Bab 28

1508 Words
Derris berlari secepatnya ke arah halte dengan terburu-buru. Semalaman ia tidak bisa tidur karena teringat pembicaraannya kemarin malam dengan Sarah. Terlalu banyak informasi yang harus di cerna olehnya, membuat Derris sulit untuk memejamkan kedua matanya. Derris telah memutuskan untuk meluangkan sedikit waktunya untuk Sarah. Bukan karena ia masih menyukai Sarah, namun lebih kepada rasa bersalah karena baru mengetahui alasan kandasnya hubungan mereka. Derris telah bertekad untuk membantu masa penyembuhan Sarah dengan menemuinya beberapa kali. Dan sebisa mungkin tidak diketahui oleh Hana. Sesampainya di halte, Hana dan Rian sedang duduk sambil memainkan ponselnya masing-masing. Ia langsung menghentikan larinya di depan Hana sambil memegang dadanya yang sedikit sesak karena kekurangan oksigen. "Aku minta maaf karena terlambat." kata Derris dengan terengah-engah. Ia mulai mengatur nafasnya dengan menarik lalu menghembuskankannya dengan perlahan. Rian menengok pada Derris dan hanya mengulum senyum. Ia sedang menunggu akan kelanjutan nasib Derris yang akan di beri sarapan pagi oleh Hana. Hana mendongak lalu bangkit berdiri tepat di hadapan Derris. Derris yang sudah mengetahui akan kelanjutan nasibnya langsung siaga menunduk dan melindungi kepala dengan kedua tangannya. Namun tak di sangka, hal selanjutnya yang terjadi adalah Hana mengusap bahu Derris dengan lembut sambil berkata. "Lain kali jangan tidur terlalu malam." Sontak Derris dan Rian menganga tak percaya dengan apa yang baru saja dilihat dan didengarnya. Karena Hana yang biasanya pasti akan memarahi atau memukul Derris karena telah membuat Hana menunggu. "Hana, kamu baik-baik sajakan?" tanya Derris khawatir. "Aku sangat baik hari ini. Oh itu bisnya sudah datang." Hana menunjuk bis yang tak lama berhenti di hadapan mereka. Hana kemudian mengajak Derris dan Rian untuk masuk ke dalam bis. Mereka berdua masih tidak percaya dengan Hana yang ada di hadapan mereka saat ini. Pasalnya hari ini Hana terlihat lebih baik pada Derris, padahal jelas-jelas kemarin Hana telah bertemu dengan Sarah dan berakhir dengan tidak baik. Setelah masuk ke dalam bis, mereka bertiga berjalan ke arah belakang bis yang masih menyisakan kursi kosong. Hana dan Derris memilih duduk di kursi ketiga dari belakang, sedangkan Rian duduk tepat di belakang Derris. Derris merogoh saku depan dan saku belakang celana seragamnya mencari dompet, ketika melihat kondektur bis mulai berjalan menagih ongkos bis pada setiap penumpang. "Ah mati aku." gumam Derris pelan. Derris langsung membalikkan badannya ke arah Rian yang duduk tepat di belakangnya. "aku lupa membawa dompet." bisik Derris sangat pelan, agar Hana tidak bisa mendengarnya. Hana melirik Derris sekilas karena gelagatnya sangat mencurigakan bersama Rian. Setelah mengetahui duduk masalahnya Hana kembali fokus pada game di ponselnya sambil menggelengkan kepala. Rian berdecak kesal. "Sampai kapan kau akan menyusahkanku terus?" gerutu Rian. Rian langsung merogoh saku belakang celana seragamnya untuk mengambil dompet. Ia membuka dompet dan mengambil satu lembar uang berwarna hijau di dalam dompetnya, lalu menyimpan dompetnya kembali di saku belakangnya. Ketika kondektur sampai di kursi Hana dan Derris. Hana langsung menyodorkan uang pecahan lima puluh ribu pada kondektur dan berkata. "Bayar dua pak." Kondektur menerima uang Hana lalu memberikan sejumlah kembalian pada Hana. Setelah kondektur beralih ke kursi belakang. Derris langsung menatap Hana dengan bingung. "Kamu tidak membawa dompet bukan?" kata Hana tanpa mengangkat wajahnya dari ponsel. Derris mengangguk pelan. "jadi aku yang membayar ongkos bismu." tambah Hana. "Tapi aku suda.." "Lain kali periksa kembali barang-barangmu sebelum berangkat ke sekolah." sela Hana cepat. Derris hanya mengangguk dan tersenyum malu pada Hana. Di dalam kelas Derris melamun memikirkan sikap Hana yang berubah menjadi lebih baik padanya hari ini. Sejujurnya Derris sangat bahagia karena Hana kini tidak marah-marah atau memukulnya. Namun sikap Hana sangat mengganggunya, bahkan Derris berpikir mungkin akan ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi. Rian yang memerhatikan Derris sejak tadi pun ikut menjadi penasaran pada Hana. "Sepertinya Hana sudah mengetahui bahwa kau akan bertemu dengan Sarah." Derris langsung menengok horor pada Rian. "Benarkah?" tanya Derris. "tapi dari mana dia tau? Pasti kau kan yang memberitahunya?" tuduh Derris pada Rian. Rian mendelik. "Yang benar saja. Tapi coba apa kau bisa jelaskan kenapa sikap Hana hari ini berubah menjadi baik?" ujar Rian sambil mengusap-ngusap dagunya. "sepertinya dia akan meminta putus." bisik Rian lalu menyeringai. Derris langsung memukul bahu Rian dengan kencang. "S**l. Jangan bicara sembarangan." Derris langsung bangkit dan berjalan menuju ke kelas Hana. Ketika Derris memasuki kelas Hana, terlihat Hana dan Sera sedang berbincang. Mereka berdua seperti sedang membicarakan sesuatu hal yang sangat penting. Karena sesekali Derris melihat raut wajah Hana yang tegang dan juga mengernyit. Sera yang pertama kali sadar akan kedatangan Derris lalu pamitan dan memilih untuk ke toilet menyusul Arin. Hana membenarkan posisi duduknya ketika Derris menempati kursi yang baru saja di duduki oleh Sera. Derris berdehem. "Apakah kamu hari ini baik-baik saja?" tanya Derris. "Kamu sudah dua kali bertanya seperti itu padaku." jawab Hana di buat selembut mungkin. Derris menggaruk belakang lehernya. "Aku hanya penasaran." sahut Derris. "apa kamu mau memutuskan aku?" tanya Derris ragu-ragu. Hana mengernyit. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Hana bingung. "Ya em karena.." "Karena apa?" potong Hana tidak sabar. "Kemarin kan kamu telah bertemu dengan mantanku." cicit Derris. "Ahh s**l." Hana langsung memutar bola matanya. "Jadi benar?" tanya Derris langsung. "Tidak usah berpikir aneh-aneh." jawab Hana ketus. "atau kamu yang ingin putus?" Derris langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku sangat sangat menyukaimu Hana." kata Derris lalu memberikan bentuk hati dengan kedua tangannya tepat di wajah Hana. Hana menurunkan kedua tangan Derris yang memberikannya hati lalu menjitaknya pelan. "Sudah sana pergi." usir Hana. "Ehhh. Kamu berubah kembali menjadi Hana yang dulu." Derris terkekeh geli. Hana bersiap untuk melayangkan jitakannya lagi pada Derris. Namun Derris langsung bangkit berdiri dan memberikan kembali bentuk hati dengan kedua tangannya pada Hana sambil tersenyum lebar. "Sampai jumpa istirahat pertama." kata Derris lalu berjalan ke arah pintu dan kembali ke kelasnya. "Ternyata hanya perasaanku saja." gumam Derris sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sepulang sekolah Derris terus memperhatikan Hana yang sedang duduk di sampingnya sambil memainkan ponselnya di dalam bis. Derris merasa sangat bersalah pada Hana karena telah berbohong dengan bertemu dengan Sarah di belakang Hana secara diam-diam. Namun semua itu ia lakukan karena terpaksa dan juga rasa bersalah, yang tidak tau apa-apa mengenai dua tahun yang lalu. Derris pun akan mulai mencari tahu kebenaran tentang Rian yang berada di balik putusnya hubungan Derris dan Sarah. Meskipun Sarah sudah melarangnya untuk memberitahu pada Rian bahwa Derris telah mengetahui semuanya. Namun Derris ingin semuanya beres. Tidak ada salah paham lagi dan juga dendam di antara Sarah dan Rian. Hana yang merasa dirinya terus di perhatikan langsung menengok ke arah Derris. "Ada apa lagi?" tanya Hana kesal. Derris tersenyum lebar. "Sepertinya kita sudah lama tidak berkencan." kata Derris. "bagaimana kalau akhir pekan ini kita ke bioskop. Ada film horor yang baru kesukaanmu." Hana berdecak pelan. "Aku tidak mau menonton film horor bersamamu." sungut Hana. Derris memasang wajah sedih pura-pura terluka mendengar penolakan dari Hana. "Keterlaluan, padahal aku sudah mencoba untuk memberanikan diri untuk menonton film horor kesukaanmu." Derris terkekeh geli, "tapi baiklah jika kamu tidak mau menonton, aku tidak akan memaksamu." Hana mendelik. "Dari awal kamu memang hanya berbasa-basi." Derris semakin terkekeh membuat Hana semakin kesal. "Baiklah bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang belum pernah kita coba?" usul Derris. "Terlalu banyak." jawab Hana cuek. "Kamu benar." Derris mengangguk-anggukan kepala. "oh biar aku saja yang mencarinya. Kamu hanya tinggal duduk cantik seperti biasa." Derris menaik turunkan alisnya pada Hana sambil tersenyum. "Terserah." sahut Hana. Setelah mereka turun dari bis, Derris langsung mengantarkan Hana sampai depan rumahnya seperti biasa. Derris lalu berjalan pulang ke tempat kostnya dan berencana untuk segera beristirahat. Namun baru saja ia merebahkan badannya. Ponsel yang berada di atas meja terus bergetar. Ia lalu meraih ponsel tersebut dan melihat nama penelponnya. "Iya ada apa, Sarah?" kata Derris langsung. "......" "Apakah tidak bisa di tunda? Aku baru saja sampai di rumah." desah Derris. "....." "Baiklah kita bertemu di tempat kemarin. Aku akan bersiap-siap sekarang." kata Derris langsung memutuskan panggilan. Ia mendesah pelan lalu bangkit dan segera mengganti bajunya. Kurang dari dua puluh menit Derris telah sampai di cafe kemarin tempat janjiannya bertemu dengan Sarah. Ia memilih duduk diujung cafe seperti kemarin. Sejujurnya hari ini Derris sangat lelah dan rencananya ia hanya ingin merebahkan badannya di atas tempat tidurnya. Namun rencana tinggalah rencana, karena jika bukan karena rasa bersalah pada Sarah. Derris tidak akan sudi untuk meninggalkan kasurnya dan bertemu dengan Sarah. Suara tarikan kursi di hadapan Derris membuatnya tersadar dari lamunannya. Derris mendongak menatap Sarah yang langsung duduk dan tersenyum lebar pada Derris. "Maaf sudah membuatmu menunggu lama." kata Sarah. "Aku baru datang." sahut Derris. Seorang waiter datang menghampiri meja Derris dan Sarah. Mereka berdua langsung memesan masing-masing hanya minuman. Sarah menawarkan Derris untuk memesan makanan, namun Derris menolaknya karena tidak terlalu berselera untuk makan. Setelah waiter pergi Sarah masih menyunggingkan senyuman yang lebar dan menatap lekat-lekat wajah Derris. Derris yang merasa tidak nyaman langsung berdehem dan berkata. "Jadi ada apa kamu ingin bertemu denganku?" "Aku hanya ingin bertanya, apa kamu sudah memikirkan soal kemarin." tanya Sarah penasaran. Derris mengangguk. "Ya aku sudah memutuskannya." kata Derris. "tapi aku hanya akan menemuimu beberapa kali saja." tambah Derris cepat. "Aku mengerti, terima kasih atas pengertianmu." sahut Sarah lalu memegang tangan Derris yang berada di atas meja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD