Bab 26

1394 Words
Hanya suara dari tv yang meramaikan kamar kost Derris yang sepi. Matanya tidak fokus pada apa yang sedang di tayangkan di layar tv. Ia hanya menatap kosong pada tv yang selama hampir setengah jam ia biarkan menyala. "Ini tidak bisa di biarkan." gumam Derris pada dirinya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa Sarah akan nekat menemuinya di sekolah. Padahal dengan statusnya yang jelas telah mempunyai pacar, harusnya Sarah mengerti dan tidak berani mengganggunya lagi. Derris berfikir keras cara apa yang bisa membuat Sarah agar tidak membongkar semuanya di depan Hana. Derris menjentikan jari lalu meraih ponselnya di atas meja kecil di dekat tempat tidurnya dan menelpon Rian. Butuh waktu cukup lama sampai Rian mengangkat panggilan Derris. "Ada apa?" tanya Rian di seberang sana. "Kau sudah pulang?" Derris balik bertanya. Hening sejenak. Lalu terdengar suara sedang mengobrol di ujung sana. "Belum. Aku tidak tau akan pulang kapan." desah Rian. "kalau kau ingin mengeluh tentang Hana. Sebaiknya nanti saja, hari ini aku benar-benar lelah." Rian menguap untuk yang kedua kalinya, Sepetinya Rian sangat lelah dan mengantuk, membuat Derris mengurungkan niatnya untuk bercerita pada Rian. "Baiklah cepat tidur. Jangan main game terus." kata Derris lalu mengakhiri panggilan. Derris mendesah panjang lalu bangkit memilih keluar mencari makan malam untuk mengisi perutnya yang kini sudah keroncongan. *** Hana sedang duduk di meja belajarnya, ia hanya menatap kosong buku catatannya yang sama sekali belum di sentuhnya selama kurang lebih sepuluh menit yang lalu. Pikirannya terus berputar pada kejadian sore tadi. Semula Derris yang sangat bersemangat untuk mengantarnya ke toko buku, mendadak tiba-tiba menjadi gugup setelah wanita yang di ketahuinya bernama Sarah menemui Derris sore tadi. Hana mengernyit mencoba mengingat-ingat Sarah. Karena Hana merasa sebelumnya pernah melihat Sarah di suatu tempat. Hana mengetuk-ngetuk pensil yang sedari tadi di pegangnya di atas buku. Namun nihil, Hana tidak ingat sama sekali dengan Sarah. "Perasaan aja kali ya?" tanya Hana kepada dirinya sendiri. Ketukan dari luar pintu kamarnya membuat Hana menengok ke asal suara. "Waktunya makan malam." seru Sena di balik pintu kamar Hana. "Aku sebentar lagi ke bawah." sahut Hana, Hana langsung menyimpan pensil yang sedang di pegangnya di dalam buku catatan lalu menutup buku tersebut. Ia merapikan rambutnya dengan asal lalu berjalan keluar dari kamarnya dan turun ke bawah untuk makan malam bersama keluarganya. "Hana, ibu minta tolong belanja ke minimarket di depan." kata ibu sambil menyuapkan nasi terakhir ke dalam mulut. Hana mengangguk. "Sena kemana bu?" tanya Hana melihat kursi sebelahnya yang biasa di duduki oleh Sena sekarang kosong. Ibu mengibaskan sebelah tangannya. "Ah dia sedang diet." sahut ibu santai lalu melirik ke arah tangga sekilas. Takut orang yang akan di gosipkan ibu muncul dengan tiba-tiba. "katanya baju yang baru di belinya tidak cukup di badannya. Jelas-jelas baju itu yang kekecilan." bisik ibu pelan. Ayah yang memerhatikan istrinya hanya menggeleng pelan. Hana hanya manggut-manggut, lalu mengelap bibirnya dengan tisu dan bangkit berdiri. "Aku akan ke kamar dulu untuk membawa jaket, setelah itu aku akan pergi ke minimarket." kata Hana lalu berjalan ke arah tangga. Hana membeli beberapa barang sesuai dengan pesanan ibunya. Kini ia berjalan ke lorong paling ujung untuk mengambil beberapa makanan ringan untuk menemaninya belajar. Hana sedang memilih antara dua biskuit berbeda rasa yang sedang ia pegang di kedua tangannya. Ketika ia akan menaruh satu biskuit di tangan kirinya, terasa seseorang dari belakang Hana memanggil namanya tepat di telinga sebelah kanannya. Hembusan nafasnya membuat bulu kuduk Hana meremang dan membuat Hana terlonjak kaget dan refleks memundurkan badannya. "Ah s**l*n." bentak Hana sambil memegang dadanya karena kaget. Derris yang melihat ekpresi Hana yang kaget hanya tertawa kencang. "Aduh..aduh sakit." teriak Derris kesakitan saat Hana mencubit tangan Derris. "Mau mati ya?" bentak Hana, ia lalu membawa keranjang belanjaannya dan pindah ke barisan depan. "Hei, bicara yang cantik." kata Derris memperingatkan sambil tersenyum kecil. Hana hanya memberikan jari tengahnya ke arah Derris dengan kesal. "biar aku bantu." tawar Derris lalu mengekor di belakang Hana. "Kenapa tidak mengajakku pergi ke minimarket? Padahal aku bisa menemanimu dan membantu membawa belanjaanmu." tanya Derris ketika mereka berdua sedang berjalan pulang melewati taman. "ini cukup berat." kata Derris mengangkat kantong keresek putih belanjaan Hana. "Aku tidak mau di berikan harapan palsu oleh seseorang seperti tadi sore untuk kedua kalinya." sahut Hana santai. Derris menengok dan terkekeh. "Maaf tadi aku tidak ingat akan...." "Meminta maaf sekarang tidak akan mengubah apapun." potong Hana sinis. "Baiklah, aku berjanji besok akan menemanimu." kata Derris sambil mengedipkan sebelah matanya pada Hana. Hana mendelik dan memilih tidak menjawab. Sepanjang sisa perjalanan menuju rumah Hana, mereka berdua tidak saling bicara. Hanya ada suara kedua anak kecil yang sedang berlari kejar-kejaran di ikuti oleh orangtuanya dari belakang. Derris melirik sekilas pada Hana ketika mereka berdua hampir sampai di depan rumah Hana. "Hana." panggil Derris. "Hmm." "Hari ini kamu cantik." goda Derris. Hana memutar kedua bola matanya dengan kesal. "Cepat pulang sana dan kemarikan semua belanjaannya." kata Hana dan meraih kantong keresek yang sedang di pegang Derris. Derris terkekeh. "Tidur yang nyenyak sayang. Jangan lupa impikan aku ya." kata Derris, ia langsung beranjak pulang meninggalkan Hana yang kini sedang berdecak kesal pada gombalan Derris. *** Sepulang sekolah Derris berjalan ke arah halte sekolah sendirian untuk menunggu Hana yang sedang menfotocopy tugas di dekat sekolah bersama Arin dan Sera. Sudah dua hari ini mesin fotocopy yang berada di dalam sekolah tak kunjung selesai untuk di perbaiki, karena hal iti membuat sebagian siswa harus keluar untuk menfotocopy. Derris yang duduk sendirian dan sedang memainkan ponselnya, di kejutkan oleh suara wanita yang baru saja bertemu dengannya kemarin. Derris menengok untuk memastikannya lalu terdiam sejenak. "Hai Derris." sapa Sarah lalu melambaikan tangannya dengan gaya yang di buat-buat ke arah Derris. "Untuk apa kamu datang lagi kemari?" tanya Derris ketus. Sarah pura-pura tersinggung dengan pertanyaan Derris, ia lalu duduk di sebelah Derris sambil tersenyum kecil. "Aku sudah bilang ingin bertemu dan berbicara berdua denganmu." Derris menggeser duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Sarah. Derris akan membuka mulut untuk menjawab, namun ia di kejutkan kembali oleh suara yang sudah sangat di kenalnya tepat di telinga kirinya. "Oh ternyata kamu sudah mempunyai janji." bisik Hana. "Dan ingin berbicara berdua saja denganmu." Hana menekankan kalimat terakhirnya. Derris langsung bangkit berdiri di samping Hana. "Tunggu ini bukan seperti apa yang kamu bayangkan." kata Derris panik melihat Hana kini melipat kedua tangannya di depan d**a sambil menatapnya dengan tajam. Sera yang sedari tadi berada di belakang Hana menjadi penasaran lalu bertanya pada Hana. "Siapa wanita itu?" Sera menunjuk Sarah dengan dagunya. "Dia bukannya mantan Derris?" tanya Romi pada Rian yang kini sudah berada di samping Sarah. Seketika hening, semua mata langsung menatap ke arah Romi, terlebih Derris. Ia menatap Romi seakan siap untuk membunuhnya saat ini juga. Rian menyikut lengan Romi dengan kesal karena tidak bisa membaca situasi sama sekali. Romi langsung menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan kata-kata yang dapat memperkeruh masalah. Hana tersenyum dengan terpaksa dan malah membuat senyumnya terlihat mengerikan. "Baiklah, selamat bersenang-senang." Hana lalu menarik kedua lengan sahabatnya dan berjalan menjauhi Derris. "Tidak. Hana tunggu aku bisa jelaskan." Rian menahan lengan Derris yang bersiap untuk mengejar Hana. "hei lepaskan aku mau mengejar Hana." bentak Derris sambil berusaha menarik lengannya dari Rian, namun Rian malah semakin mengencangkan cengkeramannya pada lengan Derris. Rian menghembuskan nafas panjang. "Kau ingin bertengkar lagi seperti kejadian ulang tahun Hana?" Derris langsung tersadar dengan apa yang di ucapkan Rian. Derris terdiam beberapa detik. "Aku harus bagaimana?" tanya Derris frustrasi. Rian melepaskan cengkeram tangannya pada Derris. "Kita harus mencari tempat untuk berbicara." usul Rian. Romi berjalan mendekat pada kedua temannya, "Di tempat Derris saja." usul Romi dan mendapat anggukan pelan dari Derris. "Hei, aku yang mau berbicara dengan Derris." pekik Sarah kesal karena sejak tadi hanya menjadi penonton dan keberadaanmya seperti tidak di anggap sama sekali. Rian menatap Sarah dengan tajam. "Untuk apa kau datang lagi menemui Derris?" tanya Rian sinis. "kau sudah tidak ada hubungan lagi dengan Derris. Jadi cepat sana pergi menjauh." bentak Rian. Sarah sedikit menciut dengan bentakan Rian. Namun bukan Sarah namanya apabila ia harus mundur sekarang, sedangkan rencana yang sudah di susunnya dengan matang belum berhasil. Sarah melotot menantang Rian. "Ini bukan urusanmu. Jadi kamu yang harusnya pergi." "Ba**t. Dasar wanita tidak tau malu." Rian langsung menarik tangan Derris dan berjalan pada bis yang baru saja berhenti di depan mereka. Seperti kerbau dicucuk hidungnya, Derris hanya menurut dengan patuh pada perintah Rian. Mereka bertiga meninggalkan Sarah di halte sendirian dan menghiraukan Sarah yang terus memanggil-manggil nama Derris.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD