Bab 21

2026 Words
Ibu Hana mengusap air mata yang hampir menetes dengan tisu yang baru saja di ambilnya di atas meja. Hana dan ibunya kini sedang duduk di sofa sambil menonton tv. Hana memutar bola matanya. "Mau sampai kapan ibu akan terus tertawa?" tanya Hana kesal. "Ibu suka sekali dengan ekspresi pacarmu haha aduh." ibu langsung memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa Hana lalu menyodorkan segelas air putih untuk ibunya. Ibu langsung meneguk air putih pemberian putri sulungnya sampai habis. Lalu membenarkan posisi duduknya. "Coba undang dia ke rumah." kata ibu. Hana seketika menengok pada ibunya. "Untuk apa?" tanya Hana penasaran. "ibu jangan berbuat hal aneh-aneh. Jawaban ibu yang terakhir tadi aja sudah membuat dia ketakutan." Ibu mengangkat bahu acuh. "Tidak. Ibu hanya ingin bertemu lagi dengannya." ibu kembali tersenyum lebar. Hana menggelengkan kepalanya. Ia merasa aneh dengan ibunya yang selalu menyukai teman Hana yang memiliki sifat unik. Terakhir kali orang yang Hana undang adalah Arin. Ibu menyukai Arin karena nafsu makannya yang besar. Karena Hana dan Sena setiap hari makan hanya sedikit dan kadang susah makan. Berbeda saat Hana membawa Arin ke rumahnya. Ibu yang telah memasak aneka macam makanan yang telah tersaji di meja makan. Kebetulan pas jam makan malam, ibu langsung menawarkan Arin untuk makan terlebih dulu sebelum pulang. Arin yang setiap waktu selalu merasa lapar langsung menerima tawaran ibu Hana dengan senang hati. Tanpa ragu Arin lalu menyendok semua makanan yang ada di atas meja sampai piringnya melebihi kapasitas seharusnya. Arin memakan masakan ibu dengan lahap, membuat ibu menyukai Arin. Keesokan harinya pun Hana disuruh ibunya untuk mengundang Arin kembali. Arin yang tidak tahu menahu maksud dari ibu Hana hanya menurut tanpa banyak bertanya. Sesampainya di rumah Hana, Arin telah di suguhkan kembali berbagai masakan nusantara. Arin langsung melahap semua makanan tersebut tanpa ragu. Kini setelah ibu bertemu dengan Derris dan sampai mengajaknya untuk ke rumah pastilah ada maksud tertentu. Terlebih saat pertama bertemu dengan Derris, ibu sangat terhibur dengan tingkah Derris yang takut seperti anak anjing. "Sepertinya aku tidak bisa mengajaknya kesini." kata Hana akhirnya. "Kenapa?" terlihat wajah ibu yang kecewa. "Nanti ayah akan menggantungku." kata Hana horor. Ibu berdecak pelan. "Tenang saja. Ayah pasti tidak akan marah. Malah sepertinya akan setuju. Karena pacarmu sangat imut sama seperti ayahmu." jawab ibunya sambil terkekeh geli. "Ayah imut?" tanya Hana heran. Ibu mengibaskan tangannya. "Ah sudahlah kamu tidak akan mengerti bagaimana orang imut." Hana menyerah lalu pamit pada ibunya untuk beristirahat ke kamarnya di lantai dua. Hana baru saja merebahkan badannya di atas kasur dan meraih ponselnya yang terus bergetar sejak tadi. "Halo." ucap Hana. "Kamu belum tidur?" tanya Derris di seberang sana. "Belum." jawab Hana singkat. Hening beberapa saat. "Hana." panggil Derris pelan. "Hmm." gumam Hana. Derris menghela nafas panjang. "Sepertinya ibumu tidak menyukaiku." keluh Derris. Rencana ibu Hana sepertinya berhasil membuat Derris takut. Hana menjadi prihatin pada Derris namun sekaligus ingin mengerjainya. "Sepertinya begitu." ucap Hana dengan nada prihatin. Derris mendesah. "Padahal dulu aku sudah berjuang untuk mendapatkanmu. Sekarang aku harus berjuang kembali demi mendapat restu ibumu." keluh Derris. Hana tersenyum kecil mendengar keluhan Derris dan semakin ingin menggodanya. "Maafkan aku Derris." desah Hana. "hubungan kita ternyata harus seperti ini." "Jangan bicara seperti itu. Ini masih tahap awal untuk ke depannya." kata Derris dengan penuh semangat. Hana tidak menjawab, ia diam beberapa saat sampai akhirnya Derris menyuruhnya tidur lalu memutuskan sambungan. Derris yang tak pantang menyerah, batin Hana. Waktu belum menunjukan tengah malam, namun suara kembang api telah ramai terdengar. Hana menguap lalu memeluk gulingnya dengan erat. Ia lalu menarik selimutnya hingga d**a. Hari ini cukup panjang dan juga melelahkan membuatnya ingin segera memejamkan matanya. *** Sudah satu minggu semester baru telah di mulai. Derris sudah memulai aktivitasnya seperti biasa. Dua minggu liburan sudah cukup membuatnya semangat kembali untuk belajar. Pagi harinya Derris menunggu Hana di halte bersama Rian yang hari ini berangkat bersama. Mereka bertiga memasuki bis yang membawa mereka ke sekolah. Hari ini Hana seperti biasa tidak banyak bicara dan lebih fokus pada ponselnya. Derris berdeham pelan pada Hana yang berada di sampingnya. "Kamu sudah sarapan?" tanya Derris perhatian. Hana hanya mengangguk kecil. Derris memilih untuk mengobrol bersama Rian yang sama sedang memainkan ponselnya. "Hei nanti bantu aku menyiapkan kejutan kecil untuk Hana." bisik Derris pelan agar Hana tidak mendengar pembicaraannya dengan Rian. "Kapan?" tanya Rian tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang sedang di mainkannya. Derris mendekatkan wajahnya pada Rian lalu berbisik kembali. "Nanti akhir bulan." "Menurutku jangan terlalu menarik perhatian dia tidak suka yang berlebihan." saran Rian. Derris terdiam sejenak. "Baiklah akan aku pikirkan." Derris mencoret-coret kertas menyusun setiap detail yang harus di persiapkannya untuk nanti. Sebentar lagi adalah hari spesial untuk Hana. Karena Hana akan bertambah usia tepat di akhir bulan ini. Derris telah mempersiapkan kejutan kecil untuk Hana. Ia pun tak lupa mencari hadiah yang cocok untuk di berikan pada Hana. Kejutan kecil yang Derris lakukan untuk Hana ia adakan di kelas Hana sebelum bel masuk. Acara yang telah di nantikannya adalah besok. Malam harinya ia sudah mempersiapkan satu buket bunga mawar berwarna merah. Lalu mulai mempersiapkan bahan makanan yang akan di masaknya saat pagi hari. Hadiah yang telah di beli Derris bersebelahan dengan bunga mawar yang d simpan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia merasa bangga telah menyusun rencana ini dengan sebaik mungkin dan besok adalah hari dimana Hana akan tersenyum lebar dan berterima kasih padanya. Derris melirik jam di ponselnya yang telah menunjukan tengah malam, ia menguap merasa lelah dengan semua persiapan untuk besok. Derris pun melangkah ke tempat tidurnya untuk beristirahat, Pagi harinya ia sudah sibuk di dapur kecilnya untuk memasak makanan kesukaan Hana. Derris membuat makanan berat dan tak lupa membuat makanan penutup yang manis untuk Hana. Hari ini Derris akan datang lebih awal ke sekolah untuk sedikit menghias kelas Hana yang di bantu oleh Rian dan juga Romi. Hana berjalan pelan ke arah kelasnya sendirian karena Derris telah mengirim pesan padanya akan berangkat lebih awal. Ketika Hana baru melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Dari arah meja guru Derris tersenyum lebar menghampiri Hana dan menyanyikan lagu ulang tahun sambil membawa kue tart berwarna putih dan pinggirannya yang berwarna merah dengan lima lilin di atas kue yang sedang menyala. Hana memerhatikan ke sekeliling kelas, dari arah tempat duduknya terlihat penuh dengan aneka macam makanan. Teman-teman sekelasnya ada yang sedang tersenyum dan bersorak sambil mengabadikan momen saat ini. Namun sebagian teman-temannya ada yang merasa terganggu. merasa tidak nyaman dengan kelas yang berubah fungsi menjadi tempat pesta. Hana melirik papan tulis yang berada tepat di sebelah kirinya. Setiap pagi Hana memasuki kelasnya, papan tulis itu selalu bersih dan tidak ada coretan di atasnya. Namun kini di atas papan tulis itu, tertera tulisan yang sangat besar 'HAPPY BIRTHDAY HANA' dengan gambaran bunga dan juga hati dimana-mana. Tanpa pikir panjang Hana lalu keluar dari kelasnya meninggalkan Derris yang masih mengalunkan lagu ulang tahun untuknya. Derris yang melihat Hana pergi keluar kelas, menyerahkan kue tart ini pada Rian yang berada di belakangnya lalu mengejar Hana. "Hana tunggu." kata Derris setelah sampai di hadapan Hana. Mereka berhenti di lorong yang tidak terlalu ramai Raut wajah Hana berubah menjadi merah. Ia mengusap wajahnya dengan sangat kesal. "Ada apa? Kamu pasti sangat terharu bukan dengan kejutanku?" ucap Derris dengan senyuman yang lebar. "Apa yang kamu lakukan, hah?!" sungut Hana. "Hari ini ulang tahunmu. Jadi aku memberikan kejutan.." "Dan hadiahnya adalah rasa malu?" potong Hana. "Rasa malu? Kenapa bicara kamu seperti itu?" Hana mengusap kembali wajahnya dengan kesal. "Hal yang bisa kita lakukan berdua. Kenapa kamu lakukan di depan umum?" "Aku ingin merayakannya dengan semua orang." kata Derris. "Memang aku minta?" tanya Hana sinis. Derris melongo lalu tertawa mengejek tidak habis pikir dengan jawaban Hana. "Dan kamu harus keluar kelas seperti itu?" "Aku sudah mengatakan padamu tidak menyukai hal seperti ini." ucap Hana. "Aku hanya ingin membuat hari ulang tahunmu berkesan dan tak bisa kamu lupakan." "Kamu sudah berhasil membuat aku malu hari ini. Kamu harusnya mengerti kejutan yang kamu lakukan ini mengganggu kenyaman orang lain." jelas Hana. "Aku harus mengerti? Kamu yang harusnya mengerti, semua yang aku lakukan adalah untuk kamu." kata Derris sambil menahan marah. "ah sudahlah. Ini hadiah untukmu." Derrus lalu memberikan paper bag berwarna hitam kecil pada tangan Hana. "Aku tidak mau." Hana lalu mengembalikan paper bag itu pada tangan Derris lalu kembali berjalan ke kelasnya. Derris mengikuti Hana masuk ke dalam kelasnya. Hana berjalan ke arah tempat duduknya lalu mulai membereskan makanan di atas mejanya yang di buat oleh Derris bersama Sera dan Arin. Derris menghampiri Hana dan menyimpan paper bag itu di atas meja Hana, namun Hana tetap menolaknya. Dengan kesal Derris lalu meraih dengan kasar paper bag itu dan berjalan ke arah meja guru. Lalu memasukkannya ke tempat sampah yang berada di dekat meja guru. Hana terperangah dengan tingkah Derris. Hana sadar kembali saat Sera menepuk pundaknya, memberi tahu bahwa bel sudah berbunyi dan sebentar lagi guru akan segera datang ke kelas. Hana lalu berjalan ke arah papan tulis dan mulai menghapus tulisan yang di buat Derris. Derris membantu Hana menghapus semua tulisan itu, karena ukuran tulisan itu cukup besar dan lebar. Tak berapa lama guru datang ke kelas Hana. Derris langsung tersenyum pada guru tersebut dan pergi meninggalkan kelas Hana. Hana telah kembali ke tempat duduknya dan duduk bersandar dikursinya. Merasa lelah dengan pagi ini, padahal matahari sama sekali belum naik untuk menyinari semesta hari ini. Istirahat pertama Derris. Rian dan Romi datang ke kelas Hana untuk bertemu dengan teman-temannya. Derris terus melirik ke tempat Hana duduk, yang hanya terhalang dua meja. Namun yang di perhatikannya malah acuh dan tidak menghiraukan Derris. Derris terus memperhatikan Hana yang memainkan ponselnya. Tanpa sadar bahu Derris ditepuk pelan oleh Romi. "Aku bisa membantumu agar kalian baikan." tawar Romi dengan senyuman lebar. Karena Niken sedang ke kantin bersama teman-temannya, akhirnya Romi ikut bersama kedua temannya ke kelas Hana. Tadi pagi saat kejutan yang di berikan oleh Derris, Romi tidak bisa ikut melihatnya karena kesiangan. Ia hanya mendengar sedikit kejadian yang di ceritakan oleh Rian saat tadi pagi. Sebagai seorang teman yang baik Romi memutuskan untuk memberi bantuan yang bisa membuat Derris dan Hana kembali berbaikan. Romi mendekatkan bibirnya pada telinga Derris. "Berpura-puralah sakit." bisik Romi sangat pelan bahkan Rian yang berada di sampingnya pun tidak dapat mendengarnya. Derris diam dan merasa tidak setuju dengan ide Romi. Romi lalu menjauhnya wajahnya dari Derris. "Aku tidak setuju dengan idemu." jawab Derris langsung. Romi berdecak kesal. "Percaya saja padaku." Derris berpikir sejenak lalu mengangguk ragu pada Romi. Romi tersenyum puas, lalu berteriak dengan dramatis ke arah Derris. "Astaga Derris sangat pucat sekali." sambil melirik sekilas ke arah tempat duduk Hana. "mungkin karena begadang semalaman demi membuat kejutan untuk Hana." tambah Romi serius. Sera yang duduk di sebelah Hana lalu menengok ke arah Romi. "Katanya Derris sakit." "Dia hanya berpura-pura." jawab Arin santai. "Dari mana kamu tau?" tanya Sera heran. "Karena kejadian tadi pagi tidak sesuai dengan keinginan Derris." jelas Arin lalu bangkit dan berjalan keluar kelas. Sera menengok ke arah Hana yang masih memainkan ponselnya dengan santai. "Benarkah Derris berpura-pura?" tanya Sera bingung pada Hana. Dan Hana hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Romi yang duduk berhadapan dengan Derris terus memperhatikan Hana yang tidak begeming dengan teriakannya. "Cepat pura-pura batuk." bisik Romi pada Derris. Rian yang tidak tahu menahu drama yang sedang dilakukan kedua temannya hanya menonton tanpa komentar. Derris mengangguk kecil menuruti perintah Romi. "Ohook ohookk ohhook." tanpa sadar Derris berpura-pura batuk dengan sangat semangat sehingga Hana menengok ke arahnya dan mendapat tatapan tajam dari Hana. "Terlihat berpura-pura." gumam Hana pada Sera lalu memainkan ponselnya kembali. "Kau terlalu bersemangat batuk, sangat mencurigakan." bisik Romi. Demi membuat drama berhasil Derris berinisiatif untuk pergi ke uks. Ia berjalan pelan dan lemah. Membuat Rian dan Romi bertanya-tanya dengan tingkah laku Derris. Derris melirik sekilas pada Hana yang terpaku pada ponselnya. Dengan kesal Derris menengok dan mengedip-ngedipkan sebelah matanya pada Romi agar ia segera mengantarnya ke uks. Romi yang mengerti langsung menghampiri Derris yang hampir menuju ambang pintu kelas. Romi bangkit lalu berjalan ke arah Derris yang sedang menunggunya. "Akan aku antar Derris ke UKS." Romi menekankan kata uks dengan kencang agar Hana mendengar dengan jelas. "Baiklah Ohook ohokk." jawab Derris dengan lemah. Lalu berjalan keluar kelas Hana bersama Romi menuju uks.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD