"Dimana otak kamu? Mengajarkan hal yang tidak-tidak kepada adikmu sendiri?" sergah seorang wanita paruh baya, sebelum suara tamparan menggema. Arinda meringis, mengusap pipinya yang terasa panas dan nyeri karena tamparan sang ibu di pipi kanannya. "Mami!!" Suara bariton seorang pria menggema dari pintu kamar Arinda. Tempat ia dan Nuri kini berdiskusi. Suara itu juga menghentikan Meta, ibu dari Arinda dan Nuri. Wanita paruh baya itu menarik kembali tangannya yang telah menggantung di udara, untuk menampar pipi mulus Arinda, putri sulungnya untuk yang kedua kalinya. "Ada apa, Pi? Kenapa Papi menghentikan Mami?" sergah Meta, kepada Rudi sang suami.. "Apa yang dikatakan Arinda itu ada benarnya, Mi. Lebih baik Nuri menyerahkan harga dirinya kepada Alex, daripada kepada pria ingusan yan

