Bab 23

2164 Words
Pagi ini Derris bangun terlambat. Rian yang sejak sepuluh menit yang lalu mengetuk pintu kamar kost Derris mulai kesal dan mulai menggedor pintu tersebut dengan kasar. Suara gedoran pintu yang kasar membangunkannya dari tidur yang lelap. Derris membuka matanya lalu menggosoknya pelan. Ia berdecak kesal lalu berjalan membuka pintu kamarnya. Seketika Rian langsung masuk ke dalam kamar Derris dan menyuruhnya untuk segera bersiap pergi ke sekolah. Derris yang belum sepenuhnya sadar masih berdiri di tempatnya dengan tatapan bingung pada Rian. Rian yang kesal lalu membentak Derris. "Kita bisa terlambat, cepat siap-siap." Derris baru tersadar ketika melirik jam dindingnya yang menunjukan pukul setengah tujuh, ia langsung berlari ke kamar mandi dan mencuci mukanya dengan asal. Kurang dari sepuluh menit Derris telah bersiap untuk pergi ke sekolah. Ia berlari bersama Rian menuju halte. Bis yang akan mengantarnya ke sekolah tengah berhenti, mereka lalu mempercepat larinya agar tidak ketinggalan bis. Sesampainya di dalam bis Derris melupakan hal yang penting, dompet. Benda kecil itu tersimpan di atas tempat tidurnya. Ia mengusap wajahnya dengan kesal. "Aku lupa membawa dompet." bisik Derris pada Rian yang kini tengah sibuk mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celananya. Rian berdecak kesal. "Sepertinya sudah menjadi kebiasaanmu menyusahkan orang lain." gerutu Rian. Rian lalu membayar ongkos mereka berdua. Derris tersenyum lebar dan merangkul bahu Rian. Seakan teringat sesuatu Derris lalu melepaskan rangkulannya. "Astaga aku lupa dengan Hana." gumam Derris. "Dia sudah pergi duluan." jawaban Rian membuatnya bisa bernafas dengan lega. Jam istirahat pertama Derris langsung menghampiri Hana ke kelasnya, karena hari ini Derris belum melihat Hana sama sekali. Saat Derris sudah sampai di ambang pintu kelas. Hana, Sera dan Arin sedang berjalan menuju arah Derris. "Mau kemana?" tanya Derris. "Kantin. Yuk ikut." ajak Arin pada Derris. Derris mengangguk lalu berjalan di sebelah Hana. Mereka berempat berjalan melewati kelas dan koridor agar tidak terkena panas matahari. Di kantin saat Hana bertanya pada Derris akan memesan apa. Derris baru teringat pada dompetnya yang tertinggal. Ia seketika menarik tangan Hana yang kini sedang berjalan ke arah gerobak soto ayam. "Dompetku tertinggal." bisik Derris. Hana memutar bola matanya. "Kebiasaan." sungut Hana. "beli saja, aku yang bayar." Derris ingin menerima tawaran Hana untuk membeli makan. Terlebih perutnya sangat keroncongan karena melewatkan sarapan tadi pagi karena bangun kesiangan. Derris berpikir sejenak lalu ia menggelengkan kepalanya. Merasa harga dirinya terluka jika ia menerima tawaran Hana. Sebagai lelaki yang memiliki harga diri yang tinggi ia lebih memilih untuk kelaparan dari pada harus di traktir Hana. Derris tersenyum kecil. "Tidak usah. Aku tidak lapar." jawab Derris di buat tegas. "Baiklah kalo begitu. Ingat aku sudah menawarimu." kata Hana lalu memesan soto ayam untuk dirinya sendiri. Setelah pesanan mereka selesai. Hana dan Derris berjalan telebih dahulu mencari meja yang kosong. Arin dan Sera yang masih menunggu pesanannya meminta Hana untuk menempati tempat duduk Sera dan Arin. Derris mengekor di belakang Hana sambil membawakan soto ayam dan nasi yang telah dipesan oleh Hana. Sedangkan di kedua tangan Hana membawa satu jus jeruk untuknya dan satu lagi jus alpukat untuk Derris. Meskipun pada awalnya Derris menolak Hana untuk membelikannya jus, namun akhirnya ia menyerah juga karena ancaman yang di berikan oleh Hana padanya. Jam masuk istirahat telah berbunyi. Hana, Arin dan Sera ke kelas terlebih dahulu, sedangkan Derris pamitan pada Hana untuk ke toilet. Sepanjang sisa pelajaran berlangsung Derris terus memegangi perutnya yang terus keroncongan. Ia mengusap pelan perutnya agar tidak terdengar oleh Rian yang duduk di sebelahnya. Namun usahanya sia-sia Rian kini sadar dan menengok ke arah Derris yang kini sedang menatapnya dengan tersenyum malu. "Aku tidak bisa menghentikan suara perut ini." bisik Derris. "Coba ke toilet dan minum air yang banyak disana, agar perutmu tidak berbunyi terus." ejek Rian Guru yang sedang menjelaskan di depan kelas berdehem kecil, memperingatkan agar Rian dan Derris tidak berisik. Guru yang sedang mengajar sekarang merupakan salah satu guru killer dan juga sangat tegas. Derris dan Rian memilih berhenti mengobrol sebelum dikeluarkan dari dalam kelas. Sesampainya di tempat kost Derris lalu mencari bahan makanan yang bisa di masak untuk ia makan. Ia melewatkan sarapan dan juga jam makan siang hari ini. Perutnya yang terus keroncongan hanya di isi oleh air supaya bisa menekan rasa laparnya. Derris membuka kulkas kecilnya, dan ternyata hanya ada tiga telur di dalam kulkasnya. Biasanya setiap bulan ibunya selalu mengirim bahan makanan dan juga uang bulanan untuk keperluannya. Namun karena bulan ini teman-temannya selalu berkunjung dan tak lupa Derris memasak makanan yang berlebihan untuk Hana saat ulang tahunnya, maka bahan makanan yang harusnya cukup untuk satu bulan malah telah habis dalam kurun waktu dua minggu. Ia pun bergegas meraih dompetnya untuk membeli makanan. Namun sayang uangnya tinggal berwarna merah dan juga hanya satu lembar. "Kiriman uang masih lama." keluh Derris lalu menutup kembali dompet dan menyimpannya kembali di atas tempat tidur. Selagi berpikir bagaimana nasibnya untuk dua minggu ke depan Derris berjalan ke arah dapur dan membuat omlet dengan menggunakan satu telur yang sudah di pastikan tidak dapat membuatnya kenyang. Keesokan harinya Derris kembali bangun terlambat. Rian datang dan membangunkan Derris kembali seperti kemarin. Derris segera bersiap-siap dan melewatkan sarapannya kembali. Ia berjalan gontai menuju kelasnya, kali ini dompetnya tidak tertinggal namun uang berwarna merahnya telah berubah warna karena membayar ongkos bis dan membayar hutangnya pada Rian kemarin. "Tumben ngga ke kelas Hana?" tanya Rian. "Jangan banyak bertanya. Aku sedang berpikir." jawab Derris lalu mulai membuka ponselnya dan mencari lowongan kerja part-time. Rian lalu melirik pada Derris yang sedang sibuk dengan ponselnya. "Kau mau bekerja?" tanya Rian penasaran. Derris mengangguk sambil terus mencari lowongan yang sesuai untuknya. "Kau pasti akan di bunuh ibumu." Rian bergidik ngeri membayangkan ibunya Derris yang begitu sangat pemarah. "Jangan sampai tahu." sahut Derris cepat. "Kenapa tidak bekerja di tempat ayahmu?" usul Rian. Derris mengangkat kepalanya dari ponsel lalu menengok ke arah Rian. "Itu sama saja dengan mengantarkan nyawa." desah Derris. "karyawan disana akan memberitahu ibu bahwa aku bekerja disana." Derris lalu menyimpan ponselnya di atas meja. "Sudah selesai?" "Semuanya tidak sesuai dengan keinginanku. Rata-rata harus mempunyai pengalaman dan juga siap bekerja sampai larut malam." keluh Derris. Rian menganggukan kepalanya. "Baiklah selamat berpikir." ejek Rian lalu memainkan ponselnya. Jam istirahat pertama Derris memilih untuk tidak menemui Hana di kelasnya. Ia sedang bertahan hidup agar tidak membelikan sesuatu dari uang sakunya. Ponsel Derris bergetar, ia lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. "Halo sayang." kata Derris riang. "Ayo ke kantin." ajak Hana di seberang sana. Derris terdiam sejenak, lalu berbisik sangat pelan. "Hari ini aku sangat mengantuk. Maaf ya, kamu duluan saja sayang." elak Derris. "Hmm." gumam Hana dan langsung mematikan sambungan. Derris menghembuskan nafasnya pelan. Lalu menyimpan kembali ponselnya di saku celana. "Kenapa kau berbohong?" tanya Romi yang sedang berada di belakangnya. Derris terlonjak kaget. "Ah s**l mengagetkan saja." gerutu Derris. "aku tidak bohong." Romi berdecak pelan. "Terserah. Eh bagaimana kalo pulang sekolah kita ke warnet?" ajak Romi. "Tidak. Aku sedang berhemat." jawab Derris langsung. "Kau kan selalu banyak uang, kenapa tiba-tiba ingin berhemat?" tanya Romi heran. Karena biasanya Derris yang selalu banyak uang dan selalu mentraktir teman-temannya. "Ah sudahlah jangan berisik." sungut Derris, Ia lalu bangkit dari kursinya dan berjalan keluar untuk ke toilet. Sebelum sampai ke pintu, tanpa di duga Derris di kagetkan kembali dengan kemunculan Hana yang sedang berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Derris tersenyum kecil dan bertanya pada Hana. "Sedang apa sayang?" tanya Derris setelah jaraknya dan Hana cukup dekat. "Hanya memastikan kau masih hidup." jawab Hana. "mau kemana?" tanya Hana. Derris tersenyum kecil. "Oh aku mau ke toilet." jawab Derris. Hana mengangguk kecil lalu pergi meninggalkan kelas Derris. Setelah Hana pergi ke arah kelasnya, Derris langsung buru-buru berlari kecil ke toilet untuk mengganjal perutnya yang sudah keroncongan. Derris sedang meminum air dari keran sampai akhirnya ia di kejutkan oleh seseorang yang menepuk punggungnya cukup keras. "Sudah kenyang?" ejek Rian sambil tertawa melihat tingkah laku sahabatnya. "Ah keterlaluan aku hampir tersedak." Derris menepuk-nepuk dadanya. "Sudahlah ayo ke kantin." ajak Rian prihatin melihat Derris hanya mengisi perutnya dengan air mentah. Derris menolak tawaran Rian dengan cepat, karena Rian selalu menipunya dalam kesempatan apapun. Akhirnya ia memilih untuk kembali ke kelasnya dengan Rian yang terus menertawakannya. *** Setelah pulang sekolah Hana sedang berdiri di depan kelasnya sambil menunggu Derris. Dua hari ini Derris terlihat berbeda, terlebih saat Hana sedang mengajaknya ke kantin Derris selalu menolak dengan berbagai alasan. Maka dari itu Hana akan memastikan kebenarannya hari ini dengan perubahan Derris. Tak lama Derris menghampiri Hana. Ia tersenyum lebar seperti biasa. Hari ini pulang lebih awal. Hana berniat untuk mengajak Derris untuk menonton ke bioskop. "Hari ini kita nonton." kata Hana di tengah perjalanan menuju ke halte bis. Derris menghentikan langkahnya. "Bagaimana kalau awal bulan?" tawar Derris. Hana menghentikan langkahnya lalu membalikan badannya pada Derris yang hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri. "Aku sudah memesan tiketnya." Derris terlihat panik namun akhirnya menyetujuinya dengan senyum yang di paksakan. Setelah sampai di mal, Hana mengajak Derris untuk makan terlebih dahulu, karena masih tersisa waktu sebelum film di mulai. "Kita makan disini?" tanya Derris ketika mereka telah duduk di restoran pasta yang pernah mereka kunjungi sebelumnya. Rasa dari pasta disini memanglah sangat lezat, namun harga makanannya pun sanggup membuat kantong Derris terkuras habis. Derris menelan ludah dengan susah payah. "Bagaimana kalau kita pindah ke tempat lain saja?" bisik Derris pelan. Hana mengangkat wajahnya dari buku menu yang sedang di lihatnya. "Kita sudah sampai disini masa harus keluar." kata Hana. "aku yang pilihkan menunya." kata Hana akhirnya sambil melirik Derris yang terlihat gelisah. "Aku akan pesan creamy pasta dan lemontea. Kamu pesan meat lover dan lemontea juga." kata Hana. "ah satu lagi pesan pizza kita makan berdua." kata Hana di akhir kalimatnya lalu menutup buku menu. Derris terpaku dengan menu yang Hana pesan. Otaknya berpikir keras menghitung semua harga pesanan mereka. "Aku ke toilet sebentar." Hana bangkit lalu berjalan ke arah kasir untuk memberikan menu dan membayar semua pesanannya. Setelah membayar semua pesanannya Hana membuang bukti pembayarannya ke tempat sampah yang berada di dekat kasir. Hana langsung melangkahkan kakinya ke toilet. Brruukk. "Ah maaf." ucap Hana sambil membantu seorang wanita yang tidak sengaja di tabraknya di depan toilet. Wanita itu menggunakan dres berwarna merah tua dan terlihat usianya tidak berbeda jauh dengan Hana. Wanita itu tersenyum kecil pada Hana. "Aku harusnya lebih berhati-hati." ucap wanita itu ramah, lalu berjalan kembali ke restoran. Hana menatap punggung wanita itu yang kini sudah tidak terlihat. Ia pun lalu masuk ke dalam toilet wanita. Setelah Hana kembali duduk di hadapan Derris. Hana melihat Derris yang semakin gelisah. Derris seakan ingin mengatakan sesuatu namun selalu ia urungkan. "Kenapa?" tanya Hana. "Ah tidak apa-apa." ucap Derris menghilangkan rasa gelisahnya. Tak lama pesanan mereka telah datang, Hana langsung menyantap makanan tersebut. Namun Derris hanya menatap makanan yang ada di hadapannya. "Kenapa tidak di makan?" tanya Hana bingung. Derris tersenyum kikuk. "Oh ini aku akan makan," Derris langsung meraih garpu dan mulai mengambil satu suapan makanannya dengan ragu. "Hana kamu bawa uang?" bisik Derris. "Hmm." gumam Hana. Derris berdeham kecil. "Aku ingin meminta tolong padamu." pinta Derris. Hana menatap wajah Derris yang terlihat serius. "Apa?" "Tapi kamu jangan menertawakanku atau meledekku." "Iya apa?" tanya Hana tidak sabar. "Aku pinjam dulu uangmu untuk membayar ini semua." pinta Derris. "aku hanya membawa uang sedikit hari ini." Hana memutar bola matanya. Ternyata benar dugaan Hana, bahwa Derris sedang tidak memiliki uang. Beberapa bulan mengenal Derris, ini adalah kali pertama Derris meminjam uang untuk membayar makanan yang akan mereka makan. Padahal selama ini Derris yang selalu membayar dan menolak Hana apabila ia ingin membayar setengahnya dari tagihan makanan ataupun barang yang di belinya. Namun Derris selalu menolaknya dengan halus. Entah berapa banyak uang saku yang di berikan oleh kedua orangtuanya, sehingga membuat Derris terlalu royal pada Hana. Namun kali ini sepertinya Derris sedang di uji agar bisa lebih berhemat dalam mengeluarkan uangnya. Melihat Hana yang diam saja, Derris meraih tangan Hana yang berada di atas meja. "Aku janji akan membayarnya." ucap Derris meyakinkan Hana. "Hmm." gumam Hana. Derris tersenyum lega, kini tinggal memikirkan bagaimana caranya untuk membayar hutangnya pada Hana dengan cepat. Hana dan Derris telah menyelesaikan makanannya. Mereka berdua lalu berjalan keluar, Hana melewati kasir bergitu saja membuat Derris kebingungan. Derris lalu menahan tangan Hana untuk bertanya. "Kamu sudah bayar?" tanya Derris keheranan. Hana hanya mengangguk. "kapan?" "Ketika aku ke toilet." jawab Hana santai. "Tapi kenapa kamu sudah membayarnya?" tanya Derris. "Di wajahmu terlihat jelas kamu sedang tidak mempunyai uang." ejek Hana. Derris tersenyum malu lalu meraba wajahnya. "Benarkah terlihat jelas?" tanya Derris dengan muka yang bersemu merah. Hana mengangguk kembali. "Lagi pula selama ini hanya aku yang terus menerima." kata Hana. "dan aku heran dari mana kamu mempunyai uang yang, yaah cukup banyak." Derris tersenyum malu. "Aku hanya menabungnya." tanpa di duga Derris lalu menarik tangan Hana lalu memeluknya dengan sangat erat. "terima kasih Hana." Hana langsung mendorong Derris lalu mencubit tangannya sampai mengaduh kesakitan. Hana melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Derris menuju bioskop yang berada di ujung mal. Hana sangat malu karena Derris dengan seenaknya memeluk Hana di tempat umum. Derris mengikuti langkah Hana dari belakang sambil terkekeh geli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD