Ulangan akhir semester telah di mulai, semua siswa sudah mulai fokus untuk belajar. Hana dan teman-temannya pun mulai belajar dengan kisi-kisi yang telah di berikan setiap guru. Namun nyatanya kisi-kisi dan soal yang di berikan oleh guru kadang selalu meleset dalam soal ulangan.
"Baru hari pertama udah di kasih ulangan matematika." keluh Rian.
Kini mereka berenam sedang belajar bersama di rumah Derris sepulang sekolah. Rian yang melihat ada kemajuan dari nilai Derris sebelum ulangan memutuskan untuk meminta tolong pada Arin untuk mengajarinya. Meskipun awalnya Arin menolak Rian dan Romi dengan mentah-mentah. Namun pada akhirnya Arin pun setuju dengan berbagai syarat yang di ajukan. Salah satunya adalah Rian dan Romi harus membelikan makanan selama satu bulan penuh pada Arin. Mau tidak mau mereka berdua pun setuju agar nilainya bisa naik.
"Bagaimana kalo liburan ini kita pergi ke pantai?" tawar Arin pada teman-temannya.
Semua mata langsung menatap Arin dengan berseri-seri. Namun seketika murung kembali, teringat dengan kenyataan bahwa apabila ke pantai memerlukan biaya yang tidak sedikit. Melihat teman-temannya yang murung Arin tersenyum misterius.
"Tenang saja masalah biaya menginap gratis. Tanteku punya sebuah vila di dekat pantai." kata Arin. "tapi ya harus sebelum tahun baru kesananya. Karena sudah ada yang menyewanya untuk tahun baru." lanjut Arin sambil membuka buku pelajarannya.
"Wah aku setuju," pekik Sera. "soal kendaraan kita bisa naik kereta api aja lebih cepat dan juga murah."
Semua mengangguk setuju, mereka pun melanjutkan belajarnya terlebih dahulu sebelum merencanakan liburannya ke pantai.
Hana mendesah lega karena hari ini adalah hari terakhir ulangan. Kini ada waktu untuk istirahat sebentar untuk menyegarkan pikiran yang lelah karena sudah terlalu banyak belajar. Selama waktu istirahat, sembari menunggu hasil ulangan di bagikan. Apabila nilainya bagus mereka selamat tidak perlu untuk berpikir kembali, namun apabila nilai ulangannya jelek maka sudah di pastikan harus mengulang kembali ulangan tersebut.
Di kantin Derris dan Rian sedang menyantap seporsi siomay dan juga jus jeruk untuk mengisi perut. Mereka berdua memilih meja yang terletak di tengah kantin. Meja tersebut dapat memuat delapan orang. Di tempat mereka duduk terlihat Hana, Sera dan Arin menghampiri mereka berdua lalu duduk dan menyimpan pesanan makanan mereka di atas meja.
Hana memilih duduk di samping Derris. Bukan karena Hana yang menginginkannya, namun karena Derris telah melambaikan tangannya agar Hana duduk di sampingnya. Sedangkan Sera dan Arin duduk di dekat Rian.
Mereka berlima tidak ada yang membuka suara, semuanya sedang fokus dengan makanannya masing-masing. Setelah Rian menyelesaikan makannya ia bertanya pada Arin.
"Jadi gimana acara ke pantainya?" tanya Rian dengan senyuman yang lebar.
Arin mengangguk-angguk. "Jadi dong. Gatau kalo kalian." goda Arin.
Sera menghabiskan air mineralnya lalu menaruh bekas minuman itu dengan cukup kencang. "Ngga ada alasan buat ngga jadi. Aku sudah mencari baju untuk di pakai saat di pantai nanti." kata Sera sambil tersenyum lebar.
"Baju apa?" tanya Derris polos.
"Bikini." bisik Sera pelan pada Derris dan Rian.
Hana menggelengkan kepalanya, Arin hanya menahan tawanya agar tidak keluar, sedangkan Rian dan Derris hanya menganga tidak terpikirkan oleh mereka bahwa Sera akan berani memakainya.
Hana bangkit untuk membuang sampah di dekat pintu kantin. Sera mencondongkan badannya ke depan ke arah Derris.
"Hana juga akan memakainya yang berwarna hitam." bisik Sera pelan lalu mengedipkan matanya pada Arin. Dan Arin hanya terkekeh geli.
Derris terperangah tidak percaya pada kata-kata Sera. "Benarkah?" tanya Derris penasaran.
Sera mengangguk. "Kalau kamu ingin request warna, kamu belikan saja sesuai keinginanmu." Sera lalu memundurkan badannya ketika melihat Hana berjalan kembali ke mejanya.
"Ayo Hana kembali ke kelas." ajak Sera saat Hana telah mendekati meja. Hana mengangguk, Arin dan Sera berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan Derris dan Rian.
Setelah para wanita pergi Romi menghampiri Rian dan Derris yang sedang mengobrol ringan. Romi duduk di sebelah Derris lalu meminum coke yang baru saja di belinya.
"Ngobrolin apaan?" tanya Romi.
"Para gadis akan memakai bikini saat di pantai." jawab Rian.
Romi menyeringai. "Wow sepertinya liburan kali ini akan menyenangkan." ujar Romi.
"Tapi tidak dengan Derris. Dia akan sibuk menutupi tubuh Hana yang memakai bikini." ejek Rian lalu tergelak bersama Romi.
***
Setelah pembagian rapot liburan pun di mulai. Hari yang di tunggu-tunggu untuk liburan ke pantai pun tiba. Mereka yang sudah mempersiapkan untuk hari ini sangat bersemangat, semua perlengkapan untuk di bawa pun sudah di siapkan sejak jauh-jauh hari.
Hana, Derris, Rian, Sera dan Arin sedang menunggu di stasiun. Kini tinggal menunggu Romi yang sudah hampir sepuluh menit telat dari waktu janjian.
"Kebiasaan banget, masa belum dateng juga." gerutu Rian sambil melihat jam tangannya.
"Kita tinggal aja Romi." usul Arin dan mendapat anggukan semangat dari Sera.
"Tunggu bentar lagi aja. Jadwal keberangkatannya juga lima menit lagi." Hana menengahi. "itu Romi." tunjuk Hana.
Semua mata melihat ke arah yang di tunjukkan Hana. Terlihat Romi sedang memakai tas ransel yang cukup besar dan juga tangan kirinya menggenggam tangan Niken.
"Kok dia ikut?" bisik Sera pelan pada Hana, Hana hanya mengangkat bahu.
"Romi yang ngajak, lagian banyak orang tambah rame." kata Arin.
Sera mendelik. "Ya jangan dia juga." sewot Sera.
"Yah terserah Romi, diakan pacarnya." jawab Arin. "udah-udah jangan cemberut. Kita kan mau liburan." Arin menyenggol tangan Sera dengan sikunya dengan senyuman yang lebar. Sera hanya mendengus kesal.
Semua sudah mendapatkan tiket masing-masing. Mereka berjalan menuju kereta yang akan membawa mereka ke pantai. Karena mereka memakai kereta pagi, sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan tidur di dalam kereta. Hanya Derris dan Rian yang masih terjaga. Derris memerhatikan Hana yang duduk di sebelahnya sedang tertidur dengan berbantalkan tangannya di dekat kaca. Dengan hati-hati Derris meraih kepala Hana dan memindahkannya ke bahu Derris. Derris lalu menyelimuti badan Hana dengan jaket yang di bawanya dan tersenyum puas. Rian yang berada di seberang kursi Derris hanya menggelengkan kepala melihat ulah sang sahabat.
"Pas dia bangun, pasti langsung dapet bogem mentah." ejek Rian pada Derris.
"Sssstt jangan berisik." Derris melotot pada Rian.
Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya mengantarkan mereka pada sebuah villa yang berukuran cukup besar dan juga asri. Villa tersebut menghadap langsung pada hamparan pantai yang sangat indah. Jarak villa ke pantai pun tidak terlalu jauh, hanya perlu berjalan kaki sekitar sepuluh menitan.
Setelah Arin mengunjungi rumah tantenya, yang rumahnya tidak terlalu jauh dari villa. Tantenya langsung memberikan kunci villa dan memberikan wejangan agar Arin dan teman-temannya selalu menjaga diri. Dan tak lupa agar menjaga villa tersebut agar selalu tetap bersih dan tidak berbuat macam-macam selama disini. Arin mengangguk patuh lalu kembali ke villa bersama teman-temannya.
Terdapat dua kamar di villa tersebut. Satu ruangan tengah yang cukup besar untuk tempat mereka berkumpul. Satu kamar mandi dan juga terdapat satu dapur.
Para gadis memilih kamar yang berukuran besar, sedangkan para lelaki menghuni kamar yang berukuran sedang. Setelah semua membereskan barang bawaannya. Mereka lalu bergegas keluar untuk melihat pantai dan sekalian membeli bahan makanan.
Hana berjalan keluar kamar menggunakan celana pendek di atas lutut dan kaos yang tidak berlengan. Derris yang melihat Hana seketika terperangah karena baru kali ini melihat Hana menggunakan baju yang di anggapnya cukup terbuka, terlebih setelah berjalan ke pantai banyak mata lelaki yang memperhatikan Hana.
Derris yang kesal terus berjalan di samping Hana sambil melototi setiap mata yang memandangi Hana. Derris pun tak segan untuk terus menggenggam tangan Hana, meskipun Hana terus menarik tangannya dari Derris.
"Aku ngga buta jadi cepat lepaskan tangan kamu." Hana menarik kembali tangannya, namun Derris meraih tangan Hana kembali lalu menggenggamnya tambah erat.
"Disini banyak yang menginginkanmu. Aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku." jawab Derris serius.
Hana mendengus kesal. "Tapi aku jadi tidak bebas bergerak, longgarkan sedikit." pinta Hana. Derris pun menurut. Mereka berjalan kembali menyusuri pasir pantai yang halus.
"Untung saja kamu tidak pakai baju seperti Sera dan Niken." tunjuk Derris.
Sera dan Niken memakai celana yang super pendek dan juga baju yang memperlihatkan pusarnya. Baju itu menurut Derris terlihat seperti kurang bahan.
Hana memutar bola matanya, "Ini di pantai masa iya mereka harus memakai piyama." kata Hana. "lagipula besok aku akan pakai baju seperti itu." lanjut Hana.
"Jangan." pekik Derris. Hana mencubit tangan Derris. Karena suara Derris membuat beberapa orang yang berada di pantai kini memperhatikannya.
"Jangan berisik." sewot Hana.
"Asal kamu tidak memakai baju seperti itu." tunjuk Derris pada Sera yang kini sedang duduk di atas pasir bersama Arin. "kamu hanya boleh memakai baju seperti itu saat berdua denganku." bisik Derris.
Hana mendelik lalu melepaskan pegangan tangan Derris yang kini melonggar. Lalu berlari kecil menghampiri Sera dan Arin.
"Lihat-lihat yang itu tampan dan eerr hot." tunjuk Sera pada sekumpulan pria yang sedang bermain bola voli.
Hana baru sampai lalu duduk di tengah-tengah Sera dan Arin. Mereka bertiga menatap para lelaki yang sedang bermain bola voli sambil bertelanjang d**a dan hanya memakai celana pendek.
"Setelah permainannya selesai aku akan berjalan kesana, pasti mereka ada yang mengajakku berkenalan." ujar Sera dengan penuh semangat.
"Lalu pacarmu?" tanya Hana.
"Ya beda cerita. Disini aku jomblo." Sera dan Arin tergelak. Hana hanya mendengus.
"Kamu juga ikut kesana, ya?" ajak Sera pada Hana.
"Sepertinya Hana tidak perlu, karna lihat Derris sudah datang kemari sambil berkaca pinggang." Arin terkekeh geli.
Setelah Derris sampai, mereka bertiga hening tidak ada berbicara. Derris duduk di belakang Hana dan juga melihat sekelompok orang yang sedang bermain voli.
Permainan bola voli telah selesai, Sera bangkit lalu melangkah berjalan pura-pura ke arah sekelompok lelaki yang sedang mengelap keringatnya setelah bermain bola voli. Dan ternyata benar, sudah ada lelaki yang menghampiri Sera dan meminta nomor teleponnya. Mereka mengobrol ringan sambil tertawa lalu mereka pamitan. Sera berjalan kembali ke tempat duduknya semula. Terlihat muka Sera kini berseri-seri.
"Tuh kan apa yang aku bilang, pasti ada satu saja yang berhasil." Sera tertawa puas sambil memainkan ponselnya.
Arin terkekeh geli, Hana dan Derris bangkit lalu berjalan untuk membeli makanan. Arin dan Sera pun bangkit dan berjalan kembali ke villa.
Menjelang malam, makanan yang telah di masak Derris dan Arin telah siap. Mereka mencicipi masakan Derris dan Arin. Tanpa di duga masakan mereka berdua sangat lezat.
"Gimana enak kan sayang?" tanya Derris, Hana hanya mengangguk sambil menyuapkan kembali gurame asam manisnya. "jadi membuatmu ingin menikah denganku bukan?" lanjut Derris sambil terkekeh.
Hana tidak menjawab, ia lebih memilih untuk menghabiskan makanannya. Niken melirik pada Derris dan Hana yang berada di hadapannya. Derris kini sedang menyuapi Hana meskipun Hana menolak dan mengabaikannya Derris masih tetap terseyum dan baik pada Hana. Tidak masuk akal, pikir Niken. Padahal jelas-jelas Hana tidak menyukai Derris namun Derris tetap saja berusaha baik pada Hana.
Pikiran Niken kembali ketika Romi memanggil namanya,
"Ada apa?" tanya Romi lembut.
Niken menggeleng lalu tersenyum yang di buat semanis mungkin. "Tidak ada. Ini makan." Niken menyuapi Romi dengan manja. Romi menerima suapan Niken dengan senyuman yang lebar.
Namun Niken tidak sadar bahwa ada sepasang mata yang terus memperhatikan tingkah lakunya selama ini.
Setelah makan malam selesai, Romi dan Niken memutuskan untuk berjalan-jalan kembali ke tepi pantai sedangkan Sera, Arin dan Rian memilih bermain game yang di bawa oleh Rian. Derris dan Hana memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar belakang villa.
Hana dan Derris duduk di bangku taman belakang villa. Taman belakang ini di penuhi banyak tanaman hias dan juga lampu-lampu yang cukup temaram. Mereka berdua duduk santai sambil meminum coklat panas dan memandang langit yang penuh dengan bintang yang cantik.
"Hana." panggil Derris lembut.
"Hmm." gumam Hana tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
"Kamu mau kado apa dari aku saat ulang tahun?" tanya Derris sambil menatap wajah Hana.
"Tidak usaj repot-repot." jawab Hana acuh lalu meniup coklat panasnya dan menyesapnya.
Derris memberengut. "Ayolah katakan." bujuk Derris.
"Terserah." ucap Hana.
Derris memutar bola matanya. "Hana." panggil Derris kembali.
"Apa lagi?" jawab Hana kesal.
"Hanya ada kita berdua disini,"
"Lalu?" jawab Hana.
"Aku ingin..." Derris menggantung kalimatnya membuat Hana menengok ke arahnya. Derris kini tersenyum misterius.
Hana yang mengerti arah pembicaraan Derris lalu berkata, "Tidak."
"Ahhh kenapa." Derris kecewa. "hanya ada kita berdua disini."
Hana berpikir sejenak lalu tersenyum jail. "Baiklah dengan satu syarat. Kamu harus menunjukan letak pesawat yang baru saja kulihat di langit dalam hitungan ke sepuluh."
Derris seketika berdiri dan berjalan beberapa langkah ke depan lalu memandang berkeliling mencari pesawat. Sedangkan Hana menghitung dan tersenyum kecil melihat Derris yang mudah di tipu.
"Mana tidak ada." keluh Derris.
"Ada, tadi aku melihatnya." Hana melanjutkan hitungannya yang sudah ke angka lima.
Hana tak dapat menahan tawanya, ia pun terkekeh geli. Derris membalikkan badannya berjalan ke arah Hana. Derris duduk kembali di samping Hana.
"Kamu menipuku." sewot Derris.
Hana terkekeh geli lalu mendekatkan wajahnya pada Derris yang kini sedang cemberut dan mengecup bibirnya sekilas. Hana memundurkan wajahnya sedikit dan menatap reaksi Derris yang terkejut dengan apa yang dilakukan Hana barusan. Hana tersenyum kecil. Tanpa di duga Derris menarik perlahan kepala Hana, lalu melumat bibir Hana yang kini rasanya semanis coklat. Derris merapatkan badannya pada Hana. Hana lalu merangkul kepala Derris dan membalas ciumannya. Ciuman itu cukup lama sampai akhirnya.
Praangg
Terdengar suara gelas pecah. Derris dan Hana melepas ciuman mereka lalu melihat ke asal suara. Di depan pintu belakang villa, terlihat seseorang yang berjalan menuruni tangga kecil.
"Astaga maafkan aku. Kukira tidak ada orang." terdengar suara perempuan.
Derris menyipitkan matanya agar bisa melihat dengan jelas siapa yang ada disana. Dan suara itu ternyata Niken, yang kini sedang berusaha membersihkan pecahan gelas.
"Hati-hati membersihkan pecahan gelasnya." kata Hana memperingatkan.
Derris dan Hana bangkit mendekat pada Niken. Lalu membantu Niken membersihkan pecahan gelas tersebut.
"Sekali lagi maafkan aku." ucap Niken sebelum ia membalikkan badannya dan tersenyum simpul karena telah berhasil mengganggu kegiatan Derris dan Hana.
Derris dan Hana saling bertatapan dengan rona merah yang terlukis jelas di kedua pipi mereka.
"Sebaiknya kita masuk. Udara sudah mulai dingin." kata Hana dan dapat anggukan kecil dari Derris yang kini menyunggingkan senyuman yang lebar.