Bab 22

1372 Words
Sesampainya di ruang uks Derris duduk di atas tempat tidur sambil bersila dan menopang dagunya dengan sebelah tangan, sedangkan Romi duduk di kursi di sebelah ranjang uks sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas pahanya. Mereka berdua sedang memikirkan kelanjutan akting untuk ke depannya. Namun semua seakan buntu karena Derris dari awal merasa salah telah menuruti ide gila Romi. "Jadi bagaimana ini?" teriak Derris setengah putus asa. "Tunggu aku sedang berpikir." sahut Romi. "Dan kenapa Rian tidak ikut kesini?" tanya Derris bingung pada Romi sambil mengusap mukanya dengan kesal. "Oh oh aku tahu." Romi menjentikan jarinya dan tersenyum lebar. "ini rencana terakhir dan ini terserah padamu mau dilakukan atau tidak. Tapi menurutku sebaiknya kau lakukan." saran Romi sambil menyeringai. "Apa?" tanya Derris curiga. Romi menjelaskan pada Derris agar hari ini ia pulang lebih awal untuk lebih meyakinkan aktingnya pada Hana. Derris menatap tajam pada Romi yang telah melontarkan idenya yang semakin gila. Derris berencana akan menjitak kepala pelontos Romi namun mengurungkan niatnya karena ponsel Derris bergetar. Derris meraih ponselnya yang berada di samping kanannya lalu menempelkan di telinga. "Halo." jawab Derris ketus. "....." "Benarkah?" tanya Derris. "...." Derris menyunggingkan senyuman lebar. "Baiklah. Terima kasih atas informasinya." Romi mengernyit pada Derris yang kini sedang tersenyum dengan lebar. "Ada apa?" tanya Romi penasaran. "Setelah aku keluar dari kelas Hana. Rian mengatakan bahwa Hana terlihat sangat khawatir padaku." jelas Derris. "menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Derris. "Lakukan ide yang tadi aku katakan." jawab Romi dengan senyum bangga. "agar semakin meyakinkan." "Kapan aku harus pulang?" kata Derris akhirnya menyetujui ide gila Romi. "Lebih cepat lebih baik." kata Romi. "sekarang cepat minta surat izin pada guru yang sedang piket." usul Romi sambil menepuk-nepuk paha Derris. Derris hanya mengangguk lalu berjalan untuk meminta surat izin pulang. *** Tak lama setelah Derris pulang. Romi datang kembali ke kelas Hana, karena masih ada sisa waktu kurang lebih sepuluh menit untuk melanjutkan dramanya sebelum bel masuk tanda istirahat pertama selesai. Rian yang sedari tadi diam di kelas Hana kini sedang berbincang dengan Sera dan Arin. Melihat kondisi yang sangat menguntungkan baginya, Romi menghampiri Rian untuk melanjutkan aktingnya kembali di depan Hana. "Bro, Derris pulang. Sakitnya membuat dia lemah dan tak berdaya." kata Romi sambil melirik Hana. "Wah sakitnya parah juga sampai harus pulang. Nanti setelah pulang sekolah kita kesana saja untuk menjenguk Derris." jawab Rian yang tak kalah dramatisnya dari Romi. Rian yang sebelumnya telah di beritahu oleh Derris untuk bersekongkol dengan drama yang di buatnya bersama Romi hanya menyetujuinya dengan pasrah. Namun tak lupa untuk meminta bayaran setelah drama ini selesai pada Derris. Hana tidak bergeming. Ia lalu mencoba mengirim pesan singkat pada Derris, namun sampai jam pelajaran selesai tak ada balasan dari Derris. Sore harinya setelah bel pulang berbunyi. Hana bertemu dengan Rian dan Romi di gerbang sekolah. Mereka berdua mengajak Hana untuk melihat keadaan Derris. Hana yang merasa bersalah pada Derris hanya mengangguk kecil dan ikut menjenguk Derris. Rian mengetuk pintu kost Derris perlahan. Namun tidak ada jawaban dari dalam, Rian mencoba membuka gagang pintu tersebut. Dan ternyata pintu tersebut tidak di kunci oleh Derris. Mereka bertiga masuk ke dalam. Ruangan kamar kost Derris cukup gelap karena lampu kamar belum di nyalakan. Terlebih cuaca dari luar jendela kamar Derris sedang mendung, semakin menambah gelapnya kamar Derris. Rian menyalakan tombol lampu yang berada di samping pintu masuk. Kini terlihatlah Derris yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya masih mengenakan seragam sekolah yang belum di gantinya. Mereka bertiga berjalan ke arah tempat tidur Derris. Rian mendekati Derris, "Hei bangun." kata Rian. Derris menggeliat dan bergumam tak jelas. Romi menepuk-nepuk kaki Derris. "Hei, kami sudah datang." ujar Romi. Derris akhirnya membuka mata lalu menggosoknya pelan. Derris terkejut melihat Hana yang datang ke tempat kostnya. Padahal rencananya setelah Hana pulang sekolah, Derris akan mengajak Hana bertemu untuk meminta maaf atas tindakannya hari ini. Namun tanpa di duga Hana malah datang ke tempat kostnya membuat drama ini semakin menarik. "Kami akan membeli obat untuk Derris. Temani dia sebentar." kata Rian pada Hana. Mereka berdua berjalan keluar dan meninggalkan Hana berdua dengan Derris. Suasana yang canggung membuat Hana dan Derris tidak mengeluarkan sepatah kata. Mereka diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hana yang masih berdiri beberapa langkah dari tempat tidur Derris, akhirnya berjalan ke arah dapur membuat Derris kebingungan. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Derris. "Membuat bubur." jawab Hana santai. "sebelum meminum obat kamu harus makan terlebih dahulu." Hana lalu mengeluarkan panci kecil lalu mulai sibuk membuat bubur. Derris tersenyum lebar melihat Hana yang sangat perhatian padanya. Namun sedetik kemudian senyumnya lenyap, ia begidik ngeri teringat akan bubur buatan Hana tempo hari saat Derris sedang sakit. Derris berdeham. "Tidak usah memasak, biar Rian saja nanti membeli makanan di luar." "Jadi bubur buatanku tidak enak?" tanya Hana sinis tanpa membalikkan badannya. Derris menelan ludah dengan susah payah mendengar jawaban Hana. "Oh ah eenak kok." gagap Derris. "baiklah lanjutkan memasaknya. Aku akan memakan bubur buatanmu." kata Derris menyerah. Bubur yang telah matang Hana bawa ke hadapan Derris. Warna dan tekstur bubur tersebut sama persis seperti dulu. Namun kini warna hijaulah yang terlihat lebih dominan dari bubur tersebut. Derris mengucapkan terima kasih pada Hana lalu mulai menyendok sesuap bubur tersebut ke dalam mulutnya. Rasanya sama seperti dulu, pikir Derris. "Eennaak." Derris menelan bubur dengan susah payah lalu mengangkat satu jempolnya pada Hana. "sebaiknya kamu jangan berdekatan dulu, nanti kamu ketularan." kata Derris di buat selemah mungkin. Hana memutar bola matanya. "Jangan berlebihan. Tidak enak badan, tidak akan menular." Derris kembali berpura-pura batuk dengan semangat agar Hana lebih percaya bahwa Derris memang sedang sakit. "Terlihat seperti berpura-pura." kata Hana sinis, Derris hanya tersenyum kecil sambil menyuapkan kembali bubur tersebut. Hana mengambil air minum untuk Derris lalu menyimpannya di atas meja yang berada di dekat tempat tidur Derris. "Lama sekali yang membeli obat." gumam Hana sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Berdua saja dengan Derris malah membuatnya semakin canggung. Derris menyimpan mangkuk yang buburnya tinggal setengah di atas meja. "Maaf." gumam Derris. "aku hanya ingin membuat kamu menjadi tokoh utama di hari ulang tahunmu." lanjut Derris penuh sesal. "Aku mengerti. Kamu melakukan itu karena kamu peduli padaku." sahut Hana. "tidak mungkin kamu melakukan kejutan itu pada orang yang kamu benci." tambah Hana. Derris tersenyum kecil membenarkan perkataan Hana. Mereka terdiam kembali. Derris lalu meraih gelas dan meminumnya sampai air habis. "Padahal aku marah-marah tadi. Mana mungkin kamu akan meminta maaf terlebih dulu padaku." kata Derris lalu menyimpan kembali gelas tersebut di atas meja. Hana memalingkan wajahnya, karena perkataan Derris barusan memanglah benar. Hana kembali menatap wajah Derris. "Istirahatlah, nanti aku bangunkan kalo Rian dan Romi sudah sampai." kata Hana lalu berjalan pelan ke arah Derris dan meraih selimut berwarna biru tua yang masih terlihat rapi di ujung kasur. Derris bangkit berdiri dan meraih tangan Hana kemudian memeluknya dengan erat. Membenamkan wajahnya di lekukan bahu Hana. "Selamat ulang tahun Hana." bisik Derris pelan. "maafkan aku yang sudah mengacaukan hari ulang tahunmu." Hana membalas pelukan Derris. "Semuanya sudah berlalu." sahut Hana pelan. Tiba-tiba pintu kost Derris terbuka memunculkan Romi dan Rian yang masing-masing membawa satu kantong keresek berwarna putih yang berukuran besar. Hana langsung mendorong tubuh Derris dan mundur beberapa langkah dan memalingkan wajahnya karena malu. "Sedang apa kalian?" tanya Romi usil melihat muka Hana yang berubah warna menjadi merah. Derris menggaruk belakang kepalanya lalu duduk di atas tempat tidurnya sambil tersenyum kecil. "Kalian membawa apa?" tanya Derris mengalihkan pembicaraan. Rian mengangkat kantong plastik putih. "Kita adakan pesta ulang tahun Hana disini." sahut Rian. "Sebentar lagi Sera dan Arin akan segera datang." seru Romi penuh semangat. "Tapi Derris harus istirahat." kata Hana. "Tenang saja, dia hanya berpura-pur,.." Bukk. Derris langsung melempar bantal ke arah wajah Romi. Sebelum Romi membongkar semua ide gila yang sedang dilakukannya. "Kenapa aku di lempar bant.." Romi menghentikan ucapannya, ketika melihat Hana menghampiri Derris dengan kedua tangan yang sudah terkepal. Derris hanya tersenyum malu pada Hana dan beralih menatap tajam pada Romi yang kini sedang tersenyum kikuk ke arahnya. "Jadi kamu berpura-pura?" tanya Hana kesal. "Tunggu sayang, aku bisa jelaskan." kata Derris sambil mengangkat kedua tangannya. Hana lalu menjitak kepala Derris cukup keras. "Keterlaluan." sungut Hana kesal. Rian dan Romi tertawa lebar melihat Derris yang kini sedang di pukuli bantal oleh Hana. Tak lama Sera dan Arin pun datang, mereka akhirnya berpesta kecil di rumah Derris sampai malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD