Bab 17

2399 Words
Sera yang hari ini menginap di rumah Hana sudah beberapa kali bolak balik ke toilet. Setiap Hana bercerita selalu terpotong karena Sera yang sebentar-sebentar harus balik lagi ke dalam toilet. "Makan apa sih sampe bolak balik ke toilet terus?" sungut Hana, saat Sera sudah kembali ke kamarnya. "Kalo ngga salah.." Sera berpikir sejenak, lalu teringat sore tadi ia memakan masakan Hana. Kemudian ia menelan ludah. "rujak kayanya." dalih Sera. Hana mengernyit. "Kan udah bilang jangan terlalu pedes Sera." kata Hana lalu merebahkan badannya di atas kasur. Sera mengangguk-angguk kecil dan tersenyum dengan di paksakan lalu pergi keluar dari kamar Hana untuk mengambil air minum di dapur. Keesokan paginya Sera langsung pamit pulang karena ia harus memeriksakan diarenya ke dokter. Rencananya akhir pekan ini mereka akan ke mal dan juga perpustakaan sekalian mengerjakan soal yang di berikan Arin. Namun karena Sera sakit, semua rencana di batalkan. Hana sedang menonton film kartun di televisi di ruang tengah rumahnya. Getaran dari ponselnya yang di simpan di atas meja membuat Hana langsung meraih ponselnya lalu mengangkatnya. "Ada apa?" tanya Hana langsung pada si penelpon. "Hari ini jadi ke perpustakaan?" tanya Derris dari seberang sana. "Batal." "Suaramu tidak jelas Hana." kata Derris. Hana berdecak lalu mengecilkan volume televisinya. "Batal." ulang Hana. "Oh kenapa?" tanya Derris penasaran. "Sera sakit." "Bagamana kalo pergi denganku?" tawar Derris. Hana berpikir sejenak. "Baiklah. Jam sebelas di halte." kata Hana. "Oke sayang." jawab Derris, telepon pun di akhiri. *** Derris sudah tiba terlebih dahulu di halte. Ia menunggu Hana sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin. Cuaca hari ini begitu terik namun terasa sangat dingin. Jaket hitam yang membalut tubuh Derris pun terasa masih kurang untuk membuat tubuhnya menjadi hangat. Hana tiba di halte sedikit terlambat dari waktu janjian. Hana meminta maaf lalu menjelaskan keterlambatannya karena ibunya dan Sena mengajak ngobrol sebelum Hana berangkat kesini. Derris yang memaklumi hanya tersenyum kecil. Sesampainya di perpustakaan, terlihat hari ini tidak terlalu ramai. Mungkin karena banyak orang lebih memilih pergi ke mal atau tempat wisata pada saat akhir pekan. Hana dan Derris memilih duduk di paling ujung dekat jendela, lalu memilih beberapa buku untuk di pelajarinya. Mereka berdua mempelajari soal yang di berikan kemarin oleh Arin dan hari ini pun sekalian mengerjakan tugas yang di berikan oleh Arin kemarin. Terlihat kini langit sudah berubah warna menjadi gelap. Tak lama hujan besar pun turun dengan kilatan petir. Keadaan perpustakaan menjadi terasa sedikit ramai karena banyak orang yang datang untuk berteduh. Hawa yang dingin membuat Derris merapatkan jaketnya. "Dingin sekali disini." bisik Derris pada Hana. "aku akan membeli minuman hangat sebentar." Hana mengangguk, Derris bangkit lalu berjalan keluar ke arah minimarket yang letaknya bersebelahan dengan perpustakaan. Derris membeli dua coklat panas lalu membeli beberapa cemilan untuk menemani mereka belajar. Saat ia akan mengambil biskuit, matanya terpaku melihat orang yang di kenalinya yang hanya terhalang rak pajangan makanan. Refleks Derris lalu menunduk dan mengendap-ngendap mendekati mereka dari belakang untuk melihatnya lebih jelas. "Ngapain Niken dan Romi disini?" bisik Derris pada dirinya sendiri. Merasa itu bukan urusannya Derris pun mengendap-endap berjalan ke arah kasir untuk membayar belanjaannya. Lalu kembali ke perpustakaan dengan rasa penasaran yang besar. "Hana tadi aku melihat Romi di minimarket." kata Derris sesampainya di perpustakaan. "Lalu?" jawab Hana malas. "Dia sedang bersama.." "Tunggu, aku mau mencari buku dulu kesana." Hana menyela ucapan Derris, lalu menunjuk pada rak buku yang berada di ujung. Hana bangkit berjalan menuju pada rak buku yang berada di ujung, Derris mengekor di belakang Hana karena mungkin saja Hana membutuhkan bantuannya untuk mengambil buku yang di simpan di rak paling atas. Derris melihat setiap buku di kanan dan kirinya yang di susun dengan rapi. Mereka sudah berada di ujung rak. Tanpa di duga Hana berhenti mendadak membuat Derris menabrak punggung kecil Hana. "Aww." keluh Hana. Derris langsung memegang kedua bahu Hana, agar Hana tidak jatuh. "Maaf, kamu berhenti mendadak jadi aku.." "Sssttt." bisik Hana pada Derris. "mundur-mundur." perintah Hana dengan pelan. Derris menurut lalu memundurkan langkahnya yang di ikuti oleh Hana. Tanpa di duga, Derris terjatuh karena kaki kanannya menginjak tali sepatunya yang terlepas dari ikatan. Ia oleng, lalu Hana pun ikut terjatuh dengan posisi duduk di kedua paha atas Derris. Hana menggeliat mencoba untuk bangkit namun sedikit kesusahan, tanpa sadar Hana malah membuat Derris terpaku dengan ulah Hana. Karena Derris adalah lelaki normal, alarm bahaya dalam otak Derris memperingatkan Derris untuk segera menjauh dari Hana sebelum ia berpikiran yang aneh-aneh. Tanpa sadar Derris mendorong Hana dan jatuh di depannya. Derris kaget lalu langsung berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantu Hana berdiri. "Kamu tidak apa-apa?" cicit Derris karena takut akan di marahi oleh Hana. "Kenapa-napa tau." Hana menerima uluran tangan Derris, setelah berdiri ia menjitak kepala Derris dengan kesal lalu menepuk kedua tangannya dan bagian lututnya yang sedikit kotor. "Hehehe maaf aku tidak sengaja." gumam Derris. "Ada apa sebenarnya?" tanya Derris, baru teringat kembali dengan hal yang membuat mereka sampai terjatuh tadi. Hana ragu untuk mengatakannya pada Derris. Namun dengan sifat Derris yang rasa penasarannya cukup tinggi Hana pun akhirnya memberi tahu Derris dan berbisik kembali. "Jalan ke ujung rak lalu lihat ke sebelah kiri." perintah Hana. Derris yang tidak mengerti maksud Hana hanya menurut dan berjalan pelan ke arah rak ujung yang hanya empat langkah dari tempatnya. "Wow." bisiknya pelan. Hana lalu menarik tangan Derris. "Ayo kita kembali saja." ajak Hana. Lalu mereka berdua berbalik dan berjalan kembali ke tempat duduk mereka. "Bukannya itu Romi?" tanya Derris, "tapi dengan si..." "Niken." sela Hana langsung. "sudahlah itu bukan urusan kita. Ayo cepat selesaikan tugas yang di berikan Arin." mereka lalu mempercepat langkahnya. Malam harinya, Romi dan Rian datang ke tempat kost Derris sambil membawa satu kantong keresek penuh berisi makanan ringan. Hari ini mereka berdua berniat untuk menginap di tempat Derris sambil bertanding bermain game. Romi dan Rian sedang mengeluarkan isi dari kantong keresek yang mereka bawa. Derris terus memperhatikan Romi lalu mengingat kejadian tadi siang yang di lihatnya di perpustakaan. Romi yang sadar dirinya sedang di perhatikan lalu berkata. "Kenapa liatin mulu?" sewot Romi. "Ntar naksir loh." ejek Rian sambil tertawa. Derris mendengus. "Tadi ke perpustakaan?" tanya Derris akhirnya. "Hmm." gumam Romi lalu membuka keripik singkong yang di bawanya. "Sama Niken?" tanya Derris kembali. Romi seketika menghentikan suapan keripik singkong yang hampir menuju ke dalam mulutnya. "Kok tahu?" tanya Romi penasaran. Derris mengernyit. "Apa kalian berpacaran?" Romi menyimpan keripik singkongnya lalu membenarkan posisi duduknya. "Iya, baru satu minggu." Derris mengangguk, Rian yang tidak tahu menahu memilih diam dan mendengarkan. "Dan kalian sudah.." "Sudah apa?" potong Romi, kata-kata Derris membuat Romi seketika menjadi panik. "Ciuman." Romi terperangah karena Derris sudah mengetahui hal itu. Namun sedetik kemudian ia menyinggungkan senyuman yang lebar "She is good kisser." pujinya. "bibirnya yang manis dan juga lumatannya yang uhhh. Tapi ngomong-ngomong kamu tahu dari mana?" tanya Romi penasaran. Derris memutar matanya dengan kesal. "Perpustakaan." Romi mengangguk-ngangguk paham. Rian bertepuk tangan dengan bangga. "Hebat sekali, Romi yang jomblo berabad-abad kini sudah punya pacar dan mengalahkan Derris yang sudah pacaran lama tapi sama sekali belum pernah berciuman." ejek Rian sambil melirik pada Derris. "Sialan." umpat Derris, Rian dan Romi tegelak melihat Derris kini memberengut kesal di atas tempat tidurnya. Mereka lalu memulai bermain game, hanya Derris sendiri yang memilih rebahan di atas tempat tidurnya sambil melihat foto-foto Hana yang berada di galeri ponselnya. Tanpa sadar Romi telah berada di samping Derris sambil memperhatikan kegiatannya melihat-lihat foto Hana. "Udah berapa bulan pacaran dengan Hana?" tanya Romi lalu pindah duduk di bawah tempat tidur Derris. "Tiga bulan mungkin." jawab Derris dengan malas. "Dan kau sama sekali belum skinship?" tanya Romi tidak percaya. "Hmm. Bagiku skinship bukan segalanya." ucap Derris acuh. Romi tertawa mengejek lalu menepuk bahu Derris. Romi bangkit lalu duduk kembali bersama Rian yang kini sama menertawakannya. "Setidaknya aku lebih unggul dari Rian." kata Derris sinis. "Aku tidak berpacaran bukan karena aku tidak bisa mendapatkan wanita. Aku hanya tidak tertarik untuk menjalin suatu hubungan. Itu sangat merepotkan." jelas Rian. "lagipula jika aku berpacaran. Aku bisa melakukan skinship dengan mudah." lanjut Rian dengan sombong. Derris lalu duduk di atas kasurnya dan mengibaskan satu tangan tanda tidak percaya. "Percuma kalo tidak di buktikan." Rian hanya mengangkat kedua tangannya dengan acuh. "Sepertinya berpacaran satu tahun baru kau akan merasakan skinship." ejek Rian lalu tertawa kencang bersama Romi. Karena pada kenyataannya Derris sudah pasti akan kalah dengan Rian. Ia sudah berpacaran dengan Hana selama tiga bulan namun belum pernah sekalipun melakukan skinship. Hanya sebatas pegangan tangan dan itu pun sangat jarang terjadi karena Hana selalu marah setiap kali Derris memegangnya. Senin paginya Derris sedikit menjaga jarak dari Hana. Setiap dekat dengan Hana ia selalu teringat kejadian Hana yang duduk di atas pahanya yang membuat Derris selalu berpikiran liar. Terlebih Derris pun selalu teringat dengan kata-kata Rian yang menyebutnya akan melakukan skinship setelah satu tahun berpacaran dengan Hana. Derris pun menggelengkan kepala dengan keras dan tersadar saat tangan Hana menyentuh kulit tangannya yang tidak memakai jaket. Derris terlonjak kaget membuat Hana kebingungan. "Kenapa sih hari ini?" tanya Hana. Derris hanya tersenyum kikuk. Lalu memberikan tanda hati dengan tangannya yang membuat Hana mendelik lalu berjalan cepat meninggalkan Derris. Sifat aneh Derris terus berlangsung sampai di sekolah. Jam istirahat pertama biasanya Derris menghampiri Hana dan memberikan s**u coklat padanya. Namun kali ini, Rian-lah yang datang ke kelas Hana untuk memberikan s**u coklat tersebut. Hana yang belum curiga hanya menerima tanpa banyak bertanya. Sore harinya sepulang sekolah, hujan turun begitu deras. Hana dan Derris yang baru turun dari bis langsung berjalan pelan menggunakan satu payung yang cukup besar. Mereka berjalan bersama dalam keheningan dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hana melirik pada Derris, bahu kirinya kini kehujanan padahal jelas-jelas payung itu cukup untuk memayungi mereka berdua. "Hei geser kesini sedikit. Kamu jadi kena air hujan." seru Hana. Derris menggeser sedikit badannya mendekati Hana. Mereka pun berjalan pelan kembali. Hana melirik kembali pada Derris yang seakan membuang muka pada Hana. Hana mengelap belakang leher Derris yang terkena air hujan. Derris terlonjak kaget lalu tanpa sadar menjatuhkan payung yang sedang di pegangnya. "Maaf Hana aku tidak bisa mengantarmu sampai rumah." teriak Derris lalu berlari dengan cepat meninggalkan Hana yang kini sudah basah kuyup. "Derris sialan!!!!" pekik Hana lalu memungut payung dengan kasar dan berjalan pulang ke rumahnya dengan kesal. *** Keesokan harinya Derris tidak menunggu Hana di halte bis. Hanya ada Rian yang kebetulan berpapasan dengannya saat akan naik ke dalam bis. "Mana Derris? Kalian sedang bertengkar?" tanya Rian pada Hana yang datang sendirian tanpa Derris. Hana melirik tajam pada Rian. "Bilang padanya, jangan muncul di depanku. Kalau dia ngga mau mati muda." sungut Hana. Rian mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Sesampainya di kelas dan menyimpan tas, Hana menyempatkan untuk menghampiri Derris. Memastikan apakah Derris sudah sampai sekolah atau belum. Namun saat Hana sampai di kelas Derris, Romi mengatakan bahwa Derris belum datang. Hana pun lalu berjalan kembali ke kelasnya. Jam istirahat pertama Rian datang kembali membawa s**u coklat untuk Hana. Hana lalu melihat ponselnya dan tidak menemukan satu pun pesan atau panggilan telepon dari Derris hari ini. Hana lalu menyimpan s**u coklatnya dan berjalan kembali ke kelas Derris untuk menemuinya. Namun untuk kedua kalinya, Romi mengatakan bahwa Derris tidak ada di dalam kelas dan sedang ke toilet. Hana pun kembali ke kelasnya dengan perasaan dongkol. Hana mencoba menghubungi ponsel Derris, namun nihil. Nomor Derris sedang tidak aktif dan membuat Hana semakin geram. Untuk terakhir kalinya Hana mengunjungi kelas Derris setelah jam pelajaran selesai. Namun tetap sama Derris sudah tidak terlihat di kelasnya. Hana mendesah merasa usahanya telah sia-sia. Dari belakang Hana, Romi yang kebetulan kembali lagi ke kelas karena ada yang tertinggal melihat Hana di depan pintu kelas lalu menyapanya. "Masih mencari Derris?" tanya Romi. Hana mengangguk. "tadi dia masih di koridor depan bersama Rian." Hana mengangguk. "Oke makasih." ucap Hana lalu berjalan cepat menuju ke koridor depan. Hana mencari Derris ke seluruh penjuru koridor depan, namun nyatanya Derris sudah tidak terlihat. Hana lalu berjalan mencari Derris ke arah gerbang dan bingo. Terlihatlah sosok Derris dengan jaket biru sedang berjalan sendirian ke arah halte. Hana langsung berlari ke arah gerbang agar bisa menahan Derris. "Ketangkap sekarang." Hana langsung menahan tas Derris dan seketika Derris langsung berhenti dan membalikkan badannya. Semula Derris akan marah, namun ketika tahu bahwa Hana-lah yang menahan tasnya, ia langsung tersenyum malu. "Ki-ta pu-lang ber-sama." ada penekanan di setiap kata yang Hana ucapkan. Derris menelan ludah dengan susah payah dan tamat sudah riwayatnya. Mereka berdua berjalan ke arah halte bis sambil Hana mencengkeram pergelangan tangan Derris dengan kedua tangannya agar tidak bisa melarikan diri. "Bilang sekarang." sungut Hana. Derris memandang sekitar yang kini sudah cukup sepi. "Janji tidak akan marah?" "Iya." "Tidak akan memaki?" "Iya." "Tidak akan pukul juga?" "Mau di pukul dulu sebelum bicara?" tanya Hana kesal. Derris menggelengkan kepalanya "Kita kesana." Derris menunjuk sebuah tempat fotocopy dan merangkap menjadi warnet. Tempat itu memiliki tiga lantai dan ukurannya cukup besar. Hana mengangguk lalu melepaskan kedua tangannya yang sejak tadi mencengkram pergelangan tangan Derris. Mereka memasuki tempat itu, lantai satu di peruntukan tempat fotocopy, kemudian di lantai dua di jadikan sebagai warnet. Mereka berjalan ke arah lantai tiga yang hanya di isi oleh kardus dan barang-barang bekas. Mereka berhenti di anak tangga terakhir dan saling berhadapan. Sebenarnya semenjak kejadian di perpustakaan Derris menjadi sulit untuk menghadapi Hana. Karena ia takut jika Hana mengetahui apa yang sedang Derris pikirkan apabila mereka bersentuhan. Pada kenyataannya itu adalah khayalan biasa remaja yang penuh rasa ingin tahu saat pubertas. "Cepetan ngomong." bentak Hana kesal. Derris terlihat gugup dan juga bingung untuk memulai dari mana. "Tutup mata kamu." pinta Derris. Hana berdecak sebal. "Buat apa?" "Tutup dulu." dengan kesal Hana pun menurut dan menutup matanya. Melihat Hana yang kini sudah menutup matanya. Derris serba salah dan juga takut. Kini posisi mereka saling berhadapan dan juga posisi yang pas untuk berciuman. Derris memajukan bibirnya. Ia menggelengkan kepala karena belum cukup berani untuk memulainya. Derris pun berpikir beberapa detik sambil memperhatikan wajah Hana. "Kamu mau cium aku ya?" tanya Hana lalu membuka matanya. Mukanya dan Derris kini hanya berjarak beberapa senti. Lalu tanpa di duga Derris mengecup bibir Hana sekilas dan menarik Hana ke dalam pelukannnya. Hanya beberapa detik pelukannya. Derris lalu melepaskan pelukannya pada Hana. "Aku takut kamu membeciku. Aku takut.." "Kitakan berpacaran." potong Hana. " kalo sudah bicaranya kita pulang." Hana membalikkan badannya untuk menuruni tangga Derris tersenyum mendengar ucapan Hana, lalu memeluk Hana dari belakang dan hampir membuat Hana terjatuh. "Ini di tangga. Bahaya tau." Hana menjitak kepala Derris dengan pelan. Derris tertawa lalu melepaskan pelukannya dan berjalan bersama menuruni tangga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD