Setelah pulang dari pantai Hana menghabiskan sisa liburannya di rumah, Sesekali Sera datang berkunjung datang ke rumah Hana untuk sekedar melepas rasa bosannya di rumah.
Pergantian tahun yang tinggal beberapa hari lagi membuat semua orang sibuk untuk membuat rencana pada malam tahun baru. Hana yang telah jauh-jauh hari di ajak Derris untuk menghabiskan malam pergantian tahun di luar merasa tidak semangat. Karena mereka hanya menghabiskan malam tersebut hanya berdua saja.
Sera yang kini menelpon Hana sedang mengajak Hana agar menghabiskan malam tahun baru bersama. Pasalnya pacar Sera, Bima yang seorang mahasiswa baru akan mengadakan pesta kecil-kecilan bersama dengan teman-temannya untuk menyambut tahun baru.
"Jadi ikutkan tahun baru nanti?" tanya Sera di seberang sana.
Hana terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan Sera. Karena Hana harus membicarakan masalah ini terlebih dengan Derris.
"Lihat nanti deh." jawab Hana sekenanya.
"Ayolah, aku tidak terlalu mengenal teman-teman Bima. Setidaknya jika kamu dan Derris ikut aku jadi ada teman ngobrol." bujuk Sera.
Hana berpikir beberapa saat. "Akan aku bicarakan dulu dengan Derris."
"Baiklah. Segera kabari aku Hana." kata Sera lalu mengakhiri sambungan telepon.
Hana lalu duduk di tempat tidurnya sambil membaca buku novel yang baru belinya. Hana membuka tiap lembaran novelnya sambil meresapi setiap cerita dari novel tersebut. Getaran dari ponsel Hana membuyarkan konsentrasi Hana saat membaca. Ia meraih ponselnya dan melihat nama sang penelpon. Lalu menempelkan ponsel di telinganya
"Hmm." gumam Hana lalu mengambil bookmark-nya yang berada di sampingnya dan menyimpan di tengah buku novel yang baru saja di bacanya.
"Kau sudah bersiap-siap?" tanya Derris di seberang sana.
"Belum. Kenapa?"
"Aku hampir menyelesaikan masakanku. Dan sebentar lagi sudah memasuki jam makan siang." ujar Derris
Hana terdiam sejenak lalu melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukan tengah hari.
"Baiklah aku bersiap dulu." Hana lalu memutuskan telepon.
Hana berjalan ke lantai bawah untuk bersiap-siap pergi ke tempat kost Derris. Hari ini Derris mengajak Hana untuk makan siang bersama di tempatnya. Derris sengaja mengajak Hana untuk makan siang di tempat kostnya karena Derris ingin melakukan sesuatu hal yang belum pernah dilakukan bersama Hana sebelumnya. Meskipun pada kenyataannya agar bisa lebih leluasa bersama Hana dan tentunya bisa menghemat pengeluaran. Derris pun memasak semua makanan kesukaan Hana dan tak lupa menyiapkan beberapa makanan penutup kesukaan Hana.
Hampir dua puluh menit Hana bersiap. Hari ini ia hanya memakai kaos merah polos dan yang di balut dengan cardigan hitam dan celana jeans hitam. Setelah melihat penampilannya untuk terakhir kali di kaca. Hana lalu turun dan berjalan ke bawah untuk pamitan kepada kedua orangtuanya. Kemudian ia berjalan keluar rumah menuju tempat kost Derris sendirian. Sebenarnya Derris menawarkan diri untuk menjemput Hana ke rumahnya. Namun karena hari ini akhir pekan jadi sudah di pastikan semua anggota keluarganya sedang berada di rumah. Menghindari akannya banyak pertanyaan yang keluar dari mulut ibunya, Hana lebih memilih berangkat sendirian.
Hana kini telah berdiri di depan pintu kost Derris. Ia mengetuk pelan pintu tersebut dan terdengar dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk. Hana membuka pintu dan terlihatlah punggung Derris yang sedang sibuk di dapur.
Derris membalikkan badannya dan berjalan ke arah meja kecil sambil membawa puding lalu menaruh puding itu di meja kecil yang kini sudah tersaji beberapa masakan kesukaan Hana yang aromanya tercium sangat wangi.
Derris mendekat pada Hana yang kini masih berdiri di depan pintu, lalu menarik tangan Hana perlahan agar segera duduk di meja kecil.
"Sepertinya kamu jatuh cinta padaku bukan?" goda Derris, setelah Hana duduk dan tersenyum kecil melihat makanan kesukaannya kini tersaji di hadapannya.
"Akan aku pertimbangan." balas Hana lalu mencoba creamy pasta udang buatan Derris.
"Lezat bukan?" tanya Derris semangat. "aku sudah menambahkan udang yang banyak sesuai pesananmu." lanjut Derris.
"Yah tidak buruk." jawab Hana acuh. Derris memberengut lalu mengambil jus jeruk dan meminumnya.
Mereka berdua makan dalam keheningan, hanya ada suara tv yang meramaikan ruangan. Setelah mengahabiskan makanan beratnya Derris membereskan meja dan membawa piring kotor ke dapur.
Hana berniat membantu Derris untuk mencuci semua piring, namun Derris menolaknya dan menyuruh Hana untuk duduk saja sambil menonton tv dan memakan cake dan puding yang telah di siapkan Derris.
Setelah Derris selesai mencuci piring ia bergabung dan duduk di sebelah Hana menonton tv sambil mencoba puding yang di buatnya. Derris menengok pada Hana yang kini sedang fokus menonton acara yang menayangkan kartun Spengebob Squarepants.
"Hana bagaimana kalo kita ciu..."
"Tidak." tandas Hana tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.
"Hanya kita berdua disini." bujuk Derris.
"Aku bilang aku tidak ma.."
Derris langsung mencium pipi Hana sekilas tanpa aba-aba lalu tersenyum kecil. Hana mengambil bantal kecil yang terdapat di tempat tidur Derris lalu memukulnya tepat di wajah Derris. Derris hanya tertawa pelan melihat muka Hana yang kini berubah menjadi merah.
Hana duduk kembali dan melanjutkan menonton tv. Derris bangkit untuk mengambil air mineral di dalam kulkas. Lalu duduk kembali di samping Hana.
Hana berdeham. "Oh ya dari dulu aku penasaran. Kenapa kamu tinggal sendirian?" tanya Hana.
"Karena aku ingin mandiri." sahut Derris.
"Dan kenapa kamu bisa memasak makanan dengan enak?" tanya Hana penasaran.
Derris menengok pada Hana. "Karena ini adalah salah satu syarat yang di ajukan ibuku agar aku bisa di setujui untuk hidup mandiri." jelas Derris.
Derris lalu menceritakan tentang dirinya pada Hana. Derris merupakan anak tunggal, Daniel. ayahnya Derris merupakan seorang pengusaha di bidang kuliner yang sudah membuka cabang di beberapa kota. Ayah Derris pun merupakan seorang chef yang cukup terkenal karena wajahnya sering muncul di layar tv. Ibunya yang bernama Risa adalah seorang ibu rumah tangga yang kadang selalu membantu ayahnya mengurus beberapa restoran di luar kota. Jadi sudah biasa apabila kedua orangtuanya jarang berada di rumah.
Meskipun Derris di anugerahi kekayaan dan kasih sayang yang berlimpah. Namun kedua orangtuanya selalu mengajarkan Derris untuk selalu rendah hati dan tidak sombong atas kelebihan yang telah di berikan Tuhan padanya.
Sifat Derris cenderung menurun dari ibunya yang selalu terburu-buru dan juga cerewet. Maka dari itu ibunya selalu memperhatikan pergaulan Derris, terlebih dengan masalah pertemanan Derris.
Hana mengangguk-ngangguk dengan fakta yang baru di ketahuinya tentang Derris yang selama ini belum di ketahuinya.
"Jadi kamu di ajarkan memasak oleh ayahmu?" tanya Hana di akhir cerita Derris.
Derris menggeleng. "Tidak. Aku belajar sendiri." kata Derris. "ayahku seorang chef tapi di rumah dia sama sekali tidak pernah memasak."
Derris meraih air mineral yang berada di atas meja lalu meneguknya sampai habis. Merasa tenggorokannya kering setelah cukup lama ia bercerita pada Hana.
"Giliranmu." kata Derris.
Hana mengangkat bahu. "Tidak ada yang istimewa. Aku dua bersaudara. Dan kamu sudah tau adikku perempuan." jawab Hana singkat.
Derris mengangguk lalu meraih remote tv dan memencetnya mencari saluran yang lain. Seakan teringat sesuatu Derris menyimpan kembali remote tv di sampingnya dan menengok pada Hana.
"Tahun baru nanti kita berangkat sore." kata Derris.
"Oh masalah itu." Hana terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa?" tanya Derris curiga.
"Bagaimana kalo kita tahun baruan bersama Sera." tawar Hana dengan ragu.
"Kenapa? Akukan sudah bilang akan mengajakmu ke suatu tempat." ada nada kesal dari suara Derris.
"Hanya sebentar saja kita disana, lalu setelah itu kita bisa pergi ke tempat yang kamu inginkan." bujuk Hana.
"Ngga." jawab Derris tegas.
Hana mendengus kesal lalu berpikir beberapa detik. "Ah aku akan mengabulkan satu permintaan kamu."
Derris terlihat berpikir, menimbang-nimbang tawaran yang di berikan oleh Hana.
"Baiklah aku setuju. Tapi ingat hanya sebentar saja kita disana." kata Derris mengingatkan. "dan jangan lupa dengan ucapanmu." tambah Derris sambil tersenyum lebar
Hana memutar bola matanya merasa telah salah besar akan mengabulkan permintaan Derris.
"Iya tapi jangan yang aneh-aneh." ancam Hana dan Derris hanya tergelak.