Bab 24

1768 Words
Hana berjalan pelan menyusuri koridor untuk kembali ke kelasnya, ia baru saja dari ruang guru membantu membawakan beberapa buku tugas yang berasal dari kelasnya. Sesampainya di kelas, Derris tengah duduk di kursinya sambil memainkan ponsel. Terlihat di samping Derris ada Niken yang sedang mengajak Derris mengobrol dengan penuh antusias. Namun Derris hanya menanggapinya dengan anggukan kecil tanpa sekalipun melihat ke arah Niken. Kejadian seperti ini kadang selalu terlihat oleh Hana. Seperti contohnya Hana yang sedang berjalan melewati kelas Derris dan melihat Niken sedang mengobrol dengan Derris. Seperti saat ini, Derris pun menanggapi Niken dengan diam dan hanya memainkan ponselnya. Mungkin ini hanya perasaan berlebihan Hana, karena Niken adalah pacar Romi jadi mungkin saja Niken ke kelas Romi dan kebetulan bertemu dengan Derris yang tempat duduknya persis di depan Romi. Namun yang menjadi pertanyaan adalah keberadaan Romi dan Rian yang tidak ada di kelas pada saat itu. Sera dan Arin pun pernah menceritakan bahwa tidak sengaja melihat Niken dan Derris di lapangan belakang. Derris yang sedang duduk di pinggir lapangan melihat pertandingan bola dari kelas lain, ia di ganggu oleh Niken yang terus bergelayut manja di lengannya, Derris terlihat marah pada tingkah Niken yang di anggapnya berlebihan, Derris pun akhirnya memilih pergi meninggalkan Niken yang duduk di pinggir lapangan sambil cemberut. Sera pun sebelumnya telah mewanti-wantin Hana agar lebih berhati-hati pada Niken. Namun Hana mencoba percaya pada Derris. Selama tingkah laku Niken belum melewati batas Hana masih bisa bersabar. Derris yang melirik Hana yang sedang berjalan ke arahnya langsung tersenyum lebar dan bangkit menghampiri Hana. Mata Niken yang mengikuti langkah Derris yang mendekati Hana lalu bangkit dan berdiri di sebelah meja Hana. Niken tersenyum kecil pada Hana. "Jangan salah paham, Hana, aku hanya menemani Derris yang sedang menunggumu." Hana langsung duduk di kursinya dan Derris berdiri di samping Hana. "Terima kasih karena sudah baik hati menemani Derris." ujar Hana. "karena aku sudah datang jadi kamu bisa kembali ke tempat dudukmu." "Baiklah aku akan kembali ke tempat dudukku. Sampai jumpa Derris." Niken melambaikan tangan pada Derris. Hana lalu melirik tajam pada Derris dan malah membuat Derris tersenyum kecil. Derris lalu berjalan memutari meja dan duduk di sebelah Hana. "Kamu terlihat cemburu." goda Derris. "Dalam mimpimu." Hana lalu mengambil ponselnya di dalam tas. "Oh Niken mengajak kita makan-makan bersama untuk merayakan ulang tahunnya." kata Derris. "Aku tidak tertarik." jawab Hana singkat. Derris menyunggingkan senyuman lebar lalu mendekatkan tubuhnya pada Hana. "Aku sudah mengatakan iya pada Niken." "Ya sudah kamu saja yang pergi." sahut Hana. "itupun kalo mau mati." ancam Hana. Derris langsung memundurkan tubuhnya mendengar ancaman Hana. "Baiklah aku juga tidak tertarik untuk ikut." Derris lalu menepuk-nepuk bahu Hana pelan. *** Hari kasih sayang yang jatuh pada hari ini bagi sebagian orang merupakan hari yang sangat spesial, terlebih bagi sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara. Namum bagi Derris yang tidak pernah merayakannya dan sama sekali tidak tahu menahu tentang hari ini merasa aneh. Derris yang sedang berjalan di koridor sekolah menuju kelasnya keheranan. Pasalnya banyak sekali pasangan kekasih yang saling memberikan kado dan saling memberikan coklat. Sepanjang perjalanan pun Derris menyempatkan melirik pada kelas lain, dan ternyata banyak yang sedang bermesraan di dalam kelas. Derris langsung mempercepat langkahnya menuju ke kelasnya. "Hari ini aku melihat banyak keanehan." kata Derris setelah duduk di sebelah Rian. Rian langsung menengok pada Derris. "Setiap hari aku juga selalu melihat keanehan dalam dirimu." sahut Rian santai. Derris berdecak kesal. "Maksudku hari ini banyak sekali pasangan yang saling memberikan kado. Malah tadi aku lihat ada yang saling memberi coklat." Romi menepuk bahu Derris dengan kencang dari arah belakang. "Kau tidak tahu hari ini hari apa?" tanya Romi tidak percaya. Derris hanya menggeleng dengan kebingungan sambil mengusap bahunya bekas tepukan Romi yang kini terasa sakit. Romi menepuk keningnya. "Hari ini adalah hari kasih sayang." Derris membulatkan bibirnya menyerupai huruf o sambil mengangguk-nganggukan kepalanya. "Jadi?" Sebelum Romi menjawab pertanyaan Derris, Niken datang dengan membawa paper bag berwarna coklat berukuran sedang dengan senyuman yang lebar. Romi yang melihat Niken datang langsung berdiri dan menghampiri Niken yang kini berdiri di samping meja Derris. "Ini sayang untukmu." kata Niken sambil memberikan coklat persegi panjang pada Romi. Romi tersenyum lebar dan langsung menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Niken lalu membagikan coklat tersebut pada Derris dan Rian dengan ukuran yang sama. "Sepertinya aku tidak usah." kata Derris lalu mengembalikan coklat itu pada Niken. "Kenapa?" tanya Niken bingung. "Karena nanti Hana akan memberikan coklat juga padaku." sahutnya sambil berseri-seri. "aku ingin Hana menjadi orang pertama yang memberikan aku coklat." Derris bangkit berdiri dan berjalan ke kelas Hana dengan penuh rasa percaya diri. Sedangkan kedua temannya hanya menahan senyum membayangkan Derris yang tidak akan mendapatkan apa-apa selain omelan dari Hana. Niken langsung pamit pada Romi untuk kembali ke kelasnya dan sekaligus untuk memata-matai Derris yang akan menemui Hana. Hana sedang duduk di kursinya sambil menulis di buku catatannya. Derris lalu mendekati Hana dan duduk di sampingnya, karena Sera sedang duduk di belakang Hana bersama Arin sambil mengunyah yang entah apa namanya karena Derris tidak memperhatikannya dengan jelas. "Sayang." panggil Derris. "Hmm." gumam Hana sambil terus menulis tanpa melihat Derris. "Kamu tau hari ini hari apa?" tanya Derris dengan senyuman yang lebar. "Hari jumat." jawab Hana santai. "Iya aku tau hari jumat. Tapi hari ini adalah hari spesial." kata Derris tidak sabar. Hana hanya mengangkat bahunya acuh. Derris memutar bola matanya kesal, lalu memandang sekeliling kelas dan oh. Ada sepasang pasangan yang sedang memakan coklat di bangku depan. Mungkin saja bisa membuat Hana mengingat hari ini. "Lihat bangku di depan disana." tunjuk Derris pada barisan meja depan. Hana berdecak kesal karena acara menulisnya terganggu oleh Derris, Hana lalu mengangkat kepalanya dan melihat pada barisan meja depan. Hana menengok pada Derris dan bertanya. "Ada apa?" "Kamu lihat mereka sedang apa?" tanya Derris antusias. "Makan coklat." jawab Hana cuek. Derris tersenyum lebar. "Iya jadi kamu ingat hari ini hari apa?" tanya Derris kembali. Hana menggeleng pelan. membuat Derris mengusap wajahnya dengan kasar. "Hahaha Derris harusnya kau jujur saja tidak usah menggunakan kode seperti itu." Sera dan Arin tertawa lepas dari belakang mendengar percakapan Hana dan Derris yang membuatnya jadi gemas sendiri. Derris membalikkan badannya ke arah belakang. "Kau benar. Harusnya aku sudah paham dengan sifatnya yang seperti itu, tidak mungkin Hana mau susah payah mengingat hari ini." gumam Derris pelan. Sera dan Arin malah semakin menertawakan Derris. Derris membalikan badannya dan menatap Hana yang melanjutkan kembali menulisnya. Derris mendekatkan badannya pada Hana. "Hana hari ini adalah hari kasih sayang, jadi semua pasangan ada yang saling bertukar kado dan juga saling memberi coklat." kata Derris. "Lalu aku harus memberimu coklat?" tanya Hana. Derris mengangguk semangat. "Beli saja sendiri." jawab Hana cuek. "Aku ingin coklat pemberianmu." pinta Derris. Hana berdecak kesal. "Tidak ada, sudah sana pergi jangan ganggu aku." bentak Hana pada Derris. Derris bangkit berdiri sambil menggerutu. "Kalau tau seperti ini, aku akan menerima coklat pemberian Niken." Hana yang terdengar gerutuan Derris lalu memanggil nama Derris dengan kencang. Derris yang sadar akan di marahi Hana langsung berjalan cepat meninggalkan kelas Hana. "Hana kamu tidak akan memberiku coklat?" tanya Derris ketika mereka sedang berjalan di koridor menuju ke gerbang setelah pulang sekolah. "Nanti gigimu sakit." jawab Hana cuek. Derris lalu memajukan beberapa senti bibirnya dengan kesal. "Aku akan gosok gigi." rengek Derris sambil menarik-narik jaket biru yang sedang Hana kenakan. "Kalau kamu tidak melepaskan tanganmu dalam hitungan ketiga, aku akan mencubitmu." ancam Hana. "Satu.. Dua.." Derris langsung melepaskan tangannya dari jaket Hana sambil cemberut. Hana dan Derris berjalan ke arah halte bis. Dan Derris masih memajukan beberapa senti bibirnya dan memilih untuk diam. Hana mendesah. "Kalau sebegitunya ingin coklat, kenapa tidak terima coklat dari Niken?" tanya Hana. "Aku hanya ingin coklat yang di berikan olehmu." rajuk Derris lalu melipat kedua tangannya di depan d**a. Hana memutar kedua bola matanya dengan kesal. Sudah terlalu kebal dengan sifat Derris yang seperti anak kecil ini. Bis tujuan mereka telah datang, Hana lalu bangkit berdiri dan berjalan ke pintu bis. Derris hanya mengekor di belakang Hana. Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Hana melirik sekilas pada Derris, pandangannya fokus lurus ke depan. Hana lalu meraih tangan Derris yang berada di atas pahanya dan menggenggamnya. Derris seketika menengok pada Hana dengan kebingungan. "Mau pilih pegangan tangan sampai rumah atau masih mau coklat?" kata Hana dengan setengah memaksa. "Wah tidak adil sekali." protes Derris. "Yasudah kalo tidak mau." Hana melepas genggaman tangannya pada Derris. Namun Derris dengan cepat langsung menahan kembali tangan Hana. "Sampai di depan rumahmu." ancam Derris. Hana hanya mengangkat bahu. Derris tersenyum dan menatap Hana sekilas, lalu mengeratkan genggamannya pada lengan Hana. Hana mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela memikirkan bagaimana caranya untuk memberikan coklat yang sengaja di belinya saat jam istirahat kedua pada Derris. Ada dua kemungkinan yang terpikirkan oleh Hana, langsung memberikannya pada Derris atau memberikannya secara sembunyi-sembunyi. Karena cara pertama sudah pasti tidak akan Hana lakukan, maka Hana lebih memilih melakukan cara kedua. Disaat Hana sedang berpikir bis tiba-tiba berhenti dan menaikkan beberapa penumpang. Seorang ibu yang sedang menggendong anaknya dan seorang nenek yang membawa kantong belanjaan cukup besar berjalan ke arah tempat duduk Hana yang berada di belakang bis. Keadaan bis sore ini cukup penuh dan penumpang yang baru saja masuk tidak mendapatkan tempat duduk. Hana menggoyang-goyangkan genggaman tangannya pada Derris, lalu berbisik pelan. "Kamu berdiri, kasih kursinya ke ibu itu." tunjuk Hana dengan dagunya. Derris mengangguk lalu melepaskan genggaman tangannya pada Hana. Hana pun ikut berdiri dan mempersilahkan ibu dan nenek yang mendekati kursi mereka untuk duduk. Mereka berdua berdiri di dekat kursi yang tadi mereka tempati. Supir pun kembali melajukan kembali bisnya. Hana yang berdiri tepat di belakang Derris berpegangan pada kursi di sampingnya untuk menjaga keseimbangannya. Hana menatap Derris sekilas yang sedang fokus melihat ke depan bis, Hana lalu mengambil coklat yang berada di dalam saku jaketnya dan membuka sedikit reslesting tas Derris lalu menyelipkan coklat tersebut ke dalamnya. Setelah coklat itu masuk Hana lalu menutup kembali reslesting tas Derris dengan sangat pelan agar Derris tidak menyadarinya. Derris menggenggam kembali tangan Hana ketika mereka sedang berjalan pelan menuju rumah Hana. "Sepertinya ada yang sedang bahagia." ejek Hana yang melihat Derris terus tersenyum sepanjang perjalanan. "Tentu saja." jawab Derris sambil menaikkan genggaman tangannya pada Hana. Hana memutar kedua bolanya lalu menarik tangannya. "Sudah sampai, pulang sana." usir Hana pada Derris. Terlihat wajah Derris yang kecewa. Ia mengangguk dan melambaikan tangannya pada Hana lalu berjalan pulang ke tempat kostnya. Hana masih berdiri di depan rumahnya dan memandangi punggung Derris yang kini mulai menjauh. Hana lalu mengambil ponsel di dalam saku seragam sekolahnya lalu mengirim sebuah pesan singkat pada Derris. Setelah pesan di kirim Hana langsung memasukan ponselnya ke dalam saku jaketnya dan masuk ke dalam rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD