Bab 9

1735 Words
Dua tahun yang lalu.. Pagi ini sinar marahari cukup cerah, membuat Hana bersemangat untuk berangkat ke sekolah. Hana sedang memakai sepatu di pintu depan, ketika ia bergegas untuk pergi ibunya memanggil. "Hana bawa payung, katanya hari ini akan turun hujan." ucap ibu sambil memberikan payung berwarna kuning. "Tidak ada payung lain? Nanti Sena marah padaku bu." balas Hana sambil merapikan rok birunya. "Asal kembali dengan selamat, aman." ibu terkekeh sambil mengedipkan sebelah matanya. "Tidak ada payung lagi, jadi bawa saja yang ini." Payung berwarna kuning itu milik Sena yang di belikan ibu setahun yang lalu, payung berwarna kuning dan bergambar tokoh kartun Spongebob Squarepants itu sangat disayangi Sena. Saat hujan ataupun panas ia selalu membawa payung itu. Tapi ketika ada yang meminjamnya walau hanya sebentar Sena langsung marah apalagi kalau sampai payung itu tidak kembali. Pernah Hana pinjam sekali payung Sena ketika beberapa bulan yang lalu, saat itu Hana sudah bersiap pergi ke rumah Sera. Melihat cuaca diluar yang sangat gelap dengan terburu-buru Hana lalu mengambil asal payung yang tersimpan di dekat pintu depan. Saat Hana pulang seisi rumah sedang ramai terdengar orang yang sedang menangis. Ketika Hana berjalan masuk ke ruang keluarga terlihat Sena sedang menangis sambil teriak-teriak menanyakan payung kesayangannya. Hana yang menyadari bahwa ia yang meminjam payung tersebut, malah lupa dan tertinggal di rumah Sera. Hana langsung bergegas kembali keluar berlari ke rumah Sera. Hanya karena Hana lupa dengan payung itu Sena memusuhi Hana sampai seminggu lamanya. Hana bergidik setiap mengingat kejadian saat itu, jadi ia memutuskan untuk menjaga dan mengembalikan kembali payung ini ke semula sebelum Sena menyadari bahwa payungnya sedang di pinjam. "Udah sana cepet berangkat nanti telat." perkataan ibunya membuyarkan lamunan Hana. Hana tersenyum ragu sambil melihat payung yang kini di pegangnya. "Aku berangkat dulu bu." Hana mencium tangan ibunya lalu bergegas pergi ke sekolah. "Hana hari ini ke mal yu." ajak Sera pada Hana yang baru sampai ke kelas. "Aku tidak bisa. Hari ini aku harus les." desah Hana. "Besok saja." kata Hana. Sera mengangguk kecil lalu meminjam buku pr Hana dan menyalinnya. "Hana aku sudah pacaran dengan lelaki kenalanku yang pernah aku ceritakan tempo hari." pekik Sera. Pandangan semua siswa yang berada di kelas mengarah pada suara Sera yang cukup keras. Hana langsung melihat teman-temannya dan tersenyum malu. "Dasar gila." Hana mencubit lengan Sera dengan pelan. Sera masih menyunggingkan senyumnya yang lebar dan berbisik. "Uppss aku terlalu kencang saking senangnya." Hana mendelik. "Saat kemarin aku janjian dengannya, muka aslinya lebih tampan dari pada di foto. Kau tau bukan, foto selalu menipu." cerocos Sera tanpa henti sampai ia lupa menyalin pr Hana. *** Bel pulang pun berbunyi Hana pamitan pada Sera untuk segera menuju tempat les yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Langit sudah mulai gelap yang menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Hana mampir sebentar ke mini market membeli minuman untuk di bawanya ke tempat les. Ketika Hana sedang mengantre untuk membayar minuman, hujan sudah turun dengan sangat deras. "Harusnya aku langsung ke tempat les." desah Hana. Setelah membayar Hana pun lalu keluar dan berdiri di dekat pintu mini market. Hana melirik ke samping kanannya, di sebelahnya ada seorang anak SMA yang terus mendesah karena hujan yang begitu deras. Hana lalu bergeser dua langkah lalu mencari payungnya yang berada di dalam tasnya. "Hei." sapa anak SMA itu. Hana menengok lalu menyipitkan matanya dan tak menjawab sapaan dari anak SMA itu. "Boleh aku pinjam payungmu?" kata lelaki itu. Hana lalu siap-siap untuk membuka payungnya dan menjawab, "Tidak." "Baiklah baiklah. Aku ikut sampai ke depan sana," tunjuk pria itu ke arah gedung sebelah tempat les Hana. Hana terus menatap curiga ke arah pria itu sambil menimbang-nimbang apakah ia setuju atau membiarkannya disini. Melihat reaksi Hana yang terus mencurigainya ia pun berkata. "Aku bukan orang jahat. Lihat aku anak SMA, sekolahku berada di daerah sini." katanya. Hana mengangguk kecil. "Baiklah. Hanya sampai sana." tunjuk Hana pada gedung di sebelah tempat les Hana. Lelaki tu menawarkan diri untuk membawa payungnya, karena apabila Hana yang membawanya lelaki itu akan terus menunduk di dalam payung. Hana pun menyetujuinya. Mereka pun berjalan pelan menelusuri jalanan yang basah. "Kau mau kesana?" tanya lelaki itu sambil menunjuk ke arah gedung les Hana. "Hmm." gumam Hana. Tak berapa lama mereka pun sampai di gedung les Hana. Hana lalu berhenti di depan pintu masuk yang teduh. Ketika Hana ingin mengambil payung, lelaki itu langsung berlari ke arah belokan yang berada di ujung jalan. "Aku pinjam dulu. Nanti aku kembalikan." teriak lelaki itu sambil terus berlari. Hana kaget lalu mengumpat pelan karena telah di tipu oleh orang yang baru saja ia temui. Hana lalu mengusap mukanya dengan kasar. Merasa kesal karena payung itu adalah payung kesayangan Sena yang apabila hilang dia akan.. Ah Hana sangat malas membayangkannya. Hana lalu berjalan masuk ke dalam gedung sambil memikirkan alasan yang tepat untuk membohongi Sena. "Aku kan sudah bilang itu payung kesayanganku. Kenapa di pakai Hana?" teriak Sena di ruang televisi ketika Hana baru sampai di rumah. "Astaga baru sampai sudah mendapat sambutan seperti ini." gerutu Hana lalu ia berjalan ke ruang televisi dan menghampiri ibunya yang sedang memperhatikan anak bungsunya yang sedang teriak. "Mana payungnya?" bisik ibunya pada Hana. "Emm itu bu.." Hana tergagap menjawab pertanyaan ibunya. "Ketinggalan di tempat les." bisik Hana bohong. "Astaga." desah ibu. "Dia akan terus teriak-teriak sampai malam." lanjut ibunya sambil menunjuk Sena yang kini menatap Hana dengan tajam. "Mana payungku?" geram Sena. "Aku janji besok akan aku bawa. Tadi ketinggalan di tempat les." bujuk Hana. Sena mulai marah dan berteriak tanpa henti. Ibu menyuruh Hana untuk segera naik ke kamarnya agar tidak terjadi perang dunia ketiga. Hana hanya menurut karena ia pun sudah lelah dan ingin segera beristirahat. *** Keesokan harinya. Sepulang sekolah Hana yang sedang berjalan bersama Sera di kagetkan oleh seorang lelaki memakai seragam SMA yang kini sedang berada di hadapannya. Hana dan Sera menatap dengan curiga karena lelaki itu terus tersenyum melihat Hana. "Akhirnya ketemu. Aku sudah menunggumu dari dua jam yang lalu." kata lelaki itu sambil melirik jam tangannya.Tidak ada respon dari Hana, Hana terus menatap curiga kepada lelaki tersebut. "Kau tidak ingat padaku?" kata lelaki itu. "Aku yang kemarin meminjam payungmu." lanjut lelaki itu sambil mengacungkan payung kuning milik Sena. Raut wajah Hana yang curiga kini berubah, Hana tersenyum samar karena akhirnya payung Sena di kembalikan kembali oleh anak SMA ini. Padahal dari pagi Hana sudah galau memikirkan alasan apa yang cocok untuk membohongi Sena apabila payung ini tidak di kembalikan lagi. Hana lalu mengambil payung itu. "Aku Ricky." kata pria itu sambil menyodorkan tangannya ke arah Hana. "Aku Sera dan ini Hana." kata Sera tersenyum ramah sambil menjabat tangan pria itu. "Hei!!" bentak Hana. Sera tersenyum lebar pada Hana lalu pamitan pada Ricky dengan alasan mereka harus segera pulang untuk kerja kelompok. Ricky membalas dengan senyumnya yang ramah dan mengatakan bahwa ia akan datang kembali besok. "Gila ya? Ngapain coba ngasih tau nama segala." geram Hana. "Kau dapat dimana anak SMA itu? Lagian dia cukup oke untuk jadi pacarmu." pekik Sera. "Dia penipu yang aku temui kemarin." jawab Hana kesal. "Penipu?" tanya Sera bingung. Sera kemudian berpikir dan baru teringat dengan cerita Hana tadi pagi. "Oh jadi dia orangnya?" "Hmm." gumam Hana. Sera pun tersenyum lebar lalu bercerita panjang lebar bahwa itu adalah sebuah takdir antara Hana dan Ricky. Yang bisa jadi mereka adalah jodoh. Namun Hana tidak menanggapi sedikitpun cerita Sera yang sangat tidak masuk akal itu. Akhirnya sepanjang perjalanan pulang Sera terus becerita tentang Ricky. Ricky yang telah mengetahui nama Hana, setiap hari selalu datang menemui Hana ke sekolahnya. Ia pun tanpa ragu meminta nomor Hana meskipun dengan cara sedikit memaksa. Selama satu bulan penuh Ricky terus mencoba untuk mengajak Hana menghabiskan akhir pekan dengannya dan Ricky pun dengan nekat menyatakan rasa sukanya pada Hana. Namun Hana terus menolaknya. Ricky yang tidak mengenal kata menyerah terus melancarkan aksinya untuk mendekati Hana. Hampir dua bulan usaha Ricky mendekati Hana. Hana pun akhirnya menerima Ricky sebagai pacar pertamanya. Sifat Ricky sangat ceria dan juga dia memperlakukan Hana dengan sangat baik. Setiap hari Ricky selalu mengantar Hana ke tempat lesnya dan tak jarang Ricky pun mengantar pulang Hana sampai di depan rumahnya. Satu bulan pertama hubungan mereka sangat baik dan berjalan lancar. Memasuki bulan kedua Ricky mulai jarang terlihat di sekolah Hana dan Ricky kini mulai jarang menghubungi Hana dengan alasan ada masalah dengan keluarganya. Hana yang mulai khawatir dengan Ricky, memberanikan diri mencari Ricky di tempat biasa ia menenangkan diri. Hana mencari Ricky ke cafe yang biasa Ricky kunjungi dan terakhir ia mencarinya di warnet. Namun semua usahanya tidak ada yang membuahkan hasil. Hana pun lalu memutuskan untuk pulang. Ketika Hana sedang berjalan di taman dekat rumahnya ada seseorang yang memanggil namanya. Hana pun menengok dan kaget sekaligus senang, karena setelah sekian lama akhirnya ia bisa bertemu dengan Ricky. Ricky mengajak Hana untuk duduk di ayunan taman. Lampu temaram di taman membuat Hana tidak bisa melihat Ricky dengan jelas terlebih Ricky memakai hoodie hitam dan memakai topi membuat sebagian mukanya tidak terlihat dengan jelas. "Maafkan aku baru bisa menemuimu sekarang." desah Ricky lalu bangkit dari ayunan dan kini berjongkok di hadapan Hana yang duduk di ayunan sebelah Ricky. Samar-samar dari Ricky tercium bau alkohol. Hana pun mengernyit. "kenapa?" tanya Ricky ketika melihat Hana yang sedikit memundurkan kepalanya. "Kakak bau alkohol." ucap Hana ragu. Ricky tersenyum kecil. "Aku sedang banyak masalah. Dan hanya alkohol yang bisa membantuku melupakan semuanya." "Padahal kakak bisa menceritakan masalah kakak padaku. Mungkin saja aku bisa membantu kakak." tawar Hana. "Benarkah kamu mau membantuku?" bisik Ricky lalu mendekatkan wajahnya pada Hana dan mencium bibir Hana. Hana yang mencium bau alkohol yang semakin menyengat dari Ricky akhirnya mendorong d**a Ricky perlahan lalu bangkit berdiri. "Maaf aku sangat lelah. Sepertinya lebih baik kakak juga pulang lalu beristirahat." Ricky lalu bangkit dari jongkoknya dan mencengkram pergelangan tangan Hana dengan kencang. Ricky memeluk Hana dengan erat lalu ia menciumi wajah Hana tanpa henti. Ricky melumat bibir Hana dengan paksa, Hana menutup bibirnya rapat-rapat dan ia terus meronta namun lidah Ricky tetap mencoba masuk dan mencari cela. Merasa kalah tenaga, Hana kemudian menggigit lidah Ricky lalu mendorongnya dengan sekuat tenaga. Hana pun berlari dengan sisa tenaga yang ia miliki. Air matanya terus menetes merasa sakit hati dengan tindakan Ricky yang sangat kurang ajar. Sesampainya di rumah Hana langsung pergi ke kamar mandi dan membasuh mukanya dengan air, terlebih ia menggosokan tangannya pada bibirnya yang kini sedikit memerah. "Cowok berengsek." geram Hana sambil mengusap air matanya yang terus turun membasahi pipinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD