Hari ini setiap kelas mendapatakan pengumuman dari wali kelas. Bahwa untuk menyambut ulang tahun sekolah, para siswa dan juga para guru di wajibkan untuk berpartisipasi mengikuti setiap lomba yang di selenggarakan oleh pihak sekolah.
Di mulai dari bermacam lomba olahraga seperti tenis meja, sepak bola, voli, basket dll. Sekolah pun mengadakan acara pentas seni yang akan di selenggarakan di akhir bulan. Para siswa dan para guru sangat antusias mengingat acara yang di selenggarakan satu tahun sekali ini akan mendapatkan penghargaan dan juga sejumlah uang sesuai dengan peringkat pemenang dalam perlombaan.
Dalam satu kelas yang ikut berpartisipasi akan bertanding dengan kelas lain. Dan tidak menutup kemungkinan kelas Hana akan bertanding melawan kelas Derris.
"Gila banyak banget lombanya." desah Sera sambil melihat selembaran kertas yang telah di bagikan wali kelas.
Arin yang berada di samping Sera pun ikut mendesah. "Iya gila. Masa ngga ada lomba makannya juga," Hana dan Sera langsung saling pandang dan menggeleng-gelengkan kepala.
Arin merupakan teman pertama Hana saat memasuki SMA. Sifat Arin yang baik dan ramah membuat Hana dan Sera nyaman berteman dengannya. Meskipun badannya kecil, namun nafsu makan Arin sangatlah besar dan di dalam kelas pun Arin selalu menyetok camilan yang cukup banyak untuk persediaannya. Makanya tak heran bagi Hana dan Sera apabila Arin menanyakan lomba makan.
"Udah deh masa iya lomba makan di masukin kesini," tunjuk Sera pada selembar kertas yang di pegangnya. "nanti bakal keenakan ini perut." kata Sera lalu menunjuk perut Arin yang rata.
"Hehehe, yah kali aja ada kan?" Sera mendelik, Arin dan Hana terkekeh geli.
Suasana di lapangan sekolah yang biasanya hanya ramai di lewati siswa ketika menjelang pulang sekolah. Kini telah berganti menjadi tempat untuk latihan bagi setiap siswa yang akan mengikuti lomba. Setiap kelas setidaknya ada beberapa siswa yang sedang pemanasan. Ada pula siswa yang berbincang- bincang mengatur siasat untuk lomba.
Derris yang kini berdiri di pinggir lapangan hanya memandang sekeliling mencari Hana yang tidak di temukan Derris ketika ia berkunjung ke kelas Hana.
"Mana sih, katanya di lapangan." Derris terus memperhatikan sekeliling lapangan yang kini sudah hampir terisi penuh oleh siswa. "Di telpon ngga di angkat lagi." gerutunya.
"Derris." Seru seorang perempuan dari belakang. Derris pun seketika membalikkan badannya.
"Oh Sera. Mana Hana?" tanya Derris ketika hanya melihat Sera dan Arin yang berjalan ke arahnya tanpa Hana.
"Hana tadi di panggil wali kelas, sebentar lagi juga kesini. Kamu engga ikut latihan?" tanya Sera.
Derris menggelengkan kepala. "Besok."
Sera hanya menjawab o sambil membulatkan bibirnya. "Sama sih, kita duluan ya, bye. Tunggu Hana sebentar lagi juga datang." Sera dan Arin lalu pergi meninggalkan Derris.
Tak berapa lama Hana pun datang menemui Derris yang sedang berdiri di pinggir lapangan. Kelas mereka yang sudah mendapat jadwal untuk latihan besok akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Hana." panggil Derris ketika mereka sudah duduk di dalam bis.
"Hmm" gumam Hana sambil terus memainkan ponselnya.
"Aku di tawari menjadi boy band." kata Derris ragu.
"Hmm bagus itu." kata Hana malas.
Derris mendesah. "Tapi aku tidak mau."
"Ya sudah jangan."
Derris memutar bola matanya kesal. Mendapat respon tidak semangat dari Hana, Derris pun memutuskan untuk diam tidak membuka pembicaraan lagi.
***
Satu minggu menjelang perlombaan, setiap sore hari lapangan di padati oleh siswa yang sedang berlatih. Ada yang menggunakan lapangan belakang ada juga yang sampai latihan pentas seni di aula. Masing-masing memang tidak di wajibkan untuk mengikuti lomba pentas seni. Namun dengan di imingi hadiah yang cukup besar, para siswa pun akhirnya tergiur dan berlatih dengan sungguh-sungguh.
"Kau cocok pake ini Hana." pekik Sera. Ketika selesai membantu Hana memakaikan kebaya berwarna hitam yang akan digunakan di pentas seni.
"Kau yakin ini tidak kependekan?" kata Hana sambil melihat kain yang melilit di atas lututnya. "Aku merasa tidak nyaman."
Sera memerhatikan Hana dengan seksama. "Kau benar, Derris akan mengomel tanpa henti kalo melihatmu begini." Sera mengetukan jari telunjuknya di dagu seperti sedang berpikir. "ah aku cari solusinya dulu." kata Sera yang lalu pergi ke ujung ruangan mencari kain yang cocok untuk Hana.
Hana mendekat ke arah Sera dan mencoba ikut membantunya mencari kain. Namun getaran ponselnya menghentikan aktivitas Hana membantu Sera. Hana pun lalu meraih ponsel yang berada di atas meja.
"Halo."
",,....."
"Ya sebentar lagi. Hmm."
Telepon pun di akhiri, Sera lalu berbalik dan bertanya pada Hana. "Siapa?"
"Derris, dia sudah selesai latihan dan bertanya kapan aku selesai. Kita lanjutkan besok saja. Aku duluan Sera." Hana mengganti bajunya kemudian setelah selesai ia melambaikan tangan pada Sera dan pergi menemui Derris yang sedang menunggunya di pinggir lapangan.
"Aku dengar kelas kalian akan menampilkan tarian." kata Derris sambil berjalan ke arah halte bis. Hana mengangguk. "Kau juga ikut?"
"Tidak. Aku menyerah." jawab Hana. "Aku tidak berbakat dalam menari dan menyanyi." aku Hana.
"Tapi kau punya bakat yang hanya dimiliki olehmu," kata Derris sambil tersenyum. "kau bisa membuatku jatuh cinta kepadamu setiap hari." Derris tertawa pelan.
Hana menengok ke arah Derris. "Dasar gila."
Hana yang sudah terbiasa mendengar gombalan Derris nyatanya masih merasa terganggu dan selalu membuatnya merinding. Derris tidak pernah merubah sifatnya yang sangat absurd itu.
"Tapi suka kan?" tanya Derris tetap dengan senyumnya yang masih tersungging.
Hana memutar bola matanya. "Tidak." jawab Hana tegas. Derris menganggap jawaban tidak Hana adalah 'iya', karena mungkin Hana masih malu untuk mengungkapkan rasa sukanya bahkan mungkin saja ia tak menyadarinya.
***
Perlombaan yang di adakan di hari jumat dan sabtu ini berjalan lancar dan tanpa kendala, puncak acara pentas seni pun sangat meriah. Namun tidak semua kelas ikut berpartisipasi dalam kegiatan pentas seni, meskipun begitu acara tetap ramai dan menarik.
Derris yang berdiri di samping Hana berkata, "Kenapa engga ikutan nari? Kayanya kalo pake baju itu kamu terlihat cantik." tunjuk Derris pada panggung pertunjukan yang kini sedang menampilkan tarian dari kelas Hana.
Hana mendelik. "Aku menolaknya. Dan kamu tidak lihat para lelaki yang berada di depan sana yang sedang menonton?" tunjuk Hana pada penonton lelaki yang berada di barisan depan. "Mereka terlihat fokus ke hal hain, bukan pada tariannya."
Derris tertawa pelan. "Sebelumnya aku ucapkan terima kasih, aku tidak menyangka kamu memikirkan perasaanku." Hana menengok ke arah Derris dengan bingung. "Iya kamu takut aku cemburu kan? Makanya kamu tidak jadi ikutan nari."
Hana memutar bola matanya dengan kesal dan Derris kini terkekeh geli melihat ekspresi Hana.
"Kamu juga bukannya akan menjadi boy band, kenapa masih disini?" tanya Hana setelah pertunjukan tari kelas Hana selesai dan kini berganti pada penampilan kelas Derris.
"Aku tidak mau ketampananku dilihat oleh para siswi disini. Ketampananku hanya milikmu Hana." desah Derris.
"Sial. Aku ingin muntah." balas Hana.
"Eh bicara yang cantik." kata Derris lalu menempelkan jari telunjuknya ke bibir Hana. Hana kemudian menyingkirkan jari telunjuk Derris dengan kasar. Derris hanya terkekeh geli.
Pertunjukan pun berakhir menjelang sore hari. Pengumuman pemenang dan juga penerimaan hadiah akan di umumkan hari senin setelah upacara selesai. Semua siswa pun kembali ke kelasnya masing-masing untuk mendapatkan arahan dari wali kelas masing-masing. Setelah selesai semua siswa di harapkan untuk membereskan kelas dan pulang ke rumahnya masing-masing.
"Hana," panggil Derris yang lalu mendekati Hana yang sedang memunguti sampah bekas minuman kaleng.
"Hmm." gumam Hana tanpa mengalihkan pandangannya.
"Besok aku akan mengajakmu ke suatu tempat." bisik Derris sambil membantu Hana memunguti sampah.
"Kemana?" tanya Hana malas.
"Rahasia." kata Derris sambil tersenyum lebar.
"Terserah. Cepat bantu aku agar kita bisa pulang." perintah Hana lalu membawa sekeresek penuh sampah dan di bawanya ke tong sampah yang berada di luar.
***
Minggu siang Hana telah bersiap-bersiap untuk bertemu dengan Derris, meskipun malas dan ingin akhir minggunya ia habiskan untuk tidur di rumah. Namun Hana tetap memaksakan pergi, karena Derris akan terus mengganggunya tanpa henti.
"Kita akan kemana?" tanya Hana ketika mereka telah berhenti di salah satu toko kecil yang terlihat seperti toko yang baru buka.
"Kesini." kata Derris sambil menarik tangan Hana masuk ke dalam toko kecil itu.
Derris lalu berjalan ke arah seorang pegawai toko ini. Hana memerhatikan keseluruhan ruangan itu yang di d******i berwana putih dan hitam. Ruangan ini masih sedikit berbau cat dan juga masih sedikit berantakan dalam penataan bajunya. Hana mendekat ke salah satu deretan baju yang sudah tertata rapi lalu melihat-lihat.
"Hana, kamu mau membeli baju?" tunjuk Derris pada baju yang sedang Hana pegang, Hana menggeleng.
"Ini adalah toko dari salah satu kenalanku. Mungkin jika kamu beli akan ada potongan harga." bisik Derris lalu tersenyum jail. "Aku sudah mengambil pesananku, kalo kamu tidak mau membeli baju kita ke tempat selanjutnya." ajak Derris,
Hana dan Derris pun lalu pergi meninggalkan toko baju tersebut dan berjalan ke sebuah cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari toko tersebut. Setelah sampai Derris dan Hana memasuki sebuah cafe, lalu memilih tempat duduk di dekat jendela dan dekat pintu masuk.
"Jadi ini tempat yang kamu bilang kemarin?" tanya Hana dengan nada mengejek.
Cafe ini sering sekali Hana kunjungi bersama teman-temannya. Apabila Derris berpikir Hana akan terkejut dengan cafe ini Derris salah besar.
"Tempat yang aku ingin tunjukan saat ini tutup. Jadi yah lain kali." kata Derris murung.
Hana yang sedang memilih minuman di buku menu lalu mengangkat kepalanya, tak kala satu nama yang keramat baginya di sebut-sebut. Ricky, mantan Hana dua tahun lalu kini sedang berdiri bersama dengan dua pria dan satu perempuan yang bergelayut manja di tangannya di dekat pintu masuk, mereka sedang mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe dan sepertinya sedang mencari tempat yang kosong.
Mata Ricky berhenti pada Hana yang sedang menatapnya dengan tajam. Ricky memicingkan matanya agar bisa melihat dengan jelas apakah wanita itu adalah Hana yang di kenalnya atau bukan.
Setelah yakin dengan penglihatannya, Ricky tersenyum simpul lalu melambaikan tangannya pada Hana. Seketika Hana membeku beberapa detik, ia pun sadar lalu mengambil tasnya yang berada di kursi kosong disebelahnya lalu berjalan keluar dengan cepat. Ia tak menghiraukan Derris yang terus memanggil namanya. Hana berjalan keluar cafe tanpa melihat Ricky yang kini sedang tersenyum lebar kepadanya.
"Hana, tunggu," kata Derris, lalu memegang pergelangan tangan Hana yang kini hampir berjalan ke tengah jalan tanpa sadar.
Muka Hana terlihat pucat, Derris pun menjadi panik dan menepuk bahu Hana yang matanya kini terlihat kosong.
"Aku mau pulang." kata Hana pelan,
Dari jauh terlihat sebuah taxi, Hana pun lalu memberhentikan taxi itu dan masuk ke dalamnya meninggalkan Derris di pinggir jalan dengan kebingungan.