Sepanjang perjalanan Derris hanya terdiam sambil melihat mobil dan motor yang berseliweran dari kaca bis. Ia sangat ketakutan akan nasib kelanjutan hubungannya dengan Hana.
Padahal Derris sudah menemukan kebahagiaannya dengan Hana, bahkan Hana yang sifatnya dingin telah luluh oleh semua usahanya selama ini. Hana pun telah berani jujur menyatakan perasaannya pada Derris. Hal itu sangat membuat Derris bahagia karena kini rasa sukanya pada Hana tidak bertepuk sebelah tangan lagi. Namun karena masa lalunya yang kini hadir kembali tanpa di undang, membuat keretakan dalam hubungannya bersama Hana.
Tepukan pelan pada bahunya membuat Derris tersadar dari lamunannya. Tidak terasa bis yang membawa mereka bertiga telah sampai pada tujuan. Derris menarik nafas pelan lalu bangkit berdiri dan keluar dari bis.
"Sekarang ceritakan dari awal kenapa Sarah bisa datang menemuimu ke sekolah hari ini." kata Rian setelah sampai di tempat kost Derris.
Rian dan Romi duduk berhadapan dengan Derris. Suasana yang menegangkan membuat Derris seperti tersangka yang akan di hukum mati saat ini juga.
Romi yang memperhatikan Rian dan Derris akhirnya membuka suara. "Sebaiknya kita sambil minum kopi atau minum minuman dingin. Agar suasananya tidak terlalu tegang." kata Romi lalu bangkit dan berjalan ke arah kulkas kecil Derris untuk mengambil minum
Derris menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia mulai menceritakan dari awal, Sarah yang mengirimkan pesan beberapa hari yang lalu padanya. Derris juga menceritakan Sarah yang menderita karena harus terpaksa putus dengan Derris. Sarah terus memaksa Derris agar mau berbicara empat mata dengannya, karena ada hal serius yang harus di ceritakan Sarah pada Derris.
Rian yang mendengar cerita Derris hanya berdecak pelan. Rian tidak menyangka bahwa Sarah akan berani menghubungi Derris setelah semua kebusukannya di ketahui oleh Rian.
Romi kembali dan membawa tiga minuman kaleng dan memberikannya pada Derris dan Rian. Sejak awal ia mendengarkan dengan seksama cerita Derris, namun tidak berani untuk ikut bersuara. Setelah bercerita panjang lebar, sejenak mereka terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing
"Sebaiknya aku temui dia." kata Derris, memecahkan keheningan.
"Dan kau ingin bertengkar kembali dengan Hana?" tanya Rian sinis.
Derris menggeleng. "Kalau aku tidak menemuinya, dia akan terus datang ke sekolah. Dan tentunya Hana dan Sarah pasti akan bertemu." penjelasan Derris masuk akal, namun entah mengapa membuat Rian ragu.
"Baiklah kalau itu maumu." kata Rian menyerah. "tapi jangan terlalu percaya dengan semua perkataannya." Rian memperingati. Derris hanya mengangguk lalu meraih minuman kalengnya yang tinggal tersisa setengah lalu meneguknya hingga habis.
***
Hana menatap kosong pada minumannya yang sejak tadi belum di sentuhnya sama sekali. Mereka bertiga sedang duduk di sebuah cafe yang biasa mereka kunjungi. Sera dan Arin hanya menurut patuh ketika Hana menarik lengan mereka berdua untuk menjauh dari Derris. Kedua sahabat Hana hanya saling pandang melihat Hana yang tidak bicara sejak awal lengan mereka berdua di tarik oleh Hana. Mungkin ini adalah pengalaman pertama bagi Hana menghadapi masalah seperti ini. Karena Hana lebih banyak memendam perasaannya di bandingkan ingin berbagi dengan kedua sahabatnya.
Hana menarik nafas pelan lalu meraih gelas yang masih penuh berisi milkshake coklat dan menyedotnya.
"Aku tidak habis pikir untuk apa mantan pacar Derris datang menemuinya lagi. Padahal jelas-jelas mereka sudah putus" kata Sera yang sejak tadi tidak tahan ingin menanyakan hal ini pada Hana.
Arin hanya mengangguk setuju karena mulutnya sibuk mengunyah roti bakar rasa keju coklat pesanannya.
"Tapi tenang Hana. Karena menurutku Derris sudah tidak menyukai wanita itu." kata Sera menenangkan.
Hana menautkan jarinya dan menatap Sera. "Mereka saling kontak kembali." Arin dan Sera saling pandang.
Arin berdehem kecil lalu meminum milkshake coklatnya dan menaruhnya kembali di atas meja. "Jangan khawatir, Derris bukan orang yang gampang tergoda." kata Arin. "dia sangat menyukaimu."
"Tapi sifat dan cara bicaranya sangat berbeda jauh denganku. Dan juga hubungan mereka dulu sangat baik." keluh Hana. "perasaanku sangat tidak enak. Perasaan apa sih sebenarnya ini yang menggangguku?" kata Hana.
Sera dan Arin mengulum senyum melihat tingkah sahabatnya yang saat ini sedang cemburu, namun Hana sama sekali tidak mau mengakuinya. Sera langsung menatap curiga pada Hana yang tiba-tiba mengetahui bahwa hubungan Derris dan mantan pacarnya baik.
"Sebentar," Sera mengangkat sebelah tangannya ke arah Hana yang kini melihat Sera dengan bingung. "dari mana kamu tau kalau hubungan Derris dan mantannya dulu baik?" tanya Sera penasaran.
Hana lalu menceritakan bahwa tadi ketika istirahat pertama, Niken menghampiri Hana yang sedang berjalan ke arah koperasi. Tiba-tiba Niken hanya mengatakan ingin ikut dengan Hana ke koperasi. Sambil berjalan ia lalu berbasa-basi menanyakan bagaimana hubungannya dengan Derris saat ini. Hana hanya menjawab seadanya bahwa hubungannya dengan Derris baik-baik saja.
Tak lama Niken menceritakan hubungan masa lalunya bersama Sarah. Niken bercerita bahwa hubungan Derris dan Sarah sangat baik, tidak seperti hubungannya dengan Hana yang selalu penuh dengan drama.
Sarah selalu baik pada Derris dan tidak pernah sekalipun memarahi Derris. Hubungan mereka berdua sangat harmonis dan mereka saling menyukai satu sama lain. Namun karena suatu hal Sarah harus terpaksa memutuskan Derris. Sahabat Derris yaitu Rian, juga menjadi salah satu penyebab kandasnya hubungan mereka. Sebelum Hana akan bertanya lebih lanjut, Niken langsung pamit pada Hana. Niken seolah-olah datang menghampiri Hana hanya untuk memanasinya saja.
Sera memukulkan tinju ke telapak tangannya dengan kesal. "Dan kamu percaya pada perkataannya begitu saja?" geram Sera.
Hana mengangkat bahu. "Sifatku memang buruk pada Derris, semua orang juga tau."
"Setidaknya kau harus mengelak dan membela dir.."
"Sudahlah Sera jangan marah pada Hana." sela Arin sambil menyentuh bahu Sera. "lebih baik kita pikirkan cara untuk memperbaiki semuanya sebelum terlambat." usul Arin. Sera dan Hana hanya mengangguk kecil setuju dengan usulan Arin.
***
Derris memang sudah berniat untuk menemui Sarah dan menyuruhnya untuk tidak mengganggu hubungan Derris bersama Hana sekarang. Ia belum bisa memastikan kapan dan dimana tempat yang cocok untuk bertemu dengan Sarah.
Ketika Derris hendak akan menghubungi Sarah, Sarah telah terlebih dahulu menghubungi Derris menggunakan nomor ponselnya yang lain. Sarah mengatakan bahwa ia sedang di perjalanan menuju tempat tinggal Derris.
Derris yang panik langsung menyuruh Sarah untuk menunggunya di sebuah cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Derris. Ia tidak mau mengambil resiko apabila harus bertemu dengan Sarah di daerah tempat tinggalnya. Terlebih tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Hana. Kemungkinan terlihat oleh Hana sangatlah besar. Ia belum siap jika Hana mengetahui bahwa Derris akan menemui Sarah tanpa sepengetahuannya.
Derris melirik jam tangannya yang berwarna hitam. Ia telah sampai terlebih dahulu di cafe tempat janjiannya bersama Sarah. Derris memilih duduk di tempat paling ujung cafe yang tidak terlalu menarik perhatian.
Tak selang berapa lama, Sarah memasuki cafe. Dari tempat yang Derris duduki, ia dapat melihat dengan jelas Sarah yang menggunakan sweter abu dan celana jeans berwarna hitam sedang mengedarkan pandangannya mencari posisi Derris
Derris langsung melambaikan tangan ketika pandangan Sarah menuju ke arah ujung cafe. Sarah yang melihat Derris, langsung berjalan menghampirinya sambil tersenyum lebar.
"Maaf tadi sedikit macet." kata Sarah lalu menarik kursi di hadapan Derris.
"Iya tidak apa." sahut Derris. "jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Derris langsung.
Sarah tersenyum kecil. "Kita pesan minum dulu." Sarah melambaikan tangan kepada seorang waiter. Waiter tersebut datang lalu mulai mencatat pesanan Derris dan Sarah.
Setelah waiter itu pergi Sarah langsung menatap Derris dengan menyunggingkan senyuman yang lebar. "Bagaimana kabarmu?"
"Aku tidak mau berbasa-basi. Cepat katakan apa maumu sebenarnya." kata Derris langsung.
"Waktu bisa juga membuatmu berubah." kata Sarah pelan. "baiklah aku tidak langsung saja pada intinya."
Sarah memautkan jemarinya di atas meja dan langsung memasang wajah sedih. "Dua tahun lalu aku meminta putus darimu karena Rian yang menyuruhku." Sarah menarik nafas pelan. "entah kenapa Rian mengatakan padaku bahwa aku sakit jiwa, wanita gila dan banyak lagi perkataannya yang sangat menyakitkan." tambahnya.
"Tidak mungkin Rian mengatakan hal seperti itu." bela Derris.
"Pasti kamu tidak akan mempercayainya, tapi inilah buktinya kenapa Rian sangat membeciku." Sarah mengusap air mata yang mulai keluar di ujung matanya. "dulu aku pernah bercerita padamu tentang orangtuaku yang bercerai karena perselingkuhan yang dilakukan papaku. Setelah kedua orangtuaku bercerai aku tinggal bersama mama. Semakin hari sikapnya berubah padaku, mama sering memarahiku dan juga kadang memukulku tanpa alasan yang jelas." Sarah mulai terisak di tengah ceritanya, wajahnya kini penuh dengan air mata dan ia langsung mengambil tisu di dalam tasnya dan mengusap air matanya.
Sarah menghentikan ceritanya, ia tertunduk malu karena seorang waiter telah datang dan menyimpan minuman pesanan mereka di atas meja. Setelah waiter pergi Sarah mengangkat kembali wajahnya dan tersenyum pahit pada Derris yang kini sedang menatapnya dengan persaan iba dan tidak percaya.
"Karena kejadian itu kondisiku menjadi buruk dan aku mengalami perubahan yang emosi yang drastis. Kadang aku bisa sangat senang dan juga bisa sangat sedih. Aku hampir putus asa dan sempat akan mengakhiri hidupku. Sama sekali tidak ada yang peduli padaku, papaku juga tidak pernah datang untuk menemuiku lagi setelah bercerai dengan mama." Sarah menundukan kepalanya. "akhirnya tanteku membawaku ke dokter. Cukup lama aku mengkonsumsi obat dan juga menjalani psikoterapi. Sedikit demi sedikit kondisiku membaik dan aku mulai bisa menerima semuanya. Aku pun mulai bahagia setelah mengenal dan berpacaran dengan kamu."
"Tapi dengan tega Rian menyuruhku untuk putus denganmu. Dia bilang kalo aku berpacaran denganmu, hidupmu akan berantakan dan aku akan membawa pengaruh buruk padamu. Karena tidak ada masa depan untuk wanita yang punya gangguan jiwa sepertiku." Sarah menarik nafasnya pelan lalu menghembuskankannya. "aku paham Rian sangat peduli padamu Derris, makanya aku mengalah dan lebih memutuskan hubungan denganmu. Meskipun kondisiku mulai buruk kembali setelah putus denganmu."
Derris hanya menatap Sarah dengan pandangan kosong. Semua infomasi yang baru saja ia ketahui membuatnya seperti sedang menelan pil pahit. Derris sangat bingung dengan keadaan saat ini, apakah ia harus percaya pada Sarah atau pada Rian sahabatnya.
Sarah yang menangis terisak di hadapannya membuat Derris sangat terpukul. Karena ia sama sekali tidak mengetahui hal ini. Semua orang menyembunyikan kebenaran darinya. Membuatnya menjadi orang bodoh yang tidak tau apa-apa.
"Maafkan aku Sarah karena aku baru mengetahui hal ini sekarang. Aku butuh waktu untuk mencerna semua infomasi yang baru saja aku dengar." kata Derris.
"Aku yang harusnya meminta maaf karena baru sekarang berani menceritakan semua ini." Sarah mengusap air mata yang keluar dari matanya. "semoga kamu bisa mengerti keadaanku. Sampai sekarang gangguan panikku kembali jadi setelah putus denganmu. Aku sangat menderita putus denganmu." Sarah mulai terisak kembali.
Derris bangkit berdiri mendekati Sarah dan mengusap bahunya pelan menenangkan. Ia bingung menghadapi seorang wanita yang sedang menangis. Karena apabila ia salah ucap, bisa saja membuat tangisnya semakin menjadi.
"Aku berharap kamu mau membantuku untuk kembali bangkit dari keterpurukanku ini. Aku bingung harus berbagi cerita dengan siapa lagi selain kamu." kata Sarah. "cuma kamu yang hanya mengerti aku sejak dulu." tambah Sarah.
Setelah Sarah berhenti menangis, Derris kembali duduk di kursinya. Ia menggeserkan milkshake stroberi pada Sarah agar ia mau meminumnya.. Sarah menggeleng pelan, ia mengusap sisa air matanya dengan tisu yang baru ia ambil kembali di dalam tasnya.
"Kamu maukan kembali berpacaran denganku?" tanya Sarah penuh harap.
Derris menatap Sarah nanar. Ia tidak percaya Sarah akan memintanya untuk kembali berpacaran dengannya. Padahal sudah jelas, bahwa Derris kini telah menjalin hubungan dengan Hana.
"Aku tidak sakit jiwa Derris. Aku hanya butuh seseorang yang bisa menjadi penyemangat di hidupku." tambah Sarah buru-buru yang melihat keraguan pada Derris.
"Oh aku tidak berpikiran seperti itu. Aku hanya.." Derris terdiam beberapa detik. "aku telah memiliki Hana. Aku tidak bisa kembali padamu." lanjut Derris.
"Kamu bisa berpacaran denganku di belakang Hana." usul Sarah.
Derris menggeleng. "Kurasa itu bukan ide yang bagus."
"Aku hanya meminta waktumu sedikit untuk menemaniku. Hanya sementara, setelah aku sembuh aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku janji." bujuk Sarah.
"Tapi.."
"Aku janji sebelum pacarmu mengetahui semua ini aku akan menjauh darimu." sela Sarah.
Derris diam beberapa saat. "Akan aku pikirkan." kata Derris akhirnya.
"Tapi aku harap kamu tidak menceritakan kejadian hari ini pada Rian. Aku takut sekali Rian akan mengatakan hal yang buruk lagi padaku." kata Sarah, Derris hanya mengangguk pelan.