Semalaman Hana tidak bisa tidur. Ingatannya selalu berputar pada kejadian kemarin malam. Ayam pun sudah berkokok beberapa kali, yang menandakan pagi telah tiba.
Hana masih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ingin sekali rasanya hari ini ia tidak masuk sekolah, dan hanya beristirahat saja di rumah sembari menghapus kenangan buruk yang telah menimpa dirinya. Hana menyentuh dahinya yang tidak panas. Tidak ada alasan sakit untuknya, jika suhu badannya saja normal seperti biasa.
Ia menarik nafas panjang. Mengumpulkan sisa keberaniannya untuk menghadapi hari ini. Hana bangkit dari tidurnya lalu berjalan ke bawah untuk mandi dan bersiap berangkat ke sekolah.
Hana berjalan pelan menuju ke kelasnya sambil melamun. Sera yang berada beberapa langkah di belakang Hana mulanya ingin mengagetkan Hana, namun mengurungkan niatnya tak kala melihat Hana terhuyung jatuh karena di tabrak oleh seorang siswi perempuan dari kelas sebelahnya.
Hana di bantu berdiri oleh perempuan itu lalu meminta maaf pada Hana karena telah menabraknya dan pergi meninggalkan Hana yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Sera menghampiri Hana. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Sera.
Hana mengangguk pelan. "Ayo kita ke kelas." ajak Hana pada Sera.
Sepanjang jam pelajaran sampai bel istirahat berbunyi Hana tidak banyak berbicara. Setiap ada jam kosong Sera bercerita pada Hana, yang hanya di tanggapinya dengan anggukan kecil atau jawaban yang singkat.
Sera yang melihat Hana sejak pagi sudah tidak bersemangat, merasa ragu ingin memberikan informasi penting yang baru saja ia ketahui. Sera menarik nafas dan mengehembuskannya dengan pelan, lalu melirik Hana yang sejak tadi diam. Ia pun memutuskan untuk memberi tahukan Hana sebelum jam istirahat berakhir.
Sera berdeham. "Hana. Aku ingin memberi tahukan sesuatu." kata Sera sambil menelan ludahnya. "Ini lihat." Sera menyerahkan ponselnya pada Hana dan Hana langsung melihat layar ponsel Sera.
Hana tercengang melihat isi ponsel Sera, di dalamnya terdapat beberapa foto Ricky dengan seorang gadis. Di foto pertama terlihat mereka sedang berada di sebuah cafe dan Ricky sedang memegang tangan gadis itu sambil tersenyum. Foto kedua menunjukan Ricky yang sedang berada di dalam warnet dan gadis itu sedang memeluknya dari belakang dengan erat dan senyuman yang lebar. Dan foto ketiga sangat membuat Hana terkejut, masih di tempat yang sama namun dengan keadaan yang cukup sepi mereka sedang berciuman dengan mesra.
Hana terpaku melihat foto yang Sera tunjukkan. Hana pun mengembalikan ponsel Sera dan tersenyum getir.
"Hana.."
"Aku tidak apa-apa." sela Hana langsung.
"Aku kira dia orang yang baik. Tapi ternyata..." Sera tidak melanjutkan perkataannya, ia takut salah ucap dan malah membuat Hana tambah terluka.
Hana menatap nanar ke depan papan tulis. "Foto itu dari siapa?" tanya Hana pelan.
"Dari mantan pacar baruku. Ternyata dia adik kelas kak Ricky dan sampai sekarang kadang masih suka kumpul. Aku menceritakan tentang kamu dan kak Ricky yang berpacaran, jadi dia mengambil fotonya dan memberikannya padaku." Sera melirik Hana sekilas dengan ragu. "Maafkan aku Hana. Aku sangat peduli padamu jadi aku sedikit mencari informasi tentang kak Ricky." bisik Sera.
Sera lalu menceritakan semua informasi yang dia dapatkan dari mantan pacarnya. Ternyata Ricky adalah anak yang bermasalah di sekolahannya. Ia hampir akan di keluarkan oleh pihak sekolah karena telah menghajar siswa dari sekolah lain hanya karena masalah perempuan. Lalu Ricky juga bekerja sebagai pengantar barang haram setelah pulang sekolah.
Ricky pun selalu berkumpul dengan kakak kelas yang selalu mengajaknya ke tempat hiburan malam. Maka sudah tidak asing bagi Ricky dengan alkohol dan juga hubungan bebas. Pacar Ricky pun tidak hanya satu, ia selalu berganti-ganti pacar dengan gadis yang menurutnya cantik dan menarik perhatiannya. Maka dari itu Ricky terus-terusan mengejar Hana yang sudah jelas tidak tertarik dengannya. Namun dengan sifatnya yang ceria dan juga baik, akhirnya Hana luluh oleh sikap Ricky.
Hana mencerna semua informasi yang baru saja ia terima. Ia menghembuskan nafas pelan. "Terima kasih Sera." ucap Hana tulus. "akan aku urus sendiri masalahku." Hana kemudian bangkit dan berjalan keluar kelas.
Setelah dua hari tidak ada permintaan maaf dari Ricky, Hana pun mengirim pesan kepada Ricky untuk meminta putus. Butuh waktu dua jam bagi Hana menunggu balasan dari Ricky. Ricky langsung menelpon dan berkata ingin bertemu dengan Hana untuk meminta maaf. Namun Hana menolaknya dan mengatakan hubungannya telah berakhir dan juga meminta agar Ricky jangan pernah mengganggunya lagi.
Ricky yang memiliki harga diri yang tinggi, tidak terima dengan sikap Hana yang memutuskannya secara sepihak. Akhirnya keesokan harinya ia memutuskkan untuk menemui Hana setelah pulang les.
Ricky menunggu Hana di minimarket tempat pertama kali mereka bertemu. Ia meniup asap putih tebal dari rokok yang sudah tak terhitung jumlahnya. Lama menunggu disana akhirnya orang yang di tunggunya keluar dari arah gedung tersebut. Ricky lalu mematikan rokoknya dan berjalan pelan menghampiri Hana yang kini sedang mengobrol bersama kedua temannya.
Ketika Hana sudah berpisah dengan kedua temannya dan kini sedang berjalan sendirian. Ricky mempercepat langkah kakinya lalu menghadang jalan Hana. Ricky kini sudah berada di hadapan Hana, jaraknya hanya dua langkah dari tempat Hana berdiri. Ia tersenyum simpul melihat Hana yang kini mukanya terlihat pucat melihat Ricky.
"Aku butuh penjelasan." kata Ricky. Tidak ada raut wajah ramah dan ceria seperti biasanya, kali ini yang Hana lihat hanya sisi Ricky yang sangat menakutkan. Sangat dingin dan terlihat amarahnya yang memuncak.
"Aku tidak mau." Hana mundur perlahan. Ia sangat takut dengan penampilan Ricky yang sangat kacau hari ini. Hana pun berjalan mundur dan membalikkan badannya bersiap untuk berlari. Namun kalah cepat dengan Ricky yang langsung dengan sigap mencengkram pergelangan tangan Hana.
"Hanya sebentar." kata Ricky lalu menarik tangan Hana menuju ke gang kecil yang berada di ujung jalan yang keadaannya cukup sepi.
Hana memandang sekeliling, melirik ke kanan dan kirinya yang tidak terlihat ada siapapun. Hana bergidik ngeri memikirkan apa yang akan Ricky lakukan padanya. Langit pun kini sudah berubah menjadi gelap semakin menambah rasa takutnya.
"Lepaskan aku. Aku mau pulang." bentak Hana sambil mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang di cengkeram Ricky dengan kasar.
"Setelah urusan kita selesai." Ricky mendorong Hana ke tembok. Posisi mereka kini saling berhadapan. "Kamu tidak bisa memutuskan aku dengan seenaknya." bentak Ricky.
Hana terkesiap. Lalu memberanikan diri seakan menentang Ricky dan berkata. "Tidak berlaku untuk lelaki b******k seperti kamu." ejek Hana.
Ricky tersenyum sinis. "Jadi udah tau?" tanya Ricky. "Kamu itu gadis cantik, tapi sangat jual mahal. Padahal begitu banyak wanita yang menginginkanku dan dengan senang hati untuk aku tiduri, tapi kamu? Terus saja menolak aku." kata Ricky sambil membelai pipi Hana.
Hana terperangah dengan ucapan Ricky, ia tidak menyangka Ricky serendah ini. Hana menyingkirkan tangan Ricky dengan kasar yang kini tengah mengusap bibirnya.
"Dan ini balasannya." kata Ricky.
Ricky mendorong Hana ke tembok semakin rapat dan memegang kedua tangan Hana. Ia melayangkan ciuman ke bibir Hana. Namun Hana terus memalingkan wajahnya dan akhirnya ciuman Ricky hanya berakhir di pipi dan juga pada leher Hana. Ricky terus melancarkan aksinya dengan menciumi Hana. Lalu dengan paksa membuka kancing teratas seragam Hana. Terbukalah tiga kancing seragam Hana yang kini telah memperlihatkan d**a Hana.
Air mata Hana terus menetes, ia terus berusaha berteriak meminta tolong di sela-sela ciuman Ricky. Ricky mendekatkan badannya pada Hana agar semakin dekat. Bibir Ricky kini mulai beralih menciumi leher Hana dan turun ke d**a Hana. Hana terus menggeliat agar Ricky dapat melepaskannya. Hana berteriak sekencang-kencangnya meminta pertolongan. Akhirnya dari jauh terlihat bayangan dan juga terdengar suara orang yang berteriak meminta Ricky untuk segera melepaskan Hana. Ricky yang mendengar teriakan orang tersebut mengumpat lalu melepaskan ciumannya pada d**a Hana. Ricky lalu berlari meninggalkan Hana yang menangis dan jatuh terkulai lemas.