Bab 12

2006 Words
"Jadi kalian putus?" tanya Rian pada Derris yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Malam ini Rian sengaja menginap di tempat kost Derris untuk bermain game yang baru saja ia beli. Namun sesampainya di tempat kost Derris, Rian malah mendapati Derris yang sedang galau dan berbaring tidak semangat di tempat tidurnya. Saat di tanya oleh Rian, Derris memilih diam seribu bahasa. Rian yang sudah mengenal Derris sejak dulu memutuskan untuk tidak memaksa bertanya kembali, karena dalam waktu kurang dari dua jam pun Derris pasti akan bercerita dengan sukarela kepadanya. Satu jam lamanya Derris membisu akhirnya ia pun menyerah dan mengangkat bicara. Karena sudah tidak tahan dengan suara game dan makian Rian yang begitu keras. "Mungkin. Karena selama ini hanya aku yang menyukai Hana." desah Derris lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "seandainya dia mau menceritakan sedikit saja tentang lelaki itu aku pasti akan percaya padanya. Tapi dia memilih menutup mulut." Rian menggeleng pelan melihat sahabatnya yang sangat begitu kacau. Inilah sebabnya mengapa ia tidak ingin berpacaran. Wanita itu makhluk yang paling susah untuk di mengerti. Banyak kode rahasia yang harus lelaki pecahkan. Lebih baik seperti sekarang hanya ada Rian dan game barunya yang selalu mengerti keadaannya. "Ya benar sebaiknya di akhiri saja cinta bertepuk sebelah tangan ini. Hidup masih panjang, masih banyak wanita cantik dan seksi diluar sana." kata Rian sambil tertawa. Derris berdecak mendengar jawaban Rian. "Tapi Hana tidak bisa di gantikan oleh siapapun, bagiku hanya dia satu-satunya." kata Derris dengan penuh semangat. Rian menganga mendengar perkataan Derris. Tak di sangka, Derris bisa sampai cinta buta pada Hana. Jelas-jelas sejak awal sangat terlihat bahwa Hana tidak menyukai Derris. Derris pun dulu pada mantannya tidak sampai seperti ini, malah terkesan cuek dan tidak peduli. "Baiklah terserah, sekarang kita main game saja. Dari pada terus galau yang tidak ada ujungnya." kata Rian yang masih terus fokus dengan gamenya. Derris pun bangkit lalu duduk di sebelah Rian dan ikut bermain bersama Rian. Mereka pun akhirnya tenggelam dalam game sampai jam menunjukkan tengah malam. Pagi ini Derris memutuskan untuk tidak menunggu Hana di halte. Ia pun tidak akan menemui Hana di kelasnya. Derris butuh waktu berpikir untuk hubungannya ini dengan Hana. Meskipun pada akhirnya mereka harus putus. Derris terus melihat ponselnya setiap menit berharap ada kabar dari Hana. Namun kenyataannya, tidak ada satu pun pesan atau telepon dari Hana. Ia lupa bahwa Hana memang tidak pernah menghubunginya kecuali dalam keadaan penting. "Sudah ratusan kali kau melihat ponselmu yang tidak akan pernah ada pesan." kata Rian dengan nada mengejek. Derris menghembuskan nafas dengan kasar. "Berisik." kini Derris meraih ponselnya lalu berjalan keluar kelas. Menjauhi sahabatnya yang menyebalkan adalah satu-satunya cara agar Derris tidak menjadi gila. Ketika keluar kelas Derris melirik kelas Hana yang hanya berjarak beberapa meter dari kelasnya. Ia ingin sekali kesana dan menghampiri Hana seperti biasa. Namun jawaban Hana kemarin sudah membuatnya paham, apapun yang Derris simpulkan tentang masalah ini Hana tidak akan peduli. Derris pun melangkahkan kakinya ke lapangan belakang yang cukup sepi untuk menenangkan pikirannya. *** Derris memutuskan untuk pulang ke rumahnya malam hari. Setelah puas bermain di warnet dengan Rian dan teman-teman sekelasnya untuk menghilangkan sejenak pikirannya yang sangat berat. Derris turun dari bis menyusuri jalanan yang ia lewati bersama Hana setiap hari. Saking terbawa suasana, tanpa sadar langkahnya pun membawanya ke taman, yang menjadi tempat mereka janjian bertemu. Derris sangat rindu padanya. Namun hatinya semakin sakit tak kala ia melihat Hana sedang berbicara dengan lelaki yang tempo hari di lihatnya di cafe. Ia pun menyipitkan matanya dan tanpa sadar ia mendekati mereka berdua. Kedatangan Derris pertama kali di sadari oleh lelaki itu. Karena posisi Hana saat berbicara dengan lelaki itu adalah memunggungi Derris. Derris mengetahui bahwa itu Hana karena jaket warna biru yang sudah sangat Derris kenali. Lelaki itu tersenyum simpul, lalu berjalan mendekati Derris. "Kukira kalian sudah putus." bisik lelaki itu lalu pergi meninggalkan mereka berdua. *** Hana sedang berjalan pulang dari minimarket terdekat. Kalau bukan karena ibunya yang menyuruh Hana untuk membeli cemilan untuk ayahnya yang akan pergi dinas besok, ia pasti akan menolaknya. Seharian ini Hana tidak bertemu dengan Derris. Pesan atau telepon yang biasanya selalu beruntun pun kini tidak ada. Sejujurnya ia sedikit menyesal mengapa ia harus berkata mengebalkan pada Derris kemarin. Sera benar harusnya Hana bisa menceritakan sedikit pada Derris agar ia tidak salah paham. Hana melewati taman yang biasa ia lewati bersama Derris. Ia tersenyum kecil saat mengingat Derris dan juga tingkah bodohnya. Senyum Hana langsung redup ketika melihat seseorang yang Hana kenal sedang duduk di bangku taman dan tersenyum tanpa dosa. Orang itu bangkit dan berjalan menuju Hana yang berjarak beberapa langkah dari bangku taman. "Lama tidak berjumpa." sapa Ricky lalu menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Kini Ricky berdiri di hadapan Hana. "Kenapa waktu di cafe kamu langsung pergi? Tidak rindu padaku?" "Tidak ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu." sungut Hana. "Dulu aku selalu mengantarmu pulang. Kemana pacarmu? Masa dia tidak mengantarmu pulang." ejek Ricky. "Aku tidak ingin bicara dengan lelaki b******k sepertimu." geram Hana. "Itu pacarmu datang." Ricky memajukan dagunya dan tersenyum simpul lalu berjalan ke arah belakang melewati Hana. Hana membalikkan badannya dan terkejut melihat Derris kini berada di hadapannya dengan wajah yang susah untuk di baca. Hana ingin mengatakan sesuatu, namun Derris langsung pergi meninggalkannya begitu saja. Hana melihat kepergian Derris yang tidak menengoknya sama sekali. Ingin rasanya Hana memanggil Derris, namun rasa gengsinya yang begitu besar membuat Hana mengurungkan niatnya. Ia pun berjalan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Hana langsung ke kamarnya dan meraih ponselnya lalu menelpon Sera. Hana lalu menceritakan semua kejadian tadi, Sera lalu memarahi Hana karena telah bersikap bodoh dan membiarkan Derris pergi dengan segala pikiran-pikiran anehnya setelah melihat Hana sedang bersama Ricky. Selama sepuluh menit lamanya Sera terus memarahi Hana dan tidak membiarkan Hana untuk memotong deretan kalimat Sera. Hana hanya bisa pasrah dan sabar menunggu sampai Sera menyelesaikan kalimatnya. "Baiklah aku mengerti, telingaku juga sudah panas jadi aku tutup." kata Hana. "Ingat kamu harus segera hubungi Derris dan menjelaskan kejadian tadi. Bilang kalo kamu sudah tidak ada hubungan lagi dengan si b******k itu." sungut Sera lalu menutup teleponnya. Hana menggelengkan kepalanya. Ia bingung harus memulai dari mana menceritakan semuanya pada Derris. Atau lebih baik dia diam saja, mengingat tidak ada hal perlu ia bicarakan juga dengan Derris. Derris mau salah paham pun Hana tidak peduli. Akhirnya Hana memutuskan untuk tidur dan berhenti memikirkan hal yang mengganggu pikirannya. *** Derris baru saja akan memejamkan matanya, namun getaran ponselnya membuatnya kembali terjaga. Ia langsung meraih dengan kasar benda kecil yang berani mengganggu jam istirahatnya. Tertera nama Sera disana, Derris pun lalu menggeser layar ke tombol hijau. "Ada apa Sera?" tanya Derris tanpa basa basi. Sera pun lalu bertanya pada Derris tentang hubungannya dengan Hana. Lalu tanpa basa basi ia menjelaskan garis besar masalah Hana dan Ricky. Namun ia ragu saat menjelaskan kejadian saat Hana hampir di perkosa oleh Ricky, Sera hanya menceritakan sebagian yang bisa membuat Derris paham dan dapat mengerti keadaan Hana. Sera sudah sangat yakin bahwa Hana tidak akan langsung menelpon Derris dan menjelaskan semuanya. Kurang lebih selama lima belas menit Sera menceritakan garis besarnya. Derris pun tidak menyela atau memotong perkataan Sera, ia hanya mendengarkan dengan seksama setiap kejadian yang Sera ceritakan. Derris menarik nafas pelan. Ia pun mengucapkan terima kasih pada Sera yang telah menceritakan semuanya pada Derris lalu menutup telepon. Sera pun berpesan jangan memberi tahu pada Hana bahwa Sera telah menghubungi Derris, Derris pun tersenyum kecil mengingat apabila Hana mengetahui bahwa sepupunya ini berani ikut campur dengan masalahnya, Hana akan marah besar dan mungkin tidak akan mau bertemu lagi. Derris pun mengangguk dan mengiyakan. Derris menarik selimutnya hingga leher, kini ia bisa bernafas dengan lega. Akhirnya masalah yang sangat mengganggunya selama satu minggu ini sudah terpecahkan. Ingin rasanya Derris membalas dendam dan menghajar Ricky saat ini juga. Namun ia teringat pada Sera yang mengatakan untuk tidak memperpanjang masalah ini. Karena Hana yang merupakan korban pun sudah tidak ingin mengungkit masalah ini. Derris pun menutup matanya agar besok ia dapat segera bertemu dengan Hana. Pagi harinya Derris mencoba menelpon Hana. Hana mengangkat pada deringan ke lima. Hari ini adalah akhir pekan jadi sudah bisa di pastikan Hana masih terlelap dan lama saat mengangkat telpon. "Hooaam halo." terdengar suara serak Hana. Derris terkekeh pelan. "Hari ini aku ingin bertemu." hening tidak ada jawaban dari Hana. Derris pun melanjutkan kalimatnya. "Kalau kamu tidak mau, aku akan datang ke rumahmu." ancam Derris namun dengan nada bercanda. "Dimana?" tanya Hana langsung tersadar dari rasa kantuknya. "Taman. Jam dua." di seberang sana Derris mendengar Hana berdecak. Derris pun kembali terkekeh pelan. "dan jangan coba-coba untuk berpura-pura lupa. Karena aku pasti akan langsung datang ke rumahmu." ancam Derris untuk kedua kalinya. "Hmmm." gumam Hana lalu sambungan terputus. *** Sudah hampir setengah jam Hana mematut wajahnya di kaca besar yang terdapat di lemari, ia terus merapikan rambutnya yang tergerai lalu beralih pada potongan sheath dress-nya yang berwarna hijau tua. Lalu ia kembali melihat sekali lagi wajahnya dan memoleskan sedikit bedak pada hidungnya yang kini mengeluarkan keringat. "Apa ngga berlebihan ya?" tanya Hana pada diri sendiri. Dress ini adalah pilihan terakhir Hana setelah satu jam yang lalu ia membongkar isi lemarinya dan memilih pakaian mana yang cocok untuk di pakainya hari ini untuk bertemu dengan Derris. Kini tempat tidurnya sudah tertutup sepenuhnya oleh baju-baju dan celana jeans Hana. Ia melirik sekilas tempat tidurnya lalu mendesah. "Gila. Nambah kerjaan aja." gerutu Hana lalu beranjak pergi meninggalkan kamar tidurnya yang kini berubah menjadi kapal pecah. Sepanjang perjalanan menuju taman Hana terus mengatur nafasnya. Kali ini ia sangat gugup, padahal dulu saat pertama kali akan berkencan dengan Derris ia tidak pernah merasa seperti ini. Perasaannya sangat campur aduk, antara senang dan juga sedih kini menjadi satu. Derris telah datang terlebih dahulu, ia sedang bersandar di perosotan dengan menyilangkan kedua tangannya. Hari ini ia memakai kaos berlengan pendek berwarna hitam dan memakai jeans berwana senada. Tampilannya terlihat santai. Hana lalu menunduk dan melihat dress yang ia kenakan terlihat sangat berlebihan. Rasanya Hana ingin membalikan badannya lalu berlari ke rumahnya dan mengganti pakaiannya. Namun terlambat, kini Derris memanggil namanya lalu berjalan ke arah Hana dengan senyuman yang lebar. "Kamu mau kemana Hana?" tanya Derris setelah berada di hadapan Hana, lalu Derris memperhatikan penampilan Hana dari atas hingga bawah dengan tatapan menyelidik. "kamu ada acara lagi setelah ini?" tanya Derris kembali. "Iya." jawab Hana asal. Derris mengangguk mengerti. "Aku pikir kamu berdandan cantik karena mau bertemu denganku." senyum jail muncul dari wajah Derris. Hana mendengus. "Jangan mimpi." sungut Hana. Pipi Hana mulai memanas ia lalu berjalan cepat ke arah bangku taman, menghindari tatapan Derris yang cukup intens padanya. Derris berjalan menjajari langkah Hana. Mereka berdua duduk berselahan. Hening selama beberapa menit, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Ak.." "Ka.." Mereka berkata bersamaan lalu memandang satu sama lain. "Kamu duluan." kata Derris. Hana mengembuskan nafas pelan. "Aku minta maaf." kata Hana pelan, lalu ia mulai menceritakan semuanya dari awal hingga akhir pada Derris tentang Ricky, Namun Hana tidak menceritakan dengan rinci setiap kejadian yang menimpa dirinya. "Jadi seperti itu." kata Hana di akhir ceritanya. Derris hanya menatap Hana dengan senyum. "Di dengerin ngga sih?" sewot Hana. Derris menepuk kedua pahanya pelan. "Iya aku dengerin." Derris kembali tersenyum pada Hana. "jadi kita baikan?" tanya Derris sambil mengangkat jari kelingkingnya ke depan Hana. "Aku sudah menceritakan semuanya, kenapa tidak ada tanggapan? Sangat mencurigakan." selidik Hana. Derris mengangkat bahu. "Aku suka padamu jadi ya aku percaya padamu." Derris tersenyum simpul. "lagi pula dia hanya masa lalu kamu. Setiap orang memiliki masa lalu bukan?" Hana memutar matanya. "Dari Sera, kan?" Derris mengangkat bahunya kembali. "Baikan?" Derris mengangkat kembali jari kelingkingnya. "Baiklah." kata Hana bangkit berdiri. "Kamu belum menautkan jari kelingkingmu." protes Derris. Hana berdecak kesal lalu duduk kembali dan menautkan jari kelingkingnya pada Derris. Derris pun tersenyum puas. "Aku masih penasaran, sebenarnya mau kemana kamu dengan pakaian seperti ini?" tanya Derris. Hana merasa malu apabila Derris tahu bahwa ia berpakaian seperti ini hanya untuk bertemu dengan Derris, Hana pun lalu bangkit berdiri dan berjalan pulang ke arah rumahnya. "Berisik, sudah sana pulang." "Kenapa tidak di jawab?" Derris pun bangkit lalu mengekor di belakang Hana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD