Bab 25

1269 Words
Derris sedang duduk di atas tempat tidurnya lalu mencari ponsel di dalam saku jaketnya yang sudah bergetar sejak tadi ia memasuki tempat kostnya. Ia membuka pesan yang di kirim oleh Hana. Lihat isi tasmu. Singkat padat seperti biasa, Derris langsung meraih tasnya yang berada di sampingnya. Ia membuka reslesting tasnya dan mengubek-ubek isinya. Derris memegang sesuatu yang berbeda di dalam isi tasnya di bagian belakang. Ia tersenyum kecil lalu mengeluarkan benda tersebut. Dan ternyata itu adalah coklat yang di berikan Hana untuknya. Derris lalu meraih ponsel yang di simpannya di atas meja dan segera membalas pesan Hana dengan cepat dan kembali melihat coklat yang berada di tangannya sambil menciumnya. Derris langsung berfoto dan mengunggah foto dirinya dan juga coklat pemberian Hana di akun sosial medianya Ponsel yang sedang di pegangnya kembali bergetar. Derris lalu melihat sebuah pesan yang berasal dari akun sosial medianya dan langsung terdiam membeku. Dari Sarah. mantan pacar Derris sewaktu masih duduk di bangku SMP. Hai Derris, apa kabar? Derris menggelengkan kepalanya dan terus melihat isi pesan tersebut. Nama Sarah sangat banyak, mungkin saja ini Sarah yang lain. Derris memilih untuk mengabaikan pesan tersebut. Dan merebahkan badannya di atas tempat tidur lalu menyimpan ponsel dan coklat pemberian Hana di sampingnya. Ponselnya kembali bergetar, Derris meraih ponsel yang berada di sampingnya dengan kasar sambil berdecak. Ini Sarah, mantan pacarmu. Apakah kamu ada waktu? Aku ingin bertemu dan berbicara sebentar denganmu. Derris melongo dengan isi pesan yang di kirim oleh Sarah. Ia lalu membalas pesan Sarah. Maaf tidak bisa. Aku sudah mempunyai kekasih. Tak lama Sarah membalas kembali pesan Derris. Selama ini aku sangat menderita karena terpaksa harus putus denganmu. Derris terdiam lalu memilih untuk tidak membalas pesan dari Sarah. Derris memejamkan matanya, mencerna informasi yang baru saja ia ketahui tentang hubungannya di masa lalu. Sangat jelas di ingatan Derris bahwa Sarah yang terlebih dahulu mengakhiri hubungannya bersama Derris, hubungan yang hanya bertahan dalam kurun waktu satu bulan itu Derris hanya mengiyakan tanpa banyak bertanya pada keputusan yang di ambil oleh Sarah. Semenjak hari itu dirinya dan Sarah tidak pernah saling berkomunikasi. Namun kini secara tiba-tiba Sarah yang terlebih dahulu menghubunginya kembali dan ingin mengajaknya bertemu. Derris langsung membuka matanya dan menggelengkan kepala mengingat Hana yang saat ini sangat Derris sukai. Derris bangkit lalu membuka jaketnya dan berjalan ke kamar mandi. Sepertinya Derris membutuhkan mandi air dingin agar bisa menghilangkan segala pikiran-pikiran aneh yang berseliweran dalam otaknya. Senin pagi Derris sedang duduk sendirian menunggu Hana di halte seperti biasa. Derris menerawang jauh memikirkan akhir pekannya kemarin yang sangat terganggu oleh sikap Sarah yang terus menghubungi di akun sosial medianya. Entah bagaimana Sarah yang sudah dua tahun tidak berkomunikasi dengannya bisa mendapatkan nomor Derris yang baru. Padahal nomor ponselnya baru di ganti beberapa bulan yang lalu. Sarah pun dengan nekat menelpon Derris menggunakan nomor telepon yang tidak di kenalnya. Dan tanpa sengaja Derris menerima panggilan telepon Sarah lalu karena panik ia lalu memutuskan panggilan sebelum Sarah berbicara. Derris yang terus melamun tidak menyadari bahwa Hana telah duduk di sampingnya sejak lima menit yang lalu dan memperhatikan raut wajah Derris yang sangat kusut pagi ini. Hana menggeleng pelan lalu menepuk bahu Derris pelan. Derris langsung terlonjak kaget dan menatap Hana dengan bingung. "Masih pagi udah ngelamun." sindir Hana. Derris tersenyum malu. Merasa bersalah karena sedang memikirkan mantan pacarnya dan sekarang seperti ketahuan oleh Hana. "Selamat pagi sayang, kamu sudah sarapan?" tanya Derris mengalihkan pembicaraan. "Kamu sendiri sudah sarapan?" Hana balik bertanya. "Udah dong." sahut Derris. "oh itu bisnya sudah datang. Ayo Hana." Derris menunjuk bis yang baru saja berhenti di depan halte. Lalu mereka berdua menaiki bis tersebut. Derris sedang duduk di pinggir lapangan belakang sambil melihat pertandingan sepak bola dari kelasnya setelah jam olahraga selesai. Pikirannya sangat kacau, ia butuh seseorang yang bisa membantunya berbagi masalah ini. Namun orang yang sangat mengetahui dirinya hari ini tidak masuk, karena sedang izin menjenguk kerabatnya yang sedang sakit. "Arrgghh." teriak Derris frustrasi. Membuat beberapa temannya yang sedang bermain bola melirik padanya dengan bingung. Sadar akan dirinya yang menjadi perhatian Derris tersenyum malu. Lalu bangkit dan kembali ke kelasnya. Sebelum pergi ke kelasnya Derris menyempatkan untuk ke kantin membeli s**u coklat untuk Hana. Sepanjang perjalanan dari lapangan belakang sampai kantin, Derris telah memutuskan untuk tidak memikirkan masalah tentang Sarah. Masa lalu tetaplah masa lalu, ia hanya akan melihat saat ini bersama dengan Hana. Setelah membeli s**u, Derris langsung berjalan dengan percaya diri menuju kelas Hana. Hana sedang duduk sendirian di kursinya sambil memainkan ponselnya. Suasana kelasnya tidak terlalu ramai karena setengah penghuni kelasnya sedang berada di luar kelas. Derris berjalan perlahan mendekati tempat duduk Hana dan berdiri di hadapannya sambil tersenyum lebar. "Ganti baju dulu sana." usir Hana pada Derris yang masih menggunakan baju olahraganya. Derris lalu duduk di samping Hana dan memberikan s**u coklat pada Hana. "Sebentar lagi. Aku ingin melihatmu dulu sebelum ganti baju." Hana memutar kedua bola matanya kesal. "Pulang sekolah aku akan ke toko buku. Kamu mau ikut?" "Kamu bertanya padaku?" tanya Derris senang. Karena biasanya Hana selalu bersama teman-temannya dan jarang untuk mengajak Derris. "Iya. Karena teman-temanku sedang sibuk." jawab Hana cuek. "Keterlaluan." Derris lalu memajukan beberapa senti bibirnya ke depan. "Bercanda." sahut Hana lalu menepuk bahu Derris pelan dan bangkit berdiri. "aku mau ke toilet dulu." Derris ikut bangkit berdiri mengikuti Hana. "Aku ikut." Mereka berdua berjalan menuju ke kelas Derris terlebih dahulu, karena Derris sekalian membawa seragam sekolahnya dan berganti baju di toilet. Perasaannya kali ini sangat lega, memutuskan tidak mengambil pusing tentang Sarah yang menghubunginya kembali adalah pilihan yang tepat. Derris hanya berharap Sarah tidak bisa mengganggunya kembali, karena semua yang berhubungan dengan Sarah telah di blokirnya. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Derris langsung memasukan semua bukunya ke dalam tas lalu bergegas menuju ke kelas Hana. Dari jendela Derris melihat guru pelajaran bahasa Indonesia masih sibuk menjelaskan sesuatu di kelas Hana. Derris sibuk mondar mandir di depan kelas Hana yang pintunya masih tertutup. Tak berapa lama pintu kelas Hana terbuka lalu di susul oleh guru bahasa Indonesia yang entah siapa namanya guru tersebut keluar. Teman sekelas Hana pun banyak yang keluar memenuhi pintu membuat Derris harus menunggu sampai ia bisa masuk ke dalam kelas Hana. Melihat Derris yang mendekati mejanya, Hana langsung pamit kepada Sera dan Arin untuk segera pergi ke toko buku. Derris dan Hana berjalan pelan menuju halte. dari arah belakang ada seseorang yang memanggil nama Derris. Mereka berdua langsung menengok bersamaan ke asal suara. Derris terdiam membeku melihat Sarah yang memakai seragam sekolah dan kini sedang berjalan mendekatinya dan Hana. "Hai Derris." sapa Sarah ramah setelah berdiri di hadapan mereka berdua. Tak hentinya Sarah menyunggingkan senyuman lebar ke arah Derris. Derris tersenyum kikuk. "Oh hai." balas Derris. Sarah lalu mengulurkan tanganya pada Derris dan melirik ke sebelah Derris. "Ah sedang bersama pacarmu. Maaf aku tidak tau." kata Sarah. Derris hanya menatap tangan Sarah yang masih terulur dengan ekpresi horor. Hana melirik pada Derris. "Siapa?" tanya Hana pada Derris. Derris menengok pada Hana. "Oh di..." "Kenalkan aku Sarah." tangan Sarah yang sebelumnya terulur pada Derris, ia geserkan pada Hana. Hana menerima uluran tangan Sarah dan menyebutkan namanya. "Aku adalah.." "Dia teman SMP-ku." sela Derris cepat, "bisnya sudah datang, kami duluan." Derris menarik tangan Hana dan berjalan menaiki bis yang akan membawa mereka pulang. "Kita salah bis." kata Hana setelah mereka duduk di kursi bagian tengah. "Oh hahaha kamu benar aku lupa. Lain kali saja kita ke toko bukunya." kata Derris panik. "sepertinya hari ini aku ingin cepat pulang dan segera beristirahat." kilah Derris. "Kau aneh. Seperti orang yang sedang ketahuan selingkuh." gerutu Hana. Derris hanya tersenyum kecil sambil mengusap keringat pada keningnya dengan punggung tangannya. Benar-benar hari yang s**l. Rutuk Derris dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD