas. Hana pun terlihat seperti sedang sangat tidak fokus dan beberapa kali Hana selalu membuat kesalahan. Contohnya seperti di kantin, ketika Sera menyuruh Hana membeli jus alpukat sementara Sera dan Arin mencari meja yang kosong di kantin. Hana malah membelikan Sera jus durian yang sama sekali tidak di sukai Sera. Hana pun meminta maaf lalu membeli kembali jus alpukat pesanan Sera. "Hana benar-benar tidak fokus gara-gara Derris sakit." kata Arin sambil terkekeh geli. Sera mengangguk lalu menyuapkan sesendok nasi dan soto ayam ke dalam mulutnya. "Hari ini kita batalkan saja ke rumahmu. Biarkan hari ini Hana pergi menjenguk Derris." kata Sera lalu mengambil sambal yang berada di depannya. "Ah kamu benar biarkan hubungan mereka sedikit ada kemajuan, kalo hanya ada mereka berdua saja di tempat kost Derris." Arin tersenyum jail sambil meminum jus jeruknya, dan Sera lalu menyeringai dengan ide yang baru saja Arin ucapkan. Hana lalu kembali ke meja sambil membawa jus alpukat pesanan Sera. "Gila penuh banget, bikin gerah aja." keluh Hana sambil mengipas-ngipas mukanya dengan satu tangannya. "Salah sendiri kenapa pake acara salah segala." sungut Sera lalu menyodorkan sambal pada Hana. Hana hanya tersenyum malu pada Sera dan mengambil beberapa sendok sambal dan di masukan ke dalam soto ayamnya. Hening beberapa saat, mereka bertiga sibuk memakan makanannya. Arin dan Sera saling pandang, dengan isyarat mata mereka saling tunjuk siapa yang akan mengatakan bahwa hari ini mereka batal ke rumah Arin. Sera melotot ke arah Arin, dan Arin memutar bola matanya dengan kesal, tanda menyerah. "Hari ini kita batalkan saja ke rumahku." kata Arin memecah keheningan. Hana mengangkat kepalanya lalu menatap Arin dan Sera dengan bingung. "yah mungkin saja kamu ingin menjenguk Derris. Kasian bukan orang sakit mana tinggal sendiri tidak ada yang mengurus." kata Arin dengan dramatis sambil menyikut lengan Sera. Sera mengangguk. "Iya sana jenguk saja Derris. Kalian butuh kemajuan dalam hubungan seperti ciuman mungkin." Sera tersenyum usil pada Hana. Hana melotot kesal pada Sera dan Arin. "Gila ya, engga-engga. Udah jadiin aja ke rumah Arin lagian juga ada Rian yang yang bakal jenguk kesana." sungut Hana. "Pokoknya hari ini batal, titik." ucap Arin tegas. Hana berdecak kesal dengan tingkah laku kedua sahabatnya ini. Ia tidak menyangka mereka mempunyai ide yang sangat tidak masuk akal. Terlebih pada orang yang sedang sakit, mana mungkin mereka melakukan hal seperti itu kecuali Derris sudah sembuh. Eh.. Hana lalu menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran aneh yang baru saja melintas di otaknya. "Tuhkan langsung mikir yang iya-iya." kata Sera lalu tertawa kencang bersama dengan Arin. Hana lalu menyelesaikan makanannya dan pergi ke kelas duluan meninggalkan Sera dan Arin yang masih menertawakan Hana. *** Dengan arahan yang di berikan oleh Rian padanya. Hana kini berada di depan pintu kost Derris dengan perasaan gugup. Setelah sepanjang perjalanan ia bergulat dengan pikirannya. Akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk menjenguk Derris, karena sampai sore belum pada pesan balasan dari Derris yang membuat Hana semakin khawatir. Sebelum datang Hana menyempatkan untuk membeli beberapa buah dan juga s**u untuk Derris. Ia menarik nafas pelan lalu mengetuk pintu kost Derris dengan pelan. Pada ketukan pertama tidak terdengar ada suara jawaban dari dalam. Namun pada ketukan ketiga ada gerakan dari handel pintu dan memunculkan sosok Derris dengan keadaan yang cukup kacau. Rambutnya acak-acakan dengan mata yang sedikit memerah. Terlihat beberapa saat Derris terkejut dengan kedatangan Hana yang tiba-tiba namun sedetik kemudian Derris tersenyum lemah pada Hana. "Ayo masuk." ajak Derris sambil membuka pintu lebih lebar untuk Hana. Hana mengangguk lalu melangkah masuk ke kamar kost Derris. Hana memandang sekitar kamar Derris. Tempatnya cukup luas dan juga rapi, hanya tempat tidur Derris yang berantakan karena sepertinya seharian ini Derris banyak menghabiskan waktu disana. Terdapat dapur kecil dekat pintu berwana biru. Sepertinya itu kamar mandi, pikir Hana. "Hana." panggil Derris pelan menghentikan aktivitas Hana yang sedang memandangi kamar Derris. "Hmm." gumam Hana lalu menoleh ke arah Derris yang kini sudah duduk di tepi tempat tidurnya. Derris melambaikan tangannya lalu menepuk di sebelah tepi tempat tidurnya yang kosong. Hana lalu berjalan ke arah yang Derris tunjukan. "Kau mau minum?" tanya Derris. Hana menggelengkan kepala. "Sudah makan?" tanya Hana penasaran. Derris seperti sedang berfikir lalu menjawab. "Sepertinya belum." "Aku akan buatkan bubur lalu setelah itu kamu istirahat. Apakah disini ada obat?" tanya Hana. "Sepertinya ada nanti aku cari." kata Derris lalu ia merebahkan badannya di kasur karena pusing mulai menyerang kepalanya kembali. Hana bangkit lalu berjalan ke dapur kecil yang jaraknya tidak jauh dari tempat tidur Derris. Ia mulai mencari-cari beras lalu mengeluarkan panci di dalam lemari yang berukuran sedang. Derris melirik sekilas melihat Hana yang kini terlihat sangat serius dengan aktivitasnya di dapur. "Kamu tau dimana tempat tinggalku?" tanya Derris penasaran. "dan kamu tidak menghubungiku terlebih dulu kalo mau kesini. Padahal aku bisa bersiap-siap dulu sebelum kamu mau datang." tambahnya. Hana memutar bola matanya. "Aku bertanya pada Rian. Dan aku mengirim pesan padamu, tapi tidak ada balasan." kata Hana sambil memotong-motong sayuran. Derris lalu mencari ponselnya dan ternyata ponselnya mati. Ia sampai lupa dengan ponselnya dan juga lupa tidak menghubungi Hana gara-gara sakit "Maaf." gumam Derris pelan lalu memejamkan matanya dan menaruh kembali ponselnya di pinggir bantalnya. "Sudah jangan di pikirkan." Hana lalu mengaduk-aduk bubur yang sebentar lagi akan segera matang. Ia mencari mangkuk dan sendok di dalam lemari. Setelah bubur yang di buat Hana matang, Hana lalu membawanya ke tempat tidur Derris. Derris lalu bangkit duduk untuk menerima bubur dari Hana. "Dari baunya sepertinya terlihat enak." puji Derris lalu mengambil satu sendok bubur, Ia meniupnya sebentar lalu memasukannya ke dalam mulut. Derris mengernyit, ia lalu mengatur ekspresi wajahnya agar Hana tidak curiga padanya. Ia baru pertama kali melihat bubur dengan campuran wortel dan juga buncis. Bubur ini belum matang karena masih ada beras yang terasa saat di kunyah. Ingin rasanya ia memuntahkan kembali bubur yang baru satu sendok ia makan. Rasa asin dan juga manis bercampur aduk di dalam bubur buatan Hana. Derris melirik Hana, terlihat Hana sedang menunggu reaksi Derris dengan bubur buatannya. Derris lalu menelan bubur itu dengan itu dengan susah payah. Derris tersenyum kecil menatap Hana. "Eee..nak." gagap Derris. Hana memajukan beberapa senti bibirnya dengan raut wajah yang tidak percaya. Derris buru-buru menambahkan. "bubur ini sangat enak, sungguh." Derris kembali menyuap bubur itu dengan perlahan. Hana tersenyum bangga, hati Derris langsung meleleh melihat senyuman Hana yang sangat jarang ia perlihatkan padanya. Akhirnya demi melihat senyuman Hana kembali Derris menghabiskan setengah bubur buatan Hana yang rasanya sangat tidak karuan itu. Derris lalu menyimpan bubur di meja kecil yang terdapat di sisi tempat tidurnya dan mengatakan bahwa ia sudah kenyang. Hana membawa keresek putih yang berisi buah ke dapur lalu mengupasnya untuk Derris. "Tidak usah Hana biar aku saja." ucap Derris sambil bangkit berdiri. "Diam dan duduk saja." perintah Hana tegas, Derris lalu menutup rapat bibirnya dan kembali duduk. "Maafkan aku Hana, gara-gara aku sakit kita harus menunda acara kita ke taman hiburan." sesal Derris. "Kamu kan bukan sakit kanker atau lumpuh." sahut Hana ringan. Derris tersenyum lebar. "Kau benar, saat ini aku cuma sakit karena merindukanmu." gombal Derris, Hana membalikkan badannya lalu menatap tajam sambil mengacungkan pisau di tangan kanannya ke arah Derris. Derris tersenyum lalu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Hana lalu membalikkan badannya lalu kembali mengupas buah apel. "Kita bisa pergi lain hari," gumam Hana pelan. "Baiklah sayang." jawab Derris dengan penuh semangat. Hana pun akhirnya pamitan pulang pada Derris setelah buah yang di kupasnya selesai dan juga setelah memastikan Derris meminum obatnya lalu beristirahat. Ia berpesan pada Derris untuk menghabiskan bubur buatannya dan menghubunginya bila ia membutuhkan bantuannya. Hana tersenyum kecil lalu beranjak pergi meninggalkan Derris.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD